Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Temen kost an se* tan


__ADS_3

Sudah dering ke berapa kalinya siang ini, laki laki ini ..apa ia tidak memiliki kerjaan lain??


"Iya mas sayang !!!" gemerutuk gigi menandakan jika gadis berpipi chubby ini kesal bukan kepalang, bisa bisa tempat sampah di depannya ia lempar sampai benua Australia.


"Yakin ga mau kujemput nanti? atau gini aja nanti kusuruh Iwan buat jemput !" optionnya.


Come on dude, semua orang punya kehidupannya masing masing, Iwan juga sedang bersamanya berlatih taekwondo.


Hari ini Kara mengajar les di salah satu rumah anak didiknya, Milo hanya mengantarkan saja sampai halte setelah sekolahnya, lalu meninggalkan Kara, karena ia sudah sangat terlambat mengikuti latihan taekwondo.


"Ga usah, aku bisa pulang sendiri, lagian aku udah sehat !" jawab Kara.


"Ya udah, nanti hubungi aku, kalo kamu udah mau pulang !" jawab Milo. Tanpa basa basi Kara menutup telefonnya.


"Si Kara dah gede Mil, ada kalanya cewek butuh dia dengan kehidupannya sendiri, ga usah terlalu di tempelin !" Raka melilit tangannya menggunakan kain putih. Kean dan Iwan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Sementara Arial dan Erwan sedang melakukan pemanasan.


Milo melanjutkan memasang gumshield nya. Tiba tiba seseorang datang di hadapan mereka,


"Hay, Mil !! kata tante kamu lagi taekwondo !" gadis ini tersenyum senyum mesem pada Milo. Tapi tak ada raut tersenyum ramah dari Milo, ia malah menatap tak peduli.


"Semangat ya Mil, aku sengaja dateng kesini buat semangatin kamu !" ucapnya.


"Gue ga butuh, pergi loe sana !" Milo melewatinya begitu saja dan masuk ke arena tanding. Tak mengindahkan kehadiran Vio, begitupun teman temannya.


"Baiknya loe balik deh Vi, daripada loe sendiri yang sakit hati !" ucap Kean berlalu, gadis itu cemberut dan menghentak hentakkan kakinya, tapi ia tak patah arang, meskipun arang itu sudah di hancurkan menjadi debu oleh Milo.


.


.


Milo telah selesai dengan latihannya hari ini, keringat mengucur di tubuh atletisnya, membasahi rambutnya menambah kadar ketampanannya,


"Nih !" Vio menyodorkan botol air mineral, ini yang Milo tak suka, ia paling tidak suka dengan gadis yang tak tau malu, sudah ditolak tapi masih tetap mengejar ngejarnya, mempermalukan dirinya sendiri, seakan tak memiliki harga diri.


"To the point aja, gue ga suka basa basi ! apa yang loe pengen ??!" tanya Milo dingin. Inilah Milo yang memang dingin, dan jutek. Tak ada tatapan ramah dan hangat layaknya ia pada Kara.


"Gue pengen ngajak loe jalan, ketemu mamah papah juga !" seru Vio terlihat berharap dan senang.


"Lalu, setelah loe kenalin gue sama bokap nyokap loe, apa lagi !" tanya Milo minum dari botol minum miliknya sendiri.


"Gue cuma pengen deket sama loe, gue suka sama loe Mil !" jawabnya.


"Ka Wan !!! ada cewek yang butuh gandengan !!" panggil Milo pada Iwan.


"Sorry gue ga suka, dan gue dah punya gandengan, mendingan suruh tante Marsya cariin loe laki lain, buat loe tempelin !" jawab Milo berlalu hendak mengganti pakaiannya, ia sudah galau merogoh ponselnya, berulang kali ia menghubungi ponsel gadis di sebrang sana, tak taukah gadis ini, Milo tengah uring uringan karena sejak tadi Kara tidak mengangkat panggilannya. Ingin rasanya Milo membeli pakaian jumpsuit Jarvis milik Iron man untuk menyusul Caramel. Vio menggertak kesal, ia hampir menangis, "gue ga akan nyerah gitu aja Mil !" ucapnya.

