Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Otak blasteran jenius dan sengklek


__ADS_3

Ica mengulum bibirnya. Melihat wajah Kara.


"Ra, wajah loe kaya adonan kue kurang mentega !" kekehnya.


"Pucat !" puas sekali Ica tertawa diatas penderitaan Kara.


"Puas loe !" Kara kembali mengatupkan mulutnya, tersenyum semanis mungkin, siapa tau gula dalam mulutnya bisa melelehkan dan membuat alis Milo tidak menukik setajam tikungan mantan. Milo menarik Kara ke halaman belakang rumah Juwita, Kara yang tampak tenggelam di dalam jaket Milo tampak lucu dengan wajah manyunnya.


"Mil, ga usah segitunya kali, anak orang nanti sawan !" pekik Juwita, setidaknya ialah yang berperan besar dalam masalah ini, ia yang meminta Kara unruk mengikuti ekskul cheers.


"Ga tau gue, kalo bucin bisa bikin seseorang jadi posesif !" kekeh Arial. Ica melirik Jihad.


"Apa?! gue ga kaya gitu !" tau apa yang dipikirkan Ica.


Otak Arial dan Ica ternyata sama sama kamvreeetnya, dengan dalih takut setan ga sengaja mampir, keduanya beranjak menguping, melihat bagaimana anak itik dimarahi induknya, karena berpakaian seksi.


"Dih, emak emak arisan gitu..bawaannya kepo sama urusan orang !" tawa Erwan, Kean menggelengkan kepalanya. Juwita pun tak kalah penasarannya.


"Sengklek mereka ! loe ga penasaran bang Rak ?!" tanya Erwan, Raka hanya menggidikkan bahunya.


"Berapa kali aku ngomong sama kamu by, aku ga suka liat kamu kaya gini, apa kamu sengaja? oh, aku tau kamu sengaja biar liat otot sixpeck anak basket? biar bisa disebut sexy juga sama anak anak lain? mau pamerin bentuk tubuh?" Milo mengurung Kara dalam kungkungannya. Kara sudah memejamkan matanya sedari tadi, singa ini kalau sudah ngamuk, daging mentah saja tak membuatnya kenyang.


"Ide ka Juwi yank, sumpah, lagian apa apaan kamu nuduh ga jelas !!" Kara menunjukkan kedua jarinya.


"Terus kamu mau? aku ga nuduh, tapi tau !" ucap Milo lagi, menatap mata bulat Kara yang masih dipasangi softlens menatap Milo dengan puppy eyes, seketika iman lelaki pun dapat runtuh jika dipandang begini.


"Berarti kamu so tau "cicit Kara menunduk dan memainkan kakinya.


Melihat Milo menatap bak elang membuat gadis ini tak nyaman, hingga menggigit bibir bagian bawahnya, "apa ?! ga usah mandang kaya gitu, kaya mau nerkam aja !" omel Kara, yang masih berada di dalam kungkungan badan Milo.


"Emang, kamu yang bikin aku mau nerkam kamu !" jawab Milo.


"Ck, awas !! minggir !! ini tangan apa beton !" dumel Kara ingin keluar dari Milo. Milo menggeleng.


"Minggir atau ku gigit !" ancam Kara.


"Coba aja kalo berani ?!" tantang Milo, jangan fikir Kara gadis penakut, buktinya saat ini Kara menancapkan gigi gigi rapinya di lengan Milo seperti ikan piranha.


"Awwww, by !!" aduh Milo.


"Katanya tadi disuruh coba !" ucap Kara polos.


"Engga beneran juga !" Milo mengangkat tubuh Kara dengan mudahnya seperti seorang kuli angkut beras, menuju kolam renang Juwita, "kamu emang nguji iman dan kesabaran."


"Eh..eh...!! jangan jangan yank !!" pekik Kara, melihat kemana tujuan Milo.


"Eh temen gue mau diapain !!" Ica berlari mengejar, sontak saja semua mengekor.


"Apaan sih ! ribut banget !" Raka dan Kean beranjak termasuk Jihad.


"Om susuuu !!!" pekik Kara,


"Nyesel ga ??!" tanya Milo.


"Iya maaf aku nyesel ! lagian kan kamu yang suruh !" jawab Kara.


