
"Assalamualaikum !!" seru Kara, ibunya yang baru saja pulang mengajar menyambutnya, Milo yang mendampingi Kara, tetap mengantar gadisnya sampai ke rumah dengan selamat.
"Waalaikumsalam, " tak ada hadiah yang lebih indah dari binar di mata ibu, saat ia merasa bangga padanya.
"Bu, maaf Kara gagal melenggang ke taraf Internasional !" ucap Kara,
"Engga, ibu bangga !! ayah juga bangga !" jawab ibu menggeleng.
"Tapi alhamdulillah Kara dapet beasiswa buat kuliah di luar negeri nanti !!" seru Kara, setidaknya bebannya sedikit ringan untuk urusan kuliah. Senyum di bibir Milo mengecut, itu artinya ia akan berpisah dari Kara saat lulus nanti. Kara nya akan berkuliah di luar negara.
"Nak Milo??! ko di pintu ? masuk ! pamali, kata orang tua dulu, nanti susah jodohnya !" ujar ibu.
"Ahh, mitos bu ! jodoh saya sudah disini bu," jawabnya enteng. Kara manyun.
"Siapa ?? ibu kah??" tanya ibu Kara menggoda.
"Hahaha, jangan bu..nanti bisa di gorok sama ayah !" jawab Milo.
"Kalian pasti cape, duduk dulu.. ibu buatin minum !" ibu hendak beranjak.
"Eh, jangan bu ! biar Kara aja, ibu juga pasti capek abis pulang ngajar !" Kara segera meninggalkan ruang tamu.
"Baby, ga usah dipakein lagi serbuk pelet, nanti makin tergila gila!" goda Milo duduk di sofa.
"Engga !! paling kupakein bubuk racun !" jawab Kara memekik dari dapur.
.
.
Setelah kepulangan Milo, Kara langsung istirahat. Di tengah malam, Kara merasa haus.
"Haus gue !" gumamnya, ia menyingkabkan selimut. Niat hati ingin memgambil minum, langkahnya terhenti di balik pintu kamarnya.
"Sini ibu bantu pijitin !"
"Maaf ya bu, jadi membangunkanmu !"
"Tak apa yah, sudah kewajiban seorang istri ! diminum dulu deh yah, ibu juga sudah masakin air panas, kalo ayah mau mandi !"
"Terimakasih, limbah pabrik sedang banyak banyaknya minggu minggu ini, karena produksi yang terus bertambah ! "
"Semangat ayah !" jawab ibu, seorang istri yang tak banyak mengeluh dan cenderung memberikan sikap positif.
"Limbah??" gumam Kara, setau Kara ayahnya bukan di bagian itu. Yang ia tau bagian itu seharusnya karyawan dengan berbagai syarat, seperti usia muda, sehat. Jelas di 2 poin penting itu saja ayahnya tidak termasuk ke dalamnya. Tiba tiba ada rasa jengkel dan bersalah di hati Kara.
"Iya bu, bagaimana Kara?? maaf ayah tidak sempat memberinya ucapan selamat, besok saja. Kara keburu tidur juga ! "
"Alhamdulillah yah baik, insyaallah Kara pasti mengerti !"
"Mungkin beberapa bulan ke depan, ayah akan terus pulang tengah malam, tapi maaf jika gaji ayah akan tetap !" penyesalan begitu mendalam, hanya bisa menafkahi anak dan istri seadanya tergambar jelas, di wajah yang memang sudah tak muda lagi.
"Ayah ngomong apa sih ! alhamdulillah, ayah selalu bertanggung jawab menafkahi ! ibu sama Kara bangga memiliki imam seperti ayah !"
Ada air mata disana, rasa haus yang mendera, serasa hilang. Kara duduk melantai mendengar obrolan kedua orangtuanya.
"Insyaallah ujian untuk ayah, agar naik level !" kekeh ayah Kara, bahkan saat sedang begini saja ayahnya masih menganggap santai, dan masih bisa bercanda. Kara yakin semua ini ada sangkut pautnya dengan tante Marsya. Inilah resikonya, jika seorang remahan kue melawan penguasa.
"Ibu rahasiakan ini dari Kara ataupun nak Milo, jangan sampai mereka tau. Biarkan ini jadi urusan ayah sama bu Marsya saja !" ucapan ayah, bak belati menghujam jantung Kara. Benar dugaannya.
Ia kembali ke ranjang dan bergulung layaknya kepompong raksasa.
"Gue sudah duga bakal seperti ini ujungnya !" gumam Kara.
.
.
