Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Do you miss me?


__ADS_3

Kara mematut wajahnya di cermin, sudah masuk semester 2, hari baru dengan semangat yang baru, walaupun bajunya tidak baru dan bau toko.


Jemputan mas sayang sudah setia berada di depan. Hanya tinggal memakai kacamata bingkai bulatnya saja, Kara siap. Hari ini, gadis ini benar benar seperti kembang desa yang baru mekar dan merekah, mengepang rambutnya seperti Elsa si princess es. Apapun dan bagaimana pun Kara, ia selalu nampak manis di mata Milo, seperti seseorang yang sudah kena sihir pelet.


"Bu, anak gadis pergi berjuang dulu, do'ain ya !" pekik Kara.


"Biar cepet lulus, biar cepet dilamar !! lanjut Milo, meneruskan pamit Kara. Ibu tersenyum dengan kelakar Milo.


"Gimana bu, diijinin ga?" tanya Milo.


"Apanya?" ibu balik bertanya.


"Kalo lulus nanti langsung dilamar?" Kara menjepret tengkuk Milo dengan karet bekas nasi uduk di meja.


"Awww ! "


"Yang pasti harus punya kerja dulu, nanti anak ibu mau dikasih makan apa? dedak?" tanya ibu, Milo tertawa.


"Kara kan makannya beling bu, di rumah banyak lah bekas piring pecah !" jawab Milo.


"Emangnya kuda lumping !" ketus Kara.


"Belajar saja yang bener, biar bisa lulus terus kuliah ! " ucap ibu masuk ke dalam, meskipun ibu tau, Milo akan sangat mampu memberi anaknya makan sampai mendadak gemuk.


Kara memakai sepatunya, membuat simpul tali sepatu. Milo tersenyum saat gadis itu membungkuk, di pergelangan tangannya gelang kunci dan love darinya, di lehernya menggantung kalung berbandul love dan huruf A. Sepertinya hanya tinggal menambahkan cincin di jari tengahnya, cincin yang disahkan oleh KUA, untuk mengikat gadis itu agar tidak digaet orang, layaknya domba kecil meri..yang ikut kemanapun gembalanya pergi.


"Apa, senyum senyum? fiktor !" ucap Kara mendengus.


"Suudzon !" jawab Milo.


"Terus ngapain senyum senyum ? kalo pikirannya ga ngelayab kemana mana?"


"Senyum kan ibadah," jawab Milo.


"Kalo senyum senyum sendiri, namanya udah gila !" tuduh Kara.


"Iya aku gila, gila sama anak pak Darmawan dan bu Hani !" jawabnya terkekeh.


"Emang aku ngapain?" ucap Kara beres menyimpulkan tali sepatunya.


"Kamu nebarin bubuk pesona kamu tiap hari, siram aku pake kasih sayangnya kamu, bawa jantung dan hati aku, sampai sampai aku ga bisa nafas kalo ga ada kamu !" jawab Milo.


"Uh so sweet, sampe sampe pengen ngantongin dan kekepin buat sendiri !" ujar Kara, mencubit gemas pipi Milo yang tidak sechubby pipi Kara.


"Boleh neng, bungkus. Mau apanya?? mata, hati, jantung, otak? semuanya buat neng !" jawab Milo, Kara tertawa.


"Ya Allah udah jam 7 kurang, buruan ntar terlambat !" Kara melirik jam di tangannya, lalu bergegas menggendong tasnya.


"Tenang aja, kamu lagi di supirin rossi !"


"Disini teh rossi, tukang gorengan !" jawab Kara tertawa, dan Milo manyun.


Kara sudah naik ke atas motor Milo, kalau dulu Kara paling anti dengan cowok bermotor, karena rata rata teman teman smp nya begitu mengagung agungkan laki laki bermotor besar, alias matre, karena bagi mereka akan terlihat keren jika memiliki kekasih kemana mana naik motor, padahal ujung ujungnya suruh dorong di tengah jalan karena abis bensin. Ia menyebutnya cewek knalpot. Berlomba lomba memiliki pacar memakai motor gede, tapi sekarang mau dikatain cewek knalpot pun ia masa bo*doh, memang pacarnya naik motor gede, dan Kara bukan cinta motornya.


"Jalan mas sayang !" seru Kara, lebih mirip Cia sedang meminta es krim.


Motor mereka berhenti saat lampu merah, bersebelahan dengan sebuah mobil berwarna kuning.


"Itu kaya Milo, " gadis itu menyipitkan matanya.


"Sama siapa?!" gumamnya. Saat ia ingin membuka kaca jendela mobilnya, lampu sudah kembali hijau.


Gadis itu hanya bisa melihat kepergian keduanya.


Milo membuka helm Kara, saat di parkiran.


"Jadi Ka...Ra, jadwal les orang tampan hari apa?" Milo menaruh helmnya di motor seraya tangannya merapikan rambut depan Kara.


