
"Stop drama drama Vi !" ucap dingin Milo, jika Vio sakit hati hanya dengan sikap dingin Milo, maka ia termasuk ke dalam golongan gadis gadis bermental tempe. Perlu ia tau, gadis yang ingin ia musnahkan di depannya ini, sudah lebih dahulu merasakan bagaimana kejamnya Milo, sebelum akhirnya sang singa jatuh cinta padanya.
"By, kamu tunggu aja di ruang basket, sebentar lagi aku susul !" Milo sangat menjaga gadis ini, ia tak akan membiarkan, Kara tersentuh sedikit pun oleh Vio. Milo mengusap pipi Kara lembut, dengan jempolnya, lalu kembali ke lapang.
Kara melangkah, meninggalkan Vio yang masih melantai, mungkin ia berniat untuk meneruskan peran suster ngesot.
"Jangan bilang gue ga nolongin loe ya ! gue udah nawarin loh ! tapi loe nya ga mau !" Kara menggidikan bahunya dan berlalu. Vio merasa malu dan geram. Sekarang apa ? dia malah menjadi bahan tertawaan siswa lainnya.
"Arggh ! si@*lan ! gara gara cewek itu Milo jadi cuek!" jangan salahkan siapapun, sikap cuek Milo pada perempuan memang sudah bawaan oroknya.
Ayu dan Ica tergelak, "wah, kalo gue udah bikin lubang tuh, nyemplung aja ke sumur tetangga saking malunya !" ujar Ica.
Milo kembali ke ruang basket bersama yang lain.
"By, mau pulang sekarang?" tanya Milo. Kara mengangguk.
"Oh iya, besok kalian diundang ke hotel papah, lagi ada acara," ucap Milo pada Ayu dan Ica.
"Acara apa ka ?" tanya Ica, jika seputar undangan sudah pasti banyak makanan, apalagi ini acaranya horang kaya, Ica berbinar.
"Syukuran ultah papah !" jawab Milo.
"Owhhh !" jawab Ayu dan Ica.
"Ga usah mikir mau bawa kresek Ca, gue ga ijinin !" ucap Kara, menebak otak dangkal Ica.
"Dih,, loe emang sohib gue, tau aja apa yang gue pikirin !" jawab Ica tersenyum lebar.
"Papahmu ulang tahun yank?" tanya Kara. Milo mengangguk.
Ia kembali menghela nafasnya, datang ke pesta kaum hedon, tak mungkin juga hanya memakai swetter dan celana jeans.
.
.
Motor Milo melesat cepat membelah jalanan, keduanya sudah sampai di depan rumah Kara. Kara mendengar suara ayahnya yang sudah berada di rumah. Ia mengerutkan keningnya.
"Ayah?!" gumamnya.
"Kenapa by?" tanya Milo menaruh helmnya di atas motor.
"Engga apa apa, itu suara ayah kan?!" tanya Kara. Atau pendengarannya sedang rusak? setaunya ayahnya selalu pulang malam, dan itu berlaku entah sampai kapan semenjak di pindah bagiankan.
"Masa suara ayah sendiri lupa ?! anak macam apa kamu, by !" kekeh Milo.
"Assalamualaikum, ayah?! ko udah pulang?" tanya Kara.
"Waalaikumsalam, memangnya harus dimana?" tanya ayahnya.
"Bukannya...?" bingung Kara. Ayahnya tersenyum.
"By, daripada kamu bengong gitu mendingan masuk ambilin minum, haus nih !" pinta Milo.
"I..iya bentar !" Kara segera masuk ke dalam rumah.
Milo sudah bilang pada ayah Kara, agar menutup rapat apapun dari Kara, biarkan Kara tak perlu tau.
Flashback on
Milo sampai di pabrik, ia langsung menuju ruangannya.
"Pak Irvan saya minta rapat dadakan, dengan semua divisi sekarang !" ucap Milo. Pagi pagi sekali para petinggi pabrik, sudah dikejutkan dengan rapat dadakan dari bos kecilnya, termasuk tante Marsya. Dalam rapat itu, lelaki berseragam SMA ini meminta aturan pabrik di pulihkan, aturan mengenai setiap keputusan harus atas seijinnya, bukan melalui tante Marsya atau bawahan lainnya, setiap divisi harus melalui persetujuannya dan pak Irvan juga dewan audit, jika ingin membuat kepurusan apapun, termasuk bagian keuangan. Tante Marsya semakin ngebul dibuatnya.
Setiap rupiah yang keluar dan masuk, akan diketahui olehnya, sudah cukup papahnya menyerahkan urusan pabrik di tangan tante Marsya. Siapapun yang menjadi pendukung tante Marsya akan turun jabatan, atau bahkan dikeluarkan.
