Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
X 4 VS XI IPA


__ADS_3

Kara membetulkan penampilannya, menaruh kacamatanya takut terjatuh dan pecah, walaupun pandangannya akan sedikit terganggu.


"Oke guys, siap ya ??!" tanya Amel.


"X 4 ??!!" t shirt berwarna hitam dipilih menjadi kaos tim, agar tak salah mengoper bola.


"Girls, babak penyisihan X4 lawan XI IPA !" ucap Jihad, name tag panitia menggantung di lehernya. Untunglah di babak penyisihan lawan mereka tak terlalu berat, hanya ada Nina dan Moni. Lagi pun Moni tidak masuk ke dalam tim futsal putri.


"Sini kumpul anak anak daddy !!" pinta Jihad.


"Apapun yang terjadi berusahalah semampunya, ini cuma permainan !"


"Jangan malu maluin gue Ca, "


"Iya ahh bawel, kaya emak gue di rumah !" sarkas Ica.


"Hotel ! i'm coming !!" serunya.


Siswi X4 masuk ke dalam arena lapang, rupanya tim hore dari kelas mereka sudah disana dengan spanduknya.


"Gue berasa jadi Indo vs Malay tau ngga ?!" dumel Kara.


"Hooh !" jawab Amel.


"Mendadak nervous !" jawab Ayu.


"Gue mendadak mules !" timpal Ica.


"Berasa jadi seleb, gue !!" ucap Vanya.


Arial sudah bersiap dengan peluitnya.


"By, kamu yakin ga pake kacamata?" tanya Milo.


"Mataku bukan rabun yank, cuma minus, itu pun kalo baca," Kara bersiap siap.


"Gue bagian apa sih sebenernya ?!" tanya Ica, tak tau menau dengan aturan futsal.


"Loe back aja Ca, " pinta Amel sebagai kapten.


"Gue? ogah kalo kiper, gue takut ketampol bola !" tanya Kara.


"Biar Vanya yang jadi kiper, dia sering maen bola di kampungnya ya kan Va?" tanya Amel diangguki Vanya.


"Loe sayap aja Ra !" jawab Amel, Kara tertawa.


"Loe kira gue mau terbang apa ?!" Ica tertawa, sama sama sengkleknya.


"Ampun gue, sama nih anak 2 !" ucap Jihad.


"Tau apa sih loe berdua ?! biasa maenan tanah sih loe berdua !" omel Jihad.


"Gue taunya bola bekel Ji, " kekeh Kara.


"Baby, udah ga penting jadi apapun, yang penting bobolin gawang lawan, dan gawangmu jangan sampe kebobolan, cukup nanti aku aja yang bobolin !" ucap Milo, diomeli semuanya.


"Tak !!!" kepala Milo di tampol Kara.


"Yang penting jangan kasar aja Ra, " jawab Raka.


"Iya, asal jangan jadi jambak jambakan," tambah Kean.


"Oke gue paham !" jawab Kara.


"Ca, ngapain?" tanya Ayu melihat Ica melakukan pemanasan yang aneh.


"Lagi rebahan, pemanasan lah Yu !"


"Udah telat peakk ! aturan mah tadi bukan sekarang !" ujar Kara.


Arial selaku wasit memanggil kedua tim, Kara beradu pandangan dengan Nina. Sepertinya ini akan menjadi ajang balas dendam bagi Kara dan Nina, Arial lalu menyuruh kedua kapten memilih sisi koin.


"Ka Rial, koinnya ga ada yang cebu an gitu ? kere banget !" ditertawai Ayu dan Kara.


"Allahu, belum apa apa gue dah sakit perut !" jawab Vanya.


"Hadeuhhh ! ini mah bukan mau tanding futsal, mau nontonin lenong bocah !" tawa Raka.


Bola pertama dimenangkan kubu XI IPA. Mereka mengambil posisi.


"Ca, loe mau kemana?" tanya Vanya.


"Ca, loe seneng banget ngintilin gue, loe back ! otomatis di belakang lah, peakk !" jawab Kara.


"Gue lupa ! mendadak amnesia gue ! " jawab Ica menepuk jidatnya.


Pritttt !!! pertandingan dimulai. Bola dioper kesana kesini, meskipun operan mereka bukan layaknya pemain profesional dan lebih banyak melenceng dari kehendak. Mereka memang masih nol dalam aturan futsal, tapi mengandalkan insting yang memang diiming imingi liburan di hotel, Ica dan Kara berubah menjadi bintangnya lapangan. Suara komentator dari pelantang membuat adrenalin mereka terpacu.


Dari awal Kara selalu menjadi sasaran empuk Nina, ia sudah di senggol dan ditabrak oleh Nina cs.


"Brukkk !!"