"Aku cuma mau hukum kamu buat belajar renang, bukan mau nenggelemin kamu !" bukannya kamu suka liat badan sixpeck cowok kalo basah?!" jawab Milo, mata Kara membola, darimana Milo tau obrolan nakal para gadis, saat ia dan Ica tengah di hotel liburan kemarin. Hanya obrolan iseng saja. Setelah kejadian Jihad yang membuka bajunya.


"Engga, kata siapa ! " bohong Kara.


"Oh mau belajar boong, oke kalo gitu ! kita nyebur barengan, biar kamu cukup lirik badan aku aja !" jawab Milo. Milo sudah melangkahkan kakinya mendekat ke bibir kolam.


"Iya, iyaaa !!! "pekik Kara panik. Kenapa jika dengan lelaki ini ia tak pernah menang.


"Iya apa?!" tanya Milo.


"Iya itu cuma obrolan iseng aja, si Ica tuh ! gara gara liat badan Jihad !" tuduh Kara, wajah Ica memerah karena malu.


"Dih, apaan gue dibawa bawa !" Ica cuci tangan, tak mau ikut terseret dalam pusara hukuman Milo.


"Owh jadi sekarang ka Ra udah belajar nakal !" ucap Milo.


"Jangan..jangan..jangan di ceburin ! oke aku minta maaf, aku terima hukumannya, asal jangan diceburin ke kolam, " jawab Kara.


Milo menurunkan Kara dengan tetap memegangnya, karena posisi mereka yang benar benar mentok di pinggir kolam.


"Geser !" pinta Kara mendongak.


"Bilang kamu sayang sama aku ?!"


"Bilang kalo kamu cuma milik aku !"


"Bilang kalo kamu bakalan ada di samping aku, "


"Bilang kalo kamu cuma pengen aku dan bukan yang lain !"


"Beuhhh bisa banget si kamvreett !" decak Arial. Kara hanya diam tak bergeming.


"Ayo bilang yang keras !" pinta Milo memajukan langkahnya yang membuat Kara sedikit bergeser, sontak gadis ini refleks merapatkan badannya.


"Iya ih, sabar bapak ! udah tadi latihan sirkus campuran debus sekarang malah disuruh teriak teriak kaya orang gilak !" dumel Kara.

__ADS_1


"Aku...aku mau pipis dulu !" ucap Kara, sontak semuanya tertawa.


"Ga usah cari cari alesan," jawab Milo.


"Beneran, kamu mau aku pipis di celana?" tanya Kara.


"Awas kalo kamu cuma mau alesan ?!" Milo menatapnya tajam.


" Iya, kalo kata spongebob, janji pelaut !" jawab Kara menautkan kedua jarinya, secepat kilat ia mengeluatkan jurus seribu langkahnya berlari ke dalam.


"Selamet gue !" tawanya, gadis itu memeletkan lidahnya pada Milo.


"Si be*go ! " Ica tertawa dengan kekonyolan Kara.


"Wah boong tuh Mil, minta digeret !" pekik Arial malah mengadukan Kara. Milo menatap Kara bersiap untuk menerkamnya.


"Kamu ya by !!!" Kara berlari menghindari Milo yang mulai berlari. Mereka berlarian layaknya kucing mengejar tikus.


Kara mentok di tangga, ia naik ke atas.


"Sayang..sayang ampun !! udah cape !" ucap Kara dari lantai atas, dan Milo masih dibawah hendak melangkahkan kakinya di anak tangga.


Ponsel Kara berdering, ingin turun tapi Milo masih memasang tampang waspadanya,


"Udahan dong, itu ponsel aku bunyi !" rengek Kara. Milo malah sengaja mendekati tas Kara dan mengambil ponsel Kara, Milo yang memakai jaket, memasukkan ponsel Kara ke dalam kantung saku di dadanya.


"Ambil sendiri !" ucap Milo.


"Dih modus banget buaya !" decih Juwita.


"Ka Raka, ka Juwi tanggung jawab ! loe berdua yang nyuruh gue buat ikutan cheers !" ucap Kara.


"Mil, udah lah biarin aja. Toh kan pas latihan ada loe juga, jadi bisa dijagain !" ucap Raka yang kembali duduk di sofa seraya meminum jus jeruk.


"Auu, kan bagus kalo Kara ikutan cheers, loe jadi bisa sering bareng bareng. Lagian ga akan ada yang berani lirik Kara, baru suitin Kara aja udah disuruh ngomong sama sepatu !" kekeh Erwan bertos ria dengan Arial.