"Ga bisa gitu Mil, selama ini mamah sudah cukup benar mengurus pabrik !" di ruangan Milo, tante Marsya melayangkan protes.
Milo melempar beberapa berkas, "apa ini yang dimaksud dengan menangani ??!" ucapnya.
"Jika semua bukti sudah keluar, jangan salahkan saya, papah akan tau kecurangan dan ketidak becusanmu mengurus pabrik ! kamu tau perusahaan om Arya sudah mengendus tindakan curangmu ??! jika bukan karena Raka, mungkin om Arya sudah melaporkan pabrik ini pada pihak berwajib !" bentak Milo, tante Marsya terhenyak, ia terkejut, ternyata Milo tak bisa ia remehkan.
"Satu lagi, jangan pernah main main denganku ! kamu mencoba menyerangku dan Kara lewat ayahnya? jangan pernah berani menyentuh ayah Kara !" ancam Milo, ia meraih jaketnya, melirik jam di tangannya, sudah pukul setengah 9, ia harus cepat pergi ke sekolah.
Tante Marsya menyibakkan dan melempar berkas berkas bukti kecurangannya, ia murka.
"Si@*lan !!!! dari mana bocah itu tau !! kalau sampai mas Braja tau, mamposs aku !!" ia mengacak rambut yang sudah rapi, lalu keluar dari ruangan Milo.
"Pak, selamat..bapak dipindahkan lagi ke tempat bapak sebelumnya," ucap kepala bagian di tempat ayah Kara bekerja.
"Ya??! saya pak?" ayah Kara menyeka peluhnya, lalu menerima surat pindah bagian, atas nama dirinya.
"Alhamdulillah, " gumamnya.
"Ini langsung perintah atasan, pak Armillo !" ucapnya.
"Nak Milo, " gumamnya, tak lama Milo menemuinya.
"Yah, maaf atas kejadian tak mengenakan sebelumnya. Milo harap ayah bisa maklum. Oh iya Milo cuma mau minta tolong sesuatu ?" pinta Milo.
"Iya nak, sama sama. Tak apa apa, minta tolong apa nak?"
"Jangan beritahu ini pada Kara, " jawab Milo.
"Oh baik nak Milo, terimakasih banyak ! maaf, ayah sudah banyak merepotkan," jawab ayah Kara.
"Oh, tidak apa yah..ini memang sudah menjadi kewajiban pihak pabrik, karyawan memang harus sejahtera, dan merasa nyaman ! Ini memang sepenuhnya tanggung jawab pabrik ! maaf atas keteledoran pihak pabrik, membiarkan tindakan ketidakadilan," jawab Milo.
***************
__ADS_1
"Nih, " Kara menyodorkan air putih dingin, tak ada yang spesial disini, bahkan air saja putih tak berwarna.
"Makasih, "
"Ngomongin apa sama ayah?" tanya Kara penasaran, mata bulatnya, semakin bulat menghadap ke arah Milo.
"Ngomongin acara resepsi, mau dimana?!" jawab Milo.
"Resepsi siapa?" tanya Kara polos, sedangkan Milo sudah tertawa.
"Resepsi nikahan kita, by !" jawab Milo, Kara langsung memundurkan wajahnya sambil menyunggingkan bibir.
"Nikah sono sama kebo !" jawabnya, mendorong bahu Milo.
"Ko kebo, kan anak ayah sama ibu..kamu !"
"Yang mau nikah muda siapa?"
"Kamu sama aku !"
Kara menggidikan bahunya, "engga mau !"
"Jadi kamu ga mau nih nikah sama aku?"
"Engga !" sarkas Kara, membuat Milo tertawa.
"Yahhh, belum apa apa udah ditolak aja ! mau dong, nanti ku kasih bonus deh maharnya ! kerupuk satu toples !" tawar Milo.
"Hhahaha, dipikir lagi di warung sayur ! udah sore sana pulang !!" titah Kara.
Milo sampai lupa, ia akan menanyakan persiapan hotel pada Jihad dan om Riza.
"Iya udah sore, aku balik dulu, besok Juwita kesini buat jemput kamu !" ucap Milo.
"Ka Juwi?" tanya Kara.
"Iya, aku nunggu di tempat acara, " ucap Milo.
.
.
.
"Ra !!! lama banget sih !!" Ica segera berlari, dari pagi, ia sudah gelisah menunggu kedatangan Kara.
"Kenapa sih Ca, rusuh amat ! baru juga nongol idung gue, di parkiran !!" jawab Kara.
"Gue nyontek pr dong Ra,mana guru nya killer lagi, Bu Mira !!" Ica meringis.
