Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
The power of Caramel


__ADS_3

Iwan duduk di luar teras, ia menunggu Kara sampai selesai mengajar. Sesekali ia melirik Kara yang asyik mengajarkan berhitung perkalian tanpa menggunakan sempoa, pada anak yang ada di hadapannya.


Iwan menghadapkan kamera ponselnya dan memberikan sentuhan jepretan kamera bak tengah menjadi seorang paparazzi seleb. Klik...foto itu sampai pada seseorang di sana.


"Hayoo loh ketawa tiwi sendiri di alam gini, jangan jangan loe kesambet !!" ucap Arial. Jika yang lain masih membetulkan tenda yang masih belum kokoh, lelaki satu ini malah sibuk menginterogasi Iwan tentang kemana saja Kara pergi dan dengan siapa ia berinteraksi.


"Kasih ruang buat si gula kali, Mil.." lirih Keanu.


"Loe jadi cowok posesif ! beri ruang Kara buat bernafas tanpa loe !" jelas Raka. Lihatlah yang siapa yang berbicara, para jomblowan yang katanya sedang dalam masa tenang, tak mau memiliki hubungan pacaran.


"Gue udah kasih dia ruang untuk bernafas, buktinya gue ga ada hubungi dia ko !" jawab Milo, otaknya memang sekeras batu kali.


"Itu bukan ruang namanya kalo loe masih naro Iwan jadi bodyguardnya Kara !" ujar Raka, lantas ia duduk di samping Milo mengusap peluhnya menggunakan punggung lengannya.


"Gue ga bisa kalo biarin dia sendiri, Kara gadis ceroboh, bisa bisa dia nyemplung ke got lagi kalo ga dijagain !" kekehnya.


"Loe pikir si Kara anak ayam apa !!" timpal Erwan.


"Hay Mil, loe pasti cape..nih buat loe !" gadis itu berdiri di depan Milo dengan tak tau malunya, harus seperti apa Milo bersikap, apa penolakannya kurang cukup keras untuknya.


"Gue dah punya, tuh kasih aja buat yang lain !" Milo menunjukkan botol minumnya, lalu pergi tanpa melirik Nina.


"Daripada mubadzir mending buat gue !!" Arial menyambar botol minuman dari tangan Nina, wajah Nina sudah berubah jadi seperti cucian kemarin.


*********************


Kara sudah selesai dengan pekerjaannya, saatnya ia pulang. Iwan pun tak bisa berlama lama menemaninya, karena setelah ini ia masih harus mengerjakan hal lainnya.


"Makasih udah nganterin, kalo bisa tuh muka jangan datar gitu, loe orang apa papan surfing? senyum dikit ga bikin loe miskin ko! ibadah !" ucap gadis itu sebelum dia benar benar masuk ke dalam rumah. Kara berlari takut kalau kalau Iwan akan murka, aamat rumahnya sudah menjadi rahasia umum sekarang, dan si pelaku sedang enak enakan santai di alam bersama singa betina.


Kara rehat terlebih dahulu sebelum ia pergi mandi, ibu juga sudah menyuruhnya makan. Di tengah lamunannya menghitung jumlah cicak yang hilir mudik di langit langit kamarnya, sebuah pesan masuk ke ponselnya, ponsel keluaran jaman Nabi Harun baru lahir ini sekuat Kara, tahan banting meskipun sudah jatuh berkali kali dan kesiram air.


Nomor yang belum tersave, tapi si pengirim menyertakan namanya, "Juwita??" gumam Kara.


"Ngajak jalan ??" Kara mengernyit, ia memutar otaknya, menghitung hitung jumlah uang yang ada di dompetnya, jalan dalam artian Kara dan Juwita mungkin beda persepsi, jalan menurut definisi Juwita mungkin semacam kegiatan yang menghambur hamburkan uang, sedangkan bagi Kara jalan adalah semacam aktivitas yang menyehatkan tubuh tanpa harus mengeluarkan biaya besar, cukup membeli air minum dan kue putu.


Ingin menolak tapi tak enak. Terpaksa Kara mengiyakan, walaupun nantinya pesanannya dan Juwita akan berbeda.


Hari ini Iwan dibebas tugaskan oleh Juwita, memang perempuan akan lebih mengerti apa yang dirasakan oleh perempuan lainnya.


"Ga apa apa Wan, Kara sama gue ko. Bilangin Milo Kara sama gue, dan gue yang nyuruh loe buat libur..." Juwita tertawa.


