Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Ibu percaya nak Milo


__ADS_3

Tidak lucu kan jika tiba tiba Milo mendorong dirinya ke bawah, ia tak bisa terbang, jika ia terjatuh dari lantai sembilan ini, maka waktunya di dunia sudah expire.


"Lepasin tangan gue !!" pekik Kara berontak, namun apa daya tenaga Milo seperti samson betawi. Kira kira kalau dicukur bulu keteknya jadi lemah ga sih? pikir Kara.


Hanya menyisakkan beberapa langkah di ujung bangunan Milo melepaskan tangan Kara, ia menatap jauh ke depan langit tanpa ada sesuatu yang menghalanginya untuk bersentuhan dengan udara senja yang masih tertinggal rasa hangatnya.


Langit berwarna kejinggaan menjadi atap bagi Milo dan Kara, angin berhembus menggerakan semua yang ringan termasuk rambut Kara.


"Gue ga pernah minta untuk loe bales rasa cinta gue, Ra... gue cuma ingin loe ada di samping gue. Itu udah cukup buat gue !" lirihnya.


"Memang susah bagi orang kaya gue untuk berbuat baik dan tulus, orang orang ga akan bisa lihat itu !" tambahnya. Kara hanya melihat punggung itu diam menatap getir lurus ke depan.


"Apa gue ga pantes buat dapet maaf loe Ra, apa gue ga pantes buat dapet kesempatan kedua dari loe ?" Milo berbalik. Kara merasa tak enak pada Milo, sejauh ia melihat tak ada kebohongan yang ia lihat di mata Milo.


Milo memundurkan langkahnya ke belakang tanpa melihat, Kara refleks maju, "Milo, loe jangan nekat !"


"Kenapa??" tanya Milo, "bukannya loe benci sama gue? bukannya loe mau gue pergi dari hidup loe??" tanya Milo kembali memundurkan langkahnya.


Kara melihat ini jadi mengingat adegan film dimana si pasangan yang bunuh diri dengan melompat ke bawah.


"Mil, jangan ngaco ya !!! gue ga mau disuruh jadi saksi bunuh diri !" jawab Kara. Ada rasa tak mau kehilangan Milo yang nyempil di hati Kara layaknya upil. Tidak dipungkiri Kara menikmati setiap moment dan perlakuan Milo yang sering membuatnya salah tingkah dan merasa diistimewakan, entah tulus atau tidak ia mulai baper terhadap Milo. Wajar saja, Kara belum pernah diperlakukan istimewa oleh lawan jenisnya selama ini.


Milo tersenyum, "ijinin gue liat senyum loe buat yang terakhir kali, Ra! gue tulus sayang sama loe !" ucapnya. Kara yang sangat polos langsung berlari memeluk Milo.


Greuppp !!!


"Mil, gue mohon jangan lompat Mil, sorry kalo gue udah nuduh loe macem macem. Siapapun berhak mendapatkan kesempatan kedua, termasuk loe !!" ucapnya memeluk tubuh atletis pemuda di depannya dan menyerukkan kepalanya di dada Milo. Memang benar, jenius beda tipis dengan naif, terlalu sibuk memikirkan pelajaran dan mengasah otak, membuat Kara menjadi gadis polos tapi tulus dan baik. Hanya saja terkadang otaknya saja rada gesrek dan bicara nya yang ceplas ceplos.


"Gue mohon loe jangan lompat, hidup loe masih panjang !!" Kara mendongak. Milo tertawa kecil, antara senang dan puas, gadis seperti Kara memang langka, begitu polos dan lugu. Jangan sampai Kara bertemu dengan laki laki b@jing@n.


"Jadi??" tanya Milo.


"Oke gue maafin, dan maaf gue udah nuduh loe tanpa bukti," jawab Kara.


"Janji?? loe ga akan kaya gini lagi?" tanya Milo mengacungkan kelingkingnya, meminta Kara janji kelingking.


"Janji !!" Kara menautkan kelingkingnya di kelingking Milo, seakan kini perasaannya sudah terikat dengan Milo.


"So, loe masih cewek gue kan ?" tanya Milo.


Kara mengangguk ragu," iya, tapi loe nya maju dulu, gue ngeri takut jatoh, kalo loncat dari sini mati ga sih ??" Kara meringis ngilu, membayangkan jika seseorang terjatuh maka malaikat maut sudah siap dengan kendaraan jemputannya. Milo terkikik,


"Ga tau, gue juga ngeri ! palingan patah tulang, kalo engga ya mati !" jawabnya. Kara yang masih dalam dekapan Milo mendongak menautkan kedua alisnya sedikit menukik.


"Kalo ngeri ngapain mau loncat, be*go !!!" Kara menepuk dada Milo.


"Ya engga, nge ghost aja siapa tau loe takut sama ancaman gue, see... terbukti kan !!" jawab Milo jujur, tak tau saja pemuda ini kejujurannya menghantarkannya pada malaikat yang lebih kejam dari malaikat maut.

__ADS_1


"Cie, ga biasa di rangkul tapi udah agresif meluk meluk !!" goda Milo.


Kara sudah siap meledakkan bom atom pada Milo, layaknya dentuman bom di Hiroshima dan Nagasaki, Kara mendaratkan bogeman mentahnya di bahu, kepala, perut dan punggung Milo.


" Nih !! nih !! nih !! makan nih, mati aja loe, ga akan peduli gue !!!" sarkas Kara sedangkan Milo tertawa terbahak.


"Dasar cowok saravvvv !!" pekik Kara kesal.


"Gue ga akan sanggup loe jauhin Ra, gue mohon jangan pernah jauhin gue !" Milo meraih tangan yang sedari tadi memukul mukulnya, bagi Kara pukulannya sudah totally power, namun bagi Milo seperti pijatan sayang dari Kara.