"Emmhh, kayanya hari rabu aja, soalnya aku free nya hari rabu. Tapi kamu taekwondo kan?" tanya Kara.

__ADS_1


"Bisa diatur, setelah taekwondo aja !" jawab Milo,


"Hemmm, nempel terusss !!" ledek teman temannya baru sampai di sekolah.


Sebuah mobil berwarna kuning masuk ke parkiran. Dari dalamnya turun seorang siswi baru, penampilannya pun rapi, namun tak secupu dulu malahan terkesan modis, lebih mirip disamakan dengan Juwita.


"Mil, " Arial memanggil, semua mata yang ada di parkiran melihat murid baru yang terlihat seperti salon berjalan.


Rambut sepunggung, rok terkesan pendek, lalu seragam yang pas body. Riasan wajah pun tak kalah dari artis artis papan atas. Ia menurunkan kacamata hitamnya. Melihat gayanya yang tak kalah dari Milo, menunjukkan jika ia kaum hedon.


"Itu !!" tunjuk Erwan. Milo mengerutkan alisnya pada Erwan sebagai tanda, jangan sampai Kara tau jika itu Gladys.


"Beda !" gumam Kean. Perubahan Gladys tak lantas membuat Milo terkagum kagum padanya.


"Hay Mil, " sapanya. Tapi Milo hanya diam.


"Hay, welcome !" sapa Raka biasa saja.


"Ka Raka kan?!" Kara menautkan alisnya, Raka mengenalnya bahkan Milo. Siapa gadis itu.


"Hay, cuma loe cewek diantara mereka. Itu tandanya loe punya tempat istimewa dibanding siswa lainnya !" jawabnya memuji, tapi pandangan dan nada bicaranya lebih seperti mengejek.


"Siapa nama loe?" tanya Gladys.


"Caramel, " Kara membalas salam perkenalan Gladys. Tapi tak lama, Milo segera melepaskan tangan keduanya.


"Baby, aku antar ke kelas !" Milo segera mengajak Kara menuju kelasnya.


"Milo, do you miss me?" pekiknya, membuat Milo dan Kara berhenti dari langkahnya.


Milo sudah geram, ia membuang nafas kasar, tangan satunya mengepal kuat. Kara menoleh pada Milo. Keduanya saling berpandangan.


"Ga usah di dengerin, dia cuma masa lalu yang siap ngancurin masa depan !" kata kata Milo seakan menajam untuk mewanti wanti Kara.


"Dys, sorry..mendingan loe masuk ke ruang kepsek aja, buat penempatan kelas !"ucap Kean segera menengahi, seakan menekan Gladys untuk jangan macam macam, dan memulai perang.


"Dia pindah sekolah disini? " tanya Kara, Milo kembali mengangguk.


"Kenapa ga ngomong?" tanya Kara.


"Aku ga ingin kamu diganggu ataupun berurusan sama dia, biar aku yang urus !" jawab Milo, Kara menggeleng.


"Bukan kamu, tapi kita !" jawab Kara menarik senyuman. Bukannya melanjutkan langkahnya menuju kelas, tapi Kara justru berbalik badan, hingga kepangan rambutnya bergerak ke depan. Ia maju menghampiri gadis yang bisa disebut miss universe wanna be. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, tak ada kata selain wow, ingin menyamai pohon natal, blink blink.


"Gladys kan? salam kenal, semoga kita bisa jadi teman baik ya ! loe ga keberatan kan temenan sama cewek cupu kaya gue?" tanya gadis itu, membuat para makhluk yang disebut lelaki yang ada disana memandang melongo. Mereka kira akan ada adegan tampar menampar, atau jambak menjambak.


"Loe tau nama gue?" tanya nya. Kara tertawa, dan menunjuk name tag yang tertera di seragamnya. Jangan dipikir Kara akan mengatakan kalimat pujian setinggi langit ketujuh padanya, jika gadis sejuta dollar ini berfikir begitu, maka ia salah besar.


Gladys yang sudah siap dengan pujian Kara, malah terlihat salting karena malu.


"Baby, masuk kelas..nanti keburu masuk, pelajaran bu Mira kan?" tanya Milo.


"Iya mas !" jawab Kara.


"Duluan ya, calon laki dah manggil !" jawab Kara, jangankan Gladys..Raka, Arial, Erwan dan Keanu saja dibuat bungkam oleh Kara.


"Mas??" gumam Gladys. Sejak kapan cowok sekeren Milo mau maunya dipanggil mas. Mungkin dunia sudah kiamat.


Satu kata dalam otak Gladys saat ini, setelah tau dari Rayhan dan tante Marsya, jika ternyata Caramel adalah pacar Milo, ia tak bisa meremehkan gadis cupu itu. Cupu ?? ia tertawa sendiri, gambaran dirinya dulu.