Pagi pagi sekali, seseorang sudah menelfon Milo, Milo memang sudah bangun. Meskipun anak badung, tapi ia tak pernah sampai bangun siang. Saat ini ia malah sedang berlari di tredmillnya, sebelum sekolah, ia selalu menyempatkan diri untuk berolahraga.
Ia meraih botol minum dan mengusap keringatnya.
"Pak Irvan?" gumamnya.
"Ya ?? hallo ??!" jawab Milo.
(..)
Milo menghela nafasnya, ia harus segera membereskan ini.
"Main main rupanya, oke kita ikuti permainanmu !" Milo menyambar handuknya dan pergi mandi.
*************
"Surprise !!!!" Ayah membawakan kue brownies kesukaan Kara, tanpa lilin. Karena ini bukan hari ulang tahunnya.
"Ayah??!" seru Kara.
"Selamat ! anak ayah juara 2 !! ayah bangga !!"
__ADS_1
Kara malah menatap ayahnya lekat, raut wajahnya malah cemberut dan menangis.
"Hiks..hiks...!!"
"Ya Allah, nak??! kenapa menangis?? maaf ayah telat mengucapkan!" ayah Kara menaruh kuenya di meja belajar Kara, gadis yang sudah memakai seragam putih abu itu memeluk ayahnya posesif. Disaat sulit seperti ini saja, seorang ayah mampu berpura pura tak terjadi apa apa, ia selalu menampilkan wajah baik baik saja dan bahagia, demi anaknya. Begitupun ibu..
Kara menggeleng, "maaf ! " satu kata itu lolos dari mulut manis Kara.
"Ko maaf ?!"
"Maaf, Kara mendengar semua obrolan ayah sama ibu semalam, maaf gara gara Kara,.ayah yang menderita," lirihnya. Ayah tersenyum,
"Bukan salah anak ayah, bukan salah siapa siapa ! ini hanya sebuah keegoisan, do'akan saja ayah selalu ada dalam lindungan Allah, dan selalu baik baik saja."
"Pasti ! apa perlu Kara bilang Milo ?! ini udah pelanggaran, yah !" jawab Kara mendongak.
"Tidak, tidak, jangan !" jawab ayah.
"Allah maha adil dan maha tau, biar semua berjalan sesuai skenarionya, jangan sampai kamu mengemis ngemis dan berlindung di balik jubah nak Milo. Itu hanya akan memperlihatkan jika kita memang memanfaatkan nak Milo."
Kara mengangguk, ayahnya benar ! Jika memang tante Marsya ingin bermain main, maka mereka hanya akan mengikuti arus semampunya. Bukan berarti tidak melawan, selama itu masih dalam batas normal, Kara akan diam. Perlu kehati hatian untuk menghadapi ular berbisa. Kara tau pasti, Milo tak akan tinggal diam.
Milo menelfon Arial, ia diminta menjemput Kara.
"Ko ka Rial?!" tanya Kara memasang helmnya, biasanya akan ada Milo yang memasangkan helm di kepala gadis ini.
"Loe ga mau?? harusnya loe bersyukur Ra, dijemput orang ganteng satu sekolahan !" jawab Rial, membuat Kara mencebik.
Hanya satu sekolah? Kara menyunggingkan senyumannya, sepertinya jika dalam hal kenarsisan Arial masih harus belajar pada Milo, tak tanggung tanggung, Milo mengumumkan jika dirinyalah orang ganteng sejagat raya.
"Milo kemana ka?? dia sibuk banget ya? " pasalnya lelaki itu hanya bilang, ia akan terlambat ke sekolah, dan mengurus sesuatu. Jadi Arial lah yang akan menjemputnya, Kara tidak lupa jika sekarang Milo sudah ikut terjun dalam bisnis papahnya.
"Iya, dia mungkin aga telat ke sekolah, harus ikut ngurusin dulu kerjaan om Braja," jawab Rial.
.
.
"Thanks ka Rial, gue duluan masuk kelas !" pamit Kara.
"Eh tunggu ! main pergi aja ! gue kaka loe kan??! salim dulu !!" pintanya menyodorkan tangannya.
"Ospek udahan kali, ka ! tuh tangan bau terasi ngga? atau loe lupa belum basuh abis cebok ??!" ini dia mulut mengesalkan Kara.
"Enak aja ! kalo bukan pacar Milo udah ku jadiin rujak cingur, tuh mulut ! ini tangan cowok ganteng, sebelum ke luar pasti luluran sama mandi kembang dulu !" jawab Arial, Kara terkekeh.