Tubuh Kara di tubruk Nina, hingga terjatuh. Suporter X 4 menyoraki tim lawan.


"Huuuuu !!"


"Emang dari awal sasaran ka Nina tuh Kara, " ucap salah seorangnya.


"Sat !!!" umpat Kara.


"Prittt !!!"


"Wah sit !! ga bisa gitu, itu pelanggaran ! lama lamanih lapang jadi ring tinju," Ica tak terima.


"Iya Ca, gue tau !" jawab Rial.


"Nin, jangan maen kasar, sekali lagi loe kasar langsung kartu merah !" ucap Rial. Nina memutar bola matanya jengah.


"Gue ga sengaja !" alibinya mencebik.


"Oke, mau maen kasar rupanya ! jangan panggil gue Kara, kalo ga bisa ngatasin begituan !" Bukan Kara namanya jika hanya masalah kecil begini, ia menangis dan merengek. Sorakan dukungan X 4 menggema membakar semangat.


"Yo...ayo....ayo X 4 ku ingin kamu terus menang !!!!" nyanyian mereka. Kekompakan mereka patut diacungi jempol. Dengan tulisan X 4 dan lambang negara Indonesia yang mereka sematkan di pipi mereka.


Begitulah jika perempuan yang tidak tau menau tentang futsal, bukannya saling berjaga di posisinya masing masing. Tapi kemanapun bola pergi, maka mereka semua mengekor seperti anak bebek.


"Njirr !!! itu bola kesana pada ngikut kesana semua !!! ntar gue kasih bola satu satu !!" pekik Ica. Kara dan Ayu tertawa begitupun Rial.


"Loe mau maen futsal, apa mau keroyokin bola??!" pekik Ica yang ditujukan pada kelas XI IPA.


Sesekali Ica mendapat bola, tapi bolanya selalu bisa direbut lagi lawan.


"Tangkap Yu !" Ica menendang bola. Bukannya bola yang mendarat, sepatu Ica malah melayang tepat ke arah Ayu.


Ayu mengelak, " Ca ! yang bener aja !" Amel, Kara dan Vanya tertawa puas.

__ADS_1


"Lah ! ko sepatu gue yang nyampe ke loe Yu !" lirih Ica berlari terpincang mengambil sepatunya.


Kara mengejar Nina yang sedang menggiring bola, ia siap siap mensleding bola dan merebutnya.


"Sreettt !!" dengan cekatan Kara mensleding bola dengan apiknya, dan berhasil merebutnya dari Nina.


"Shittt !!" umpat Nina, kembali mengejar Kara.


"Weits ! Kara w3dunnn ! bisa gitu !" ucap teman kelasnya. Senyum tersungging di wajah Milo.


"Mel !!" panggil Kara.


"Oper Ra, " Amel menangkap bola operan Kara, lalu menggiringnya. Melihat Amel yang diserbu, Kara dan Ayu maju melindunginya. Tim lawan maju semua tidak termasuk kiper, melihat lawan tak seimbang dan tau apa yang akan dilakukan Nina cs pada Kara, Ica maju.


"Ca, loe mau kemana ??!" tanya Vanya.


"Bo*do amat ! gue maju juga lah ! berantem berantem deh !" jawab Ica.


Kara menggocek bola dan mengelabui semuanya yang malah saling berteriak karena menendang udara dan kaki satu sama lain.


Kara membawa bola dan bersiap menendang ke arah gawang lawan.


"Dugghhh !!!" Kaki Kara menendang bola sekencangnya, kiper dari tim lawan malah melindungi wajahnya sendiri. Lebih baik kebobolan daripada bola harus mencium wajahnya.


"Blushhhh !!!" bola masuk ke dalam gawang lawan.


"Prittttt !!!"


"1-0 !!" ucap Arial.


"Gol ??!!"


"Yeee gollll !!!!" Ica langsung melompat ke arah Kara dan memeluk Kara bersama Ayu hingga Kara tersungkur.


"Kamvreett !!! sakit peakk !! badan loe berat kaya gorilla !" seru Kara.


"Cihh si@l !!!" Nina mencebik.


"Gimana sih loe ! jagain gawang !!" omelnya pada temannya itu.


Arial meniup peluit tanda istirahat. Kara diserbu teman teman sekelasnya. Serasa jadi seleb sehari.


Milo memberikan sebotol minuman isotonik lewat temannya, karena bagaimana pun, panitia tidak boleh dekat dengan kelas manapun. Bisa bisa dianggap KKN.


"Selamat baby, go go menangkan pertandingan my girl !!"


Kara tersenyum menunjukkan botol minuman yang sudah diterimanya. Dan menunjukkan tanda love nya untuk Milo di meja panitia sana. Milo berpura pura menangkapnya dan mengantonginya, membuat Kara tergelak.


