Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
#Terciduk, muda mudi tepar, mabuk janda & duda


__ADS_3

Beberapa mobil mini bus terparkir di sekolah. Hari ini, sekolah mengirimkan 20 orang siswa beserta 10 orang dari OSIS. Mendengarkan sepatah dua patah kata yang sudah seperti gerbong kereta api tak berkesudahan, ini yang paling mereka tak suka dari pak Dahlan, selain killer.. ya ini dia, kelemahan salah satu laki laki, berjuluk pelita kehidupannya murid murid SMA PELITA CENDEKIA yang satu ini.


Kara dan ke19 orang peserta lainnya sudah berbaris di lapangan. Teriknya mentari membuat mereka mengernyitkan dahinya karena panas.


"Ampun bang jago ! tau pak Dahlan yang bakal kasih kata sambutan, gue bekal kursi sekalian ma es kelapa !" ujar Kara.


"Loe ga liat gue dah meleleh ?!" timpal Ica.


"Gue pikir loe gosong, Ca !" jawab Ayu.


"Ini tuh baru panas bumi, kebayang ga kalo panasnya kerak neraka? nah.. loe Ca, siap siap aja ! itung itung latihan !" kekeh Jihad.


"Si@*lan loe !" sarkas Ica menepuk keras punggung Jihad.


"Takk !!!" suaranya nyaring bak petir di siang bolong.


Ayu, Jihad, dan Ayu hampir meledakkan tawanya, di tengah tengah situasi mencekam tatapan kilat pak Dahlan dan para anggota OSIS.


Milo yang tengah berdiri sikap istirahat, berjalan menghampiri Kara, saat melihat kekasihnya ini kepanasan. Lancang sekali sinar mentari menyentuh kulit Kara, ia lantas memasangkan topi miliknya yang bertuliskan badboy di kepala Kara. Ia tak rela sinar mentari menyoroti gadisnya ini.


"Panas ya?!" Tanya nya, membenarkan letak topi di kepala Kara.


"Ekhemmm !! ekheemmm ! seret tenggorokan gue !" ledek Ica. Semua mata bukannya menyimak setiap kata pak Dahlan, tapi malah terdistrack oleh uwu moment di tengah lapang.


"Gue juga kepanasan ka Milo, butuh peneduh dan penyejuk ! Akhiwwww ! " ucap Ica genit. Milo malah tersenyum,


"Dih,,"Kara menyunggingkan bibirnya.


"Bentar lagi Ca, sabar ya !" jawab Milo kembali ke tempatnya semula, benar kata teman temannya yang lain, senyuman Milo menjadi penyejuk tersendiri untuk kaum hawa.


"Splash..splash.. !" bukannya diberi topi atau menghalangi sinar mentari, Jihad justru meraih botol minumnya dan mencipratkan air pada wajah pinky Ica, yang sudah sepinky patrick star. Kara, Ayu dan beberapa yang melihat sontak tertawa kecil, takut terlihat oleh para guru dan OSIS.


"Dingin kan Ca ?!" tanya Jihad dengan kalemnya.


"Njirrr !! bener bener loe Ji, " rengek Ica mengelap wajahnya yang basah.


"Basah panjul !!" omel Ica.


Akhirnya pak Dahlan menyelesaikan pidato panjang kali lebar kali tinggi kali 2 kali 3nya. Untung saja, para siswa memiliki fisik sekuat gatot kaca, jika tidak, belum juga pergi mereka sudah memadati ruang uks.


"Dosa ga sih timpuk guru pake batu !" Ica mengipasi wajahnya yang memerah dengan tangannya.


"Batu apa dulu Ca, kalo batu berlian kagak !" jawab Kara mulai memakai tasnya.


"Batu ginjal !" sarkas Ica.

__ADS_1


"Nih !" Jihad menyodorkan sebotol minuman isotonik dingin dan menempelkannya di jidat Ica, panas membuat akal sehat manusia menguap dan meningkatkan emosi.


"Duk !"


"Ahhhh ! thanks so much !" mata Ica berbinar.


"Gampang banget bujuk si Ica, minuman isotonik 4 ribu perak aja udah seneng kebangetan !" seru Ayu.


"Bagus lah Yu, jadi yang ngapelin dia ga mahal mahal. Bawa aja lewatin Taman Mini, cuma di gerbang aja dah seneng !" tambah Kara. Sungguh teman teman lucknut.


"Gue ikhlas ya Allah !!! dibully mereka !!" seru Ica sambil menengadahkan tangannya ke atas.


"Entar dosa gue, loe bertiga yang makan !! bye !!!" tunjuk Ica sambil berlari masuk ke dalam mobil duluan.


"Dih anak tuyul !" ucap Jihad, Kara dan Ayu ikut berlari menuju ke dalam mobil, tapi baru beberapa langkah, Kara sudah terhenti. Tas ranselnya ditahan oleh Milo.


"Mau kemana?" tanya Milo.


"Masuk mobil lah !" jawab gadis ini.


