
Segalau ini ternyata, Kara menopang dagunya di bingkai jendela kamar, berteman jangkrik dan dentingan mangkuk yang beradu dengan sendok milik mang Jangkung.
"Bakso !!!" pekiknya, sudah biasa bila selepas isya begini, mang jangkung. Si penjual bakso, yang dagangannya selalu laris kaya cawet 10 ribu dapet 3 ini melewati rumahnya, sudah menjadi rute perjalanan dagangnya.
"Neng Kara bakso ??!" tanya nya saat melewati rumah dan melihat seorang gadis tengah termenung, seperti mainan yang kehilangan dayanya.
"Manusia mang," jawab Kara tak bersemangat.
Jika orang bilang anemia bikin lemah, letih, lunglai, lemas,lesu. Maka galau bisa dikategorikan masuk ke dalamnya. Baru beres membawakan sekolahnya piala, Milo cs yang bernotabenekan pengurus OSIS, akan pergi melakukan camping, dengan alasan kegiatan orientasi calon calon pengurus OSIS baru. Sayang Kara tidak masuk ke dalamnya.
"Tau neng,maksud mamang mau beli bakso? bukan nyebut neng Kara bakso, daripada kaya ayam sakit aja bengong malem malem. Nanti kesambet !!" pekik mang jangkung. Memang gaya bicaranya yang selalu kencang sudah terstel dengan sempurna dari sananya, terbiasa berteriak menjajakan baksonya.
Gadis ini masih sedikit trauma dengan bakso, rasa kebas di lidahnya masih terasa. "Engga mang tenang aja udah temenan ko sama arwah, lain kali aja deh mang Kara masih kenyang !" jawabnya.
Sudah berusaha menghalau tapi hatinya seakan mengkhianati, memang benar first love bikin susah tidur. Tapi kenapa first love nya harus dengan Milo.
Kara menjatuhkan tubuhnya di ranjang, tidak seperti cerita novel yang ia baca selama ini, saat si tokoh menjatuhkan badannya, maka pantulan badannya yang terjadi, saking empuknya ranjang, hal ini justru tidak untuk Kara, tetap saja kepalanya sedikit pusing karena terlalu keras menjatuhkan badan dan ranjang yang tidak seempuk softcake. Poster ki Hajar Dewantara saja berasa lagi ngetawain, Kara termakan ucapan dan sumpahnya sendiri, benih benih kebucinan mulai tumbuh di hatinya. Kara merutuki dirinya sendiri, kenapa harus ada drama melow jatuh cinta segala, kalau akhirnya nanti bulan ke 6 hatinya sudah dipastikan akan patah berguguran kaya pohon musim gugur.
"Bo*doh banget sih gue ! heh, hati kenapa mesti melayang layang sih kalo lagi bareng Milo kaya dikasih gas hidrogen aja !" walaupun tidak mengakui perasaannya secara gamblang, sejauh ini Kara selalu cemburu kalau melihat Milo dengan gadis lain, ia selalu senang dan merona jika Milo tengah merayu dan berdekatan dengannya.
Setelah kejadian kemarin di gerai makanan itu, Milo akhirnya tau jika hati Kara sudah terbuka lebar untuknya, bahkan ia berhasil menyematkan namanya dan membooking sebagian hati Kara.
.
.
"Mil, loe yakin ga mau paksa Kara buat ikutan OSIS ?" tanya Juwita, saat ini Juwita sedang mengunjungi rumah Milo.
Milo tengah berkemas karena besok ia akan pergi selama 4 hari.
"Engga Ta, gue ga mau memaksakan kehendak sama Kara !" jawabnya, lantas yang selama ini bersama Kara, siapa? arwah? yang selalu memaksa gadis itu untuk selalu menuruti titahnya. Atau lelaki ini sedang lupa ingatan.
"Loe ajak dia jalan Ta, dia jarang punya temen. Seharian kalo ga belajar ya ngajar !" pinta Milo.
"Good girl, dapetin cowok nya bad boy !!" jawab Juwita meminum jus jeruknya.
"Hati hati loe disana, ntaran deh gue ajak ke mall !" jawab Juwita.
"Jangan ajakin macem macem ! loe juga hati hati, kalo sampe ketemu lagi sama si bre*ng*sek loe lari aja !" ucap Milo menarik tali tas punggungnya.
"Loe yang sabar, gue yakin si bre*ng*sek ga punya bukti buat nyebarin berita itu ! lagipula gue sudah nyuruh Kean juga om Dipta buat awasin tuh bocah !" Milo duduk di sebelah Juwita, dan menyambar minuman kalengnya.