"Mil, bisa kita bicara sebentar !" pinta Jihad dan Raka. Milo mengekor, menjauh dari keramaian.


"Ada apa?" tanya nya.


"Gue dapet info dari papa, " Jihad menyerahkan sejumlah file yang kemudian diterima Milo.


"Ini?" tanya Milo.


"Iya, itu SD tempat dimana ibu Kara mengajar, tiba tiba ada nama ayah Vio sebagai donatur terbesar disana dan mencalonkan diri menjadi komite sekolah," jawab Raka.


Milo menyunggingkan senyumnya, " selesai acara kita mainkan," jawabnya.


"Ka, gue minta segera berkas itu sampai di tangan para pemegang saham,"


"Kapan?"


"Besok ! gue bakal suruh om Adi masukkin berkas laporan ke kantor polisi hari ini juga, agar secepatnya di proses !" ucap Milo.


"Babak kedua kita harus nambah gol !" ucap Amel diangguki lainnya.


Peluit sudah dibunyikan, bola kembali bergulir.


"Oper !!" pekik Nina. Tidak seperti tim Kara yang bekerja sama, Nina seperti hanya ingin memiliki bolanya sendiri.


"Dia kalo mau maen sendiri, ngapain mesti pake tim segala ! udah aja beli bola sendiri !" cebik Ayu.


"Udah biarin aja, entar juga dia sendiri yang capek !" jawab Kara. Niat hati menendang ke arah gawang Vanya, tapi melenceng jauh.


Ica tergelak puas, "kenapa ga sekalian aja ke rumah bapak gue !"


"Ba*cot loe !" jawab Nina mendelik sinis.


Berbalik Ica merebut bola dari kaki teman Nina, hingga membuat Nina geram.


"Yu !!" panggilnya. Belum Ica mengoper bolanya sambil berlari, kaki Ica di tendang Nina dengan keras dan sengaja, sampai Ica terpelanting jauh.


"Dugghh !!!"


"Krekk !"


"Ica !!!" pekik lainnya.


"Kaki gue sakit, Ra !! jangan dipegang !!"


"Oke sorry !"


Arial meniup peluitnya mengeluarkan kartu merah untuk Nina, hingga kini hanya 4 pemain dari tim lawan.


"Ica !!" gumam Jihad.


Ica dibawa teman temannya ke luar lapangan. Jihad segera mendekat.


"Ca, loe kenapa?"


"Mel, ganti pemain !" pinta Jihad.


"Nit, loe masuk !" sehubungan dengan Ica yang digantikan, tim lawan pun salah satunya diganti Moni, yang notabenenya cs Nina, juga memang ia banyak mengikuti ekskul olahraga. Mereka sedikit terkejut, bukankah Moni tidak masuk dalam tim futsal.


"Loe ga apa apa kan Ca ?" Kara mencoba membuka sepatu Ica.


"Astaga !!" engkelnya lebam.


Jihad segera membenarkan engkel Ica, Ica memegang baju Kara dan menyembunyikan wajahnya di dada Kara.


"Aaaa, sakit Ji !!" pekik Ica.


Tim panitia bagian medis memberikan es untuk mengkompres lebam Ica.


Milo menoleh pada Kara, ia tak mau Kara sampai mengalami hal yang sama, apalagi sekarang Moni masuk.


"It's oke sayang, aku ga akan apa apa !"


"Ca, gue tinggal ya !" ucap Kara diangguki Ica.


"4 lawan 5, oke ga masalah ! gue sikat satu satu !" ucap Moni. Ia bagai eksekutor atau algojo Nina.


"Guys, keuntungan buat kita. Tapi hati hati ada ka Moni disini !" ucap Amel.

__ADS_1


Kara sudah bersiap mental dan tenaga.


"Let's play girl !" ujar Amel.


Amel merebut bola dari Moni, memang tidak gampang melawannya, tapi jangan lupakan jika Amel pun mengikuti ekskul olahraga sama seperti Moni.


"Kara !!!" pekik Amel.


Kara menerima operan Amel, berlari dengan menggiring bola menuju gawang.


"Ra, awas jangan sampai oper di kotak penalti !" ucap Amel.


"Ha??! kotak apa?" jawab Kara membeo. Kara menendang dan kembali masuk ke dalam gawang.


"Yeee golll !!"


"For you baby !!" ucap Kara menujuk Ica.


"Uhh so sweet bebebs gemes gue !!" ucap Ica, yang berada di pinggir lapangan.


"Tuh anak katanya ga tau maen futsal, tapi dia udah berhasil cetak 2 gol !" Milo mengerutkan dahinya.


"Apa sih yang Kara ga bisa Mil? lelehin hati loe kaya mentega panas aja bisa !" ledek Erwan.


