Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Watch me baby !


__ADS_3

"Kemanapun kamu pergi aku ikut ! mau kamu masuk club malam pun aku ikut !" ucap Kara nyolot. Sejak kapan gadisnya ini, berubah jadi gadis posesif. Tapi ia lupa Kara nya memang gadis keras kepala.


"Baby, itu bukan tempat buatmu," rayunya.


"Juga bukan tempat buatmu ??! apa susahnya ? aku bisa menyesuaikan? kemanapun kamu pergi, itu lingkunganku juga !" keras kepalanya, Milo menarik nafas panjang. Untuk saat ini, mungkin ia akan membatalkan semua janji dan kegiatan nakalnya.


"Oke, terserah kamu..yang jelas, aku ga akan bilang kapan aku mau pergi," liciknya.


"Oke ! aku bakalan tau !" jawab Kara, sudah pasti ada hubungannya dengan Jihad.


"Apa yang bisa kamu dapatkan di tempat tempat seperti itu ?!" tanya Kara. Bukan masalah apa manfaat ysng akan didapat. Tapi jika memang sudah terbiasa maka akan susah. Ini lah yang Kara tidak bisa rasakan, Milo dan kawan kawannya sudah terbiasa dengan gaya hidup bandel, namun..mereka masih tau batasannya. Menjadikan tempat macam club malam dan balapan liar hanya sebagai tempat melepas penat, yang memacu adrenalin darah muda. Pertanyaan gadis ini simple, tapi Milo tak dapat menjawabnya. Karena bukan soal logika, tapi rasa. Milo sudah terlanjur jatuh ke dalamnya.


"Apa kamu akan minta putus?" tanya Milo takut, seraya menggenggam tangan Kara kuat. Kara menggeleng, bukan seperti itu, cinta tidak memaksa untuk membuat seseorang menjadi lebih baik.


"Engga, tapi aku akan mencoba merasakan dan masuk ke dalam duniamu, merasakan apa yang kamu rasakan. Menemanimu sampai kamu jengah sendiri dan mengajakku keluar !" jawab gadis ini.


"Tapi aku ga mau di cap sebagai pemuda yang membawamu ke arah yang salah !" jawab Milo.


"Kita lihat siapa yang lebih kuat, aku atau kamu ? aku balik kelas dulu !" Kara langsung menghempaskan tangan Milo, berbalik badan menyibakkan rambutnya sambil mendumel, membuat Milo menarik senyumannya.


Beberapa hari tak ada yang aneh dengan Milo, Kara tau..Milo pasti akan menyuruh Jihad, Juwita maupun teman temannya untuk tutup mulut, bukan dengan Jihad..Kara mencari tau. Gadis ini lebih pintar dari Milo.


"Den Milo pergi neng, membawa motor.."


"Makasih bi, "


Bi Asih lah yang akan lebih tau, dia mengenal Milo sejak masih minum dari botol susunya, setiap penampilan dan gelagatnya, beliau pasti sudah sangat hafal.


"Buu... !!!! Ayah !!!"


Ibu dan ayahnya yang sedang berada di kamar menyahut.


"Kara boleh masuk?!"


"Kamu udah di dalem, mau masuk lagi kemana?" kebiasaan Kara yang masuk lebih dahulu baru bilang.


"Abisnya berduaan terus, jangan mikir mau bikin adek buat Kara !" ucap gadis ini. Bayangan adik adalah seseorang dibawah usianya yang akan mengusik hidupnya, semua kasih sayang orang sekitar akan berpindah padanya.


"Bu, Kara mau tanya ?" Kara duduk di samping ayahnya.


"Nanya sama ibu tapi gelendotin ayah ?" tanya ayahnya, Kara terkekeh.


"Kalo tiap Kara ulang tahun do'a ibu sama ayah apa?" pertanyaannya membuat kedua orangtuanya mengerutkan dahinya, apa putri mereka ini, ingin mengulang kembali ulang tahunnya di tahun ini.


