
"Mas, kamu jangan diem aja dong ! ini udah keterlaluan ! " ucapnya, tak terima dengan sikap Milo, yang terkesan menginvasi seluruh kehidupan mewahnya. Semenjak Milo ikut andil, mengurusi bisnis pria yang menjadi ladang uangnya ini, kehidupannya sudah seperti gembel.
"Nanti mas bilang Milo, " jawabnya mengganti pakaiannya, kabar burung yang dibawa seseorang mengurangi kepercayaannya pada perempuan yang lebih muda 8 tahun dengannya. Braja bukan pria bodoh, semenjak ketidaksukaan Milo pada Marsya, ia tau pasti ada sesuatu yang membuat Milo bisa sebenci itu pada ibu tirinya ini. Ia lantas menyuruh orangnya untuk mencari tau.
"Jangan nanti dong mas, tau ga ! aku tadi malu banget ! masa iya ga bisa bayar barang di mall !!" tensi bicaranya meninggi.
Braja sudah mengeratkan kepalan tangannya. Jika ia tidak segera menangani emosinya, maka bukan tidak mungkin, ia akan melayangkan tangannya ini di pipi Marsya.
" Saya tau, belanjaan kamu untuk lelaki itu kan? selingkuhan mu?" tanya Braja balik. Ia menyesal, telah menduakan cinta tulus mendiang istrinya dulu. Ia menyesal dengan sikap penge*cut nya. Dengan teganya, ia menyiksa batin istrinya hingga kematian menghampiri rasa sesal terus menggelayuti. Godaan dunia memang sulit ia hindari, ditengah kejayaan dan tahta nya datanglah wanita Menghancurkan biduk rumah tangga dan juga kepribadian Milo.
Marsya gelagapan, "lelaki mana mas? selingkuhan siapa?" tanya nya segera memainkan dramanya.
"Ga usah berlaga naif, saya tidak bodoh !" Dengan penuh amarah yang menggebu, ia menekan dadanya yang sudah sakit dan pergi dari kamarnya.
"Si@*lan !!! mas Braja sudah mulai curiga sama Helmi, " gumamnya.
Brukkk !!! terdengar suara jatuh.
.
.
.
Milo yang baru saja mengantarkan Kara pulang di telfon bi Asih, jika papahnya masuk rumah sakit.
"By, aku pulang dulu !!" Milo meraih jaketnya terburu buru.
"Ada apa yank?!" tanya Kara.
"Papah masuk RS, " jawabnya, segera mencari ibu Kara untuk pamit.
"Hah??! aku temenin ?" pinta Kara.
"Udah sore, kamu di rumah aja ya," ucap Milo. Kara mengangguk mengerti.
"Hati hati, " jawab Kara.
Milo segera berangkat ke RS.
"Bi, kenapa jantung papah kumat lagi?" tanya Milo setibanya di RS.
"Anu den, tadi bibi cuman denger bapak nutup pintu kamar kenceng, terus jatoh sambil meringis megang dada," jelas bi Asih ragu ragu.
"Berantem lagi?" tanya Milo.
"Tak tau den, "
Milo mengusap wajahnya kasar. "Bi, Milo boleh minta tolong kan ? untuk malam ini, tolong jaga papah, nanti Milo suruh om Adi buat nemenin bibi." Bi Asih mengangguk.
Wajah dengan banyak kerutan, terlelap dalam kesakitannya. Papahnya sudah tidak muda lagi, tapi pun belum terlalu tua. Ponsel papahnya berbunyi, Milo meraihnya dari meja samping ranjang pasien.
"Laporan om Riza," gumamnya. Milo sekilas menatap wajah lelah ayahnya lalu kembali pada ponsel ayahnya.
Meskipun terkesan lancang, ia membukanya. Rupanya ayah Jihad itu memberikan laporan tentang Helmi.
"Ternyata bukan gue doang yang ngawasin nih laki, pantesan papah ga larang gue buat batasin dan blokir kartu kredit tante Marsya."
"Guys...it's clubing time !" ucapnya di ujung telfon.