Moni bergantian menggiring bola, kali ini ia tak membiarkan lawan manapun mengusiknya.


"Ve, tangkap ! nanti oper lagi ke gue !!" bola hampir berada di dekat gawang.


"Yu, Nit...jaga !" pekik Amel.


Vanya sudah bersiap menangkap tendangan Moni.


"Bughhh !!!" bola ditendang sekencangnya, dan masuk ke dalam gawang.


"Yeee golll !"


"Prittt !!! 2- 1 !!" ucap Arial.


"Sorry ya guys !" ucap Vanya.


"Ga apa apa Va, semangat buat kita semua !" ucap Kara dan Amel.


Ayu berhadapan dengan Moni, tapi Moni melewatinya dengan mudah, malah Moni sedikit mendorong badan Ayu.


Kini Moni berhadapan dengan Amel, mereka beradu tulang kering dengan kerasnya.


"Ih ngeri gue !" gidik Ayu diangguki Kara. Rupanya sikat disini, Amel lah sasaran selanjutnya, tau akan hal itu Kara dan Ayu maju.


"Ve, urus yang satu !" ucapnya mungkin maksudnya Kara. Temannya yang satu lagi maju menghalangi Ayu.


Amel tetap menahan Moni.


"Jangan mau kalah Mel, " lirih Kara.


Kaki Amel berusaha merebut bola dari kaki Moni, hingga hampir saja tertendang Moni. Pada akhirnya Amel berhasil, dan mengoper pada Kara.


Kara kembali mengoper pada Amel, untuk di eksekusi jadi gol, Amel sudah mengambil ancang ancang untuk mencetak gol, tapi Moni mensledingnya hingga bola itu kembali direbut.


Moni berniat menendang bola, tapi bukan gawang tujuannya, ia sengaja mengarahkan bola itu pada Kara.


"Dukkhhh !!" bola itu ditendang sekencangnya aga sedikit melambung, hingga Kara hanya menghalangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Woyyy sit !!! " seru yang lain tak terima, tapi disana tak ada pelanggaran yang terjadi, membuat Arial bingung mengambil keputusan. Milo sudah meninju tembok. Tak ada kapoknya Moni membuat ulah, berapa nyawa yang ia miliki.


"Loe ga apa apa Ra?" tanya Arial.


"Ga apa apa ka!" Kara membersihkan badannya yang terkena tendangan bola.


Tapi sampai pertandingan berakhir tak ada lagi gol yang terjadi disana.


"Yeee !!!!" seru Kara berpelukan dengan Ayu, Amel, Nita, Vanya.


"Kalian hebat !!" seru Kara dan yang lain.


"Bebs, loe ga apa apa kan?" tanya Kara.


"Kaki gue atit bebs !" jawab Ica merengek.


"Geli gue ih, Ca, Ra.. !" gidik Ayu, sontak kepala Ica dan Kara di jedotkan oleh Jihad.


"Oyy !! Ji ! apaan sih loe !" omel Ica dan Kara.


"Loe bertiga kamvreet gue yang paling sweet !" ucap Jihad pada ketiganya.


"Babak selanjutnya kita sama siapa Ji?" tanya Ayu.


"Siap siap perempat final bareng X 6 !" jawab Jihad.


"Oke guys istirahat dulu deh !" Kara menselonjorkan kakinya di pinggir lapang basket, seraya melihat yang lainnya bertanding.


"Selamat baby, " ucapnya.Kara mendongak.


"Makasih, keberuntungan pemula !" Kara kembali memakai kacamatanya.


"Kamu hebat, calon ibu dari anak anakku cewek tangguh !" kekehnya.


"Sebelum tanding lagi, isi dulu perutnya dikit !" pinta Milo meyodorkan roti bakar yang dibuatnya sendiri di kantin sekolah.


"Rotinya emang punya ibu kantin, tapi aku sendiri yang bikinnya pake cinta, !" serunya bangga.


"Oh ya?? maacih !!" jawab Kara.


Milo menyuapi Kara,


"Emhhh, enak !! makasih cintanya !" ucap Kara, Milo melihat dimana mereka saat ini lalu tertawa.


"Kenapa?"


"Kamu inget ga? disini kamu seruduk aku sama Kean ?!" tanya Milo.


"Oh ! yang kamu mau bully aku, lempar kepalaku pake bungkus permen karet?!" kekeh Kara, diangguki Milo.


"Aku baru inget, aku lagi duduk di tempat keramat !" jawab Kara lagi, Milo tertawa renyah.


"Ga boleh ada yang boleh nempatin tempat ini, loe ga tau ini tempat siapa?!" dengan gaya tengilnya, Kara mengikuti gaya bicara Milo.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2