Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Tentang Milo dan Jihad


__ADS_3

Kara menuju lapangan bersama kedua temannya, jika sudah pelajaran olahraga begini, sudah dipastikan Jihad selalu paling sibuk mengatur teman teman kelas yang lain. Sebagai ketua kelas ialah yang bertanggung jawab.


"Oyyy buruan ga usah kebanyakan acara, lelet amat !!" tegas Jihad. Sikap jantannya keluar, membuat hampir semua teman sekelasnya segan padanya.


"Bunda kalo lagi tegas, nyeremin ya !" ucap Ica, masih santai dan anteng memakan coklat pasta harga seribu perak, jajanan merakyat menurut Ica tapi ga bikin alergi.


"Iya, sebenernya kalo Jihad ga glenyean ma bibirnya ga lemes, dia udah jadi idola kaya ka Milo loh !!" jawab Ayu memuji.


"Bukan Jihad namanya kalo galak, jutek, sama cool kaya ka Milo !" jawab Kara, gadis itu berjongkok membetulkan simpul tali sepatunya. Tanpa sadar Ica dan Ayu sudah meninggalkannya.


"Kalo Jihad kaya ka Milo, gue bakal suka Jihad kalo gitu !" lanjut Kara.


"Done !!" senyumnya lalu bangkit, namun ia terkejut saat mendongak bukannya Ica dan Ayu yang berada di hadapannya. Melainkan Milo dan Kean,


"Ohh, jadi kalo Jihad kaya gue, doi bakal lebih suka Jihad Ke !" ucap Milo pada Kean, seraya mengangkat sebelah alisnya.


Kara menggaruk belakang telinganya, bukan karena gatal ataupun panas.


"Salah lagi gue, " gumam Kara. Kean sudah mengulum bibirnya ingin tertawa takut dosa.


"Engga gitu yank, maksudnya...Ica sama Ayu mana ??!" Kara celingukan baru sadar.


"Ra !!! buruan ga usah pacaran mulu !!" pekik Ica di jitak Jihad, karena suaranya yang berisik.


"Sayang aku olahraga dulu, " ijinnya ingin melangkah melewati Milo dan Kean. Memang kebiasaan gadis ini selalu mengalihkan pembicaraan dan kabur disaat terjepit.


"Mau kemana?? ga usah ngalihin pembicaraan !" Milo menarik tangan Kara hingga Kara tertarik dengan jarak yang dekat.


"Gue jadi obat nyamuk ini !" ucap Kean.


"Gue tunggu di ruang ekskul basket aja Mil," lanjutnya diangguki Kean. Kean berlalu meninggalkan kedua sejoli yang tengah berdebat karena orang ketiga, tiada hari tanpa berdebat.


"Itu tadi Ica sama Ayu, bukan aku yank ! Aku udah telat yank, itu anak anak udah pada pemanasan !" Kara melirik ke arah lapang.


Milo mendekatkan wajahnya ke arah Kara hingga Kara memundurkan wajahnya.


"Jangan nakal !" Milo menjitak kening Kara dengan jarinya, seperti sedang memainkan kelereng di jidat Kara, membuat si empunya manyun.


"Awwshh !!" Jika bukan kekasihnya mungkin Kara sudah menonjok rahang lelaki ini seperti kejadian Reno kemarin.


"Ya udah kamu balik olahraga lagi deh, nanti kujemput pas istirahat !" ucap Milo.

__ADS_1


Kara berlari menuju lapang. Kelasnya hari ini melakukan senam SKJ. Sudah kesekian kalinya Ica tertawa, melihat instruktur senam dadakan yang liukan tubuhnya tak seindah penari latar. Sementara dari arah ruang ekskul beberapa pasang mata asyik memperhatikan adik kelasnya sedang berolahraga di lapang. Hari ini jam kosong, suatu kemerdekaan yang haqiqi untuk se isi kelas.


"Masa iya, gue mesti jadi alay gitu !" gumam Milo, Kean menggelengkan kepalanya.


"Hah??! maksud loe gimana Mil?" tanya Arial.


"Masa iya gue dibandingin sama anak om Riza !" jawab Milo.


"Jihad maksud loe?" tanya Raka. Milo mengangguk. Seketika keempatnya tertawa.


"Ka, beneran gue ga bisa nyempil di mobil, buat ikut ke Bogor?" tanya Milo.


"Loe mau dimarahin Caramel??" tanya Raka.


"Tau tuh, kaya yang ga tau aja bar bar nya cewek sendiri !" ledek Arial.


"Eitts, loe salah..ini dia pawangnya Caramel!" jawab Kean.


"Mil, ntar malem di jalan XXXXXX ada event, loe mau ikut? Jo nanyain loe !" tanya Erwan.


