Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Informasi yang belum selesai.


__ADS_3

Kara menahan tangannya, jangan sampai minuman bersoda di depannya mengguyur rambut yang sudah mendapatkan perawatan mahal salon itu.


"Baru dekat saja sudah kurang aj*ar kamu ya ! lagipula gadis seperti kamu bukan selera Milo, jangan kepedean kamu !" akhirnya Kara tau satu hal walaupun tidak semua ibu tiri di dunia modelan tante Marsya tapi satu yang ia tau, emak tirinya bawang putih itu nyata dan salah satunya nyangkut disini.


"Baru dekat saja saya sudah kurang aj*ar kan sama tante apalagi kalau saya jadi istri Milo, mungkin tante harus siap siap angkat kaki dari rumah !! saya memang bukan mie instant yang harus jadi selera semua orang !" jawab Kara tak segan segan.


"Kamu !!" tante Marsya menunjukkan telunjuk, yang kuku kukunya sudah dipoles oleh cat di depan mata Kara, tak ada raut gentar di mata Kara. Ia benci situasi ini, ia benci adegan adegan sinetron dimana yang baik lah yang selalu ditindas, orang baik bukan berarti lemah kan, baik bukan berarti rasa beraninya tiba tiba menciut sebesar kismis.


"Saya tidak tau apa yang terjadi sebelum saya datang, tapi yang saya tau melihat kebencian Milo terhadap tante, siapapun tau bahwa tante sudah melakukan hal yang benar benar fatal."


"Hey, cewek cupu ! loe ga sopan sama tante Marsya ! loe ga tau kalau sampai ia ngadu ke om Braja, abis kamu !" mata Vio mengancam Kara.


"Pelototan kamu ga bikin saya kelilipan, saya memang ga tau kalau tante ngadu sama om Braja apa yang akan terjadi, apakah om Braja akan memberi saya penghargaan atau justru memberikan saya tamparan keras. Yang saya tau om Braja itu baik dan cukup bijak, terimakasih berkat tante saya akhirnya bisa tau dan menyaksikan secara nyata kalau ibu tirinya Cinderella itu memang ada !" Kara membungkuk, lalu duduk kembali menyedot minumannya, rupanya berorasi memberikan siraman rohani membuatnya haus, minuman ini pun sudah dibayar oleh Juwita, sayang jika tidak dihabiskan jatuhnya mubadzir.


"Awas saja kamu, kamu tidak akan menang melawan saya. Saya akan buat kamu mundur dengan sendirinya !!" ancam tante Marsya, ia langsung pergi sambil menghentakkan high heels nya, bersama menggandeng Vio.


Bukannya menenangkan, kedua temannya ini malah menyoraki dan memberikan tepukan tangannya untuk Kara, seolah olah Kara baru saja memenangkan kontes debat terhebat sepanjang masa.


"Prokk..prokk...prok...!!"


"Hebat !!! temen gue emang hebat !!!" Ica menepuk nepuk pundaknya, dasar ketiga cewek absurd. Juwita lalu kembali.


"Maaf ya lama !!" ia kembali duduk sambil mesem mesem sendiri, tak menyangka gadis sekalem Kara bisa mengeluarkan kata kata pedas nan epik, tidak ada kata kasar di dalamnya namun berhasil membuat siapapun yang menjadi lawannya tumbang. Kara memang tidak menampar secara langsung, tapi ia sudah berhasil membuat tante Marsya terasa tertampar oleh seseorang yang lebih muda darinya.


"Huwaaaa !!!!" Kara menundukkan kepalanya di lipatan tangannya.


"Loh, loe kenapa Ra ??!!" tanya yang lain,mengusap punggung Kara.


"Baru kali ini gue songong sama orangtua !!" cibirnya memanyunkan bibirnya.


"Hahahahaha !" tawa Ica dan Ayu pecah.


