
Jihad masuk ke dalam ruangan, melihat Kara yang sedang berada di samping Milo,
"Ra, hehe...peace !!" ucapnya seraya menunjukkan dua jarinya.
"Damai Ra, gue tadi ikutan panik aja Ra,," alasannya.
Kara mendekat, ia mengulurkan tangannya menjewer telinga Jihad, "Loe tau ga gue malu, loe datang cengar cengir kaya orang kurang obat !"
"Muka gue mau ditaro dimana?" Kara sdmakin mengencangkan pelintirannya membuat Jihad semakin meringis.
"Keresekin aja, Ra !" jawabnya tanpa dosa.
"Ampun, Ra sakit peakk !" ucapnya, salah saja masih sempat sempatnya mengumpati Kara. Memang mulut lelaki ini terbuat dari hasil nyinyiran netizen.
"Loe tau ga jantung gue ampir copot denger kabar ini, gue sampe lari larian di mall !" Kara mengeluarkan semua uneg unegnya, tanpa sadar sudah membuka sedikit fakta tentangnya di depan semuanya.
"Hemm, hajar aja Ra, ccabein aja mulutnya !" jawab Arial mengompori, Kara membawa Jihad dan menariknya keluar ruangan.
"Nah kan ini dia tersangka utama!" kikik Ayu, yang berada di luar ruangan bersama Ica dan Juwita.
Ica menambahi dengan pukulan pukulannya di punggung Jihad, "Heh beg*o, loe tau ga ini perut baru juga makan enak udah suruh keluar lagi !! gara gara info dari loe yang belum kelar !" kesal Ica.
"Aww..aww..ampun ! loe berdua dikasih makan apa sih, galak bener, kaya singa mau lahiran !!" aduh Jihad. Kupingnya memerah akibat jeweran Kara.
"Beling !!" jawab Kara.
"Ayam idup !!" jawab Ica bersamaan.
"Pantes kaya kuda lumping !" jawab Jihad.
"Loe tanggung jawab, gue malu !!!" pekik Kara tertahan.
Ketiganya tertawa lepas, "mewek kan loe !" Jihad mengacak rambut Kara dan mencubit pipi chubby itu.
"Loe bertiga datang kesini ga bawa makanan gitu, buat orang ganteng kaya gue?" tanya Jihad.
Sontak Ica menoyor kepala Jihad, "huu, kamvreet ! loe pikir kita sengaja apa, datang kesini. Kalo loe mau, coba tangan loe nadah,mau gue muntahin sebagian makanan tadi !" jawab Ica. Jihad menjepit Ica dengan ketiaknya dan menjitak kepala Ica.
"Gue bantuin supaya loe ngeluarin isi perut loe semuanya !! " ucap Jihad penuh penekanan.
"Aww..aww...ampun nyai !!" aduh Ica.
"Loe berdua berisik amat, huss..huss..sana balik ke habitat loe ! ga liat tuh !! ruang kesehatan !" usir Arial.
"Ihh ka Rial, baru juga dateng masa udah disuruh pergi aja, ajak ngopi dulu kek !!" manyun Ica.
"Mau??" tawar Arial, Ica mengangguk cepat.
"Tapi kopi sianida ?" seketika wajah Ica langsung manyun.
Juwita masuk ke dalam ruangan bersama yang lainnya.
"Loe ga apa apa Mil?" tanya Juwita.
"Ga apa apa ! ga ada sejarahnya seorang Armilo tumbang hanya karena jatoh !" jawabnya jumawa.
"Udah selesai, loe istirahat aja dulu Mil !" ucap Raka yang sudah selesai memberikan pertolongan pertama pada Milo.
"Ga mau periksa ke dokter Mil, takutnya ada luka dalam ?" tanya Kean.
"Yang ada otak dia yang geser, dari tadi senyum senyum sendiri !" sarkas Erwan, sedari tadi Milo tak pernah kehilangan senyuman.
"Loe yang gilaa ! serius deh itu si Kara mewek denger gue jatoh?" tanya Milo masih tak percaya jika Kara menangis menjadi jadi.
"Seperti yang loe liat, kesian tuh..anak orang loe bikin nangis ampe sembab gitu ! mana abis dilabrak tante Marsya tadi di cafe !" ucap Juwita.
"Apa??!" seru Milo, Kean, Raka, dan Erwan ikut mengernyitkan dahinya.
Alis Milo mulai menukik, "kapan? dimana?" tanya nya.
"Tadi siang di cafe, waktu gue balik dari toilet, tante Marsya sama cewek yang gagal move on dari loe !" jelas Juwita.
"Mereka ga ngapa ngapain Kara kan?" tanya Milo khawatir.