"Ya udah, sini ! pengen banget ada yang salim. Gue pamit ke kelas dulu uyut !" Kara langsung berlari.
Ini dia pemandangan yang ia rindukan, melihat Ica dan Jihad layaknya tom and Jerry. Kara merentangkan kedua tangannya, memisahkan Jihad dan Ica.
"Pagi guys !!!" Kara melompat mengalungkan tangan di leher keduanya.
"Kara !!! honey !! sweety !!!" seketika keduanya melupakan pertikaian manja diantara keduanya.
"Kalo loe yang manggil Kara kaya gitu, kata itu ko jadi ga sweet Ca !" ucap Jihad.
"Biarin !! serah gue !! mulut mulut gue !!" jawab Ica, baru saja dipisahkan kedua kucing dan tikus ini kembali berdebat.
"Biasa bilang kamvreet, njir dan kawan kawan sih !!! jadi ga cocok bilang kaya gitu ! mulut bakwan sih ! " jawab Jihad tertawa.
"Iya mulut gue mulut bakwan !!! " Ica mengambil penghapus papan tulis dan menepuk nepuk di kemeja seragam Jihad.
"Ca!! elah !!! item Ca !! jangan ke seragam ! nih seragam masih bau toko !" keluh Jihad.
"Justru itu, masih baru kan??! nih penghapus mau kenalan sama seragam loe !" tawa Ica. Kara menjewer telinga keduanya.
"Loe berdua mau lanjut disini, atau mau gue panggilin penghulu ??!" Ayu hanya bisa tersenyum dan menertawakan, jika si tom dan jerry sudah dilerai oleh emaknya.
"Ogah !!" jawab Ica.
"Apa kata dunia kalo gue sama Ica !!" jawab Jihad.
"Dunia gue gelap, Ra !!"
"Ko?!"
"Iyalah gelap, loe pakein kantong kresek Ji !" jawab Ica.
"Gimana ga gelap, gue ditimpukin mulu sama cewek bar bar, auto di perbanin tiap hari !! jadinya gelap !"
"Hmm, KDRT maksud loe Ji ?!" tanya Kara.
"Iya, dunia gue runtuh Ra !"
"Runtuh lah gue timpuk loe pake tanah kebon kakek gue !"
"Di kubur dong Ca ?!" sadis !!" ujar Ayu.
"Kan kan, dede terdzolimi !!" lirih Jihad.
__ADS_1
"Idih, beban !! loe gede otot doang Ji, aslinya pinky..daripada mubadzir tuh otot jual ke tukang bakso, biar di buat bakso urat !" jawab Ica.
"Wah anak kamvreet minta diketekin, belom ngerasain tenaga otot gue ??!" Jihad mengejar Ica,
"Kaborrr !!!" Kara dan Ayu mengejar keduanya yang sudah gulat, yang satu mencoba mengeteki, dan yang satu berontak.
Kara yang kesal, kembali menjewer keduanya, menuju kantin. Hanya kantin yang mampu membuat keduanya diam.
"Gue traktir kalian jajan !!"
"Asikkk !!"
Milo sampai di parkiran sekolahnya, membuka helmnya. Ia menyunggingkan senyuman, saat pemandangan pertama yang dilihatnya adalah gadisnya yang sedang menjewer kedua sahabatnya ke arah kantin. Masalah di pabrik sudah selesai, kini ia bisa kembali menggoda gadisnya, seperti biasanya. Ia pun sudah membungkam tante Marsya, ia membekukan akses tante Marsya di pabrik, apapun yang menyangkut pabrik, harus sesuai persetujuannya, termasuk masalah karyawan. Semakin sempit gerakan Marsya di pabrik. Ia hanya harus selalu menjaga kepercayaan papahnya. Agar semua sesuai dengan rencananya.
"Gimana Mil ? dah beres??" tanya Raka, saat Milo masuk ke kelas.
"Sudah, ayah Kara sudah kembali ke tempatnya semula, tante Marsya sudah tak memiliki ruang untuk bergerak. Semua keputusan di pabrik harus atas ijin dan tanda tangan gue ! "
"Hati hati, ia bisa menggunakan om Braja sebagai kartu As !" jawab Raka.
"Gue hanya harus menjaga kepercayaan papah, agar papah menyerahkan urusan pabrik sepenuhnya sama gue ! " jawab Milo.
"Thanks brother, kalian selalu ada di samping gue !" ucap Milo pada keempat temannya.
"Sama sama, gue juga udah eneg...tante Marsya sepertinya main curang sama partner bisnis om Braja termasuk bokap gue !" jawab Raka.