"Kenapa? kalo do'a para orangtua ya begitu..semua do'a do'a terbaik mereka ucapkan untuk anak anaknya. Bukan hanya saat ulang tahun saja !" jawab ayah.


"Kara tau, tapi tolong..coba sebutkan !" pintanya.


"Ibu do'a kan semoga Kara panjang umur, sehat selalu, bahagia terus, pinter dan makin sholeha, sukses di kehidupannya, bisa bermanfaat untuk agama, negara dan orang orang sekitarnya," jawab ibu, Kara tersenyum.


"Nah, kali ini Kara mau mewujudkan do'a do'a ibu sama ayah !" jawabnya berputar putar layaknya melilitkan handuk. Kara sengaja tak langsung minta ijin, jika langsung to the point maka kedua orangtuanya sudah dipastikan akan menolak.


"Do'a yang mana?" tanya ayah.


"Ga usah muter muter kaya lagi di labirin !" jawab ibunya.


"Bermanfaat buat orang lain, buat apa hidup seribu tahun kalo hidupnya ga ada manfaat untuk orang lain, benar kan? Kara mau ngajakin orang ke jalan yang benar !" jawabnya, tanpa tau orang yang mau diajakin tobat adalah pacarnya sendiri, anak bos dari ayahnya.


"Lalu?" tanya ayahnya.


"Kara mau jihad di jalan Allah pake cara Kara sendiri ayah sama ibu meridhoi kan?? tenang aja Kara bisa jaga diri ! insyaallah, do'a kalian jadi pelindung Kara !" jelas gadis ini mantap, seperti akan masuk ke dalam perang Badar saja.


"Siapa maksud mu?" tanya ibu.


"Milo yah, sudah lama dia terjerumus di dunia malam seperti balapan liar dan club malam, mungkin ibu bisa mengerti..sebagai seorang ibu dan seorang guru..ibu pasti memahami kondisi Milo !" penjelasan Kara membuat ibunya merenung.


"Kara mau bawa Milo dari dunia nakalnya, bu !" ucapan Kara penuh pengharapan.


"Apa Kara bisa janji ? Kara akan selalu baik baik saja?" tanya ayahnya, tentu saja Kara mengangguk cepat. Tapi, tidak dengan ibunya. Ia sadar anaknya seorang perempuan, dunia malam adalah dunia yang berbahaya untuknya, anak gadis yang ia jaga mati matian sampai sekarang, meminta memasuki dunia luar.


"Bu, apa salahnya bantu orang. Insyaallah Kara tidak sendiri ! ada banyak orang di belakang Kara !" Kara menggenggam tangan ibunya.


"Ya sudah hati hati, ajak yang lain bersamamu !" ibunya menyimpan harapan besar pada Kara.


"Kara janji, masalah ini tak akan mengubah seorang Kara dalam segi apapun !" janji Kara. Setelah dapat anggukan mantap dari ibu dan ayahnya, Kara menelfon Ica, Ayu dan Jihad.


"Gue ga ijinin kalian masuk sana !" jawab Jihad kaku.


"Loe kanebo banget Ji, gue mohon ! gue mau ngajak orang insyaf tapi loe larang !" pinta Kara.

__ADS_1


"Elah Ji, palingan nonton orang balapan doang, kaya orang nontonin lomba balap karung !" jawab Ica.


"Mulutmu Ca !" usapan kasar di wajahnya dari Ayu.


"Jangan disamain sama balapan karung 17an, "


"Itu bukan tempat buat kalian Ra, gue ga mau kalian kenapa napa, biar gue yang kesana. Ini udah tugas gue !"


"Milo ga akan dengerin loe Ji !" jawab Ayu. Jihad terdiam, si@*lnya kata kata Ayu memang benar.


"Gue ikut Ra, pengen liat gue ! seumur umur belum pernah liat balapan liar !" jawab Ica.


"Gue juga ikut !" jawab Ayu, yang baru saja pulang dari kerjanya.


"Dengan atau tanpa loe Ji, gue bakalan tetep pergi !" Kara menutup sambungan panggilan grup itu.


