
Setahun telah berlalu tanpa adanya Milo di sekolah ini, sangat kentara sekali perbedaannya.
Garing, membosankan. Itulah kata yang tepat saat tak ada mas sayang di sekolah ini, Milo cs sudah menjadi seorang mahasiswa, walaupun pada akhirnya Milo akan pindah nantinya ke London bersama Kara. Tapi ia tak menyia nyiakan waktunya hanya diam sebagai pengangguran. Itung itung sebagai bahan untuknya nanti di London biar ga terlalu nol katanya.
Kara dan teman teman lainnya sedang membuat sebuah video catatan akhir sekolah. Hubungan Ica dan Jihad semakin tak jelas statusnya, tak ada yang tau bagaimana mereka ke depannya.
Kara melihat ke arah gerbang masuk SMA yang tidak berubah sejak kedatangannya pertama kali ke tempat ini, siluet anak cupu yang menatap sinis ke arah gerombolan senior menyebalkan.
Lalu beralih ke arah parkiran tempatnya biasa bertengkar, tempat biasanya teman temannya nongkrong. Kantin tempat biasanya mereka bercanda dan mengisi perut saat istirahat.
Tak lama terdengar suara berat mesin motor dari arah luar sekolah, seorang mahasiswa berpakaian casual masuk ke dalam sekolah. Membuka helm full facenya.
Ia tersenyum,
"Hay anak SMA !" sapanya.
"Hay mahasiswa ! "
"Udah pulang belum ?" tanya nya.
"Belum, anak anak kayanya lagi bikin video catatan akhir sekolah buat perpisahan,"
"Kara !!!!" pekik teman temannya.
"Ra, buruan mau masuk film ga ?!" tanya mereka.
"Tuh dipanggilin, nikmatin dulu saat saat terakhir kalian, biar aku nunggu di kantin aja !" ucap Milo.
"Oke, yang anteng ya !" jawab Kara.
"Yuhuuu !!! siswi paling kece mau dateng !!!" teriak Kara.
"Ck, bocah SMA !" gumam Milo.
Mereka sibuk dengan video perpisahan, tiba tiba Vanya menangis sesenggukan.
"Va, kenapa?"
"Gue pasti bakalan kangen sama kalian, ga ada kata sedih sedihan sih sama kalian, adanya ketawa tiwi sampe gue ngompol !" ucap Vanya.
"Uhhhh, sini sini gue peluk !" Amel memeluk Vanya, disusul Kara dan Ica juga Ayu.
"Loe berlima ngapain peluk pelukan, kaya teletubbies !" ujar Jihad yang baru kembali dari toilet.
"Daddy !!!!" pekik mereka malah memeluk Jihad.
"Loe sama Kara mau ke LN, bakalan kangen banget sama loe !" bukan Ica yang menangis tapi ketiga lainnya.
"Gue juga bakalan kangen sugar baby gue !" jawab Jihad.
"Ga usah mewek ntar loe semua ga gue bagi warisan !" jawab Jihad.
Mereka langsung merenggangkan pelukannya.
__ADS_1
"Warisan apaan ?" tanya Ica. Jihad menoyor kepala gadis ini.
"Ijo banget !"
Jihad memberikan keempat lainnya sebuah kotak berbungkus kertas kado dan pita merah muda. Hanya Ica sendiri lah yang tidak dapat.
"Gue mana ?!!!" sewotnya, mana mungkin ia tak kebagian, ialah sugar baby keduanya setelah Kara.
"Gue ngambek ahhh, " Ica melipat kedua tangannya.
"Buat loe entar ! gue lupa bungkus !"
"Rejeki anak sholeh !" jawab Vanya.
Kara mengedip pada Jihad. Jihad mengangguk dengan kode yang diberikan Kara.
"Ca, gue bisa minta waktu loe bentar, "
"Inget kan kalo gue lagi ngambek !!" sarkas Ica.
"Iya ahhh !" Jihad mencomot bibir bebek Ica lalu memasukkan Ica ke ketiaknya, membawa Ica seperti emak emak yang sedang mengapit dompetnya di ketiak.
"Eh, mau kemana nih?" tanya Ica.
Jihad membawa Ica ke taman belakang, dimana sepi dari orang orang.
"Ca, mungkin keberangkatan gue dipercepat ke London, rencana minggu depan setelah acara wisuda SMA, tapi ternyata gue harus daftar ulang semester gue yang sudah mangkir, karena gue mau melanjutkan kuliah gue yang tertunda, " ucap Jihad. Awalnya Ica tak peduli, ia melipat kedua tangannya dan mengalihkan pandangannya.