"Salah gue Mil, ga bisa jaga martabat dan kehormatan gue !" Juwita menunduk, Milo paham apa yang dirasakan Juwita, ia hampir saja bunuh diri di toilet sekolah jika Milo tidak datang dan mendobrak pintu toilet. Walaupun ujung ujungnya Milo diminta mengganti kerusakan yang sudah di perbuatnya.
Juwita hampir seminggu di rawat di RS, dengan nekatnya ia menggores tangannya sendiri bermaksud memutus nadi kehidupannya.
"Yang udah ya udah, Ta..ga usah di ingat ingat lagi. Yang penting sekarang loe sadar dan ga ulangi kesalahan loe itu !" jawab Milo mengusap usap punggung sepupu perempuannya itu.
"By the way, loe ga say good bye atau ngabisin waktu bareng dulu gitu sebelum loe pergi besok?" tanya Juwita.
Milo melirik jam di tangannya, masih pukul setengah 8, " mau kok, ini gue mau usir loe karena gue mau ke rumah Kara !" jawab Milo.
"Asemm loe, ini kan rumah om gue juga !" senggol Juwita. Tante Marsya menghampiri keduanya.
"Ehh, Juwi masih disini ! udah makan belum?" tanya tante Marsya. Wajah Milo sudah berubah drastis, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat ia akan membongkar semua kebusukan ibu tirinya ini. Juwita tau bagaimana hubungan Milo dan tante Marsya.
__ADS_1
"Oh belum tante, tapi ini mau pulang ko !" jawab Juwita.
"Hay Mil, " sapa seseorang dari belakang tante Marsya, seorang gadis dengan penampilan modisnya, dan rambut terburai panjang sepinggang. Sangat terlihat matanya berbinar menatap Milo, gadis yang tak bisa jika memakai pakaian biasa biasa saja, hampir semua yang dikenakannya memiliki brand ternama. Gadis yang sudah mengenal make up dengan baik.
Milo mengeluarkan sifat dinginnya, ia tak suka gadis ini, ia paham betul sifatnya angkuh, pendusta, dan manja. Milo beranjak dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Situasi menjadi canggung.
"Mil !!" teriak tante Marsya.
"Sabar ya sayang, jangan patah semangat buat dapetin hati Milo !" Juwita merasa seperti obat nyamuk disini.
"Tante, Milo sebenci itu sama Vio ya ?" gadis itu menatap kepergian Milo dengan cemberut.
"Engga sayang, mana mungkin Milo ga suka Vio, siapa sih yang tak suka Vio !!" ucap wanita ular ini,
Juwita hanya menyunggingkan senyumnya mengejek, sesama wanita ular sedang saling menguatkan, ia memutar bola mata jengah.
"Juwi, tante mau bertanya sama Juwi ?" ucapnya.
"Tanya apa tan ?"
"Apa kamu kenal dengan gadis bernama Caramel?"
Deg....
Darimana tante Marsya tau tentang Caramel, Juwita terkejut, ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya, mirip adegan adegan sinetron ikan berenang.
"Juwi yakin tanpa Juwi kasih tau tante bakal nekat dan tau siapa Kara. Tapi Juwi cuma mau kasih tau sama tante, jangan bertindak bo*doh jika tante masih ingin hidup tenang ! Juwi pamit tante, salam buat om !" Juwita berlalu.
"Si@*lan !! oke kalo ga mau kasih tau, " ucap tante Marsya menyipitkan mata.
"Hanya kecoa yang perlu di injak dan singkirkan !" jawabnya.
"Ayo sayang ke depan, mamih mu sudah menunggu, it's oke sayang jangan terlihat sedih ya !" tante Marsya mengusap pipi dan tulang pipi gadis ini.
.
.
Kara membawa buku tulisnya ke ruang tengah, kebiasaannya mengerjakan tugas sambil menemani kedua orangtuanya menonton berita,
"Bu, besok Kara pulang telat ya, mau ke rumah bu Wida, anaknya yang sd mau ikut cerdas cermat jadinya minta privat !" ucap Kara, lumayan bertambah lagi lubang sakunya, untuk tambah tambah beli kuota. Se senang itu Kara jika anak anak bersemangat di guti olehnya, setidaknya Kara memiliki uang saku tambahan. Apalah daya Kara yang sedari kecil sudah belajar hemat dan pengiritan, Beda halnya dengan Milo yang tak pernah merasakan membeli bakso aja ditambahin kuahnya biar bisa dimakan bersama nasi.
Tok...tok..tok....
"Paket !!"