Mau tidak mau Jihad akhirnya mengiyakan, tak mungkin ia membiarkan ketiga gadis ini pergi sendirian.


Kara menanggalkan kacamatanya, ia mencoba berbaur dengan lingkungan balapan liar agar tak terlalu mencolok.


Jihad sudah menunggu dengan mobilnya di depan rumah Kara bersama kedua gadis lainnya.


"Yu !!"


"Ra, seriusan ?? demi apeh??" tanya Ica.


"Bukankah jika masuk kesana kita harus berbaur? iya kali kesana pake gamis ibu sambil bawa tasbih," tanya Kara.


" Gue ga janji nanti disana loe bakalan dijadiin gadis taruhan Ra, " jawab Jihad.


"Hah???!!!" pekik ketiganya, baru tau.


"Kenapa? kaget? disana kan kalo ada yang bening suka direbutin, kadang sampe berantem dan dijadiin gadis taruhan !" jawab Jihad.


"Tenang aja Ra, kita punya sugar daddy, iya kan Ji?!" tanya Ica mengerjap lucu pada Jihad.


"Mual gue !" jawab Jihad. Ica mengerucutkan bibirnya.


"Ga apa apa Ji, gue sengaja ! dengan gitu Milo akan lebih memikirkan gue, dan keluar dari sana !" jawab Kara.


"Apa sih yang loe pikirin Ra, ini bahayain keselamatan loe ?" tanya Jihad.


"Oke ! let's join girls !" ucap Jihad.


Dari kejauhan sudah terlihat keriuhan acara disini, mobil Jihad masuk ke dalam area tempat liar.


"Astaga !!! ka Milo cs datang ke tempat beginian, apa yakin mereka masih baik baik aja ?!" decak Ica.


"Mereka bisa jaga diri Ca, hanya yang gue takutkan narkoba sudah masuk kesini ! tapi setau gue, dari orang dalam yang bisa gue percaya, sampai detik ini mereka belum pernah menyentuh barang haram itu."


"Stay bareng gue ! jangan pisah !" Kara turun bersama kedua gadis lainnya.Gadis ini meluruskan rambutnya, memakai topi dan memakai over all selutut.


Ketiganya sedikit terkejut, dengan bebasnya pergaulan disini.


"Banyak banyak istighfar gue disini !" ucap Ica.


"Bismillah dulu deh Ra !" pinta Ica.


"Kenapa ga yasinan sekalian Ca?" tanya Kara. Ica terkikik.


Jihad membeli 4 tiket masuk, ke arena penonton. Beberapa motor sudah berjejer untuk balapan, salah satunya motor milik Milo, benar saja..mata Kara menyipit pada sebuah motor balap hitam dan si empunya yang sedang asyik mengobrol dengan Arial dan Erwan, lalu kemana Raka??


Rupanya Raka dan Kean ada, masuk dalam deretan pembalap liar.


"Ra, tunggu !!" Ica dan Ayu mengejar Kara. Di dekat para pembalap, para penonton memadat. Hingga hampir sulit untuk Kara masuk dan mendekat.


"Yu, Ca..gue minta kalian tunggu disini sebentar !" pinta Jihad.


"Dukk !!"


"Aduhhh jangan dorong dorong !" ucap perempuan di depannya.


Seorang pemuda berbalik tak sengaja menabrak Kara,


"Dukk !! ehh sorry gue ga sengaja !" ucapnya,


"Ga apa apa !" Kara membenarkan letak topinya, tapi si pemuda ini keburu mengenalinya.


"Caramel??!" serunya senang bisa bertemu lagi dengan gadis yang sudah mencuri perhatiannya, dan kini Tuhan sengaja mempertemukan mereka kembali.

__ADS_1


"Sorry ga kenal !" jawab Kara, tapi pemuda ini menahan tangan Kara.


"Ga nyangka main ke tempat beginian juga?!" seringainya.


