Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Hari yang cerah untuk cuaca yang hujan


__ADS_3

Senyum cerah tersungging di bibir Kara. Sejak kejadian kemarin, hari hari Kara kembali cerah meskipun pagi ini hujan sudah membasahi bumi.


"Dihh, anak ibu senyum senyum terus dari kemarin !!" goda ibu. Kara langsung berlari menghambur memeluk ibunya.


"Ihh, ibu !!!! malu lah !!" Kara menyembunyikan wajahnya di dekapan ibu.


"Ciee !! ada yang lagi mekar ternyata !!" godanya kembali.


"Bu, ayah tau..masalah kemarin??" tanya Kara.


"Tau, harus dong..kalo ga tau nanti ada apa apa di tengah jalan gimana coba??" tanya ibu membuat gadis manis ini kebingungan.


"Ada apa apa, gimana?? di tengah jalan mana?" tanya nya polos, wajar saja, ia bagai bunga yang baru saja mekar dan mewangi, yang belum tau betapa jahatnya dunia.


"Ibu cuma titip pacaran yang sehat ya nak, ibu juga titip nama baik ayah dan ibu !" ucap Ibunya mengusap rambut hitam legam dan halus milik anak gadisnya.


"Iya bu, insyaallah !" jawab Kara.


"Tunggu dulu maksudnya ada apa apa ditengah jalan gimana??" tanya Kara masih penasaran, jangan sampai ia membatalkan kepergiannya ke sekolah hanya gara gara ia penasaran.


Ibu tersenyum usil, anaknya ini memang pintar tapi polos sekali hingga mudah untuk digoda.


"Siapa tau nanti di tengah tengah masa pacaran, Milo datang bawa ayahnya temui ayah sama ibu buat lamar !!" ibu melengos pergi.


Kara merona seraya membulatkan matanya, "ihh ibu ngaco deh, lagian Kara masih mau sekolah, kuliah terus kerja, Kara mau bahagiain dulu ibu sama ayah !!" jawabnya. Hanya sesimple itu hidupnya, tidak banyak keinginannya.


"Yo wes, tuh pacarmu sudah menunggu di luar dari tadi, kasian nanti keburu tua di luar !!" jawab ibu.


Kara berjalan seraya memakai jaket levis berwarna pudarnya menuju depan, tapi ia dikejutkan dengan sebuah coklat di depan wajahnya secara tiba tiba. Kara mengerjap, untung saja tidak pas kena wajahnya.


"Coklatnya meleleh nih, kalah manis deh sama cewek yang ada di depannya," ucapnya muncul di depan Kara.


Kara mengulum bibirnya, "ga usah gombal pagi pagi, perutku dah kenyang !" jawab Kara duduk di bangku depan, memakai sepatunya. Milo menarik tangan Kara dan menaruh coklatnya di tangan Kara, lalu ia berjongkok di depan Kara dan memasangkan simpul tali sepatu milik Kara. Bila boleh jujur Kara sudah merasa melayang, pagi pagi sudah disuguhi oleh sikap Milo, yang memperlakukannya seperti tuan puteri.


"Jangan lupa coklatnya dimakan, biar kamu ada energi, takutnya nanti pingsan karena liat orang tampan kaya aku !" pedenya.


"Kenapa ga kamu aja yang makan, " Kara memajukan wajah bulat dan chubbynya mendekat ke arah Milo, gadis ini tak menyadari sikapnya ini membuat jantung Milo berdegup kencang, bukan balapan liar ataupun pertandingan Muay thai yang membuatnya gugup, cukup sedekat ini dengan Kara, jantung Milo sudah mengajak bermain lompat tali.


"Biar ada energi, liat cewek semanis aku !" Kara mengedip beberapa kali. Percayalah saat ini Milo ingin sekali mengajak Kara ke depan pintu KUA di kotanya dan mengetuk pintu rumah penghulu.


"Aku udah terbiasa, kamu ga tau sejak kenal kamu aku di diagnosa punya penyakit diabetes?? soalnya kebanyakan mandangin kamu !" Milo mencolek hidung perosotan nan mungil Kara.


"Kamu juga ga tau kalo semenjak kenal kamu aku juga di diagnosa punya penyakit diabetes??" tanya Kara membalikkan, jika Milo raja gombal, maka Kara adalah peniru yang ulung.


"Kenapa?? karena wajahku manis??" tanya Milo sudah tersenyum lebar, menaik turunkan alis tebalnya.


"Bukan, " Kara menggeleng.


"Terus??"


