
Kara mematut dirinya di cermin, apa sudah mirip ibunya sewaktu masih muda??
Ia tak pandai berdandan layaknya gadis remaja lainnya, mereka sudah mengenal peralatan perang perempuan bernamakan make up. Palingan hanya mengenal pelembab wajah, liptin dan bedak tabur bayi agar tidak gatal. Memang sepolos itu Kara, sepertinya mulai sekarang ibunya harus mengajarkan pada Kara cara merias wajah ala remaja bak korean style seperti yang sedang happening.
"Bu, jangan tebel tebel bedaknya, Kara ga suka !" kritik Kara, Ingat betul ibu Kara, sama persis dengannya, ia pun saat seusia Kara baru mengenal make up.
"Kara ga mau jadi kaya badut atau penari kuda lumping di lampu merah !" ucap Kara, belum juga ibunya memoleskan liptin nude nya.
"Cerewet banget sih, anak ayah !!" kekeh ibunya, tak mungkin juga ia memoleskan lipstick miliknya yang berwarna merah menyala seperti cabe yang kelewat matang.
Rambutnya yang ia gerai hanya dipasangi bandana kecil, dengan memakai tas selempang kecil dan flatshoes, Kara sukses menyihir setiap mata yang memandang.
"Duhh !! anak ibu sudah remaja," ucap ibunya saat memberi sentuhan akhir merapikan ujung ujung rambut Kara yang bergelombang.
"Awas hati hati banyak yang kepincut sama anak ayah, kalo ayah masih muda pun ayah bakal suka sama Kara, " goda ayahnya, Kara langsung memeluk lengan ayahnya manja.
"Ayah..., ayah adalah cinta pertama Kara dan tau ngga? cinta pertama itu susah untuk dilupakan," ucap Kara menggombali ayahnya sendiri. Ayahnya mengecup kepala anak gadisnya itu.
"Jam berapa Milo jemput?" tanya ayahnya.
"Jam 7 lebih kayanya, setelah shalat isya !" jawab Kara.
Tok...tok...tok...tok....
Semuanya menoleh ke arah pintu depan.
"Biar Kara aja yang liat bu," jawabnya, mendadak ia gugup, bagaimana ekspresi Milo melihatnya, apakah lelaki itu akan mengejeknya.
"Tunggu bentar !!" serunya.
ceklek...
Pintu terbuka, Milo mendongak lalu terdiam. Jika tidak segera mengedip bola matanya bisa bisa perih dan kering.
"Mil !!" namun Milo tak menjawab ia bahkan hanya tersenyum saja melihat Kara, Kara kesal, kakinya menginjak Kaki Milo. Untung saja Kara tidak sedang memakai sepatu hak.
"Grekkk !!"
"Aww !!" aduh Milo.
"Kenapa harus diinjek sih by, " omelnya tak terima, walaupun kecil pijakan kaki Kara cukup membuat jempolnya ngilu.
"Abisnya dipanggil malah bengong kaya orang abis ketempelan !!" sewot Kara, Milo tertawa kecil.
" Ketempelan apa coba?" tanya Milo balik.
"Ketempelan uang semilyar !!" jawab Kara.
"Salah !!! "
__ADS_1
"Terus?" tanya Kara.
"Ketempelan gadis cantik, by..ternyata malaikat tuh tak selalu bersayap ya ?" ini dia korban animasi kartun bersayap.
"Emang pernah liat malaikat? malaikat mana? Ridwan apa Malik?" tanya Kara terkekeh.
"Aku belum meninggoy by, " bibir Milo mengerucut, karena masuk dalam pertanyaan jebakan yang ia buat sendiri.
"Malaikat penjaga hatiku, " godanya pada Kara.
"Mau diinjek lagi?" tawarnya bernada mengancam.
"Mana ibu sama ayah, aku mau pamit, mau pinjem dulu anak gadisnya," jawab Milo melongok ke dalam rumah.
Setelah meminta ijin dan berpamitan pada orangtua Kara, mereka berjalan melewati gang sempit di depan rumah Kara untuk menuju mobil Milo yang diparkirkan di depan. Gang senggol yang hanya cukup untuk 2 motor berdempetan, yang bisa membuat orang dalam mode senggol senggolan.
"By, kamu cantik. Jadi ga rido bawa kamu ke depan banyak orang !" Kara merona mendengar kata pujian Milo, yang terkesan tidak puitis layaknya kata kata Kahlil Gibran.
Wajah inilah yang tersimpan di dalam pikiran dan ingatan Milo, gadis yang membuat sinyal ambulansnya berbunyi sangat keras di rongga dada.
Milo membukakan pintu mobil berwarna biru dongker itu untuk Kara. Kara merasa seperti melayang di atas awan dan tak ingin kembali dengan cepat. Ia mulai menikmati status pacaran bertempo ini yang sudah berjalan hampir satu bulan ini. Berarti masih sekitaran 5 bulan lagi waktu untuk menikmati masa masa indah bersama Milo.
Mata Milo sesekali melirik wajah Kara, moment ini langka dan tak boleh disia siakan. Mobil Milo melaju membelah jalanan kota. Sampai di sebuah cafe hits di kota ini. Sangat cocok gadis cantik bersanding dengan lelaki tampan dan keren.