"Semua berkas sedang diaudit pak Irvan, orang gue di kantor ! jika terbukti dia memanipulasi berkas keuangan, maka siap siap kita geret ke bui !" jawab Milo, inilah dia Milo yang sebenarnya, menampilkan sikap konyol dan bod*ohnya untuk menutupi otak cerdasnya. Ia merapikan rambut dan hendak keluar kelas.
"Mau kemana Mil?" tanya Erwan.
"Ke kantin, kangen gue sama Kara ! tadi gue liat doi jalan ke kantin !" jawab Milo.
"Mil, masih ada satu lagi ! " ucapan Raka menghentikan langkah Milo. Pemuda ini terpaksa membalikkan badannya.
"Apa ?!" tanya nya mulai menautkan alisnya serius.
"Vio masuk sini ! dia mulai masuk hari ini !" ucap Raka.
Milo kembali menghela nafasnya, seakan tak pernah habis kerikil yang datang, kerikil yang mencoba mencolek gadisnya.
"Loe tenang aja ! jika hanya bullyan Vio gue yakin Kara nya gue bisa ngadepin ! untuk urusan selebihnya kita liat nanti, gue pasti butuh kalian juga ! " jawab Milo. Kara memanglah gadis tangguh, ia tak mudah ditindas oleh siapapun, jangankan Vio, Milo saja Kara lawan.
"Tapi loe harus inget, perusahaan ayah Vio adalah salah satu pemegang saham di hotel milik om Braja !" jawab Kean.
"Iti biarkan menjadi urusan gue, om Riza dan Jihad !" jawab Milo.
Rupanya Milo sudah mempersiapkan semuanya, bukankah strategi perang yang paling basic adalah menyiapkan amunisi, pasukan dan strategi agar menang? itulah yang Milo lakukan saat ini.
.
.
"Loe berdua bisa ga sih pada diem mulutnya?? apa harus gue tempelin kertas mantra kaya vampir di China?!" melerai Jihad dan Ica memang butuh tenaga ekstra, sepertinya jika hanya 7 hari 7 malam tidak akan cukup, untuk membuat kedua mulut toa ini berhenti berdebat. Salut dengan kuping Kara dan Ayu, seharusnya kuping mereka sudah tebal layaknya kulit gajah, karena mendengar ocehan absurd keduanya.
"Jangan kertas mantra Ra, cukup kertas merah aja. Gue diem ko !" jawab Ica.
"Maksud loe duit?!" tanya Ayu. Ica tergelak.
"Jangan pake kertas mantra Ra, pakein koyo aja tuh mulut Ica ! jontor jontor sekalian !" kekeh Jihad.
"Dih, emaknya koyo lagi ngomong !!" decih Ica.
"Gue bukan emaknya koyo, gue emaknya malin kundang !! dan loe malin kundangnya ! biar gue kutuk loe jadi udang di dalem bakwan ini nih !! gue makan, masuk perut, terus gue buang tiap pagi !!"
Kara, Ica dan Ayu tergelak.
"Oh bunda, bunda janganlah kejam sama anak bun," jawab Ica menggelayuti lengan kekar Jihad.
"Hmm, anak gue yang paling bontot, gue jorokin juga ke comberan loe ! bunda..bunda !" Jihad mencebik kesal dipanggil bunda.
"Ihh bunda mah tetot ! bunda gue berotot oyy !" ujar Ica, memijit mijit lengan Jihad.
"Aduh gue ga kuat pen pipis !! nyerah gue sama pertemanan kita !!" Ayu berlari menahan perutnya, menuju toilet.
"Jihad bukan bunda, dia sugar daddy gue !" jawab Kara ngasal ditertawai Ica dan senyuman bangga dari Jihad. Jihad menepuk nepuk pucuk kepala Kara.
"Sugar baby gue !!!" mereka tergelak.
"Siapa sugar daddy nya baby gue ?!" ucap seseorang dari balik badan Kara, suara itu seperti petir di siang bolong.
"Nah kan mamposss !!! gue kata apa !!" ujar Jca menertawakan kedua temannya. Milo menjewer sayang kuping Kara.
"Aduduh ! maaf sayang cuma canda doang, ya ga Ji??!" Jihad mengangguk namun tertawa, melihat Kara yang pasrah di jewer Milo.
Sebentar sebentar debat, sebentar sebentar baik lagi. Begitulah mereka, cara kedekatan dan pertemanan Kara dan teman temannya memang se sweet itu.
.
.
__ADS_1
.
2K kata guys, happy reading all 😚😚...