Ketiganya mendadak saling berpandangan, seumur umur ayahnya tak pernah membeli barang secara online, ponselnya saja masih bernada cininit. Lain halnya dengan ibu Kara yang sudah mengenal smartphone karena sebuah pengharusan bagi seorang pengajar untuk mengikuti jaman.
"Ibu pesan barang?" tanya Kara. Ibunya menggeleng.
"Mungkin Kara?!" jawab ibunya membalikkan.
"Engga juga," jawab Kara.
"Coba Kara liat bu !!" gadis itu hanya memakai kaos kebesaran dan celana pendek.
__ADS_1
ceklek..
Kara membuka pintu rumah, seseorang memakai jaket dan topi mirip tukang paket, hanya saja ia menunduk, membawa bungkusan.
"Cari siapa ya mas?" tanya Kara penasaran dengan orang yang ada di hadapannya, ia sudah berjaga jaga dengan sapu di sampingnya dibalik daun pintu. Kalau kalau orang ini berniat jahat, Kara akan langsung memberikan pukulan pukulan telaknya. Dari perawakannya Kara berasa hafal, di tambah bau parfum yang dipakainya ia sangat hafal.
"Ada paket buat cewek manis !" jawabnya dengan kepala yang masih tertunduk. Kara mengangkat alisnya sebelah, ini pengantar paket apa denny ca*gur si raja gombal.
"Maaf mas, salah orang. Disini ga ada yang namanya manis. Kalo mau cari si manis tuh disana di jembatan Ancol, di kota Jakarta sana !" sarkas Kara.
"Bener kan, ini sama cewek manis kekasih hati Armillo ?" tanya nya. Kara bukanlah gadis bo*doh. Ia langsung tau siapa laki laki di depannya ini.
"Mas nya mau di pukul dibagian mana? kaki atau kepala? mau masuk Ugd apa sekalian masuk liang lahat?" tanya Kara. Milo sudah tak tahan untuk tidak tertawa, gadis seperti Kara tak akan mudah untuk di dekati, hatinya sedikit lega, setidaknya hanya laki laki dengan mental baja lah yang kuat untuk menghadapi Kara. Walaupun sebagai laki laki ia tau, gadis seperti Kara lah yang menjadi idaman hati. Bukan gadis gadis yang baru nempel di motor saja langsung klepek klepek minta dikelonin.
"Di bagian hati aja neng, biar langsung jatuh ke pelukanmu !!" Milo mendongak dan membuka topinya sambil terkekeh.
"Pake so soan jadi tukang paket, mana ada tukang paket songong pake nyebut nyebut manis segala !" Milo melesak masuk ke dalam, tanpa di persilahkan.
"Assalamualaikum !!"
"Waalaikumsalam !!"
"Eh ada nak Milo, sini nak masuk !" pinta ibu.
Milo menaruh bungkusan ini, ia membawa martabak, bukannya pengiritan ataupun tak romantis, tapi Milo tau Kara bukan gadis yang gila akan keromantisan, kenyang hanya dengan sebuket bunga, ia bukan Su*zanna yang cemilannya bunga melati. Kara akan lebih memilih membeli makanan yang akan membuatnya kenyang. Karena menurut gadis cantik ini, meskipun cinta seindah bunga bunga yang bermekaran, perut kosong sudah pasti akan menghambat datangnya cinta. Entah definisi darimana.
Tak ada kata jaga image bagi Kara, makanlah selagi ia diberi kenikmatan makan oleh Allah, pipi gadis ini menggembung seperti balon, mengunyah lucu seperti bayi yang disuapi ibunya satu sendok muncung. Tak ada kata malu untuknya, dimana mana makan itu harus dinikmati.
"Apa??" tanya Kara, melihat Milo yang dari tadi menatapnya tak berkedip sambil cekikikan.
"Ga ikhlas?? udah masuk perut !" jawab Kara kembali.
"Enak?" tanya Milo.
"Coba aja sendiri, ga usah sungkan !" ucap gadis ini seolah olah ialah yang meyediakan suguhan untuk tamu. Milo tertawa lucu saja ia yang membawa ia yang disuguhi dan mencobanya.
"Itu martabak rasa cinta, by !!" jawab Milo terkekeh. Kara memutar bola mata lelah.
"By, aku bakal kangen 4 hari ga liat wajah menggemaskan kamu ! aku bakal rindu sama celotehan kamu !" ucap Milo.
"Sengangenin itu ya?" Kara mengambil minum.
"Iya aku juga bakal kangen !" jawab Kara. Milo terkejut dengan ucapan yang tiba tiba itu, gadis ini tidak sedang kerasukan jin kan?? atau ia salah makan hari ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1