"Loe salah nanya, harusnya loe nanya mereka ga kenapa napa kan?" balik tanya Juwita,
"Emangnya apa yang terjadi?" tanya Raka ikut penasaran.
"Tuh nenek sihir, yang balik dilabrak Caramel !" Juwita tertawa geli mengingat kejadian tadi siang.
"Hahahaha, tante Marsya ga tau Kara kan sama sama bar bar kaya anak tirinya !" jawab Kean tertawa. Di dorong Milo di bagian pundaknya.
"Haha, ko gue jadi penasaran pengen liat !" jawab Erwan.
__ADS_1
"Siap siap aja nanti ada yang ngadu sama om Braja, drama queen ibu tiri yang di dzalimi !" kekeh Juwita.
"Gue yakin Kara memang cewek yang tangguh, tapi yang gue khawatirkan, nantinya Kara bakal jadi sasaran liciknya tante Marsya !" jawab Milo.
"Loe tenang aja Mil, ada kita ! " Raka menepuk pundak Milo.
"Gue cuma minta kalian jagain Kara, untuk selebihnya biar jadi urusan gue ! justru gue menunggu saat papah mengajak kami duduk bersama !" senyum Milo menyeringai.
"Gue sudah minta om Adi buat cari tau dimana alamat dan tempat kerja tuh lelaki !" ucap Milo, menatap nyalang ke depan.
"Tenangin dulu tuh cewek loe, kasian dari tadi nangis ampe sesenggukan gitu !" ujar Juwita.
Milo beranjak turun meskipun ia masih terpincang pincang dibantu Raka.
"Baby, "
Jihad dan Ica yang tengah saling berbalas pukulan di soraki oleh Ayu, Jihad dan Kara menoleh ke belakang.
"Mil, dah kuat loe ?!" tanya Arial.
"Sayang, ga usah bangun. Panggil aja biar nanti aku yang masuk," jawab Kara.
" Di dalem banyak se*tannya ga mau pergi !" jawab Milo, Raka yang sedang membantunya berjalan mendadak mendorong kepalanya, "maksud loe gue, Juwi, Kean sama Erwan ?"
"Se*tannya gerombolan !" tambah Milo. Baru juga diobati, minta di buat babak belur lagi temannya ini, pikir Raka.
"Si*@lan loe, tinggal gue dorong ke jurang nih enaknya !" Milo terkekeh, "santuy bang Raka ! thanks brother !"
"By, bisa bicara sebentar?" ajak Milo.
"Cuma berdua ?" tanya Kara.
"Enggak, satu kelurahan kalo bisa ! iyalah berdua..aku dan kamu !!" goda Milo,
"Cih, mukanya kaya minta di cuci barengan kaos kaki !! nyebelin !" Kara mengambil alih lengan Milo untuk membantunya berjalan.
"Jorokin aja Ra, tuh di depan ada solokan pembuangan warga !" pekik Erwan.
"Ko gue jadi kepo sih, yakin tuh mereka dibiarin ngobrol berdua??" tanya Jihad.
" Lebih bahaya lagi kalo ada loe Ji !" jawab Ica.
"Bisa ae si curut !" sarkas Ica.
"Bisa pada diem ga sih !! berisik, ntar ketauan pembina OSIS, gue mau cabut duluan !" jawab Ayu.
"Nah lohhh, gimana tuh ??!" tanya Kean yang ikut keluar ruangan.
"Gimana yu ?" panik Ica.
" Mana gue tau !! lagian kita ngapain juga ikut kesini !!" jawab Ayu dan Ica saling menyalahkan.
Raka terkekeh, "ada pengecualian buat kalian asal ga bikin keributan !"
"Wahh, keenakan ka Raka, mending hukum aja dulu sebelum mereka pulang !" si kompor ketkel kelas X 4.
"Mulut loe Ji, temen ga ada akhlak !!" ucap Ica dan Ayu, hampir saja mereka melayangkan kepalan tangannya pada Jihad.
"Biar loe bertiga aga lamaan disini nya biar gue ada temen !" jawab Jihad.
"Ohhh sweett pertemanan kalian !!" Juwita berbaur.
"Ogah ! paling juga jadi temen gosip ! loe tuh disini buat di didik Ji, kepemimpinan loe ! betul kan ka Raka ka Kean ? termasuk didik mulut loe yang lemesnya ngalahin akun admin lambe turah, Ji " ucap Ica. Ayu sudah memutar bola matanya jengah, kalau Ica dan Jihad sudah berargumen maka Mario Teguk pun kalah saing, tak ada kesempatan untuk berbicara.
"Njirr, Raka sama Kean doang nih yang disebut ! " sewot Arial.