Milo meraih punggung tangan papahnya dan salim, "pah, Milo pulang dulu sebentar, biar nanti om Adi jagain papah !" ucap Milo menyuruh asistennya itu untuk menjaga papahnya.
"Hallo, om Adi..bisa jaga papah sebentar..di RS, dan jangan biarkan tante Marsya menemui papah !" ucapnya.
Tepat pukul 8 malam, Milo dan yang lain sudah berada di salah satu night club.
Suasana ini sudah bukan hal asing untuk mereka, mereka sudah terbiasa dengan ini. Hampir tiap malam mereka mendatangi tempat yang kata Kara adalah kost an syaitan ini.
Kerlap kerlip di tengah temaramnya malam tak membuat pandangan mereka kabur,
"Jhon !" Arial tos pada bartender.
"Hay guys, lama ga kesini?" tanya laki laki beraroma anggur manis.
"Kaya biasa?" tanya nya lagi. Jika Arial, Kean dan Erwan mengangguk. Kini Milo yang biasanya menghabiskan paling banyak justru menggeleng.
"Gue soda aja !" jawabnya, Jhon sampai tercengang.
"Ga salah??!" tanya Jhon, teman temannya tertawa kecil.
"Udah tobat dia !" Mata Raka mengedar.
"Meja 6 !" bisiknya pada Milo. Mata Milo menajam, melihat seorang laki laki yang tengah mabuk ditemani seorang perempuan.
"Jhon, bisa gue pinjem ruangan ?" tanya Milo.
"Ahh, jangan gilakkk Mil, disini bolong semua !"
__ADS_1
"Hahahaha, bukan buat gue !" jawab Milo.
"Terus ?!" tanya nya.
"Udah buruan, nomer berapa?" tanya Milo.
"2 !" jawabnya.
"Gue transfer setelah urusan gue selesai !" jawabnya lagi sambil pergi.
Milo duduk di samping Helmi, pria dan wanita itu terkejut dengan kedatangan Milo, Milo meraih gelas sloki milik Helmi, ia menciumi baunya.
"Rusell's Reserve Single Barrel Bourbon, rasa krim toffe dan vanilla, untuk ukuran seorang selingkuhan, loe cukup berkelas dan tak tau diri !" ucap Milo.
Dengan tak ada ampun, remaja 18 tahun ini menyeret Helmi dari duduknya.
"Sini loe !" sontak saja semua terkejut.
Raka dan Kean menenangkan lainnya. Arial dan Erwan membawa Helmi bersama Milo.
"Bruukkk !!!" tubuh Helmi terjatuh di bawah lantai kamar, ranjang besar di geser Arial dan Erwan.
Milo meneguk minuman soda kalengnya, dalam sekali teguk. Ia membuang bekas kalengnya sembarang. Ia mendekat dan menghampiri pria yang setengah sadar itu.
Remaja ini memberikan bogeman mentahnya di rahang Helmi, menginjak kaki Helmi hingga si empunya meringis.
"Hanya untuk malam ini setidaknya beberapa juta loe kuras dari kantong wanita ular itu, dan loe tau...uang itu adalah hasil kerja keras seseorang yang sedang terkapar di RS !" bukannya takut tapi lelaki bertatto ini malah tertawa.
"B@j!nk@n !" umpat Milo kembali melayangkan bogemannya di perut Helmi.
"Bokap loe aja yang bod*o !!! mau maunya punya bini yang go*bl*ok !!" jawabnya hampir saja memuntahkan minuman seharga bantuan pemerintah untuk satu kepala keluarga di masa pandemi.
"Gue udah ga mau basa basi lagi, bawa dia balik Kean...dan sekap dia di rumahnya sendiri !" jawab Milo.
Arial, dan Erwan membawa Helmi. Dengan pengawasan orang orang Kean, Helmi di sekap di rumahnya sendiri.
.
.
"Milo, papah di RS mana?? biarin mamah urus papah !" pintanya. Milo menepis tangan Marsya.
"Ga usah so peduli ! karena semua ini gara gara loe ! urus aja urusan loe sendiri, dah ahhh ! satu lagi, bilang pak Ridwan, mendingan segera bawa cabut anaknya dari sekolah ! percuma dia cuma jadi sampah !" jawab Milo.