"Karena banyak makan kata kata manis kamu !" Kara bangkit merapikan jaketnya, sementara Milo tertawa kecil.


"Bu, Kara pergi ya !! jangan kangen !!" pekik Kara.


"Iya !!" jawab ibu.


"Bu, do'ain Milo biar cepet lulus ya, biar bisa dateng gandeng papah kesini buat lamar anak ibu !!" pekik Milo ikut ikutan. Ibu Kara tertawa.


"Pukk !!" Kara menepuk pundak Milo. Jelas saja teriakannya di dengar oleh para tetangga, maklum Kara tinggal di lingkungan padat penduduk yang kupingnya tidak budeg.


"Ga gitu juga Juki !!" sarkas Kara.


"Terus gimana?" tanya Milo terkekeh.


"Kalo lulus kan ga bisa dipercepat, udah ada waktunya !" jawab Kara.


"Ya siapa tau, Kepsek udah bosen liat muka ku yang gantengnya ngalahin dewa dewi Yunani, jadi bisa lulus cepet !" argumen Milo. Yang ada bukan bosan dengan wajah tampan nan rupawan, tapi dengan kelakuan bandelnya.

__ADS_1


Kemarin ia tidak salah lihat kan, menerima laki laki ini sebagai pacarnya.


"Lagian ngebet banget nikah, aku mau kuliah dulu, kerja juga !" jawab Kara sewot, jangan ditanya jika soal berdebat gadis ini tak mau kalah.


" Oke di catat, aku ga larang kamu setelah nikah mau kuliah dan kerja !" Milo melengos dan memakai helm fullfacenya. Kara menganga bukan itu maksudnya. Gadis ini mengerucutkan bibirnya.


Milo memandang langit yang masih menurunkan hujan gerimis, salahnya tadi kekeh membawa motor. Ia lantas membuka jaket miliknya dan memakaikan jaketnya di badan mungil Kara.


"Eh, apa nih?? aku kan dah pake jaket !" ucap Kara


"Nanti jaket kamu basah, terus kamu kedinginan !" jawab Milo.


"Tapi kamu nanti kebasahan, nanti sakit !" ucap Kara.


"Bagus ! biar ditengokin kamu ! lagian aku ga apa apa, justru aku ga rela air hujan sentuh sentuh kamu !" jawabnya.


"Tapi !!" Milo menahan bibir Kara agar tak mendebatnya.


"Ya udah, berangkat nanti telat," ucap Kara.


"Bukan gitu kata ajaibnya kan??!" senyum usil Milo.


"Ihh, kata itu ? engga ahh !!" Kara manyun.


"Ya udah ga akan pergi, nih motor ga akan jalan !" jawab Milo, ini dia sikap menyebalkan Milo, selalu semaunya.


"Iya, iya..ayo jalan mas sayang !!" cicit Kara menggemaskan.


Keduanya sampai di sekolah, Baju seragam Milo basah bagian depannya, "Tuh kan basah !!" ucap Kara menyesal.


"Ga apa apa !" Milo membuka helmnya.


"Bisa dibuka dulu terus diangin angin !" jawabnya.


Kara menggeleng, sekarang ia lah yang akan memaksa Milo, Kara melepas kedua jaket yang dipakainya, karena jaket Milo basah, lantas ia memakaikan jaket levis miliknya pada Milo.


"Daripada kedinginan ??!" seru Kara.


"Nanti dikira pake jaket adek lagi !" jawab Milo.


"Ga usah so terdzolimi gitu !! pake !!" Kara berubah galak layaknya ibu tiri.


"Iya by, galaknya pacar orang, " jawab Milo, mungkin sesampainya di kelas ia akan membuka jaketnya. Dari kejauhan keduanya melihat Ica dan Jihad masuk gerbang, sama sama naik mobil hanya saja bedanya jika Jihad turun dari mobil ayahnya sedangkan Ica dan Ayu turun dari mobil angkutan kota. Ini dia makhluk makhluk terusuh di muka bumi.


"Tumben ga pake motor, Ji!" tanya Ica.


"Motor gue turun mesin !" jawab Jihad.


"Sama kaya yang punya !" ngakak Ica, disumpali lolipop dari mulut Jihad, Ica tersedak.


"Cuhh, jiji banget ! jorok loe !!" Ica memuntahkan permennya dan mengelap lap mulutnya. Ayu sudah tergelak sedari tadi.


"Kara my lovely !!!" pekik Jihad dan yang lain. Ketiganya berlari namun naas bagi Jihad jalanan licin tak seakan karma untuknya. Ia terpeleset dan refleks menarik tas Ica. Akhirnya keduanya jatuh.