"Gue kira apa? ngakak loe, tadi aja keliatan berani dan berapi api, sekarang loe baru sadar itu ibu tirinya ka Milo !!" ucap Ayu.


"Sekali kali anak teladan kaya loe bandel ga apa apa kali, Ra !" jawab Ica


"Ka Juwi, " rajuknya melengkungkan bibirnya, minta di kasihani.


"Kenapa, Ra?" tanya Juwita tertawa terkikik.


"Ka, barusan tante Marsya mamah tirinya ka Milo kesini, labrak gue terus gue lawan kira kira dia ngadu ke om Braja ga ya ??!!" Kara memelas, tampak lucu membuat Juwita tertawa.

__ADS_1


"Siap siap saja, merayu om Braja !!" goda Juwita.


"Huwaaa !! gue takut lah, gue ga akan pernah ke rumah Milo lagi !!" meweknya menenggelamkan kepalanya lagi.


Di tengah tawa ketiga gadis ini ponsel Kara berbunyi, ia melirik.


"Jihad ??!" gumam Kara.


"Kenapa, Ra?" tanya Ica dan Ayu.


Kara mengangkat panggilan Jihad, beberapa detik kemudian ia tercekat air ludahnya sendiri.


"Apa??!!!" Kara terkejut. Ia mematikan ponselnya, lalu bangkit.


"Ka Juwi, bisa minta tolong !" matanya sudah tergenang, bisa se melow dan se cengeng itu Kara.


"Kenapa Ra, ada apa??" tanya ketiganya ikut panik.


Kara membereskan tasnya, "Ka Milo jatoh dari tebing !" jawab Kara.


"Apa ??!!!" tak menunggu lama Juwita pun ikut beranjak.


"What to the bam?? tebing ??!!" pekik Ica, Ayu mengusap kasar wajah Ica.


"Dih, Ayu !! tangan loe masih bau ayam !" manyun Ica, Ayu terkekeh.


"Sabar, Ra. Milo pasti baik baik aja, dia cowok kuat dan ga mungkin seceroboh itu !" Juwita mencoba menenangkan Kara, yang sudah meloloskan air matanya.


Kara berlarian bersama ketiga lainnya.


"Ra, tunggu ga usah lari segala, masa iya baru masuk belum parkir udah disuruh keluar lagi. Kasian nih pencernaan gue, kapan mau happy tummy nya ! " omel Ica yang kepayahan berjalan cepat menyusul Kara. Mendadak Kara menjadi atlit lari cepat, larinya sekencang motor valentino rossi, berbanding terbalik dengan Ica yang mode motor bekjul alias bebek jadul.


"Dimana tempatnya? gue cuma tau daerahnya doang!" ucap Juwita tancap gas.


"Jihad bilang jl. xxxxx daerah xxxxx" jawab Kara terbata karena tangisannya yang sesenggukan, Juwita menoleh ke sampingnya dimana Kara duduk, ia tersenyum, siapa saja dapat melihat Kara menyayangi Milo, meskipun bibirnya tak pernah mengakui dan terkesan menolak mentah mentah.


"Buaya... buaya, pake jurus apa loe sampe bikin anak orang nangis gini !" gumam Juwita.


Hatinya sudah tak karuan, kedua temannya duduk di bangku belakang hanya bisa melihat dan mengusap usap pundak Kara, walaupun ini tak cukup membuatnya tenang.


Mobil memasuki daerah perbukitan, dimana dilaksanakannya acara pelantikan anggota OSIS sekolahnya. Kara sudah tidak sabar, setelah mendapat kabar dari Jihad dimana Milo berada, Kara langsung membuka seatbelt dan keluar dari mobil, tanpa menunggu ketiga lainnya.

__ADS_1


Ia berlari, melewati koridor menuju ruang kesehatan, sambil menangis. Sudah banyak pikiran buruk yang bersarang di otak Kara, memang jika sedang panik dan kacau se*tan dengan mudahnya memberikan pikiran pikiran negatif.