"Dys, gue tau loe masuk kesini dengan tujuan yang jauh dari kata baik. Gue cuma mewanti wanti...jangan sampai Milo seperti dulu, bahkan ia akan lebih membenci loe !" ucap Raka langsung pergi. Gladys menatap para lelaki ini dengan tatapan kebencian.


"Denger kan Dys..!" Arial mengejar yang lain.


"Gue denger, sangat mendengar kalo Milo memanggilnya baby..." gumam Gladys dengan gertakan gigi dan hentakan kaki.


*****************


Baru beberapa jam saja, pamor Gladys mencuat ke permukaan bak ikan mati yang mengambang. Termasuk gosip yang ia tebarkan, jika dulu ia sempat menjadi orang spesial Milo, bahkan mereka sempat melakukan kontak fisik.

__ADS_1


Kabar ini sedikitnya membuat kuping Kara seperti sedang di panggang di atas kompor. Jika katanya Kara tak sebanding dengan Gladys.


"Apanya yang bagus sih, penampilan udah kaya lont3 juga !" ucap Ica.


"Kaya yang tau aja lont3 tuh apa!" ucap Ayu.


"Lont3, kalo kita pengen dapet duit, pasang lont3 !" jawab Ica menyedot teh manis kemasan.


"Itu lotreeee !!!" Jihad menjitak kening Ica.


"Ka Nina ma Vio pergi, eh... lont3 baru datang !" ucap Ica.


"Ujian cinta loe sama ka Milo, Ra ! kuat kuat, ya !" Ayu mengusap usap punggung Kara.


"Ra, sugar babynya gue... gue yakin loe lebih bijak dari si oon ini !" toyor Jihad di kepala Ica.


"Gue harap loe bisa selalu pake otak dingin dalam menghadapi dan mencerna masalah ataupun perkataan, " ucap Jihad.


"Masukkin kulkas Ji, otaknya. Biar dingin !" jawab Ica santai.


"Plokkk !!" jidat Ica di tepok Jihad.


"Sattt !!! jidat gue sakit nyonggg...!" omel Ica.


"Gue takut Ji...loe ko bijak gini, loe ga lagi sakit parah kan?!" tanya Kara tertawa.


"Dih peakk ! gue lagi mode mamah Dedeh, ni anak 2 ga bisa apa diseriusin !" jawabnya. Ayu tergelak, sebagai gadis yang paling waras diantara mereka, ia hanya meminta Jihad sabar. Bicara dengan Kara dan Ica tuh harus pake otaknya spongebob sama patrick. Bawaannya mesti hepi dan melenceng, jangan serius serius.


"Ahh, gimana sih loe ! jadi Ica apa gue yang mau loe seriusin Ji? jangan sampe gue sama Ica malah jadi madu !" jawab Kara, banting saja kepala Jihad dan masukkan ke ring basket di lapangan. Ica tertawa bersama Kara.


"Iya Ji, ah elah serius amat. Jangan serius serius, cepet tua !" ujar Kara.


"Iya tuh, kerutan di jidat loe, Ji !" tunjuk Ica di kening kencang Jihad.


"Loe berdua pernah ngerasain belum rasanya di gigit harimau pas mau tumbuh gigi?" tanya Jihad.


"Ahh ngapain, kurang kerjaan banget liatin harimau mau tumbuh gigi !" ujar Ica.


"Duarrrr !!!!" pecah sudah kepala Jihad.


"Hahahahah, iya Ji..maaf deh, asal ada kalian semua di samping gue sama ka Milo, insyaallah apapun dan siapapun itu. Kita bakalan baik baik aja, " Kara mengusap bahu Jihad.


"Roman romannya bakalan ada perang antara Kara sama Si lont3 !" ucap Ica.


"Loe tuh temen apa kompor sih Ca ?!" kesal Jihad.


"Gue temen Kara lah, kalo temen gue mau perang gue ikut angkat senjata ! " jawab Ica malah bertos ria dengan Kara.


"Dasar sengklek loe berdua !" ujar Ayu.


"Gue cuma minta loe hati hati, Ra..gue tau Gladys, bahkan dulu gue ikut urusin masalah Milo sama dia, walaupun gue tau...Milo ga akan tinggal diam, " terlihat sepertinya Jihad pun sedang memikirkan sesuatu.


"Ga loe, ga ka Milo, ga cs cs nya, pada bilang awas..awas...selicik dan sejahat apa sih dia? makasih udah khawatirin gue daddy, santai aja kenapa sih !" Kara berniat masuk ke perpustakaan, ia beranjak.


"Gue temenin !" ucap Jihad, tapi ia menarik Ica juga.


"Eh..eh...!" teh manis hampir saja muncrat dari mulutnya.


"Saravvv !! " Ica menepuk punggung Jihad kencang.


"Keselek gue !" sewotnya.


"Ra, tunggu !!" Ayu ikut menyusul.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2