__ADS_1


"Ka Kara, itu ponselnya geter dari tadi !" tunjuk Oline, anak didiknya. Kara menoleh, "biarin aja, itu palingan orang yang minta pulsa !" jawab Kara kesal, karena getaran ponselnya membuat Oline jadi tak fokus.


"Ohhh yang mama minta pulsa itu ya kak??!" polos bocah berusia 7 taun itu. Kara mengangguk.


"Shittt !!!" geramnya. Teman temannya menertawakan pujangga cinta yang dilanda galau ini, gadis seperti Kara sudah berhasil membuat seorang Armillo seperti orang dengan gangguan mental. Kalau saja ia tau dimana rumah Oline mungkin Milo sudah menyusul. Harusnya ia pasang saja pelacak di baju Kara.


"Awas saja kalo ketemu !! gue nikahin detik itu juga !" gerutunya.


Erwan dan Arial tergelak, pasalnya jika setelah bertemu dengan Kara, Milo mendadak berubah lembek seperti kerupuk yang di siram air.


"Samperin aja kali Mil, daripada tuh burung burung ntar mati loe pelototin, daripada nih tembok ancur loe tonjokin !" ucap Raka.


"Yoi, tuh liat tanaman aja mati liat muka asem loe !" Kean menimpali, sempurna sudah wajah kecut Milo.


Kara sudah pamit dari rumah Oline, ia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 5 sore. Pantas saja warna langit sudah oranye seperti warna buah peach. Ia menyetop angkutan umum. Sekali lagi ponselnya bergetar, kali ini ia mengangkatnya, siap siap menjauhkan kupingnya dari siraman kalbu kemurkaan Milo.


"Kamu kemana aja by, kenapa baru angkat !" cerocos Milo tak ada jeda, seperti suara knalpot bajaj. Bukannya menanggapi Milo, mata Kara menyipit dan mengikuti seseorang di jalanan sana yang ia kenal.


"Pak, pak !! stop stop stop !!" Kara menyetop angkot. Terdengar oleh Milo, Kara belum sempat mematikkan ponselnya. Kara membayar ongkos yang baru setengah jalan.


" Ayu !!" gumam Kara.


"By, kenapa??" tanya nya.


"Ngapain Ayu ke tempat beginian !!" gumam Kara.


"Sayang, udah dulu ya !" tutttt...tuttt... Kara mematikan sambungan telfonnya sepihak. Sudah seperti kekasih yang tak dianggap, kaya cabe cabean yang ditinggalin di tengah jalan, Kara seenaknya mematikan tanpa mendengar ataupun menanggapi ucapan Milo, Milo jelas menggerutu.


"Astaga ! nih cewek bener bener minta dilamar sekarang !" ucapnya.


"Kenapa Mil ?" tanya yang lain terlihat keheranan.


"Kayanya ada yang ga beres !"


"Kean, loe bisa lacak ponsel kan ?!" tanya Milo. Kean mengangguk. Milo mengingat ingat model dan tipe ponsel milik Kara. Kean segera mengeluarkan ponselnya dan melacak dimana Kara berada.


Langkah Kara mengikuti seorang gadis yang ia yakini Ayu, sebuah bangunan berukuran kecil dari luar. Saat ingin ikut masuk Kara dihadang oleh penjaganya, karena ia memakai seragam. Ada larangan di kota ini, jika anak sekolah dilarang masuk ke tempat tempat seperti ini. Kara memutar otaknya, bagaimana caranya untuk bisa masuk.


"Maaf dek, anak sekolah dilarang masuk !" ucap pria bertubuh kekar.


"Tapi pak, itu teman saya masuk ke dalem, masa dia boleh saya ga boleh !" jawab Kara.


" Maaf disini tidak ada anak sekolah, yang masuk kesini kalau tidak pengunjung dewasa ya berarti karyawan !" ucapnya.


"Dih bapak pelit ! toh saya juga bukan mau ajojing ! cuma mau mastiin itu temen saya apa bukan !"