"Ra, gue duluan balik ya !" ujar Uca melirik jam tangannya.


"Ca, gue juga mau balik !" rengek Kara memohon pulang.


"Loe nginep aja disini !" jawab Ica.


Ica dan Jihad pamit duluan.


"Sayang, " panggil Kara.


"Ya udah turun, kalo mau pulang !" ucap Milo.


"Turun dulu, " pinta Milo.


"Janji ga macem macem, " pinta Kara.


"Engga cuma satu macem aja !" jawab Milo. Dengan bibir yang sudah mengerucut, Kara turun.


Milo sudah mempersilahkan Kara untuk mengambil ponselnya di kantung saku jaketnya.


"Dih pasrah gitu. Haduhhh ibuuu !!! tangan anak gadismu ternodai !!" pekik Kara memelas.


"Seumur umur baru nemu cowok modelan begini !" ucap Kara dikekehi Juwita dan Arial.


"Terima nasib aja by, Allah kasih kamu anugrah !" kekeh Milo, tangan Kara terulur merogoh ponsel di saku jaket dada Milo. Menyentuh dada liat milik Milo, membuatnya merinding.


Milo tertawa gemas melihat ekspresi Kara.


"Demam gue abis ini !" omel Kara, mulutnya tak diam berucap.


"Jangan sampe kebawa mimpi Ra !" tawa Kean.


"Engga !"


"Udah tau yang sixpeck kaya apa rasanya?" tanya Milo.


"Udah, " cemberutnya.


"Suka?"


"Engga !...buat sekarang, ga tau kalo nanti !" kekehnya jujur.


"Lagian gara gara si Humaira nih, gue lagi yang kena kan !!"


"Aku ijinin ikut cheers, tapi...!" ucapnya menjeda kalimat.


"Tapi apa?" tanya Kara.


"Ikuti aturannya !"


"Oh gampang lah itu mah !" enteng Kara.


"Aturan siapa?" tanya Milo belum selesai.


"Aturan ekskul cheers kan?" beo Kara.

__ADS_1


"Aturanku, " jawab Milo lagi. Kara yang tersenyum, merubah air mukanya, Raka tertawa. Melihat kekonyolan hubungan Kara dan Milo seperti hiburan tersendiri untuk mereka, yang satu polosnya kebangetan, yang satu bucin dan posesif akutnya ga ketulungan.


"Apa??! yang bener aja yank, jangan nyebelin lagi deh, jangan sampe aku nyewa rudal dari Rusia buat ledakin kamu !" jawab Kara.


"Serius by, jangan deket deket cowok jarak 5 meter..kalo ada yang so deket nanya nanya ga usah jawab, bilang aja lagi mogok ngomong, kalo ada yang liatin kamu lempar aja pake batu, kalo ada yang deketin.. kamu pergi, kalo ada yang godain kamu bilang sama aku, dan yang paling penting dari semuanya. Kamu ga boleh ilang dari pandanganku !" jelas Milo panjang lebar, Kara dibuat ternganga oleh aturan Milo yang seperti surat perintah untuk pergi berperang, mutlak !


"Busettt ! ga sekalian borgol aja tangan si Kara, Mil?!" tanya Erwan.


"Ka Raka boleh ga sih ke sekolah bawa senjata tajam, pisau dapur misalnya ?" tanya Kara menatap Milo menyipit.


"Ga boleh Ra, buat apa?!" tanya Raka.


"Sadis amat Ra, pake bawa bawa pisau dapur !" timpal Arial.


"Buat colok mata nih cowok satu !" tunjuk dagunya pada Milo.


"Hahahaha simpen aja di kaos kaki, Ra pisau lipet !" jawab Juwita.


"Lagian aturan gitu amat, ketat..kaya rok spg kosmetik !" dumel Kara.


"Berarti termasuk kamu kan?!" tanya Kara.


"Aku pengecualian, " jawab Milo meneguk jus jeruknya.


"Curangnya ! giliran kamu enak enakan ditemplokin banyak cewek, pada keganjenan teriak teriak histeris ! udah kaya ikan diangkat dari kolam !" debat Kara.


"Kapan? aku ga nyimak, lagian kan aku juga ga nganggap mereka !" jawabnya enteng.


"Sombongnya anak orang !" decih Kara.