"Tapi Ta, gue ga bisa..apalagi sama loe ! " jawab Iwan, sontak Juwita menautkan alisnya.

__ADS_1


"Maksud loe?"


"Milo bilang tetap temani Kara apalagi kalo lagi bareng sama loe, ga menutup kemungkinan Ray bakal nyamperin kalian !" jawab Iwan. Juwita paham betul, tapi ia hanya meminta Iwan jarak agar Kara merasa nyaman.


"Yu, Ca !! loe berdua mau ikut?" tanya Kara, ia merasa canggung saja jika hanya berdua bersama Juwita.


"Boleh deh Ra, kalo diajak !!" jawab Ayu.


"Kira kira di traktir ga ya sama ka Juwi ?" tanya Ica, Kara menoyor pelan jidat Ica,


"Gratisan aja di otak loe ! "


Juwita sudah menunggu, "Ra, ayo !!"


"Ka Juwi, boleh kan Ayu sama Ica ikut ?" tanya Kara tak enak.


"Boleh dong, siapapun temen calon kaka ipar gue boleh ikut !!" serunya tertawa kecil. Ica menyenggol Ayu, "udah dikasih restu, asik gue kecipratan temen gue jadi horang kaiya !!" ucapnya. Sedangkan Kara sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan Juwita.


Kara hanya bisa mengikuti kemana Juwita pergi, ia tak banyak tau tentang seluk beluk per mall an, apa saja merk merk branded, atau seperti apa yang asli dan kw, baginya selama barang itu bermanfaat dan dibutuhkan, juga enak dilihat, ia pakai.


"Ra, ko diem? pilih dong loe suka yang mana?" pinta Juwi. Kara kebingungan, padahal kedua temannya sudah mengagumi barang barang yang dipajangi toko dari tadi. Sebuah toko tas menjadi persinggahan mereka.


Kara membelalak melihat price tag yang menggantung, gajinya setaun baru ia bisa membeli satu buah tas di depannya, itupun ia harus berpuasa jajan.


"Kayanya engga deh Ka, gue ga punya duit !" jawab Kara.


Kara tercekat, apalagi itu uang Milo... Kara sadar betul siapa dia, Kara tidak mau jika ujung ujungnya nanti akan ada drama pengembalian barang saat putus, atau ia akan berhutang pada Milo senilai uang yang sudah dinikmatinya.


Kara menggeleng "engga ka, untuk saat ini gue lagi ga butuh barang apapun, atau suka barang apapun !" tolak Kara, ia bukan gadis matre. Ditambah statusnya saja hanya sebatas pacar itupun pacar adopsi selama 6 bulan. Bukan kewajiban Milo untuk menanggung uang saku ataupun kebutuhannya.


"Kaka simpen aja atm nya, bilang sama Milo makasih tapi bukan kewajibannya buat kasih gue jajan ataupun nyukupin kebutuhan gue, bukan nya gue so alim ka, tapi itu yang diajarkan orangtua gue," Kara tersenyum menolak mentah mentah tawaran Juwita.


"Genks, udah cukup liat liatnya. Jangan sampai nanti loe berdua gilaa, karena ga bisa beli !" ucap Kara pada kedua temannya.


"Kalo ka Juwi mau, traktir makan aja.., gue ga akan nolak ! soalnya udah jam makan siang, gue laper !" kekeh Kara seraya menarik tangan kedua temannya, yang dari tadi meraung raung memalukkan karena ingin membawa pulang tas tas cantik dan mahal itu. Juwita tersenyum, "loe lulus ujian gue Kara ".


Padahal atm itu bukanlah milik Milo, itu miliknya sendiri, Juwita hanya ingin mengetes Kara, sebenarnya Milo sudah bilang pada Juwita, jika Kara sudah pasti menolak untuk dibelikan barang dan pasti juga akan menolak uangnya. Gadis ini lebih memilih hal sederhana, ia menolak emas dan lebih memilih perak, namun nyatanya ialah berlian.


Keempatnya sedang berada di gerai cepat saji. "Hah!! daebak !! Jihad lagi outbond dong !!" Kara dan Ayu bangkit dari kursinya, ikut melongok ke arah ponsel Ica yang menampilkan kalo si nyai blorong kw ini sedang dipasangi tali pengaman flying fox.


"Ihh keren, ko gue jadi nyesel ya ga ikutan OSIS !" ucap Ayu.


