Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Drama sinetron murahan


__ADS_3

Kara menghentak hentakkan kakinya kesal, ia menjewer kedua kupingnya sendiri di ruangan basket. Ruangan ini tak banyak orang, hanya ada beberapa anak basket putra putri. Sepulang sekolah ia ditarik Milo masuk ke dalam ruangan ekskul basket, sedangkan Ayu dan Ica nanti menyusul. Hari ini Ayu libur, jadi ia bisa bersama teman temannya hanya untuk sekedar menonton latihan anak anak basket seperti siswi siswi SMA kebanyakan, Kean memberinya kelonggaran satu hari dalam seminggu untuk libur, selain hari weekend yang selalu ramai, dan lebih membutuhkan karyawan banyak. Jihad pulang duluan, katanya ia ada urusan mendadak bersama ayahnya.


15 menit sebelumnya


"Gue makin penasaran deh, Jihad tuh sebenernya anak siapa !!" seru Ica.


"Anak emak bapaknya lah Ca !" jawab Kara. Sedangkan Ayu hanya mengulum bibirnya.


"Elah, anak oroknya Raja Arab juga tau kalo itu Ra !" decih Ica.


"Hahahaha, sejak kapan istrinya raja Arab lahiran Ca ?! rasanya raja Salman gak punya anak orok !" debat Kara. Ayu menggelengkan kepalanya, jika Jihad tak ada pasti Ica akan berdebat dengan Kara.


"Ada lah, pasti kalo raja punya selir, alias poligami !" jawab Ica beralibi.


"So tau !!! " Kara mengusap kasar wajah Ica.


"Bulan kemaren gue baru dari kondangannya !!" kekeh Ica.


"Udah udah kenapa si ! malah jadi ributin raja Arab ! Jihad aja belum kelar !" lerai Ayu berseru.


"Seriusan deh guys ! bunda tuh misterius deh kalo menurut gue iya ngga Ra?" tanya Ica mencari suara. Kara menimang nimang ucapan Ica, ada benarnya juga.


" Tumbenan kan akhir akhir ini dia bantu ayahnya, dia juga tau ka Milo lebih dari Kara, udah beberapa kali gue liat dia ke sekolah terus balik di antar jemput mobil, mobilnya sama lagi !" ternyata selama ini Ica sering mengamati. Ayu tak akan bisa menghalangi jika sewaktu waktu kedua temannya ini akan mencari tau sendiri.


"Entah lah Ca, gue ga pernah curiga..kalo dia tau Milo. Toh tentang siapapun di sekolah ini, dia tau ! siapa sih yang dia ga tau, sampe kucing beranak di sekolah ini juga dia tau !" jawab Ayu menyudahi obrolan seputar Jihad, ditertawai Kara dan Ica.


.


.


Kara berdiri dengan satu kaki yang diangkat, pipinya bukan lagi mengembung layaknya balon yang ditiup. Seperti siswa nakal yang dihukum gara gara tak mengerjakan tugas, Kara di hukum di pojokan ruangan oleh Milo.


4 sekawan lainnya hanya mengulum bibirnya, ingin tertawa tapi juga kasihan pada gadis satu ini, andai Kara bisa menjaga mulut los dol nya. Mungkin tak akan ada hukuman macam ini. Jika sudah menjadi kebiasaan memang susah, Kara memang selalu bercanda dengan teman temannya. Tapi masih saja lelaki ini cemburu, bahkan pada Jihad sekalipun.


"Udah nyesel?? masih mau ngaku sugar babynya Jihad?" tanya Milo sedikit membungkuk, menyamakan tingginya dengan Kara.


"Nyesel ! " jawabnya singkat. Ternyata jadi siswa yang sering dihukum berdiri satu kaki gini tak enak, kakinya kesemutan.


"Jahat ! diktator !" decak Kara, terdengar oleh Milo.


"Jahat jahat gini pacarmu, baby !" jawab Milo malah menggoda Kara.

__ADS_1


Kara menurunkan tangan dan kakinya lemas, ia duduk di bangku. Kakinya mati rasa,


"Fisik kamu jelek !" jawab Milo, menarik kaki Kara untul berselonjor.


" Biarin !" jawab Kara. Milo sudah dengan seragam basketnya. Seperti biasa, hari ini Milo basket, dan Kara akan dengan setia menemaninya.


"Mau tunggu disini, atau mau liat di pinggir lapang?" tanya Milo.


"Disini aja !" jawab Kara.


"Oke, tungguin ya ! kalo mau liat, nyusul aja !" Milo mengecup pucuk kepala Kara, sudah seposesif itu Milo pada Kara, seperti gadis ini hanya miliknya.


"Iya, " jawabnya.


Kara memang berniat menunggu di dalam ruangan saja, tapi lama kelamaan kupingnya panas, mendengar teriakan teriakan yang dialamatkan untuk Milo. Para gadis itu harus tau, jika idolanya ini sudah memiliki pawang. Kara memicingkan matanya, ada seseorang yang tak asing untuknya, seorang gadis yang paling kencang meneriakan nama Milo, sudah seperti pengeras suara di masjid saja, jika sedang mengumumkan imunisasi untuk balita di kampungnya.


"Wah, perang kayanya nih !" ucap Arial yang berlari melewati Raka dan Kean. Melihat Kara yang keluar dari ruangan ekskul basket dan menatap tajam ke arah Vio, yang sudah berseragam sama dengan mereka.


"Hm, jadi dia pindah kesini ?!" gumam Kara bermonolog. Ia tau pasti, apa alasan Vio pindah kesini, tidak lain tidak bukan pasti untuk Milo nya.


