Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Murid nyebelin


__ADS_3

Seperti yang sudah dijadwalkan, sepulang taekwondo, Kara akan menjadi junior pembimbing senior yang oon nya kebangetan, entah hanya dibuat buat saja terlihat oon.


Kini gilirannya membalas Milo, enak saja anak gadis orang dibanting banting layaknya karung beras yang isinya gabah.


"Sakit ga ?" tanya Milo.


"Udah biasa, tenang aja cewek tangguh !" ujar Kara menjawab di belakang Milo. Milo terkekeh, jika tidak sedang mengemudikan motor mungkin ia sudah mencubit gemas pipi gadis ini. Milo menyeringai, melihat jalanan kosong ia menggeber motornya, menaikkan kecepatan motornya sekaligus hingga Kara tersentak memeluknya erat.


"Brummm !!!"


"Cih, mau cari mati ! sono sendiri aja, jangan ajak ajak !" sarkas Kara menjitak helm Milo.


"Makanya jangan manyun, ga tau ya ? kalo di jalanan itu di harapkan berpegangan, nanti jatoh !" jawab Milo.


"Bilang aja mau dipeluk ! udah terlalu biasa ini mah triknya !" jawab Kara seraya mengeratkan pelukannya di perut Milo.


Mereka sampai di gubuk megah milik Milo. Gubuk yang bisa menampung orang se kampung pikir Kara.


"Papah udah pulang ?" tanya Kara menatap mendongak bangunan 3 lantai di depannya. Yangbjika dilihat lebih mirip kastil si elsa.


"Papah lagi keluar kota, nerusin rapat yang sempat tertunda, yu masuk ! tenang aja ada bi Asih, aku ga akan berani macem macem, " kekeh Milo mengajal Kara masuk.


"Sini aja kalo berani, mau aku up chagi ?!" jawab Kara berkacak pinggang.


"Uhhhhh takut ! ampun bang jago !" jawab Milo tertawa renyah.


Kara masih menatap kagum sambil berdecak melihat rumah yang besarnya seperti balai sarbini, sayangnya hanya ditempati 2 orang dan beberapa asisten rumah tangga saja. Coba saja jika Kara pemiliknya, mungkin ia sudah menyewakan beberapa kamar di dalam sini, lumayan buat nambah nambah beli berlian. Atau menyewakannya untuk hajatan orang kawinan.


"Lagi ngitungin apa ?!" tanya Milo.


"Ini kamar disini ada berapa?" tanya Kara.


"Ada 7, emang kenapa?"jawab Milo menyimpan tas mereka di sofa.


"Di isi semua?" tanya gadis itu lagi. Milo menggeleng, "cuma 2, kamar bibi ada lagi di belakang."


"Sisanya 5 kan ? kalo dihargain 1 juta perkamar cocok lah, udah ada ac segala, layak banget ! sebulan 5 juta, setaun bisa beli berlian lah, " itungan Kara. Milo tertawa, ternyata dari tadi gadis ini sedang menghitung sewa kost kostan.


"Engga engga...murah banget, apalagi disini fasilitasnya lengkap, ada kolam renang. Yang satu juta aja depannya empang lele, " Milo mengacak rambut Kara gemas.


"Kenapa ga di sewain aja, lumayan buat nambah nambah uang jajan ?!" tanya Kara.


"Buat apa nambah uang jajan ? emangnya mau beli apa?" tanya Milo, Kara menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia lupa jika pemuda di depannya ini crazy rich student.


"Lupa gue ! cowok tengil di depanku kan uangnya ga akan abis 7 turunan !" Kara menghempaskan pan*tatnya di sofa.


"Kamu lapar ga ? makan dulu yu !" ajak Milo. Jangan ditanya lagi, bukan Kara namanya jika tidak 2in dengan sohibnya Ica. Anjuran makan 3 kali sehari harus selalu diterapkan, belum ditambah dengan cemilan. Hanya saja gadis ini akan selalu memilih makan di rumah dibanding harus jajan di luar.


Beda halnya gadis lain yang akan malu malu kucing, seakan sedang diet dan tak suka makan. Kara justru paling semangat, ingat gengsi tidak membuatnya kenyang, jika tidak kenyang pastilah otaknya tidak akan berjalan dengan semestinya.

__ADS_1


"Yuu !! dari tadi kek, ngajaknya ! kan cacing cacingku udah pada orasi nih di dalem," jawab Kara.


"Apa katanya ?" tanya Milo.


"Turunkan nasi dan lauknya !!!!!" seru Kara. Milo tertawa kecil, meskipun tak ada jaim jaimnya tingkah Kara malah membuatnya semakin mengagumi gadis ini.


"Cewek kaya kamu langka by, "


"Iya lah, yang kaya aku cuma satu cetakan, bahan dasar, sama adonannya ga akan ada yang nyamain !" jawab Kara menyamakan dirinya dengan donat.


"Emang ibu sama ayah ga niat bikin kloningnya kamu ?"