Milo menggenggam tangan Kara yang masih menatap bangunan cafe, rupanya sudah ramai. Jika tadi ia biasa biasa saja, Kara tak biasa bertemu dengan orang ramai dengan penampilannya yang seperti ini, ia lebih percaya diri dengan tampilan cupunya. Kara bukan tipe gadis yang senang menjadi sorotan, justru ia lebih sering dilupakan orang meski terlihat.
"Selalu deket aku, takut ilang !" kekeh Milo.
"Tangannya dingin banget !" Milo tertawa kecil.
"Kayanya aku nunggu disini aja, " Kara menahan tangan Milo, ia ingin mengurungkan niatannya untuk masuk.
"Kenapa?"
"Aku malu, gimana kalo di dalem aku diketawain ?" jawab Kara. Ia sudah membayangkan tawa ejekan seperti biasa ia dapatkan selama ini.
"Siapa yang bakal ngetawain kamu, by? biar kuhajar orangnya !" jawab Milo memberikan perlindungan.
"Kamu perfect, percaya sama aku baby !" kemanakah jiwa cuek gadis ini, tiba tiba hilang begitu saja bagai ditelan air got. Keduanya lalu masuk.
Tentu saja semua mata memandang kedatangan Milo, salah satu idola di sekolah maupun di club motornya. Terlihat keempat orang temannya sudah berada di dalam.
"Mil !!" pekik Arial, Milo mengangguk.
"ekhemm !" deheman Raka mengusir rasa keterkejutannya melihat Kara dengan tampilannya bak bidadari.
"Gue ngambil minum dulu ," ijinnya.
"Ini Kara??!" tanya Erwan.
__ADS_1
"Bukan, calon bini !" jawab Milo.
"Cih !!" Kara menepuk lengan Milo.
"Sat !!! kirain bukan, Ra..kalo penampilan gini bar bar nya disimpen dulu, Ra ," kekeh Erwan. Kara hampir saja melayangkan kepalan tangannya pada Erwan.
Gadis gadis yang sudah menunggu kedatangan Milo, terlihat sedikit kecewa melihat Milo datang dengan gadis lain.
"Hey, mas bro !!! happy birthday !!" seru Milo menghampiri si empunya acara, sedangkan Kara memilih duduk di sofa. Ia bingung harus apa dan mengobrol dengan siapa, ia seperti sebuah benda yang bukan pada tempatnya.
Kara tak pernah datang ke pesta ulang tahun bak sultan, palingan ultah anak kecil teman temannya di rumah waktu jaman jaman sd. Kara tak pernah merayakan ultahnya dengan mewah, menurutnya mubadzir saja, lebih baik uangnya diberikan pada yang lebih membutuhkan.
Milo menghampiri Kara untuk memperkenalkannya dengan teman temannya.
"Gue udah kaya barang promosi buy 1 get 1 aja !" desisnya, ia sesak di ruangan terbuka ini, mungkin karena orang orang dan obrolannya tidak masuk di otaknya, beberapa gadis pun hanya bergerombol dengan kawanannya saja.
"Mening gue ikut ibu sholawatan aja, ga nyambung gue disini !" gumam Kara.
"By, kenalin ini Ethan, " Kara berkenalan dengan orang yang berulangtahun. Disamping Ethan ada seorang gadis bernama Clarissa sepertinya dia kekasih Ethan terlihat dari gandengannya yang selalu nempel di lengan Ethan, Kara tersenyum geli, apa lengannya di lem in, rasanya sejak awal dia masuk sampai sekarang si gadis menempel terus, mungkin takut lakinya di gondol ulet bulu. Kara terkekeh.
"Kenapa by ?" gumamnya, Kara menggeleng. Apa anak anak gadis jaman sekarang seperti itu, selalu menempel nempel pada laki laki. Jika iya mungkin seharusnya mereka seharusnya di ruqyah saja oleh ustadz.
"Engga apa apa sayang, " jawab Kara.
"Clarissa !" Clarissa tersenyum hangat dan menyodorkan tangannya pada Kara,
"Caramel !" jawab Kara.
"Ga usah gugup gitu mukanya, Ra. Welcome to the party girl !" bisik Arial dari samping.
"Ga usah ngajak berantem disini, gue lagi mode kalem !" bisik Kara menjawabnya, sontak Arial dan Erwan tertawa.
Sengaja Kara tidak makan malam, karena ia akan mendatangi pesta ulang tahun, namun nyatanya ia kebingungan memilih makanan apa yang akan dimakannya, tidak seperti ekspektasinya, padahal ia membayangkan akan ada sambel goreng kentang, sayur sop dan sate. Seperti hajatan kampung yang sering ia datangi bersama ibu. Atau paling tidak bakso, cendol dan baso tahu.
"Kruyukkk !!" suara perutnya melilit. Kara llapar, tapi ia tak berani asal comot saja.
"Sayang, " bisik Kara,
"Iya by, "
"Aku lapar !!" dengan mengesampingkan rasa malu, gadis ini mengeluhkan suara perutnya yang sudah berdemo.
.
.
.
.
__ADS_1
Ingatkan mimin untuk double update ya guys, maafkan karena mimin terlalu sibuk real life sampai lupa kalo Milo, Kara dan readers kesayangan lagi pada nungguin...