Kara mengedip lucu mendengar pengakuan Milo, Milo tertawa renyah, " loe cuman boleh kaya gini di depan gue !"


"Terus apa lagi yang ga boleh gue lakuin di depan orang?" tanya Kara sinis.


Rasanya ini itu tak boleh,


"Loe ga boleh senyum dan ga boleh bersikap menggemaskan. Pokonya apapun ! cukup diem dan jawab aja seperlunya !" ucap Milo.


"Loe pacar atau Tuhan?" tanya Kara ketus.


"Aku pemilik hatimu !" kekeh Milo, "besok gue jemput pagi pagi !"


"Mau kemana sih?" tanya Kara.


"Kevooo !!!" seru Milo mencubit kedua pipi chubby Kara.


"Kalo kamu mau boleh !!" jawab pemuda ini.


"Ga, gue mau pulang ! gue masih betah tidur di kasur, " sarkas Kara.


........


Otak Kara berputar sangat keras, tak tau kenapa ia sangat plin plan pada Milo, di satu sisi ia terkadang kesal, tapi selanjutnya ia selalu luluh. Tangannya memainkan bandul A yang menggantung cantik di lehernya. Baru pertama kali ia merasakan hal ini terhadap laki laki, panas dingin, jantungan sepaket dengan salah tingkah. Tanpa sadar ia membuka lemari bajunya, mencari cari pakaian terbaiknya, walaupun isinya tak akan sebagus isi lemari puteri raja, paling paling hanya jeans panjang,


t-shirt, jaket dan beberapa dress lama. Setidaknya ia ingin terlihat rapi.


"Ga sadar gue, baju gue yang paling bagus ya seragam putih abu !!" tawa Kara, menertawakan takdirnya sendiri.


Apa jadinya seorang Armillo jalan dengan gadis berpenampilan bak upik abu, yang ada dikira ia asistennya, Kara duduk di tepian ranjang, mendadak rasa percaya dirinya menjadi down.


"Ini kenapa gue jadi salah tingkah begini sih !!" omelnya pada dirinya sendiri.


"Bo*do amat lah mau suka atau engga !! toh kalo ga suka juga gue ga peduli, hidup gue terserah gue !" ucapnya bermonolog.


Selesai shalat subuh, Kara kembali memejamkan matanya. Semalam ia tidur larut, karena hari ini hari minggu. Sudah biasa untuk Kara, reward untuk dirinya sendiri jika hari weekend ia akan bermalas malasan, paling juga nyuci terus bantuin ibunya masak.


Ia kembali menarik selimutnya, menenggelamkan badannya sebatas leher, dan bergelung layaknya kepompong besar.

__ADS_1


.


.


Pagi pagi Milo sudah bersiap, ia berpamitan pada orang rumah, hari minggu adalah jadwal rutinnya berkumpul dengan club motor trailnya.


Milo menyambar jaketnya.


"Pah, Milo pergi dulu !" ia meraih punggung tangan papahnya lalu pergi melewati tante Marsya.


"Milo !! salam pada mamahmu !!" titah papahnya, Milo mengeratkan kepalan tangannya.


Milo kembali menyambar tangan dengan kuku kuku yang dipoles oleh cat kuku berbagai warna. Rahangnya mengeras, uang 5 juta hanya ia habiskan untuk mewarnai kukunya, yang ujungnya dipakai ce*bok. Jika Kara yang diberi mungkin ia sudah pakai untuk membeli cireng dengan gerobaknya sekalian, untuk seterusnya dibagikan pada warga sekampung.


"Ralat, dia bukan mamah Milo, Milo pergi tante, assalamualaikum !" jawab Milo.


"Milo !!!" Papahnya berdiri. Namun Marsya menahannya, "Mas, udah ga apa apa," ucapnya so so tersakiti dan legowo.


Milo menggeber motor besarnya menuju rumah Kara, hanya dalam hitungan belasan menit ia sampai. Rumah yang tidak sebesar rumahnya, namun penuh dengan kehangatan sebuah keluarga.


"Tok...tok..tok...!!"


"Assalamualaikum !" ucap Milo.


"Waalaikumsalam," ayah Kara sedang di samping rumah bersama ibu Kara, mengurus dapur dan apotik hidup yang mereka tanam sendiri.


Milo melongok ke halaman yang tak begitu besar namun asri, terhalang tembok yang tak setinggi benteng kastil Milo, hanya sebagai pembatas dari tanah milik tetangga.


"Bu ,bapak...wahhh pagi pagi sudah berkebun !!" seru Milo meletakkan helmnya.


"Ehh, nak Milo ! ia nak, biasalah daripada tidak ada pekerjaan, sekalian pengiritan uang dapur !!" kelakar ayah Kara.


"Mau jemput Kara ya ?" tanya ibu Kara memetik beberapa tomat yang sudah memerah.


"Iya, bu. Kara nya ada ?" tanya Milo.


"Ada, itu anak kalo hari minggu jam segini masih di kamar, paling masih mimpi !! coba bangunkan saja sudah siang juga !!" pinta ibu Kara secara tak terduga, membiarkan bujangan masuk ke dalam kamar anak gadis satu satunya. Sepercaya itu ibu Kara pada badboy macam Milo.


"Oh kalo ibu dan bapak mengijinkan saya mau, tapi apa tidak apa apa pak, bu?" tanya Milo sopan, pasalnya ia belum pernah masuk kamar anak gadis sebelumnya.


"Insyaallah ibu percaya nak Milo," senyum ramah ibu Kara penuh makna, itu artinya kepercayaan yang tak boleh di salah gunakan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2