
Milo menendang nendang tanah di depannya, tak peduli kakinya yang masih terasa nyut nyutan. Hatinya sungguh kacau, keputusan sepihak Kara sungguh menyakitkan. Bukan lagi kacau, jika sedang di rumah, mungkin Milo sudah meraih kunci mobilnya dan melesat menuju arena jalanan balapan liar, memasang taruhan atau mungkin datang ke bar dan menguras habis uang sakunya untuk ia belikan minuman keras.
Beruntunglah ia sekarang sedang tidak berada di rumah. Cinta pertama memang susah dilupakan, tapi itu sudah lama, sejak pengkhianatan Celin padanya. Tapi ditinggalkan Caramel jauh lebih menyakitkan, jika dengan Celin ia masih bisa mengontrol suasana hatinya, tidak dengan Kara, sungguh ia bisa gila.
"Sabar bruh !" teman temannya memang selalu ada di sampingnya, apalagi di saat saat begini.
"Gue yakin Kara tidak sedang berfikiran jernih !" ucap Arial.
"Si*@lan !!!!!" pekiknya.
"Setelah ia merenggut papah dari mamah sekarang ia mengusik Kara !!!" pekik Milo lagi.
Milo menghubungi om Adi, "om, selepas Milo balik seret lelaki si@*lan itu ke rumah !" ucap Milo singkat lalu mematikan panggilannya. Jika sudah mode mafia begini, jangankan Arial dan Erwan, Raka dan Keanu saja yang lebih sering di dengar Milo tak akan mampu untuk menghalangi Milo bertindak apapun.
"Mil, loe yakin?? pikirkan kesehatan om Braja !" jawab Kean.
"Justru papah harus tau sekarang, sudah lama gue menunda nunda !" jawab Milo.
"Mil, gue harap ini keputusan yang benar benar sudah loe pikirkan matang matang !" jawab Raka.
Dari kejauhan calon anggota OSIS baru cekikikan dan keluar saat semua sudah masuk waktu tidur.
"Hey, kamu !" tunjuk Raka, "kenapa masih di luar? sudah masuk waktu tidur !"
Tanpa di duga dari belakang Milo mendekat, matanya menajam, "siapa nama loe ??!" tanya Milo.
"Renaldi ka !" cicitnya menunduk. "Okta, ka !"
"Kalian berdua, tidak mendengarkan pengumuman? APA KALIAN SUDAH TULI !!!!" Milo berteriak di depan wajah keduanya, Jangankan keduanya, teman temannya pun tersentak kaget.
"Mil, loe apa apaan !" Raka menarik Milo.
"Junior yang berulah harus diberi pelajaran, Ka !!" Milo menyeret salah satu diantara keduanya.
"Mil, Mil !!" teriak Raka, dan Kean. Mereka melihat Milo kembali menjadi Milo yang dahulu, Milo yang mengerikan.
"Mil, " Raka menahan Milo, sementara Kean menarik junior yang sudah ketakutan.
"Kalian berdua sebaiknya kembali ke kamar, " ucap Kean, memyuruh keduanya kembali.
__ADS_1
Raka menampar Milo, "apa sehancur ini loe?"
Raka menarik leher t-shirt Milo, " cuma karena Caramel ninggalin loe, loe berhak untuk kehilangan sisi baik dari diri loe?" Milo terduduk dan diam membeku.
"Mana Milo yang gue kenal kemarin kemarin?" tanya Raka.
"Caramel pergi, lantas loe ga kejar??" tanya Raka.
"Payah !!! kalo gitu gue yang akan kejar Caramel !!" ucap Raka mendengus. Seketika Milo bangkit meraih pundak Raka dan memberikan bogeman mentahnya di rahang kanan Raka.
Keduanya terlibat baku hantam, jatuh dari tebing tak membuat Milo menjadi lemah. Apalagi ia sedang diliputi emosi.
Kean, Arial dan Erwan berusaha melerai. Tapi Raka menahan ketiganya untuk ikut terlibat.
"Lampiaskan semua emosi loe saat ini, biar loe puas !" jawab Raka.
"Si@*lan loe Ka !!!" Milo menendang Raka hingga tersungkur, Raka terbatuk.
"Caramel cukup manis dan cantik. Gue rasa kalo loe nyerah, banyak laki laki di luar sana yang akan mengejar dia, termasuk gue !!" ucap Raka memancing amarah Milo. Milo seperti banteng yang ke$€tanan.