"Jangan dikasih Ra, biar aja dia dihukum, kebiasaan tuh !" jawab Jihad.
Tak mau kalah, seakan Ica adalah pemantik sedangkan Jihad adalah apinya.
"Biarin, lagian gue ga mau punya anak kaya loe ! bisa rugi dompet gue, kalo anaknya kaya loe, bisa miskin dadakan!" jawab Jihad.
Kara memijit pelipisnya pusing, pagi pagi sudah disuguhi drama emak emak kompleks rebutan tempe.
"Keluar dari sini, gue geger otak tau ga, Yu !!" ucap Kara.
"Kenapa?" Ayu terkekeh.
"Pengen jedotin aja ni pala, kalo tiap liat mereka berdua !" jawab Kara.
"Jangan Ra, nanti gue nyontek pr sama siapa ?!" rajuk Ica.
"Sableng kan punya temen, emang kamvreeet dia !" decak Jihad menjitak kepala gadis, yang sedang sibuk menjiplak jawaban Kara ke buku miliknya.
"Pr tuh pekerjaan rumah Ca, kalo di sekolah ps namanya !" ucap Ayu.
"Mau pr atau ps whatever gue ga peduli, yang penting gue ga diamuk bu Mira !" jawab Ica simple, memang se simple itu hidup Ica, prinsip hidupnya tak muluk muluk seperti Caramel yang mampu melampaui batas, mengejar mimpi dan cita cita setinggi langit, ia cukup sekolah, dapet ijazah, kerja, nikah sama orang kaya, meninggal masuk surga.
"Bagus banget tuh prinsip !!" jawab Ayu.
"Hidup gue mah simple yu, se simple kalo makan nasi digaremin !" jawab Ica, mulutnya mengoceh. Namun, jarinya menulis dengan baik semua isi jawaban Kara. Setidaknya ada hal yang patut dibanggakan, menjiplak dengan baik, tak ada satu huruf pun yang terlewat.
"Awas ! tuh nama Caramel jangan loe tulis juga, Ca !" ucap Kara.
"So pasti engga lah, Ra !"
Jihad melirik tulisan saat spasi diatasnya tertulis nama Ica,
"Kamvrettt, bener bener nih cewek satu.. dinamain Ica lagi, gue yakin bu Mira ga akan percaya kalo ini hasil otak cetek loe Ca, "
"Bomat !"
"Otak loe kan isinya bakwan ma tahu isi, Ca !" jawab Kara setuju.
"Loe berdua tega sama gue !! dahlah pensiun gue jadi temen loe berdua !" cebik Ica.
"Byeee !!" jawab Kara dan Jihad.
"Toge kalian !!"
"Tega Ca !!" ralat Ayu.
"Eh, ntar malem jadi ke acara ultah papahnya ka Milo?" tanya Ica. Diangguki Kara dan Ayu.
Kara ingat ia akan dijemput Juwita, "barengan dong !!" pinta Ica.
__ADS_1
"Boleh, tapi loe berdua ke rumah gue cepetan, soalnya gue dijemput ka Juwi!" jawab Kara.
"Loe Ji?!" tanya Ayu.
"Hm, jangan ditanya ! ga usah ada dia lah ! gue mau cari jodoh disana, ntar malah recokin lagi !" jawab Ica.
"Gue sibuk, ga akan dateng !" jawab Jihad. Ketiganya menoleh, tidak biasanya Jihad tak ikut dalam acara acara penting macam ini.
"Loh kok?!" tanya Kara.
"Gue canda, Ji !" cemberut Ica.
"Ga usah so bersimpati loe ! dibully loe mah udah biasa, bukan karena itu, gue emang sibuk !" jawab Jihad,
"Ya !! sayang dong, disana pasti banyak makanan enak Ji, mau gue bungkusin ga, buat loe?" tanya Ica,
"Dibungkus, loe pikir warteg !" decih Jihad. Ica tertawa.
"Ayolah Ji, masa loe ga ikut ! ga akan seru ahh !!" rajuk Ica.
"Iya Ji, masa loe ga ikut !!" Kara menggelayuti lengan sugar daddy nya ini.
"Kita kan sepaket Ji !" rayu Ayu.
"Gue samperin deh ke rumah loe, barengan kita ke hotel. Biar naik angkot deh !!" lirih Ica.
Jihad tertawa, ia menoyor wajah puppy Ica, wajah selucu pet, tapi mulutnya senyablak komedian.
"Liat ntar aja ! kalo gue sempet..gue ngikut !" jawab Jihad.
.
.
Milo sudah mengirim pesan pada Kara, bahwa ia akan sedikit sibuk hari ini. Setelah mengantarkan Kara pulang, ia langsung tancap gas.