"Kalo nyebutin semuanya nanti yang lain sirik, masa iya mesti nyebutin satu satu pengurus OSIS !" Erwan membenarkan satu fakta bahwa mendebat perempuan memang tak akan pernah menang, kecuali Jihad yang mulutnya ketempelan se*tan nyinyir.
"Omongan mereka berdua ga usah di denger, malah bikin pengen jedotin kepala ! ka Juwi kita tunggu Kara di cafe depan gimana?" tanya Ayu.
"Wah, ide bagus..tadi siang desertnya belum sempet masuk perut !" jawab Juwita.
"Lah gue gimana?" tanya Ica.
"Loe ga usah ikut mereka Ca, gue mau kenalin loe sama cowok gans !" Jihad menaik turunkan alisnya.
"Siapa?" Ica sudah bersemangat mendekati Jihad dengan penuh senyuman manis.
"Penjaga tempat sini, bah Acuy Cihuy !!" kekeh Jihad.
"Sat !! kamvreet loe !! yang barusan di depan pake kuvluk sama sarung yang disampirkan ?" tanya Ica menepuk jidat Jihad.
"Iya !!" tawa Jihad.
__ADS_1
" Gue sumpahin jodoh loe nene gayung !!" sarkas Ica sambil menginjak kaki Jihad yang sontak meringis, lalu pergi duluan menuju cafe, hampir kesemuanya tertawa melihat pertengkaran Jihad dan Ica.
Jihad justru terlihat dingin dan jutek jika di luar, beda halnya saat bersama ketiga teman perempuannya, sifat asli Jihad lah yang keluar.
"Gue heran Ji, gue kira loe jutek, cuek layaknya anak anak cowok pada umumnya, tapi dengan mereka loe bisa se cerewet ini !" ujar Kean, Jihad hanya tersenyum, "bagi gue mereka teman terbaik Ka, selalu menerima kekurangan gue dan selalu ada di samping gue ! mereka bukan tipe manusia manusia munafik yang manis di depan tapi nusuk di belakang !" ucap Jihad, lalu sedetik kemudian.
"Ca, Yu... gue ikut makan oyyy !!" pekiknya.
"Ngapain, huss sana ga usah ngekor, loe peserta camping, sana !!!" usir Ica.
Raka sedikit tau info tentang Jihad, rupanya Jihad adalah anak manager hotel, dimana hotel itu adalah hotel milik keluarga Milo, ayahnya pun merupakan kepercayaan papah Milo. Tapi Jihad tak pernah bercerita apapun tentang siapa dia pada teman temannya. Ia malah terkesan menutupi semuanya.
.
.
"Duduk disini aja ya, " tanya Kara, melihat tempat ini sudah sedikit jauh dari ruang kesehatan tadi dan cukup tenang untuk mereka berbicara.
"Iya, "
"Mau ngomong apa?" tanya Kara, matanya sudah sedikit membaik meskipun teelihat masih memerah dan sembab.
"Hubungan kita sudah hampir 3 bulan berlalu, sudah setengahnya dari perjanjian," ucap Milo. Kara hanya menatap nyalang sesekali menunduk.
"Hey baby, liat aku !" Jempol dan telunjuknya menaikkan dagu Kara agar menatapnya.
"Jelek !" ucap Milo. Kara sontak manyun memukul dada Milo.
"Kamu lebih jelek !" jawab Kara.
"Kamu belum memberi jawaban atas pertanyaanku waktu itu," Tatapan Milo menembus relung hati Kara yang paling sensitif. Ia menelan salivanya, harus kah ia bilang jika ia memang sudah mulai menyayangi Milo. Tapi sedetik kemudian ia ingat dengan perkataan tante Marsya tadi siang, sedikitnya perkataan itu mengusik ketenangan jiwanya, rasa tidak percaya diri mulai menyergap Kara. Jika ditarik realistisnya, apalah ia yang hanya seorang anak buruh pabrik kasar dan guru sd, bila disandingkan dengan Milo yang jelas jelas masa depan dan tingkat kastanya saja bagai bumi dan neptunus. Jaraknya begitu jauh dan masih terhalang beberapa tingkat, Bagaimana jika nanti om Braja terkena hasutan istri mudanya, dan Milo dijodohkan dengan seseorang dari level yang sama, ia tidak mau jika nanti ujung ujungnya memiliki niatan untuk gantung diri atau menenggak racun karena ditinggal kawin. Karena tidak dipungkiri para pengusaha menggunakan anaknya sendiri sebagai barang tukar untuk melebarkan sayap bisnisnya. Seperti di film film. Bukankah kebanyakan film memang diadaptasi dari kehidupan nyata?
