
Stelan seragam pramuka sudah dipakai para peserta, lapang sekolah bagai lautan susu coklat Milo.
"Ini gimana sih makenya, gue ga ngerti !" ucap Kara, ternyata gadis seperti Kara tak sesempurna yang terlihat.
"Sini bebs, gue pasangin !" ucap Ica.
"Awas leher gue, loe cekek !" Ica meraih kacu yang menggantung di kerah seragam Kara.
"Engga, palingan gue buat simpul tali mati, biar ga bisa dilepas ! gantung di pohon rambutan !" tawa Ica.
"Saravvv, " jawab Ayu tertawa, memang tak ada habisnya kedua temannya ini. Rambut mereka satu model, karena rambut mereka panjang. Mereka mengepangnya satu di belakang.
"Pokonya lomba lomba kali ini kita mesti kompak !" semangat Ica berkobar, padahal nyatanya, ialah yang paling banyak mengumpat dan mengeluh.
Lomba pertama mereka membuat tandu, dan melakukan pertolongan pertama.
"Kelompok Mawar !"
"Cih gue kurang srek lah sama mawar, suka keinget sama berita di tv, kalo ada yang terciduk sebut saja mawar !" ucap Ica.
"Ka !!" Kara menginterupsi pada Firman (waketos) dan Gilang (anggota pramuka).
"Iya kelompok Mawar ?!"
"Bwahahahahaha !" tawa teman sekelompoknya.
"Sat !! ehh, sorry sorry !" ucap Kara.
"Ka, bisa ganti ga sih nama kelompoknya, ko berasa berdosa dipanggil mawar," keluh Kara mengerucutkan bibirnya. Milo cs menahan tawanya.
"Jadi apa baby ?" tanya Jihad, Milo menatapnya tajam, dan menginjak kaki Jihad.
"Awsshhh, galaknya.." kekeh Jihad.
"Yang kerenan Ra, geng Nero kek !" jawab Ica, sontak di tertawai yang lain.
"Loe aja sendiri, " jawab Vanya.
"Bunga sepatu ? bunga terompet ? raflesia arnoldi?" tanya Jihad.
"Cih, ga ada yang bagusan dikit apa Ji?!" jawab Amel.
"Loe kalo nyebut Raflesia arnoldi jangan ke gue arahnya !" jawab Ica.
"Sutt ! ya sudah sudah...bagaimana kalau cempaka ?!" usul bu Mira.
"Boleh bu, " jawab Kara.
"Oke kelompok Cempaka, coret mawar Lang !" pinta Firman.
"Kelompok Cempaka, di sisi sebelah kanan, dengan alat alatnya. Siapa yang jadi korban ?!" tanya Arial.
"Loe aja Mel, muka loe kaya terdzolimi soalnya !" jawab Ica.
"Sat ! kamvreet loe !" Amel mengecilkan volume umpatannya karena di depan guru.
"Asal jangan Ica ah, berat dia..keberatan dosa !" jawab Kara.
"Njirr !" umpat Ica seraya menoyor gadis itu.
"Loe ga inget apa, kita kalo bikin dosa bareng bareng !" jawab Ica.
__ADS_1
"Amel aja kak, " ucap Kara pada Gilang.
Games dimulai, Amel di ujung sana sambil terduduk, Kara dan yang lain sibuk mengambil peralatan dan merakit tandu.
"Duh, gue paling ga bisa yang beginian !" keluh Kara. Dari sudut sana Milo, Raka dan Kean menilai.
"Allahu rabbi, ini anak anak gadis gue ! bisa bikin tandu ga sih ?!" tanya Jihad geram melihat simpulan mereka salah terus.
"Kalem kenapa sih Ji ! lagi berusaha ini !"jawab Vanya.
"Ga usah berisik ! kalo ga bantuin !" jawab Ica.
"Panitia ga boleh bantu, Ca !" ucap Jihad. Itu kenapa Milo tak pernah mendekati Kara saat sedang acara.
"Ra, itu diiket ke kanan !" pinta Vanya,
"Dah lah yang penting jadi, si Amel ga jatoh !" jawab Kara, peluhnya sudah mengucur di pelipis.
"Pengen banget gue kesana, tapi takut ga fair !" ucap Milo.
"Yok ! yang sudah segera angkut teman kalian yang terluka !" pekik Milo.
Keempatnya membawa tandu abal abalnya menuju posisi Amel,
"Ahhh, orang luka nyusahin banget ! kalo gue sih nemu kaya gini, gue gelindingin aja !" ucap Vanya, ini yang terjadi jika genk cewek sengklek sudah berkumpul.