"Ga akan bisa, rahim ibu udah diangkat, karena dulu ibu punya miom !" jawab Kara.


Keduanya sudah duduk di meja makan. Bi Asih selalu cekatan menyiapkan makan siang untuk majikannya.


"Wahhh sekarang makannya ada temennya !" seru Bi Asih.


"Iya bi, cocok ngga?!" Milo menaik turunkan alisnya.


"Cocok," jawab bi Asih.


"Asikkkk, nih timun buat bibi !" Milo meraih timun di meja makan sebagai tanda terimakasih karena telah mengatakan cocok, yang jelas jelas baru saja di taruh oleh bi Asih.


"Alhamdulillah, lumayan buat maskeran !" jawab bi Asih sama sama konyolnya.


"Dih nyogoknya pake timun ! udah gitu timunnya punya si bibi lagi," tawa Kara. Cowok absurd mana yang ia pacari ini.


"Mau jalan sama pak Dayat ! emangnya anak muda aja yang bisa pacaran ?! bibi juga harus keliatan glowing sama paripurna !!" jawab bibi.


"Bilang pak Dayat, kalo sampe bikin bibi sakit hati, pulangnya Milo tungguin di belokan depan komplek !" jawab Milo.


"Siappp !" jawab bibi kembali menaruh piring berisi lauk pauk di meja makan.


*******************


"Yang ini tuh di cari dulu di halaman 70, disitu ada semua isinya, coba baca dulu deh sebelum dikerjain !" ucap Kara memberikan petunjuk pada Milo.


"Kalo yang ini ?!" tanya Milo terus saja bertanya, padahal dari tadi pulpennya sudah teriak teriak minta tintanya di goreskan diatas kertas.


"Kalo yang ini dikalikan dulu terus di bagi yang ini, nanti sisanya berapa," Kara fokus pada buku, tapi lain halnya dengan pemuda yang menjadi muridnya ini. Ia malah fokus menatap wajah serius Kara yang sedang menjelaskan. Sesekali pemuda ini tersenyum, sampai sampai kedipan matanya saja bisa dihitung jari dalam 30 menit ini. Kara memicingkan matanya, lalu mencubit pinggang Milo.


"Awww by, sakit !"


"Fokus !!" kedua jari Kara bergantian menunjuk mata ke buku.


"Ini juga fokus ko by, kata siapa aku ga fokus !" jawab Milo. Ingin sekali Kara mencolok matanya dengan pulpen, sudah capek capek menjelaskan sampai mulut berbusa, malah dianggap angin malam yang berlalu begitu saja. Jika ia hidup mungkin buku di depannya sudah menangis karena hanya menjadi obat nyamuk diantara keduanya.


"Fokus kamu malah liatin aku, bukan ke pelajaran !" omel Kara menjewer kuping Milo.

__ADS_1


"Adududuh.. abisnya lebih menarik wajah gurunya, dibanding pelajarannya." Taubat ! jika memiliki murid didik yang kaya begini 2 saja, Kara mungkin akan membenamkan wajahnya di kolam lumpur milik Shrek si ogre.


"Kalo cuma mau mandangin aku, mendingan aku pulang ?!" ancam Kara.


"Iya by, elah..oke lanjut ! jadi tadi kita sampai mana?" tanya Milo balik bertanya.


"Sampai otak kamu perlu di laundry !" jawab Kara masam, Milo tertawa serenyah kue khong guan yang baru dibuka segelnya.


"Jadi jawaban nomer 3 gimana ?" tanya Kara.


"Jawabannya, aku sayang kamu !" jawab Milo.


"Yang serius yank !!"


"Seriusan, kalo ga serius ngapain aku sampe mohon mohon sama ayah buat ga minta kita putus, " jawab Milo.


"Astaga dragon, berilah hamba kesabaran !" keluh Kara frustasi dan menggerutu.


"Bukan itu, tapi ini nomer 3 apa isinya !!!"


"Coba liat, kamu nulis apa dari tadi ?!" Kara meraih buku catatan Milo.


"Armillo love Caramel...." Kara menyimpan setengah melempar buku ke meja.


"Jadi dari tadi aku jelasin kamu ga nyimak ?!" tanya Kara lagi sampai melepas kacamatanya.


"Nyimak ko nyimak.."


"Apa yang disimak ?!" Kara sudah memicingkan matanya.


"Wajah kamu, "


"Kenapa wajah aku ?"


"Itu ada item itemnya by, " tunjuk Milo meyakinkan.


"Mana ??" Kara sontak meraih ponselnya untuk melihat ada noda hitam di bagian wajahnya yang mana.


"Sini aku hapusin !" jawab Milo. Dengan oon nya Kara hanya menurut, Milo menangkup kedua pipi Kara.


"I love you, " saat wajah mereka saling berpandangan, lalu telunjuknya mencolek hidung Kara.


"Cieee blushing, " godanya.


"Om susu !!!!" Milo segera beranjak dan Kara mengejarnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2