"Gue berangkat besok, " ucap Jihad frustasi meraih tangan Ica.
"Ko loe ga bilang dulu, ko mendadak, kita bahkan belum ngabisin waktu bareng, " sewot Ica mengerutkan dahinya, tapi sejurus kemudian ia menetralkan air mukanya.
"Ya udah pergi aja, ga peduli gue, " Ica menatap ke lain arah ingin menitikkan air matanya.
Jihad meraih dan memeluk Ica erat.
Badan Ica bergetar, "loe jahat sama gue, loe mau ninggalin gue Ji !"
"Gue pasti balik lagi, loe sendiri kan yang bilang loe ga mau menjalin hubungan LDR, "
"Gue ga mau kaya istri bang Toyib, menunggu sesuatu tanpa kepastian, " jawab Ica terbata dan sesenggukan.
"Gue belum kasih hadiah perpisahan kan buat sugar baby kesayangan gue, gue titip ini buat loe jaga ya."
Jihad menyerahkan sebuah cincin bertahtakan mutiara berbentuk love.
"Kegedean peakkk !" sarkas Ica saat Jihad memasangkan cincinnya di jari manis Ica, alhasil cincin itu terpasang di telunjuknya. Wajah Jihad maju san mengecup kening Ica lama.
"Gue pasti kangen sama umpatan loe ! sama panggilan daddy dari loe, panggilan nyi Blorong dari loe !" ucap Jihad tertawa getir.
"Gue juga pasti kangen sama omelan loe yang kaya ibu tiri, gue pasti kangen bau ketek sama badan loe !" Ica meraih dan meremas kemeja seragam Jihad bagian punggung, seakan enggan untuk melepaskan pemuda ini untuk pergi.
"Semua orang bakalan ninggalin gue Ji, loe...Kara..."
__ADS_1
"Jaga diri baik baik disini, jangan gampang ditipu cowok lagi, " Jihad mengusap usap kepala Ica walaupun ujungnya menjitak kepala Ica beberapa kali.
"Iya, loe hati hati disana, " ucap Ica.
**************
Sekembalinya mereka dari taman belakang, beberapa adik kelas yang saat ini menyandang kelas XII menghampiri Jihad.
"Ka Jihad !!" beberapa diantaranya memberikan bunga, coklat, boneka dan barang barang lainnya.
"Woahhhh !!! barisan para penggemar, " ucap Kara.
"Ka Jihad hati hati di London ya !"
"Sedih deh, ka Jihad udah lulus aja !"
Ica sedikit manyun, diantara gadis yang menyukai Jihad hanya dirinya lah yang tidak memberi apapun untuk pemuda ini.
Jihad menerima semua barang itu, "thanks !" ucapnya.
"Girls, mungkin ini terakhir kita ketemu, besok gue sudah terbang ke London," pamit Jihad. sontak saja ketiga teman temannya terkejut.
"Ko cepet ?! Kara aja belum berangkat ?!" tanya Ayu yang kembali memeluk Jihad.
"Iya yu, ada yang harus gue urus, baik baik kalian disini, kalo ada waktu dan kesempatan, gue balik ke Indo!"
"Janji bakal temuin kita lagi ?!" pinta Amel.
"Iya Mel, " jawab Jihad. Jihad melirik Ica.
"Ada yang harus gue kejar disini setelah pendidikan gue, " benaknya.
"Jiii !!!" Ica berlari saat Jihad hendak pulang, tanpa aba aba Ica memeluk Jihad dan menyarangkan kecupannya di pipi Jihad.
"Hati hati sama cewek bule, " ucapnya.
"Kenapa?" Jihad terkekeh.
"Mereka agresif, katanya sih !"
Jihad terkekeh, "terus yang barusan cium pipi gue, apa kabar ? kurang agresif gimana?" jujur saja Jihad merona, meskipun ia patah hati.
"Itu kecupan say good bye buat loe !" kilah Ica, Jihad mengacak rambut Ica gemas.
"Serah loe deh ! gue balik ya, loe dijemput abang loe kan ?" tanya Jihad.
"Iya, gue dijemput bang Galih !" Jihad menutup helm fullfacenya dan mengangguk pada Ica.
Itulah pertemuan terakhir Ica dengan Jihad.
.
.
__ADS_1
.
.