"Kalo gue mah, panggilin orang orang, pas udah pada kumpul gue mah pergi ! jadi gue cuma bantu manggilin orang doang, yang penting judulnya nolong !" jawab Ica. Amel yang berpura pura mengaduh jatuhnya malah jadi cekikikan.
"1...2...3...!!"
"Angkat guys !!" ucap Kara.
"Hhahaha, semalem loe abis nyemil apaan sih Mel?" tanya Kara.
"Batu kali !" jawab Amel.
"Abis ini pinggang gue encok !" jawab Ica.
Srekkk...
"Astaga, bentaran ini kayanya talinya ga kuat !" ucap Amel merasa jika tali simpul akan terlepas.
"Turunin dulu ! abis ini gue bersumpah pengen jajan jus jeruk 3 gelas !" ucap Kara.
Kara menyibakkan poninya yang mengganggu, ia lantas memperkuat simpul tali tandu.
"Done, aman lah ! angkat !!" mereka mengangkat Amel ke ujung, awal mereka start.
"Buruan nyampe finish ini !" kelimanya langsung terduduk dan berjongkok saat mencapai garis finish.
Kelima cewek sengklek ini akhirnya sampai, mereka melirik ternyata mereka lah grup pertama yang berhasil sampai duluan.
"Prittttt !"
"Kelompok Cempaka !!!"
"Yeee !!!!" pertandingan berikutnya adalah PBB, di tengah panas terik begini, dijemur untuk berlatih PBB membuat peluh mereka semakin deras. Kara menyipitkan matanya, keningnya berkerut. Matanya terasa gelap melihat tempat teduh.
Milo melihatnya, ia lalu memasangkan topi pada Kara.
"Pake, nanti kamu pingsan !" ucapnya memasangkan topi bundar berbahan rotan.
__ADS_1
"Makasih, " jawab Kara.
Raka dan yang lain menginteruksikan untuk beristirahat. Ica sudah merebahkan badannya di dalam tenda. Kara membasuh wajahnya yang terasa panas. Waktu makan siang sebentar lagi, sebelumnya mereka melaksanakan sholat dzuhur berjamaah bagi muslim.
Milo membawa 2 kotak nasi dan juga minum.
Kara yang sudah mengantri bersama peserta lainnya, tiba tiba saja ditarik oleh Milo. Tangannya langsung diapit olehnya diantara lengan dan perutnya.
"Ehh, " Kara yang tak bersiap siap, ikut terbawa.
"Kebiasaan deh, main tarik tarik aja !" dumel Kara.
"Sini makan bareng, aku udah cukup sabar dari tadi ga deket kamu ! jadi waktu istirahat kamu khusus sama aku !" jawab Milo. Keduanya duduk di pinggiran lapangan, mencari tempat teduh untuk makan bersama.
Kara membuka kotak nasi, menyendok nasi. Suapan demi suapan ia lahap bersama Milo.
"Kenapa itu nya disisihin di pinggir ?" tanya Kara saat Milo menyisihkan sayurannya di pinggir.
"Ga suka by, " jawabnya.
"Ga boleh gitu, nanti dia nangis ! udah mirip kekasih yang terbuang, ini tuh satu kotak udah paket lengkap nutrisinya, kalo kurang satu, nanti tubuh kamu kehilangan nutrisinya !" Kara memaksa Milo untuk membuka mulutnya dan melahap sayuran itu.
"Iya bu dokter !" jawab Milo.
"Aaa !!! pesawat mau masuk !!" ucap Kara tergelak, begitupun Milo.
"Kaya anak bocah !" jawab Milo.
"Ya udah, kalo ga mau disebut bocah, dimakan ! papahmu kasih uang buat acara ini setiap rupiahnya butuh pengorbanan !"
"Coba deh sedikit aja !" jawab Kara membujuk.
Milo membuka mulutnya bukan satu atau 2 tapi satu sendok full Kara melahapkannya di mulut Milo, pemuda itu terpejam merasai sayur yang tak ia suka.
"Kaya bocah !" ledek Kara.
"So sweet nya !" goda Juwita.
"Gabung dong !" pinta Juwita.
"Hussh, sana ini waktu privasi gue ! jangan ganggu" usir Milo.
"Cih, sombongnya ! ckck, "
"Sini ka Juwi, gabung aja !" jawab Kara.
"Tuh kan, cewek loe aja ngajakin gabung !" Juwita mencebik, merasa ada yang membela.
"Loe berdua dah abis?" tanya Juwita melihat tempat makan keduanya sudah ludes.
"Udah ka, lohh ko, ka Juwi baru mau makan ?" tanya Kara.
"Baru dapet Ra, kan ngantri !" jawab Juwita. Jelas saja Milo cepat, ia kan panitia hanya tinggal ambil saja dari dapur, maka Kara tak perlu mengantri.
.
.
.
.
__ADS_1