Juwita sampai di rumah Kara.
"Ka Juwi ?! ini masih jam 4 sore," jawab Kara.
"Acara jam 7 kan Ra, jadi kita harus ke salon dulu !" jawab Juwita.
"Salon ka?" tanya Kara memastikan.
"Tapi gue ka..."
"Udah ga usah kebanyakan mikir, loe cuma tinggal duduk manis, terus terima semuanya !" jawab Juwita. Kara mengangguk lalu pamit pada ibu dan ayahnya.
Juwita, membawa mobilnya ke depan sebuah bangunan salon yang cukup besar.
"Ka, tapi gue ga punya duit !" jawab Kara.
"Ck, loe kira gue mau minta loe bayarin ? ini semua udah dibayarin Milo !" jawab Juwita.
"Yu masuk !" ajak Juwita menarik tangan Kara.
"Sore ka Juwi !!" sapa salah satu pegawai salon. Salon ini memang milik ibunya, adik ayah Milo.
"Sore, mbak Lala..tolong teratment terbaik buat temen saya Caramel !" mendorong pelan Kara ke depan Lala, si karyawan salon.
"Oke ka, mari ka !" ajak Lala pada Caramel, Juwita kembali untuk mengambil paper bag di dalam mobilnya.
Juwita pun tak ingin kalah cantik dari Kara, ia mengambil kursi samping Kara. Kara terlihat aneh dan tidak biasa, mungkin karena selama ini, salon rambut yang didatangi Kara hanyalah salon salon sepetak kecil di kampungnya. Yang model rambutnya saja terpampang di selebar poster yang ditempel di dinding.
Kara diam menerima setiap treatmentnya, seraya mengerjap tak biasa. Bahkan saat si karyawan memoleskan make up di wajah Kara, gadis ini sedikit menolak.
"Mbak, jangan tebel tebel ya, jangan kaya biduan dangdut !" ucap Kara. Karyawan itu mengulum bibirnya.
"Tenang aja, Ra..mereka tau yang cocok sama yang engga ko !"
Kara tersenyum meringis, ia masih ingat dandanan macam ini, sewaktu ia wisuda TK, mengharuskan bedak tebal menempel di wajah kecilnya, lipstik merah bak cabe yang matang. Sukses membuatnya menangis karena melihat pantulan wajahnya di cermin bak badut. Baju kebaya gaya kartini, membuatnya susah berjalan.
Sudah satu jam lebih Kara dipoles, Juwita menyerahkan paper bag yang tadi ia bawa pada Kara, "nih pake ! baju loe !"
"Hah? baju gue ka?" tanya nya membeo, Juwita mengangguk.
Kara meraih paper bag dan berjalan menuju ruang ganti, Kara mematut tampilannya di cermin, yang besarnya memang sedinding kamar ganti. Ia merasa tak percaya diri, meskipun ia akui, hari ini ia sangat cantik, seperti bukan Caramel anak seorang karyawan pabrik.
Kini tampilannya sudah seperti putri royal kingdom, sempurna tanpa cela, baju dress biru tua yang dipilih Juwita sangat cocok untuk Kara. Bukan dress dress seksi ala biduan. Hanya saja memang tanpa lengan. Barbie versi manusia, hanya tinggal menunggu Ken versi nyata saja. Tinggal satu yang menjadi masalahnya, gadis ini tak bisa memakai high heels. Padahal wedges yang dipilih Juwita, tidak terlalu tinggi.
Kara mencobanya, "masa gue kalah sama teh Ratna sih !! teh Ratna aja bisa nyanyi nyanyi sambil joget di panggung reot, pake beginian, lebih tinggi pula !" gumamnya bermonolog.
Kara menghirup nafas dan membuangnya kasar, "ayo, Ra ! loe pasti bisa..masa iya penampilan loe udah royal kingdom banget, kaya artis hollywood, bawahnya sendal jepit ! " semangatnya.
Kara menyingkabkan gorden kamar ganti, ia menghampiri Juwita yang sudah berganti pakaian, dengan dress pas body dengan hati hati.
Juwita tersenyum lebar, puas dengan keahliannya, memang pada dasarnya Kara memiliki wajah dan badan yang bagus, pakaian apapun, akan cocok ia kenakan.
"Cocok ! gue jamin Milo auto ngajakin merit abis ini !" ujar Juwita.
"Cih, gue ga pede !! gue ga jadi datang lah ka !!" seketika nyali Kara menciut.
"Loe mau, gue digantung sama Milo, jemput loe tapi loe nya ga nyampe sana ?" tanya Juwita.
"Udah yu, katanya mau jemput temen temen loe ?!" ajak Juwita.
.
.
__ADS_1
.