
Jika Senin adalah awalan hari, maka awali harimu dengan ceria. Tapi tidak dengan sebagian siswa, termasuk Milo.
"Udah jam berapa ini !!" jewer Kara di telinga putihnya.
"Iya by, maaf ! semalam ngerjain tugas papah, jadinya selepas subuh ketiduran lagi," jawab Milo menyesal.
"Ya udah buruan, nanti telat !!" Kara berkacak pinggang, menggembungkan pipi seperti kue onde, hanya tinggal diberi wijen saja.
Kara sudah naik di atas motor Milo, hanya tinggal mengucapkan kata ajaib saja, maka kelar urusan.
"Jalan ! nungguin apa? nungguin kucing bertelor ?!" seru Kara. Tapi Milo hanya diam dan berdehem, berharap gadis yang diboncengnya bisa sepeka daun putri malu.
"Ck ! ribet !" gerutunya.
"Ekhem, mas sayang jalan dong !" Kara mengerjapkan matanya beberapa kali seperti orang dengan penyakit cacingan.
"Ga usah gitu jelek !" Milo mencubit gemas pipi Kara yang memanyunkan bibirnya.
.
.
Upacara pagi ini sungguh membuat kaki pegal, kalau tiap hari dikasih kaya gini, bukan tidak mungkin, betis Kara akan sebesar talas bogor. Untung saja mereka memakai topi, setidaknya menghalau sinar matahari, walaupun kuping mereka tetap panas karena tersorot matahari. Wakepsek memberikan pengumuman tentang di adakannya acara bela negara, yang diadakan seluruh sekolah. Kegiatan rutinan pemerintah ini, meminta setiap sekolah mengirimkan satu peleton pasukan siswanya untuk mengikuti program yang menguras tenaga dan otak ini. Merasakan bagaimana rasanya membela sebuah negara layaknya tentara, meskipun isinya tidak mungkin sekeras latihan sebuah detasemen khusus.
"Aduh, gue paling males acara beginian! ngapain juga harus ada acara beginian, buat apa ada tentara?? toh ujungnya kodrat gue dapur, sumur, kasur," omel Ica. Untung saja Kara dan teman sekelasnya memiliki grup lenong pribadi, ada saja celetukan omelan dan kritikan mereka, definisi manusia yang tak pandai bersyukur.
"Kali aja Ca, sewaktu waktu loe diperlukan buat ikut perang !" jawab Kara, masih dalam posisi istirahat.
"Ngapain gue di medan perang? selfie gitu? " sungguh pertanyaan Ica adalah kebiasaan buruk netizen masa kini.
"Rebahan Ca, ngelenong bareng Jihad !" jawab Ayu.
"Sutt !! berisik !" sarkas Jihad dari samping kanan. Memang dimanapun dan kapanpun, teman temannya ini tak bisa diam, apalagi mulutnya. Jika seandainya mereka melaksanakan ibadah Nyepi, maka bukan tak mungkin ketiganya bakalan digebukin Pecalang, saking berisiknya.
Kara, Ica, Ayu mengatupkan bibirnya dan mengulum bibirnya.
"Simple banget idup loe Ca, " gumam Ayu. Bukannya diam, ketiga manusia ini malah semakin menghidupkan suasana hening, sehening kalo orang lagi ujian, kecuali suara Wakepsek saja yang terdengar seperti sebuah orasi.
"Simple lah, apa lagi? mau jadi profesor? gue ga pinter kaya Kara ! mau jadi CEO? gue ga tajir melintir kaya ka Milo !" jawab Ica.
"Apaan sih Ca, pake banding bandingin gitu. Siapa tau besok besok loe dapet undian kopi ! kaya mendadak!" jawab Kara.
"Loe bertiga, mau diem apa mau gue geret ke depan?" ancam Jihad menekankan setiap katanya.
.
.
Akhirnya 1,5 jam sudah mereka berdiri. Menunggu kepastian Wakepsek menghentikan orasi tentang bela negaranya, seperti menunggu dia yang tak pernah mencintaimu.
"Guys besok ijinin gue ya, betis gue kesemutan, kayanya besok tulang gue copot !" Kara duduk di sejenak di bangku pinggiran lapang dengan menselonjorkan kedua kakinya. Lebih parah Ica, dia sudah mengesot ngesot mendekati Kara.
"Lah kaki gue apa kabar Ra, kayanya kita berdua ga bakat jadi tentara ! disuruh berdiri gitu aja, udah mengibarkan bendera putih !" jawab Ica. Ayu ikut duduk dengan keduanya.
"Loe mau berdiri atau gue injek kaki loe, Ca ! buruan masuk kelas !" ucap Jihad kemudian menyuruh mereka masuk kelas.
