
"Kamu udah bikin aku di hukum di lapangan," ucap Milo, ia menahan gadis itu agar tak berontak dan kabur. Kara menatap sinis pada Milo.
"Kalaupun bukan sama aku, pasti kamu tetep kena juga," jawab Kara.
"Engga, aku sering lolos kok !" jawab Milo tak terima.
"Kan kan !!! berarti sering bolos ! berarti udah biasa juga dihukum, berarti ga masalah dong ! kan makananmu sehari hari, " Kara berbalik mencubit Milo.
"Engga bisa ! pokonya kalo aku bilang kamu salah ya kamu salah !" kekeh Milo. Tak ada yang bisa mendebatnya, sifat Milo dari dulu.
"Kenapa jadi aku yang salah ? kan yang mau coba kabur kamu !" tunjuk Kara.
"Ga mau tau, hukuman dibalas hukuman !" jawab Milo dengan nada perintahnya yang tak terbantahkan.
"Ihhh, curang lah !" jawab Kara bibirnya rencang depan.
Milo menarik Kara ke atas podium yang biasa dipakai guru guru berdiri saat upacara. Memghadapkan Kara ke arah lapangan sekolah, di posisi ini memanglah centernya saat upacara. Dari sudut manapun seantero sekolah akan melihatnya.
"Ih mau ngapain ?!" tanya Kara.
"Tadi kan kamu, manggil aku suruh jangan manjat tembok kenceng banget, pake pengeras suara, sampe kedengeran satu sekolah. Nah sekarang hukumannya ga jauh beda sama yang kamu lakuin tadi," jelas Milo menangkup pundak Kara, seperti sedang menjelaskan pada anak kecil.
"Anggap mereka para penonton yang baik hati dan maha budeg !" tunjuk Milo pada teman temannya. Sontak saja mereka sewot seperti suporter yang tak terima jika wasit membela tim lawan.
"Sue njirrr ! disebut budeg ! oyy turun loe Mil, berantem yoo !" pekik Arial.
"Mau ngapain lagi tuh bocah !" gumam Juwita.
"Asal jangan disuruh lompat aja tuh temen gue, ka Mil !" jawab Ica.
"Kalo Kara di suruh lompat masih wajar, kalo loe mah langsung dilempar sampai inti bumi !" ucap Jihad.
"Ji, mendingan loe gelut deh sama gue, mulut loe minta di gosok pake sikat wc !" Ica mendongak.
"Ga usah gelut juga gue dah menang boncel," Jihad membalikkan kepala Ica dengan memutar kepalanya ke arah podium lagi.
"Nih orang lama lama ngeselin ya, ini kepala bukan gangsing !" Ica menepis tangan Jihad, dan memukul Jihad di bagian bahunya.
"Oy guys Kara mau ngomong bentar !" pekik Milo hendak turun.
"Eh eh, mau ngomong apa ?!" Kara menahan lengan Milo.
"Buruan, gue mau balik...ini jadwalnya gue momongin janda tetangga sebelah rumah !" jawab Arial, dihadiahi jitakan dari Raka dan Kean.
"Oke coba ikutin aku by, " ucap Milo.
"Gue..."
"Gue..."
"Caramel Violin Paramitha !"
"Caramel Violin Paramitha !"
"Dengan ini menyatakan..."
"Dengan ini menyatakan..."
"Kalo gue...."
__ADS_1
"Kalo gue...."
"Bucinnya Armillo Dana Aditama !"
"Bucinnya..." Kara menghentikan teriakannya yang sudah seperti tarzan kota.
"Saravvv si Milo !" gelak Erwan.
"Makin hari makin gilak aja temen loe bang Rak !" ujar Kean.
"Bukan temen gue !" jawab Raka terkekeh.
"Ayo by, cepet teriakin kaya barusan, bucinnya Armillo Dana Aditama !" ucap Milo.
"Bucinnya....." pekik Kara, Milo sudah menunggu nunggu namanya disebut oleh Kara.
"Berani ga tuh anak ?!" tanya Kean.
"Gue rasa Kara ga akan semudah itu diusilin ka, " jawab Ayu.
"Bucinnya....." Kara memandang siswa siswi yang belum pulang merasa penasaran dan melihatnya tengah berteriak teriak seperti orang sedang nagih hutang.
"Ayo by, " pinta Milo. Kara menarik nafasnya.
"Bucinnya.....SPIDERMAN !!!" ucap Kara lantang, sontak mereka tergelak.
"Ko spiderman ? ulang ulang !" jawab Milo.
"Ulang ulang ya guys !" pekik Kara malah mengikuti kata kata Milo.
"Bukan yang itu by, " ucap Milo.
"Bukan yang itu by," pekik Kara.
"Parah si Kara, ada aja idenya buat bikin Milo ngenes !" jawab Kean.
"Sakit perut gue ngakak, liat muka frustasi Milo !" tunjuk Erwan.
"By, kalo kamu ga ikutin kata kataku yang awal kamu aku cium beneran ya ?!" ucap Milo.