"Kamu bareng mas, nanti kalo tidur terus ileran, orang orang tau aib kamu !" ucap Milo, di depan teman teman OSIS lainnya yang mengulum bibirnya, tapi tidak dengan Nina.


"Masa Mil? Ra, loe kalo tidur ileran?" tanya Arial.


"Enak aja !! dia, yang kalo tidur ngorok !" jawab Kara ngasal.


"Loe mau tangan kanan apa kiri, ka?" Kara sudah menghembuskan hawa nafasnya di dua kepalan tangannya, Milo tertawa melihat kepalan tangan mungil Kara.


"My girl, " ucapnya.


"Wedewww, galak banget pacarnya mas sayang !" ledek Arial yang berlari, karena Kara ingin mengejarnya, kalau tidak ditahan Kara, sudah rontok rambutnya di jambak Kara.


"Hey, buruan nanti telat ! ga penting banget sih !" sinis Nina, dari ambang pintu mobil.


"Kara !! buruan, gue udah tempatin tempat duduk loe !!" pekik Ica.


"Berisik !" sarkas Jihad menekan kepala Ica agar masuk mobil.


"Sat !!" kesal Ica.


"Ca, Kara pasti sama ka Milo lah !" jawab Ayu.


"Ra, gue ikut disana dong !" pinta Ica.


"Eitss ! loe mau kemana? loe mah disini aja, disana nanti loe malu maluin ! disana ga ada kresek, kalo nanti loe muntah gimana? mana isinya nasi kemaren ma tempe orek doang ! kan malu !" jawab Jihad.

__ADS_1


"Kamvreett loe !" desis Ica, tapi tak ayal Jihad mengunci Ica untuk tetap di sampingnya.


Mata Kara memicing, melihat seorang gadis yang dengan angkuhnya, berjalan memasuki mobil, tak ingin bersatu dengan yang lain. Ia memakai mobil sendiri.


"Sayang, katanya Vio ga ikut?" tanya Kara, dengan Milo disampingnya, membawa tas miliknya dan milik Kara.


"Dia maksa ikut, gantiin peserta yang ga bisa ikut karena sakit."


"Dia ga bareng kita?" tanya Kara, pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban, iyalah engga bareng, masuknya saja ke mobil milik pribadi. Sudah pasti gadis manja sepertinya tidak mau satu mobil dengan rakyat jelata macam ia dan teman temannya.


"Dia ga mau soalnya takut loe, Ra !" goda Kean. Entah kenapa teman teman Milo yang 3 ini senang sekali menggoda baby nya mas sayang.


"Dih, gue ga ngerasa pake tali pocong juga !" jawab Kara.


"Takut alergi kali, deket deket sama loe, Ra !" timpal Arial.


"Liat loe kali ka Rial, secara loe kaya kuman !" sarkasnya masuk ke dalam mobil. Milo dan Raka hanya tertawa, tak akan ada yang bisa mengalahkan mulut pedas Kara, yang satu frekuensi dengan Ica, Jihad dan Ayu.


Kara duduk bersebelahan dengan Milo, bukan Kara namanya, jika tak p3*lor alias nempel molor/ tidur. Matanya mulai terasa berat, tertiup angin dari ac.


Milo menoleh pada Kara yang terguncang guncang, lalu menyenderkan kepala Kara di bahunya. Menahannya, agar tak terantuk antuk mengusik tidur cantiknya.


"Cepet banget dia tidur !" ucap Raka menoleh ke belakang.


"Kalo dijahatin orang gampang banget !" tambah Erwan.


"Ga akan semudah itu, ga liat tuh bodyguardnya Kara mirip kuyang ?! nyeremin !" tawa Kean. Tapi Milo tak banyak melawan, takut jika gerakannya mengganggu tidur Kara, ia lebih memilih menikmati suasana ini, dan memiringkan kepalanya menyender juga di kepala Kara, wangi stroberi.


"Ngiri gue, bang Raka..gue nyender sama loe deh !" ucap Arial.


"Najis ! nyender sana sama jendela !" Raka mendorong kepala Arial yang ingin bersandar, dan memilih menyenderkan kepalanya di sandaran kursi mobil dan memejamkan matanya.


Moment uwu itu menjadi ajang keusilan teman temannya, memotret Kara dan Milo yang tertidur dengan posisi saling bersandar.


Erwan bahkan mempost nya di sosial media miliknya dengan # terciduk, pasangan muda mudi tepar abis mabuk janda dan duda. Arial terkikik. Sontak saja, jika postingan milik Arial dibaca semua orang, termasuk gadis yang sekarang sedang berada di mobil pribadinya.


"Shittt !!! makin nempel aja ! gimana cara gue misahin mereka, tante Marsya juga masih stuck buat nolongin gue !" kesalnya menggerutu.


"Pak, belok dulu ke swalayan deh, saya mau beli minum ! panas banget sih ! " ucapnya.


"Iya non," anggukan si supir.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2