Milo melihat kegusaran di mata Kara, "kenapa? apa karena tante Marsya tadi siang melebrakmu?" tanya nya.
Deg....
Darimana Milo tau, Kara memejamkan matanya, pasti tadi Juwita melihatnya dan mengadukannya pada Milo, atau justru tante Marsya sendiri yang mengadukannya pada Milo.
"Darimana kamu tau?? ka Juwi? apa tante Marsya?" tanya Kara balik.
"Tak penting aku tau darimana, jawab dulu pertanyaanku. Apa yang tante Marsya katakan?" tanya Milo.
Kara hanya diam, ia tak mau di cap sebagai gadis pengadu.
"Oke kalo kamu ga mau bilang, tapi aku cuma mau bilang, apapun itu tetaplah menjadi Caramel yang kukenal, tetaplah menjadi gadisku yang selalu menjunjung tinggi harga diri, menyama ratakan setiap manusia, bukankah dimata Allah kita semua sama?" seakan tau apa yang terjadi Milo mengatakan apa yang dikatakan oleh Kara.
"Kamu sendirilah yang menyadarkanku jika semua manusia itu sama !" tambah Milo.
Diamnya Kara membuat Milo gusar, baru kali ini ia merasakan yang namanya digantung perasaan. Rupanya inilah yang dirasakan banyak gadis saat tak ada kepastian darinya. Karma itu memang ada,
"Katakan dengan jujur, apa selama ini kamu merasa tertekan menjadi pacarku?" tanya Milo, entah kenapa perasaan selama beberapa hari ini, ingin ia keluarkan langsung pada gadis di hadapannya.
"Aku sayang kamu Caramel, aku tak ingin kamu pergi dari sampingku, tapi jika memang menjadi pacarku hanya akan membuatmu tertekan maka kubebaskan kamu dari perjanjian meskipun batas waktumu masih lama !" jawab Milo, sakit memang. Tapi melihat Kara merasa tidak bahagia jauh lebih sakit untuknya. Ia hanya berharap dengan Kara yang menyusulnya jauh jauh kesini, menangis saat ia terjatuh maka Kara akan menerimanya menjadi kekasih, bukan terikat sebuah perjanjian.
Kara kembali menangis, pengalaman pertama untuknya dan harus serumit ini. Memiliki pacar seorang yang kaya ternyata membuatnya serba salah. Jika ia bukan seorang Armilo Dana Aditama tidak akan sebingung dan sesulit ini. Mulutnya ingin berkata iya, aku sayang kamu juga dan ingin menjadi kekasihmu ! tapi sepertinya bibirnya ini kelu terkunci mengingat bukan mustahil ancaman tante Marsya akan menjadi kenyataan, pikirannya tertuju pada ayah dan ibunya. Kara tidak tau the power of Milo, apa yang bisa dilakukan Milo untuk melindunginya nanti. Tapi yang jelas, Kara tidak mau sampai nantinya kedua orangtuanya terusik.
"Aku,...sayang kamu Milo !" senyum cerah terbit dari wajah Milo, tapi tak lama.
.
.
.
.
"Tapi sepertinya, hubungan kita tak bisa diteruskan," cicit Kara.
Bommm !!! bukan hanya Milo tapi Kara sekalipun merasakan sakit dan kecewa.
Milo melepas genggaman tangannya,
"Kenapa Ra?? kenapa harus bilang sayang kalau hubungan kita harus berakhir ?" tanya Milo.
"Aku akan coba fikirkan kembali semua resikonya, memiliki hubungan dengan seorang Aditama terlalu banyak resikonya untukku dan keluargaku, belum apa apa ancaman sudah bersarang di belakang namaku, untuk saat ini biarkan aku sendiri dulu tanpamu !" jawab Kara.Kara sempat mendengar cerita dari Juwita jika dulu tante Marsya sempat berniat mencelakai ibunya Milo saat masih hidup, karena ia hanyalah seorang selingkuhan ayah Milo. Bukan hal asing lagi untuknya jika harus melakukannya lagi dengan alasan tidak menyukai Kara. Ibu Milo saja yang bisa membayar pengawal berapapun mahalnya, bisa ia celakai apalah kedua orangtuanya yang hanya untuk makan saja, harus mati matian berjuang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Guys 2k kata lebih nih, mimin sengaja menjadikan dua bab hari ini ke dalam satu bab saja biar kalian keselnya ga di cicil, yang mau timpuk mimin karena mereka malah dipisahin yooo siapkan gelas, piring dsb. mimin terima ko...untuk part selanjutnya mungkin Milo tidak ambil alih dulu ya dia kaburr tuh, karena ngambek sama mimin, mau aduin mimin ke Rama !!😂😂😂