Kara mengusap matanya yang memang kacamata sudah ditanggalkan sejak pertama ia menangis. Rambutnya pun sudah mencuat dari ikatannya yang melorot, tampak kusut dan berantakan.


Di depan sana beberapa siswa bergerombol termasuk Erwan, dan Arial.


"Ka, Ka Milo di dalem kan?" tanya Kara, hidungnya sudah memerah seperti strawberry. Matanya ikut merah karena menangis.


"Kara??!!"Mereka terkejut sekaligus bingung, kenapa Kara bisa ada disini, padahal tidak satupun dari mereka yang memberitahukan orang luar.


Kara melesak dan memaksa untuk masuk. "Tunggu, Ra !!" Erwan dan Arial hampir ingin menahan Kara. Dari arah belakang Juwita, Ayu dan Ica menyusul.


" Brak !!! "


Pintu terbuka dengan sekali dorongan, Kara berlari menuju ranjang dimana Milo tengah terduduk dan meringis diobati oleh Raka dan Kean.


Kara refleks memeluk Milo, Milo yang terkejut hanya mempersilahkan tubuhnya dipeluk.


"Caramel, " gumam Raka dan Kean yang kebingungan, mereka sedikit menggeser posisinya.


Kara menangis sesenggukan di pelukan lelaki yang menjadi alasannya menangis saat ini.


"Baby, ko bisa disini ?" tanya Milo.


Kara merenggangkan pelukannya , mata dan hidungnya memerah dan bengkak, tampak lucu. Bicaranya tersedu sedu dan terbata, seperti anak kecil yang menangis karena sedih dan mengadu pada ayahnya.


"Ka..kamu ga apa apa kan? ada yang lu..luka?" tanya Kara sesenggukan.


"Aku ga apa apa by, kamu tau darimana aku disini?" tanya Milo menangkup wajah Kara.


"Katanya kamu jatuh dari tebing??!" jawab Kara mengatur suara nya yang tersendat sendat. Sampai Kean dan Raka saja ingin tertawa mendengarnya, gemas tapi juga konyol. Sepolos ini Kara, seperti anak bocah 5 taun, t-shirt Milo bagian pundaknya basah oleh air mata.


"Bukan tebing terlalu tinggi ko by, tadi pas sesi panjat tebing bantu junior yang ga bisa naik baru setengah jalan tergelincir, karena licin."


"Lagian, cuma terkilir dikit, terus lecet lecet dikit, barusan udah diobatin Raka sama Kean !" ia memunjukkan luka luka lecetnya di bagian tangan dan kaki pada Kara, hampir saja tertawa melihat ekspresi wajah Kara yang polos.


"Kamu nangis sampe matamu bengkak, idungmu merah tuh by, " Milo menaikkan t-shirtnya untuk menghapus air mata dari pipi Kara dan menekan tengkuk Kara agar menunduk.


"Maaf ya ga ada tissue, bau keringetku !" kekehnya. Milo seperti ayah yang menenangkan dan menyeka wajah anaknya. Kara mengangguk dan menurut.


"Lagian dapet info ga jelas darimana sih, aku udah larang anak anak buat ga kasih tau masalah ini keluar camp !" jawab Milo.

__ADS_1


Mata Kara yang sendu berubah menajam mendengar penjelasan Milo, "Jihad !!!" ketus Kara. Gadis ini mengedarkan pandangan mencari sosok yang sudah memberinya informasi berlebihan. Siap saja lelaki satu itu mendapat semburan lahar panas dari gunung berapi kemarahan Kara. Hilang sedihnya tersisa rasa malu. Semua kini terbengong bengong melihat Kara,


"Mana tuh anak !!" ucap Kara. Milo dan yang lain tertawa renyah, Jihad yang berada di balik pintu, mendengar namanya disebut sebut ingin berusaha kabur dan melipir tapi tangannya di tahan Erwan dan Arial.


__ADS_2