"Astaga !!" Kara menutup mulut tapi selanjutnya ia tertawa terbahak bahak.


"Nah kan karma loe berdua pada ribut pagi pagi !!" jawab Ayu. Kara langsung berlari menuju ketiganya, tapi di hadang Milo.


"Hujan by, biar aku aja yang bantu !" Kara diam dan menurut.


"Kalian ga apa apa?" tanya Milo mengulurkan tangannya pada Jihad.


"Thanks Mil, " jawab Jihad.


"Makasih ka Milo !" jawab Ica.


"Kamvreett ! loe yang sial, ajak ajak gue !!" omel Ica.

__ADS_1


"Teman tuh saling berbagi Ca, " jawab Jihad.


"Tapi ga sialnya juga loe bagiin !" omelnya.


Milo mengantarkan Kara masuk ke dalam kelasnya, bersama dengan ketiga temannya mengekor.


"Belajar yang bener, orang tampan ke kelas ya by, " pamit Milo.


"Iya, jaketnya jangan dilepas !" walaupun malu malu malu kucing Kara mendekatkan wajahnya ke samping kepala Milo sambil berjinjit dan sedikit menekan bahu Milo untuk sedikit turun.


"Love you !" Milo terdiam membatu, sedangkan pelakunya sudah berlari cepat masuk dan duduk di bangkunya.


Milo segera mengerjap dan tersadar, ia tersenyum lalu pamit sambil mengedipkan matanya pada Kara dan mengatakan love you too tanpa bersuara.


"Ahhhh, ka Milo sweet banget sih Ra, lucu banget sih, dia pake jaket loe Ra??" tanya Ica. Kara mengangguk, dan menunjukkan jaket basah milik Milo untuk ia sampirkan di kepala bangkunya.


"Ini jaket dia ! basah tadi keujanan buat gue pake !" jawab Kara.


"Fix gentle banget !" jawab Ica terkagum kagum dengan pacar sahabatnya itu.


"Baru kali ini dia kaya gitu sama cewek !" gumam Jihad.


"Emang loe tau Ji?? so tau !!" jawab Ayu. Jelas Jihad tau siapa Milo.


"Oh iya Ji, barusan loe naik mobil siapa??" tanya Kara kepo. Jihad hanya berdehem tak nayaman.


"Mobil orang di jalan gue berentiin !" jawab Jihad ngasal.


"Cihh kaya cabe cabean yang sering jadi joki 3in1 !" jawab Ica.


"Biarin, yang penting gue ga kebasahan !!" ucap Jihad.


"Kaya ka Milo tuh gentle, ga kaya loe Ji, cowok apaan yang malah dia jatoh ajak ajak !!" Ica masih mendumel, karenanya rok seragamnya basah. Kara dan Ayu kembali tertawa. Keduanya kembali bertengkar masalah itu, hanya tinggal menyiapkan ring tinju saja, tontonan pagi ini akan mantap.


Milo membuka jaket milik Kara, lalu membuka seragam putihnya menyisakkan t-shirt.


"Loe keujanan Mil ?" tanya Kean.


"Yoi !" jawabnya ia menyampirkan seragam putihnya,bukannya memakai lagi jaket Kara, ia malah mendekap dan menciumi jaket Kara, yang menguarkan aroma tubuh Kara, wangi bedak bayi dan kayu putih mendominasi meskipun pengharum pakaian juga ada disitu. Kara nya memang tak pernah memakai parfum mahal sepertinya. Tapi inilah yang menjadi candu untuk Milo. Aroma lembut yang hanya milik Kara.


"Dih bucin !!" decih Arial.


"Makanya, sono pacaran. Nanti juga loe ngerasain sama kaya Milo, kaya orang stress!" jawab Erwan. Si senior yang pernah merasakan indahnya jatuh cinta dan juga pahitnya patah hati, rasa pahitnya mengalahkan rasa pahit jamu.


"Guys, hari ini gue mau titip anak basket ! " ucap Milo.


"Emang loe mau kemana??" tanya Arial.


"Mau ke pabrik, " jawab Milo.


"Oke ada bang Raka sama om Kean !" jawab Arial.


"Gue juga ijin !" jawab Raka yang baru masuk, darimana lagi jika bukan dari ruang OSIS.


"Lah, ko jadi pada ijin. Abang sayang mau kemana??" tanya Arial lagi.


"Jih, najis !!" jawab Erwan.


"Raka ikut gue ke pabrik !" jawab Milo.


"Hah??!" kaget Arial.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2