"Caramel cuma buat gue !!" jawab Milo.
"Men,,,paling serem gue kalo si Milo dah ngamuk gini !" ucap Arial, ini dia Milo yang membuat semua orang di sekolah maupun di luaran segan padanya. Ia lumayan jago berkelahi, tentu saja ia mengikuti hampir semua kejuaraan Muay thai dan taekwondo, ia tak pernah mengenal ampun pada lawannya.
"Gue bisa rasain bibir pink yang belum terjamah lelaki, gue harap gue lah lelaki pertama yang menjamahnya !!" Raka menyeringai semakin memancing di air keruh.
Untung saja posisi mereka jauh dari ruang pembina OSIS, dan waktu pun sudah larut malam.
Agak lama mereka berkelahi, sampai keduanya sama sama babak belur, kini bagian ketiga temannya yang mengobati keduanya.
"Dulu Celin sekarang Caramel, thanks guys kalian selalu ada buat gue...!" ucap Milo memegang rahangnya yang mungkin sedikit bergeser karena pukulan Raka, begitupun Raka.
"Setelah acara ini, gue mau nenangin diri dulu ke Bandung."
"Hemm, tenangin aja pikiran loe !" jawab Kean mengoleskan salep.
"Gue titip Kara sama Juwi !" jawab Milo sambil memasangkan perban di tangannya yang terkilir.
"Loe tenang aja !" jawab Erwan.
__ADS_1
Sebenarnya bukan hanya masalah dengan Kara saja, beberapa hari yang lalu papahnya berbicara, ia meminta Milo untuk mulai ikut terjun ke dalam bisnisnya, jadi saat Milo sudah lulus dan kuliah nanti, ia sudah bisa menggantikannya.
"Gue tau banyak hal yang jadi beban pikiran loe saat ini, papah bilang om Braja akan segera mengenalkan anaknya pada semua karyawan !" jawab Kean.
"Kita ada disini buat loe, Mil !" ucap Arial diangguki Erwan.
"Sebaiknya kita istirahat, besok masih ada hari melelahkan untuk kita, "
Brak !!!
"Mil, loe ga apa apa kan??" dengan tak tau malunya Nina berlari membuka ruang kesehatan bak pahlawan kesiangan yang berusaha mencuri perhatian Milo, ia tau dari siswa lain bahwa Milo dan Kara sedang bermasalah, ia bersorak akan itu, dan ia pun tau Milo sedang kacau dari kedua siswa yang barusan kena amukan Milo.
Mata Milo menatap jengah dan malas pada perempuan satu ini.
"Nin, gue minta loe keluar deh !" ucap Arial. Bukannya menjauh dan keluar Nina malah semakin mendekati Milo, tak memperdulikan yang lainnya.
"Nin !" ucap tegas Raka dan Kean.
"Guys bisa keluar dulu sebentar !" ucap Milo, haruskah Milo jadi seorang baj*ing@n sekarang, dua kali ia kecewa, cinta pertamanya harus terkhianati oleh Celin yang melakukan hal terkutuk bersama selingkuhannya, yang kedua oleh Caramel yang menolaknya.
"Loe ngapain kesini??!" tanya Milo dingin.
"Gue khawatir sama loe, Mil !" jawab Nina penuh harap, Milo menatap tajam gadis ini, Milo sangat benci gadis di depannya ini, baginya gadis di depannya tak lebih baik dari Celin, yang mau menjatuhkan harga dirinya demi laki laki. Ia menatap merendahkan.
"Kenapa loe khawatir sama gue, loe pikir siapa loe ?" tanya Milo.
"Gue...gue suka sama loe Mil, loe tau itu. Gue rela melakukan apapun buat loe !" jawabnya berapi api. Seakan ingin lelaki di depannya ini tau bahwa ia sangat menyukainya.
Milo menarik tangan Nina, hingga Nina mendekat... menarik pinggang dan tengkuk Nina memperpendek jarak keduanya, bahkan mata mereka sudah saling berpandangan, percayalah Nina sudah meleleh, degupan jantungnya sudah seperti genderang yang mau perang.
Deru nafasnya terasa, hawa nafas Milo menyentuh kulit Nina, bisa Nina rasakan aroma nafas Milo yang wangi mint. Bahkan bagi Nina bibir Milo sudah terasa baginya.
.
.
.
.
__ADS_1
Yang mau gemes dan uyel uyel mimin ayooo wkwkwkwk. Kita lanjut nanti ya 😙😙