"Bukan urusan loe !" jawab Kara ketus. Jihad melepaskan tangan Ivan dari tangan Kara.


"Jangan ganggu Caramel !" ucap Jihad.


" Oo..ini lagi..ga usah so pahlawan buat Caramel ! apa loe cuma di jadiin pengganti Milo disaat Milo sudah bosan?" kekehnya. Tapi Jihad tak mengindahkan perkataan pemuda mabuk ini.


"Hey sugar, karena loe sudah masuk kesini, bagaimana kalau kita buat pesta sambutan buat loe ! jawab Ivan.


"Hey guys !!! " pekik Ivan ,sontak orang sekelilingnya melihat ke arahnya.


"Sambut tamu baru kita, gadis cantik yang bakalan jadi primadona disini !!!! Caramel Violin !!" pekik Ivan.


"Jaga b@*cot loe !!" Jihad mendaratkan tonjokannya di rahang Ivan. Lelaki ini malah tertawa. Kejadian itu sontak membuat suasana gaduh.


"Itu ada apaan?!" tanya Raka.


"Kayanya orang berantem !" jawab Kean.


"Coba loe cek !" pinta Milo pada Arial. Arial mengangguk.


"Jihad !!" Arial membantu melerai Jihad dan Ivan.


Acara belum dimulai, Arial kembali ke arena balapan.


"Loe mendingan liat ini guys, terutama loe Mil !" Arial menarik tangan Milo.


"Apa ??!" tanya Milo, mereka melihat kejadian yang dikelilingi itu.


"Jihad !!" gumam Milo, melihat Jihad sedang ditahan oleh seorang gadis dengan rambut panjangnya dan bertopi, membelakangi Milo. Milo meneliti dan mengenali si gadis, ia bergegas menghampiri.


Ia memegang tangan Kara dan membalikan gadis bertopi itu.


"Baby !!!" lantangnya.


Kara tersenyum lebar, "hay sayang !" Milo menatap tajam pada Jihad dan juga pada Kara.


"Ngapain kamu disini ??!" tanya Milo pada Kara, wajahnya kesal.


"Semangatin kamu lah ! " jawab Kara tanpa dosa. Di belakang Ayu dan Ica yang penasaran mendekati.


"Astaga ! aku sudah larang kamu !"


"Kamu ga larang, cuma bilang terserah !" jawab Kara.


Di tengah perdebatan keduanya, tanpa di duga Ivan melakukan hal yang membuat Milo murka.


"Guys, buat para pembalap termasuk gue ! yang bisa mengalahkan Armillo, ada cewek cantik yang nunggu disana ! tunjuk Ivan pada Kara, Milo mendekap Kara.


"Bank*s@t !!!!" Milo hendak menghampiri Ivan, namun suara seseorang dari lain arah menghentikan langkahnya.


"Gue ikut !!" ucap Rayhan, sebenarnya malam ini Rayhan tidak ikut balapan, tapi berhubung melihat Kara juga Milo yang menjadi rivalnya ia akhirnya memutuskan untuk ikut.


"Si@lan !!" gumam Milo.


"Kamu liat kan by, " ucap Milo menatap tajam ke arah gadisnya.


Peserta balapan bertambah.


"Ji, gue minta loe ikut balapan ! jika memang sudah tidak memungkinkan, pake option kedua !" pinta Milo.


"Kamu tunggu disini sama Erwan, dan jangan kemana mana !" pinta Milo, Kara mengangguk.


"Wan, jaga Kara sama yang lain, kasih kunci motor loe ke Jihad ! Rial loe ikut juga balapan, gue yang bayar pendaftarannya !" titah Milo.


"Watch me baby !" ucapnya mengecup kening Kara singkat.


Kara menatap kepergian Milo dan Jihad juga lainnya,


"Ini, kenapa jadi pada balapan semua !! mentang mentang taruhannya cewek bening kaya air galon !" ucap Ica.


"Option dua apa ka Erwan?" tanya Kara.


"Berantem !" jawabnya singkat.


.

__ADS_1


__ADS_2