"Bentaran napa Ji, istirahat dulu, duduk dulu, ngopi dulu ! udah kaya majikan durhaka ! " jawab Ica sewot.
"Tadi kan udah istirahat ?!" tanya Jihad.
"Yang tadi bukan istirahat ! itu mah jemur orang !" sarkas Ica.
"Istirahat definisi gue sama Ica beda dari istirahat versi tentara !"
"Iya, istirahat versi kalian tuh bawa kasur terus rebahan pake bantal !" jawab Ayu terkekeh.
"Sedelapan !!" ucap Ica.
"Setuju !!" ralat Kara.
__ADS_1
Tanpa di duga Milo cs melewati mereka, Milo melihat Kara yang memijit mijit betisnya, tiba tiba saja tubuh Kara terangkat.
"Eeh !!!" Kara terkejut, refleks mengalungkan tangannya di leher Milo.
"Sakit kan betisnya, nanti guru keburu masuk ! yu aku anterin !"
"Turunin aku !" Kara melotot, tapi tak digubris oleh Milo, sekali berbuat dan bertitah, maka pantang untuk Milo membatalkannya.
Kara menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di dada Milo. Kata CIE, sudah menggema membahana di seluruh penjuru sekolah.
"Kalo bukan pacar udah ku tampol kamu pake bakiak !" gumam Kara, Milo tertawa.
"Kalo bukan pacar dah kubiarin kamu dimarahin guru karena telat nyampe kelas," jawab Milo.
Aroma parfum lemon dan woody milik Milo, menguar di penciuman Kara, narkotika merk pribadi milik Kara.
"Kalo bukan pacar dah kulaporin ke polisi, gendong gendong anak gadis orang tanpa ijin !" jawab Kara kembali. Milo masih membawa Kara menyusuri jalanan menuju kelas Kara.
"Kalo bukan pacar udah kumakan kamu sekarang juga, saking gemesnya !" jawab Milo tak mau kalah. Kara mendongak, menatap dongkol.
"Apa?! emang iya kan,untung pacar bukan donat !" jawab Milo.
Milo sampai masuk dan mendudukan Kara di bangkunya, sontak saja teman temannya mengira Kara sakit.
"Ra, loe sakit?" tanya Vanya.
"Engga Va, dia aja yang lebay !" gumam Kara.
"Sama sama baby !" Milo mengedipkan matanya sebelah lalu pamit.
"Dihhh, mau dong !!!! " rengek Ica.
"Kasian banget gue ! jomblo..jomblo !!! betah banget di belakang nama gue !!" rengek Ica kembali mendudukan pan*t@tnya di kursi kayu yang jauh dari kata empuk.
"Loe mau gue jodohin Ca?" tanya Jihad.
"Huuu mimpi !!" Ayu mengusap kasar wajah Ica.
"Ca, pernah denger ga, kalo mimpi harus bawa kaca !" jawab Jihad.
"Njirrr kamvreeett loe ! menurut loe, gue kurang yahud gitu? gue juga ga kalah sama Kara, cuma otak guenya aja yang kurang asupan nutrisi !" Jawab Ica.
.
.
Bel istirahat berbunyi nyaring, sampai hampir memecahkan gendang telinga dan gendang dompet para siswa. Itu artinya dompet mereka siap siap pecah, untuk diambil isinya dan masuk brangkas kantin.
Beberapa anggota OSIS berjalan, diiringi tatapan kagum dari semua penghuni sekolah. Definisi Boys Over Flower banget ! (ralat jika judul salah). Mereka masuk ke tiap kelas, memberikan pengumuman siswa yang mengikuti kegiatan bela negara.
"Duh, kenapa kalo anak anak OSIS jalan tuh seakan mata dunia tertuju pada- Nya !" kagum Ica
"Bener banget Ca, " setuju Vanya.
"Dih, woyyy !!! itu masih manusia, belum nabi YUSUF, kalo sampe nabi yang turun udah kejang kejang kalian !" sarkas Kara.
"Loe ga deg degan apa Ra, salah satunya tuh cowok loe ?!" tanya Vanya.
"Si Kara mah jangan ditanya Va, dia mah punya kelainan !" jawab Ica, Kara langsung menatap tajam.
"Kelainan, matanya aga siwer kalo liat yang ganteng !" jawab Ica tertawa.
"Njirrr ! loe Ca !" decak Kara.
"Assalamualaikum !" salam Raka mengetuk pintu kelas.
"Waalaikumsalam !!" seru mereka,Jihad yang baru saja membantu membawakan buku buku siswa ke ruang guru, sudah kembali.