"Gue denger Gladys ikutan program beasiswa di sekolah, " ucap Raka. Kedua anak manusia yang sedang berdebat ini diam dan menoleh. Sepasang kekasih ini jarang akur, pasi selalu saja berdebat.


"Mau geser gue ka? percuma juga padahal, kan kursi gue udah ga bisa di rubah ! gue udah punya tempat di kampus di Belanda, asal jaga prestasi aja !" jawab Kara.


"Ya mungkin mau mensejajarkan posisinya sama loe, Ra !" jawab Raka


"Setau gue Gladys ga pinter pinter amat, " timpal Keanu.


"Gue tau apa tujuannya, dia emang mau geser posisi Kara, biar beasiswa ga jatuh sama Kara. Biar Kara gagal dapet beasiswa !" jawab Milo.


"Coba aja kalo bisa !" jawab Kara.


"Gue ga nyangka aja, dia bisa sampe senekat ini." lanjut Kara.


"Mungkin obsesi ?!" tebak Arial.


"Bisa jadi karena dia sudah terlalu cape di bully, di sakiti, jenuh dengan kehidupan yang gitu gitu aja, ga terima nasib nya yang udah kaya gini !" tambah Juwita.


"Otaknya sumbu pendek banget kalo gitu !" jawab Kara.


"Hmmm, bisa gue rasain Ra ! emang se frustasi itu. Padahal gue punya segalanya !" sahut Juwita setidaknya ikut merasakan jadi Gladys.


Kara memutar bola matanya jengah, " Otak kalian berarti udah di templokin setan !" timpal Kara.


"Kalo loe ada di posisi Gladys, apa yang bakalan loe lakuin Ra?!" tanya Juwita, semua laki laki ini melihat Kara, penasaran dengan jawaban gadis dengan otak blasteran jenius dan sengkleknya.


"Iya, coba kalo kamu by..apa yang bakalan kamu lakuin?" tanya Milo.


"Kalo kata si Humaira, jalani hidup kaya air mengalir...selama kita berusaha yang terbaik, Allah pasti kasih jalan, Allah ga tidur ko ! belajar legowo aja, tapi...pertama yang bakalan gue lakuin adalah, pesen bom rakitan..mau gue bom tuh rumah si br3nks3k yang udah ambil kehormatan gue !" kekeh Kara di akhir.


"Dan buat kamu yang suka bully aku, aku cuma bisa do'ain semoga nanti kamu ga jatuh cinta sama aku nantinya !" Kara menaik turunkan alisnya. Milo mengacak rambut Kara.


Benar ini gadisnya, gadis dengan sejuta pesonanya...gadis dengan pemikiran yang beda dari kebanyakan orang, gadis dengan harga diri yang tinggi, ia tak mudah dijatuhkan, meski sudah berkali kali jatuh...


"Berarti kalo menurut jawaban loe, besok gue mesti pesen bom rakitan buat bom rumah Rayhan, Ra?!" tanya Juwita.


"Sadis banget cewek cewek, kalo gitu ceritanya !" gidik Arial.


"Ada kalanya cewek mesti sadis ka Rial, untuk mempertahankan harga dirinya, semakin dijaga maka semakin mahal dan berharga. Cowok juga ga mau kan sama cewek yang murahan, menjatuhkan harga dirinya sendiri. Itu harga diri loh masa mau disamain sama harga ikan asin di pasar ! ikan asin aja udah mahal !" jawab Kara, sontak membuat Milo tertawa dengan jawaban Kara.


"By, siapin diri sama keluarga kamu, besok aku bawa seserahan, lamborghini, sama channel !" jawab Milo.


"Udah sore yank, aku harus pulang ! ibu sama ayah nanti khawatir !" ucap Kara. Milo melihat jam di tangannya.


"Gini nih, kalo mau pisah...bawaannya pasti galau !" keluh Milo.


"Dih, malu gue...temen gue lembek banget kaya biskuit yang udah di celup ke kopi !" decak Erwan.


"Ganti dulu bajumu by, nanti ayah sama ibu marah, kalo liat anaknya pake pakaian cheers gini !" pinta Milo.


"Iya, ka Juwi..ga ada seragam yang panjangan dikit gitu !" keluh Kara.


"Mau panjang pake daster Ra !" timpal Kean.


"Kalo bisa sih, gue pake daster ibu !" jawab gadis ini.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2