"By, kalo kamu ga ikutin kata kataku yang awal kamu aku cium beneran ya ?!"
"Dih, si peakk pake disebutin lagi," gumam Ica.
"Ra, sensor oyy sensor ! banyak bocah disini !" pekik Ica.
"Mana bocah Ca ?!" tanya Kara.
"Loe bocahnya Ra !" jawab Jihad.
"Mil, ga usah racunin sugar baby gue sama hal hal berbau 18+ ! dia masih polos, kaya kertas hvs !" ucap Jihad.
"Oyy, kuping gue budeg ! loe kalo mau teriak sana, jangan deket deket ! ga nyadar diri, itu suara udah kaya terompet sangkakala," Ica mencebik.
"Saravvv, dibilang kaya panggilan hari akhir !" ujar Jihad.
"Gantung aja Ji, tuh tiang bendera masih nganggur tuh !" jawab Erwan.
"Ga usah kompor ka Er.." ucap Ica berdecak.
__ADS_1
"Salah salah, matanya bentar lagi keluar laser nih ! loe kalo di tatap berubah jadi pengikut ularnya ka Er !" jawab Ica, Jihad sudah menatap tajam. Ica langsung ambil langkah seribu.
"Ampun nyi blorong, kaburrr !" pekiknya.
"Lari aja sana ! mau lari kemana juga bakalan dapet sama gue !" jawab Jihad. Tak lama Jihad berlari mengejar Ica.
"Loe pada ngerasa kaya jomblo ngenes ga sih ?! liat di depan lagi berantem manja, yang barusan maen kejar kejaran, cuma salah tempat aja, harusnya di padang bunga sambil rebahan sama nyanyi !" ujar Arial.
"Hahahaha, " Raka menggelengkan kepalanya.
"Ka, ini proposal anak pramuka kemaren, yang disetujui pak Kepsek sama komite sekolah ! tinggal eksekusi, " ucap Firman.
Yang lain ikut melongokkan kepalanya, penasaran dengan kertas yang dibawa Firman.
"Proposal hari pramuka ! loe semua mesti ikut camping di sini aja, di sekolah kita !" jawab Raka.
"Camping Ka ?!" tanya Erwan, Raka mengangguk. Milo dan Kara yang ikut turun karena penasaran ikut bergabung.
"Iya, jadi sekolah kita bakalan ikut memperingati hari pramuka Se Indonesia, di sekolah kita aja, banyak hal bisa di eksplore kok, biar ga usah jauh jauh dan ribet, low budget juga ! yang penting kan maknanya, kalo di alam terbuka terlalu banyak resikonya, " jawab Raka.
"Betul banget ka Raka ! gue ga mau masuk masuk hutan, cukup ketemu dia aja singa nya !" lirikan mata Kara mengarah pada singa jantan di sampingnya.
"Kamuuu !!! mangsanya !" Milo menyergap Kara dan kembali bertengkar manja.
"Loe berdua bisa entaran ga sih lovely dovey nya, ga liat disini pada lagi merana, liat loe berdua !" ucap Erwan.
"Jadi kapan bang Rak ?" tanya Kean.
"Minggu besok, makanya OSIS mau bikin pengumuman sekaligus surat ijin ortu !" jawab Raka.
****************
Selembaran surat yang harus dibubuhkan tanda tangan ijin orangtua sudah dikumpulkan, hampir semua siswa kelas X dan XI mengikuti, terkecuali kelas XII yang sudah tak boleh diganggu gugat oleh kegiatan apapun. Hanya ada beberapa saja yang dulunya merupakan anggota OSIS dan pramuka yang boleh mengikuti.
"Gue denger denger OSIS ngadain jerit malam ya Ji ?" tanya Ica.
"Iya, biar mental loe kuat menghadapi kenyataan !" jawab Jihad ngasal.
"Dih, asem ! gue mah cewek tangguh, tiap hari kena omelan mamah di rumah tetep bisa tersenyum !" jawab Ica.
"Awas aja jangan sampe ngompol di celana, gue ogah pel in !" sarkas Jihad.
"Kaya yang loe berani aja, Ji !" ledek Kara.
"Wah sembarangan, mau taruhan ?!"
"Dapet apa ?!" tanya Ica dan Kara semangat.
"Kebiasaan kalo taruhan paling ijo, " jawab Jihad mengusap kasar wajah Ica dan Kara.
"Kalo taruhannya kaya gitu, enak di loe dong Ji ! loe kan anggota OSIS otomatis dah tau lah tantangannya !"
"Yang bagian jerit malam tuh anak pramuka sama OSIS kaka kelas, " jawab Jihad.
"Oke deal, yang menang dan ga takut ditraktir Jihad !" seru Kara.
"Boleh tuh ! aji mumpung !!" jawab Ica.
"Tos !!" ajak Kara pada Ica.
__ADS_1
"Kalo gitu gue sama Ayu, loe berdua ?!" tanya Jihad.
"Boleh, siapa takut ?!" Kara dan Kca kembali high five.