"Ayo Milo, semangat !!!" ucap Vio. Ica dan Ayu yang baru masuk ke arena lapang melihat pula ke arah Vio, lalu beralih ke arah Kara.


"Itu siapa lagi?? calon calon hello kitty?" tanya Ica tanpa basa basi.


"Udah, kita samperin aja Kara !" ajak Ayu, Ica mengangguk dengan tangan yang senantiasa memegang gagang lolipopnya.


"Ra, dia siapa?? ko gue belum pernah liat, murid baru apa gimana?" tanya Ayu basa basi, ketiganya tengah duduk di bangku panjang sudut kiri terhalang pohon sukun kecil.


"Bukan murid baru Yu, tapi uget uget baru, masih fresh turun dari pohon !" jawab Ica tak tanggung tanggung.


"Dia Vio, gadis yang ngemis ngemis cintanya Milo lewat emak tirinya Milo," jawab Kara santai. Ia tak merasa jika Vio adalah ancaman berbahaya untuknya, sudah tak aneh lagi untuknya menghadapi perempuan modelan setengah gilaa.


"Oh, " jawab Ayu dan Ica. Milo melihat ke arah Kara yang duduk melihatnya, ia tersenyum..pasti karena teriakan Vio, kuping gadis itu memanas. Kenapa harus dipancing dulu sih, baru keluar, pikir Milo menggelengkan kepalanya.


Vio menatap ke arah pandangan Milo, ia melihat sosok gadis yang menjadi ancaman untuk usahanya mendekati Milo, ini dia gadis tak tau diri, yang ingin merebut Milonya, pikir Vio.


Vio mendekati tempat dimana Kara berada, ia mendelik tajam, dari atas sampai bawah, sepertinya tak ada ootd dengan harga dibawah harga 200 ribu.


"Ra, kayanya calon calon netizen budiman siap colek colek sambel deh !" ucap Ica.


"Biarin aja Ca, selama masih wajar, ga akan gue layanin !" jawab Kara santai.

__ADS_1


Vio tiba tiba mendengus kesal, "gue kira cewek yang deket sama Milo kaya apa ! gue kira anak presiden atau miliarder, ternyata cuma beginian doang. Heran deh, Milo liat loe darimana nya?? bahkan diliat dari deket pun loe ga ada menarik menariknya !" sindir Vio.


Jika sempat, Ica rasanya ingin berlari ke toilet dan ngambil sikat wc, buat sikat nih mulut cewek con*gor bebek.


"Ra, lawan dong !!! elah mulut gue aja dah gatel !" gerutu Ica melihat Kara yang anteng saja, kelewat anteng malah. Bingung, Kara tuh kelewat sabar atau emang budeg sih??


"Ga perlu Ca, percuma juga gue lawan, cuma buang buang tenaga ! " jawab Kara menyunggingkan senyuman.


"Mendingan tenaga gue, gue pake buat ngaca..apa gue udah lebih baik dari orang lain, sampe sampe bisa menjudge, kalau dirinya lebih baik dari orang lain !" jelas Kara.


"Wah temen gue udah bisa ngalahin mario teguk !" jawab Ica. Give applause buat dewi kebijaksanaan. Rekor untuknya, si gadis bar bar bisa juga kelewat sabar.


"Loe ga salah makan kan Ra??" tanya Ica, sontak Ayu mengusap kasar wajah bulat Ica.


Vio mendengus kesal, ia kira Kara akan marah lalu menghadapinya, padahal lebih mudah untuknya mengundang simpati Milo, jika saja Kara mau melawan, ia hanya tinggal memutar balikkan fakta, jika Kara lah yang salah.


"Heh !! cewek ga guna ! gue peringatin sama loe ! Milo tuh sudah dijodohkan sama gue ! jadi sebaiknya ga usah deket deket lagi Milo !" pekik Vio.


Kara berdiri, ia rasa pelatihan rasa sabar untuk hari ini, cukup.


" Baru mau dijodohin kan? gue udah nikah malah !! Gue lagi ga pengen berantem kali ini, mendingan loe pergi deh huss! " jawab Kara. Ica tertawa, sekalinya melawan, Kara membuat Vio mati gaya.


"Yahhh !! cuma ketitipan jodoh orang !!" Ica tergelak. Vio yang emosi hendak maju, tangannya sudah terulur ingin menjambak rambut Kara, tapi belum juga kena, Kara mundur hingga Vio meraih udara terlalu bersemangat dan malah tersungkur ke depan lapang.


"Astaga !!! " ucap ketiganya.


"Ahhh !!! cewek si@lan !!" pekik Vio yang lutut dan tangannya mencium lapangan.


"Loe ga apa apa?" tanya Kara, sedangkan Ayu dan Ica sudah tergelak.


"Sini gue bantu !!" Kara mencoba membantu, tapi Vio menepisnya.


"Ga usah so so jadi pahlawan, loe yang udah dorong gue !!" pekiknya, ingin mencari perhatian.


"Ko jadi gue ?" tanya Kara. Beberapa orang dilapangan melihat ke arah mereka, begitupun Milo.


"Kenapa tuh ?!" tanya Erwan. Milo mendekat.


"Ini kenapa, by??" tanya Milo.


"Milo, dia dorong aku sampe jatoh !!! bar bar banget sih !! padahal aku nawarin buat bareng bareng, tapi mereka ga mau dan malah dorong aku, aku kan pengen punya temen disini !!" drama murahannya.

__ADS_1


"Cih, sinetron !" decak Kara.


"Apaan, lah tadi kan loe yang mau jambak Kara, tapi loe nya sendiri yang jatoh, kualat kan loe !" bela Ica.


__ADS_2