__ADS_1


"Anak sekolah baiknya belajar saja yang bener dek, apalagi anak gadis, lebih baik bantu masak ibu di rumah," tanpa di beritahu Kara pun paham, lagipula siapa juga yang mau menghabiskan waktu di sana, di tempat terkutuk itu. Kara memang kurang gaul, tapi ia tau tempat apa ini.


"Saya mah sering pak bantuin ibu masak di rumah, udah hatam juga resep resepnya, ga perlu bapak suruh ! saya cuma minta tolong bentaran doang mau liat ke dalem, itu yang barusan banget masuk mirip temen saya !" jawab Kara.


"Mungkin hanya mirip saja ! sudah banyak anak sekolah yang beralasan seperti itu, ujung ujungnya mereka memang mau ikutan minum di dalam !" jawab si bapak.


"Apa muka seimut saya keliatan kaya muka penipu??" tanya Kara. Penjaga itu tetap menolak, bukankah yang terlihat kalem justru yang paling bahaya??


Kara memanyunkan bibirnya, bohlam lampu menyala di atas kepalanya, senyumnya tersungging.


Ia memegang perutnya, dan meringis kesakitan "aduhhhhh !!! awwww sakit sakit !!!" ringisnya.


Penjaga itu mendekat, "kenapa dek?"


"Perut saya sakit pak !! " jawab Kara.


"Kalo gitu bisa ikut saja ke toilet di warung situ !" jawabnya.


"Ga bisa pak, bukan pengen ke toilet, ini perut saya melilit !!! saya punya penyakit serius !! bapak bisa tolong saya, " jawab Kara sambil berjongkok.


Bapak itu menghela nafasnya lelah, menyusahkan saja pikirnya, "please pak !"


"Tolong apa??" tanya nya.


"Boleh mintakan air putih hangat, di warung situ, saya tunggu disini !!" jawab Kara.


"Tinggal minta saja, tidak perlu saya juga yang minta !" jawab nya.


"Tolong dong pak, menolong sesama itu wajib hukumnya, kalo saya tiba tiba meninggal disini kan ga lucu pak ! perut saya kram susah bangun !" jawab Kara mengkhawatirkan. Mau tidak mau ia menurut, belum juga sampai di warung itu. Kara sudah berlari masuk ke dalam club itu.


"Hey !!!! nipu ternyata !" si bapak itu mengejar Kara.


"Mamposss gue !!" Kara mencari tempat sembunyi dahulu. Ia mencari toilet, dan bersembunyi disana. Untung saja ia memakai swetter hingga baju putihnya tidak terlihat,


"Aman belum ya !!" gumam Kara yang bersembunyi di salah satu bilik toilet. Sementara penjaga tadi mencari cari Kara, Kara cukup gesit, tak sia sia ia sering ikut lomba marathon di kampungnya untuk memenangkan buku tulis satu pack dan sepatu sekolah.


Sudah 15 menit Kara disana, kakinya saja sudah kesemutan. Ia keluar dari toilet dengan mengendap endap. Ia mulai mencari dimana keberadaan gadis yang mirip Ayu. Kara asing dengan tempat ini, Tempat dengan lampu temaram dan berkelap kelip, pengunjung disana pun rata rata orang dewasa, yang wanita dengan pakaian kurang bahan, sedangkan laki laki sepaket dengan kurang akhlaknya. Bau rokok dan alkohol menyengat di hidung Kara, begitupun suara keras dari pemutar musik dan Dj. Tak jarang Kara melihat pria pria tua hidung belang, besok besok sepertinya Kara akan membawa kaset siraman rohani dan sari thilawah lalu menyetelnya kenncang kencang biar pada insyaf. Sudah tua harusnya ingat anak cucu di rumah kek, bukan maen colak colek sabun colek dengan wanita wanita muda. Sudah tua harusnya bau minyak angin bukan bau alkohol.


"Lama lama disini keluar keluar gue jadi temen kost an syaiton di neraka !" gumamnya. Matanya menyipit mengedar seluruh sudut ruangan. Hingga jantungnya seakan dihantam sesuatu yang teramat keras.


"Ayu !!" gumamannya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2