" Alah gaya gayaan, palingan juga jerit jerit kaya ibu ibu mau lahiran !" jawab Kara, membuat mereka semua tertawa, apalagi kedua temannya ini yang tertawa begitu keras membayangkan Jihad yang terjerit jerit mengalahkan mo*nyet yang ada disana.

__ADS_1


Dari arah cafe sebrang, Iwan memperhatikan keempatnya makan sambil tertawa tawa.


"Gue ke toilet dulu ya guys !" ijin Juwita diangguki yang lainnya.


"Sutt, Ra !! ko loe be*go sih, ditawarin beli tas gak mau, ka Juwi kan dah ngomong itu duit ka Milo buat jajan loe. Selagi dikasih dan bukan loe yang minta terima aja kali, rejeki ga boleh ditolak !" bisik Ica. Sekali lagi Ayu mencubit teman satunya ini yang tingkat mulut nyablak dan kesensitifan pada hal hal yang berbau gratisannya ini selevel dengan Jihad.


"Heh peakkk !! ini nih, manusia manusia bye one get one, Kara ga sematre itu !" ucap Ayu, Ica mencebik, "sakit Yu, elah !!"


"Caramel !!" sapa seseorang, ketiganya mendongak, nampak wanita dengan segudang ke glamourannya sedang bersama seorang gadis angkuh berjalan bersama dengan beberapa paper bag di lengannya.


"Oh jadi ini yang namanya Caramel tante, mirip mirip sama betty lapea ya, cupu, jelek !!" ucapnya, Ica sudah mengeratkan kepalannya, lihat saja caranya menatap mereka, seperti merendahkan. Minta di colok tuh mata biar gantiin mata sapi.


"Jelas dong sayang jauh kemana mana dibandingkan sama kamu !" timpal tante Marsya.


"Hey, kalian bisa jaga tuh ba*cot ga, datang datang ga permisi ga salam mai hina orang, loe berdua orang apa jel*ang*kung ??!!" Ica bangkit dari duduknya, ditahan Ayu dan Kara.


"Siapa sih??" gumam Ayu pada Kara.


Satu lagi gulma dalam hidupnya, Kara memutar bola mata jengah, meladeni modelan tante Marsya dan Vio ini hanya membuang buang waktu dan tenaganya saja.


"Maaf tante, ada perlu apa??" tanya Kara.


"Engga, ga apa apa. Saya cuma mau bikin mata kamu dibuka selebar dunia, biar sadar. Kalau kamu tidak cocok dengan Milo !" ucapnya songong. Kalau bukan ibu tiri Milo mungkin Kara sudah mencabik cabik mulutnya untuk dijadikan sate jebred.


"Kalo gitu tante ngomongnya sama Milo, lalu gadis seperti apa yang cocok dengan Milo, apakah yang bermata satu? apakah yang berjawer? ataukah yang berkulit hijau??" tanya Kara membuat Ayu dan Ica tertawa.


Tante Marsya menghentakkan kakinya kesal."Lancang kamu ya !!"


"Maaf tante jika saya lancang, hanya saja setau saya semua manusia itu dilahirkan dengan derajat yang sama di mata Allah, jika tante memang melihat saya banyak kekurangan mohon dimaklum karena saya manusia bukan dewa."


"Apa kamu berpacaran dengan Milo karena uang?? bukankah begitu?? Milo tampan, kaya, calon CEO perusahaan ternama, siapa yang tidak menginginkannya, jika iya berapa yang kamu butuhkan agar bisa menjauhi Milo??!" tanya nya menantang Kara.


"Hemm, karena tante bicara begitu, saya jadi sadar dan mulai kepikiran dengan fakta kalau Milo begitu memiliki harga. Saya rasa uang satu lautan pasifik cukup untuk menukarkan Milo !! dan jangan lupa tidak ada nyicil dan diskon potongan harga !" jawab Kara.


Ia tercengang dengan jawaban Kara, bulshit jika manusia tidak cinta uang, bulshit juga jika mencintai tulus tanpa uang, tetap saja jika tidak ada uang buktinya bapak bapak tetap akan tidur di luar kan jika tidak bawa uang ??


Bila gadis lain akan memberikan jawaban mencintai tulus tanpa butuh uang, lain halnya dengan Kara. Juwita yang sudah selesai dari toilet ingin menghampiri sedari tadi, hanya saja ia urungkan karena melihat perlawanan sengit dari Kara.


"Well Kara, gue angkat topi buat loe !" kekehnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2