"Mohon perhatiannya guys !" pinta Jihad.
__ADS_1
"Dari tadi juga udah diperhatiin Ji, elah !!" sewot Ica.
"Gue sumpal juga mulut loe Ca, pake panghapus ! diem !" gerutu Kara.
"Iya kanjeng mamih !" ucap Ica membungkuk.
"Sorry, minta perhatiannya sebentar ! kita mau kasih pengumuman, daftar siswa yang mengikuti kegiatan bela negara !" ucap Raka lantang.
"Boleh ko ka, boleh banget ! ga sekalian pengumuman kapan kita married juga Ka ??!" Kara dan Jihad keluar dari bangkunya dan membekap mulut Ica. Sedangkan sorakan sudah menggema dari tadi.
"Sat !!! loe berdua sadis banget !!" Ica menepis tangan keduanya. Ayu sudah tergelak dari tadi.
"Ka Milo, cewek loe nih !!! udah kaya tembok rengginang ! kasar banget !" omel Ica.
"Loe bertiga mendingan keluar deh, berisik !!" ucap Ayu menjedugkan/ mengadukan kepala ketiganya.
"Ga apa apa Ca, gue suka yang garang garang ! biar nanti kalo belah duren, sedikit mengaum !" jawab Milo satu frekuensi. Raka menepuk perut Milo dengan punggung lengannya, tapi lelaki ini tak merasa kesakitan.
"Cih, ka Raka ! kalo nama gue ada..minta ganti aja ka ! ga mau sama dia !!" tunjuk Kara pada Milo yang tertawa puas, hubungan pacaran macam apa mereka ini.
"Dan sayangnya nama loe emang ada Ra, " jawab Raka. Kara mendengus.
"Firman, tolong umumkan !" pinta Raka. Setelah mengumumkan Milo menjelaskan waktu, dan persiapan apa saja yang harus dibawa.
Setelah selesai, Raka dan yang lain pamit.
"Ka, loe duluan aja. Gue mau mojok dulu !" Milo menaik turunkan alisnya.
"Baby, mau makan dimana?" tanya Milo.
"Deket perpus aja yank !" pinta Kara, begini jika berpacaran dengan seorang kutu buku macam Kara. Milo meraih tangan Kara sedangkan sebelahnya memegang kotak bekal.
Dua pasang mata siswi menatap kesal pada kebersamaan keduanya.
"Milo cuman punya gue !" ucap keduanya.
"Nanti bawa baju ganti aja by, ga usah bawa yang lain. Biar bekal nanti aku yang bawa !" ujar Milo. Dan Kara mengangguk.
"Sayang, ka Nina sama Vio ikut?" tanya Kara.
"Nina ikut tapi Vio engga," jawab Milo.
"Kamu baca buku apa sih? apa tulisan lebih menarik dibanding muka tampan pacarmu ini?" tanya Milo.
"Bukan gitu, nanti setelah istirahat ada ulangan," jawab Kara. Gadis sepintar Kara pun masih harus belajar. Lalu apa kabar dengan Ica dan yang lain, yang malah anteng berselancar di dunia maya.
"Sayang, " Kara menaruh bukunya, kembali beralih pada roti dan menyuapi Milo dengan tangannya sendiri.
"Hem?!"
"Kalo seandainya, Gladys datang lagi dan minta dinikahin sama kamu lagi, gimana?" tanya Kara risau. Bukan tidak mungkin Gladys akan kembali, Vio dan Nina saja tidak bisa move on.
"Silahkan saja, jika waktu itu datang aku sudah siap !" jawab Milo tak gentar, karena menurut Milo masalahnya dengan Gladys sudah tutup kasus.
"By, kamu ga harus mikir apapun, ga harus takut akan apapun ! cukup ada di sampingku dan menyayangiku saja. Untuk masalah lainnya, apalagi Gladys, Vio, Nina ataupun tante Marsya adalah urusanku !" jawab Milo. Seakan ingat dengan tante Marsya, dulu Kara ingin menanyakan sesuatu pada pemuda ini.
"Oh iya, waktu itu sebenernya ayah dipindah bagiankan, tapi sekarang katanya udah balik lagi. Apa itu karena kamu?" tanya Kara.
Milo tersenyum, "bukan karena aku, tapi memang ke profesinalan ayahmu, yang bikin dia balik lagi. Pengabdian ayah sama pabrik," Milo merapikan rambut Kara, yang terbawa hembusan angin. Kata mengangguk dan menunduk.
"Kamu cukup duduk dan tersenyum manis saja untukku. Biarkan urusan ini menjadi pekerjaan mas sayangmu ini by," ucap Milo.
.
.
.
.
__ADS_1