Kara tak tau dunia malam milik seorang Armillo Dana, Milo memghembuskan nafasnya, ia ingat kata kata Kara pada Ayu, jika gadis itu tak suka dengan dunia malam.


"Loe kenapa Mil?" tanya Raka.


"Engga, gue cuma keingetan aja.. kalo Caramel sampe tau gue sering ke club, dan gue bukan anak baik baik, apa dia masih akan nerima gue ?" ucapnya. Kean menepuk bahunya, "gue yakin Kara bakal nerima !"


"Pelan pelan aja loe kasih tau !" jawab Raka.


"Eh, loe keingetan ga sih Ca ?!" tanya Kara. Kara menempelkan botol minum yang dingin dan berembun di pipi dan keningnya.


"Inget apa?" tanya Ica.


"Kemaren pas kita di club itu, ko keliatannya Ka Milo sama cs gampang banget masuk, ditambah...loe ada liat ka Raka sama ka Keanu ga sih?? mereka ko deket banget sama bartender dan penjaganya !" ucap Kara merasa heran. Jihad hanya diam sambil mengguyur wajahnya dengan air.


"Loe tanggung amat pake air minum Ji, ga sekalian pake air comberan?" kikik Ica.


"Sableng ! dikira muka gue septic tank !!" Jihad mencipratkan sisa air dari mukanya ke arah Ica dan kedua lainnya.


"Jorok banget sih Ji !!" ketus Kara.


"Tuh keringet nyampur sama airnya !!" keluh Ayu.

__ADS_1


"Elah, anggap aja ajian biar loe bertiga nempel terus sama gue !"


"Loe berdua ga tau, jorok nama tengah dia !" jawab Ica.


"Bukannya nama belakang loe Ca??" kekeh Jihad.


"Kentut loe !!" jawab Ica cemberut.


"Ji, loe kan paling tau kehidupan ka Milo, loe tau ngga kenapa mereka bisa kenal sama bartender?? " tanya Kara. Jihad berdehem tak nyaman, "gue ga tau kalo soal itu, ya mungkin di sumpel pake duit kali, sultan apa sih yang ga bisa !!" jawab Jihad sekenanya.


"Bener juga sih Ra, siapa sih yang ga suka duit, sultan mah bebas !! emangnya kita yang cuma remahan biskuit, yang buat jajan cilok aja sampe mewek guling guling, kalo belum cuciin pan*tat wajan, ya.. belum dikasih !" jawab Ica mendumel.


"Loe curhat Ca?" tanya Kara.


"Bukan ! gue lagi dakwah !!" Ica berdiri ngomongin pan*t@t, pan*t@t nya sudah gatal, karena kelamaan duduk di lapang.


"Ga mau pada berdiri apa?? pan*t@t gue mah dah gatel !" ujar Ica menepuk nepuk celananya.


"Loe cacingan kali Ca !" kekeh Ayu ikut bangun.


"Sembarangan !!" sarkas Ica.


Kara berjalan menuju kantin bersama keempat temannya sambil sesekali cekikikan karena celoteh Ica.


"Ji, loe tau sesuatu kan tentang ka Milo?" tanya Ayu, sementara Kara berjalan berdampingan dengan Ica seraya tertawa.


"Bukan kapasitas gue buat ngomong Yu, "jawab Jihad.


"Tapi Kara temen kita Ji," jawab Ayu.


"Menurut gue, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan. Kita bertindak jika dibutuhkan, cukup dukung dan support mereka. Gue rasa Milo cepat lambat bakal bilang juga !" jawabnya.


"Gue jadi penasaran deh Ji, loe tuh siapa Milo sih?" tanya Ayu, tempo hari Ayu melihat Jihad diantar dengan mobil yang sama, tidak mungkin ia bilang lagi kalau ia menumpang.


"Yang kemaren itu, mobil loe kan Ji?" tanya Ayu lagi, Jihad menghentikkan langkahnya, bersamaan Ayu.


"Nanti ada saatnya kalian tau siapa gue Yu, bukan karena gue mau nipu kalian, tapi gue lebih ingin membuat kalian nyaman sama keberadaan gue !" jawab Jihad. Ayu mengangguk paham, melihat kedua temannya yang berada di depanlah matanya mengarah.


"Kenapa loe ga bilang aja sih Ji, kalo loe suka sama dia ! gue rasa ga apa apa juga !" lirih Ayu, diantara ketiga gadis ini memang Ayu lah yang paling dewasa dan peka.


"Gue ga mau bikin jarak diantara kita, yu ! biarin gue simpan saja dulu, sampai nanti waktunya gue ungkapin semua. Loe kaya ga tau dia aja Yu, loe yakin apa dia bakal terima gue?? dia aja suka sama orang lain !!" senyum Jihad getir.

__ADS_1


__ADS_2