"Oh iya, pak Ridwan bilang..ia menerima surat panggilan dari sekolah atas Vio. Vio tidak mungkin seperti itu Mil, " ucapnya memohon.
"Aarggghhh ! rencana gue berantakan ! Vio gimana sih, b*odo banget tuh anak ! gimana mau ambil hati Milo coba !" gerutunya jengkel.
.
.
Kara keluar dari rumahnya, ia berniat menyetop angkot. Ia mengerti jika Milo pasti tengah sibuk, dan tak mungkin menjemputnya.
"Tiit !! tiit ! "
"Angkutan cinta, neng !!" serunya membuka jendela, Kara tersenyum terkekeh.
"Ngapain kamu berdiri disini, nungguin aku? biasanya juga di rumah?" tanya Milo. Kara masuk ke dalam mobil.
"Nunggu angkot, aku kira kamu pasti sibuk sama papahmu. Aku ga mau nambah repot ! gimana keadaan om?" jawab Kara.
"Kalaupun aku ga jemput, pasti ada yang lain yang kusuruh jemput kamu !" jawab Milo.
"Iya maaf," jawab Milo.
"Permintaan maaf ditolak ! kamu harus suapin aku, karena aku belum sarapan !" jawab Milo seraya melajukan mobilnya.
"Kamu belum sarapan?! kenapa ga bilang ?!" Kara mengeluarkan bekal makanannya seperti biasa.
"Nanti sakit juga ! kan bisa sarapan dulu, apa di rumah sakit ga ada kantin?" omel Kara.
"Ada, tapi aku maunya sama kamuuu!" Kara memutar matanya jengah. Gadis ini dengan telaten menyuapi Milo yang tengah berkendara.
"Biarin aku sakit, biar di khawatirin kamu, biar diurusin kamu !" jawab pemuda ini.
"Cih, padahal aku mau bilang, jangan mau aku urusin ! aku galak !" jawab Kara. Gadis ini memang beda, jika gadis lainnya akan lebih merayu untuk merawat, tapi tidak dengannya.
"Loh kenapa? ga apa apa,justru yang galak biar cepet sembuh !" jawab Milo.
"Aku galak ! kalo kamu ga nurut ku lelepin ke bak !" kekeh Kara.
"Kalo ga mau minum obat, ku iket tangannya, terus kupaksa buka mulutnya pake sendok !!" bukannya takut tapi Milo malah tertawa.
"Aku tetep ngeyel, biar lebih lama lagi sakitnya !" jawab Milo.
"Ya udah, gampang ku suntik aja pake suntikan mati !" jawab Kara,
__ADS_1
"Mati dong ?!"
"Biar ga nyusahin banyak orang sehat !"
"Sadis !!" Milo menggelengkan kepalanya.
Mobil Milo sampai di sekolah, tapi sekolah sudah ramai dengan siswa yang heboh.
"Ini ada apa sih?" tanya Kara, Milo menggelengkan kepalanya.
"Eh, ada apa?" tahan Milo pada salah satu temannya yang melintas. Ia terlihat takut berkata, tapi untunglah nyawanya terselamatkan oleh kedatangan Ica dan Ayu.
"KARA !!!!!"
Kara dan Milo terkejut sampai Milo meraih dan menjauhkannya dari Ica yang berlari heboh.
"Apa sih Ca ?!" tanya Kara.
"Loe mesti liat, gue ga tau lambe turah level rengginang apek dari mana yang bikin gosip !" jawabnya.
"Apa??!"
"Gosip apa Ca?" tanya Milo.
Seketika Jihad tertawa dari arah belakang Ica.
"Sejak kapan sugar baby gue kawin ma om om dan punya anak tk kelas 0 kecil?!" tanya nya tertawa.
"Apaan sih Ji?!" tanya Kara masih tulalit.
"Gue tau ini kerjaan siapa Mil !" Kara berjalan bersama Ica dan Ayu penasaran. Meninggalkan Jihad dan Milo.
Kara terjengkat kaget, kenapa bisa fotonya bersama ayah Cia dan Cia terpampang di mading sekolah, momentnya pun pas, saat ia tengah salam hormat pada ayahnya Cia.
Kara seketika tertawa keras.
"Gue??! married?? punya anak??" tanya nya.
"Loe gila ya Ra?!" tanya Ica, Ayu menggeleng.
"Loe masih waras kan Ra?? ko gue jadi takut sih Yu, " tanya Ica.
Milo mencabut satu foto tentang gosip yang mengatasnamakan akun receh. Dari kejauhan Raka dan Kean memanggil tim mading untuk menarik dan membersihkan mading sekolah dari berita tak penting ini.
Datang pula Vio, dengan tawa sinisnya.
Ia bertepuk tangan di tengah tengah lapangan.
"Hebat !!!! daebaek !!! Milo, cewek so so lugu yang selalu loe puja puja ini, ternyata dah married, ga nyangka gue ! " tawanya dibuat buat. Tapi tak lama Kara tertawa.
"Ngakak loe !" jawab Kara. "Belajar dari informan mana? Densus 88?" tanya Kara.
"Vio, loe ga usah permaluin diri loe sendiri ! apa loe belum jera sama kejadian kemarin?" tanya Jihad, tanpa di duga Milo sudah menyiramkan air diatas kepala Vio, hingga semuanya terkejut.
"Cuci otak loe ! " Milo pun meraih foto foto yang ia tempel dan melemparnya tepat ke arah wajah Vio.
"Tapi dia udah married Mil, kapan sih loe buka mata loe ! bahkan dia dah punya anak !" ucap Vio,
"Heh cupu !! ngaku ga loe, gue ga nyangka aja loe sampe jual diri loe, dan kawin sama om om cuma karena pengen rumah mewah ! buka deh jati diri loe !" ucap Vio pada Kara, yang dari tadi hanya diam saja, ia mengeratkan tangannya. Ia terganggu, harga dirinya merasa diinjak.
"Ehh jaga ya tu mulut, mau gue ulek sama cabe?!" Ica maju namun ditahan Jihad.
"Loe ga usah nuduh nuduh orang dengan foto ga mutu loe !" Milo mendekati Vio wajahnya tepat di depan wajah Vio yang hampir memecahkan tangisannya.
"Loe punya kuping kan, jadi denger gue baik baik. GUE ADA DISANA !!!!" bentak Milo hingga membuat Vio memejamkan matanya. Kara menarik tangan Milo.
"Gue emang miskin Vio, bahkan buat masuk sekolah sini aja, gue sama ortu gue sampe sujud syukur !! jawab Kara.
"Kalo gue seperti yang loe tuduhkan, ngapain gue harus cape cape sekolah, mendingan gue rebahan, dangdutan, nungguin laki gue di rumah sambil luluran ! gue ga perlu repot repot ngajar les anak anak kecil, apapun yang gue mau, tinggal tunjuk ! termasuk apapun yang gue sentuh, gue beli hari itu juga !" jawab Kara. Gadis ini selalu memiliki sejuta kata kata untuk mendebat orang lain.
"Gilaak aja ya, segitu terobsesinya loe cari sisi buruk gue ? mau loe ikutin gue sampe mana?? sampe toilet, pas gue bok3r? sampe ke liang lahat?" tanya Kara.
Ica mendekat, "Ra, loe ngapain bawa bawa dangdutan, bok3r sama kuburan?" bisiknya.
Kara menatap lelah pada sahabatnya yang polosnya kebangetan, ngalahin kertas HVS.
"Ibarat, Humaira Khairunnisa !!! ahhh !! elah gagal keren kalo sama loe !" dumel Kara. Sedangkan Ayu dan yang lain tertawa melihat tingkah konyol keduanya. Bukannya suasana tegang tapi malah jadi kocak.
"Rasanya ga perlu gue jelasin siapa mereka sama loe ! males debat gue ! nanti hafalan semalem pada rontok dari otak gue ! gue mau ujian, awas minggir !!" jawab Kara berbalik badan.
.
.
.
.
__ADS_1