Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Kepergian Milo


__ADS_3

Om Adi datang sesuai permintaan Milo.


"Thanks om," ucap Milo, om Adi melihat mengernyit pada Milo.


" Kamu mau kemana Mil, dan itu !" tunjuknya pada wajah Milo.


"Muka mu kenapa?" tanya nya.


"Di pukul gorilla !" jawabnya. Raka mendorong pelan bahu Milo yang terkekeh.


"Om, kalo papah nanya gue kemana. Bilang aja gue lagi ke Bandung. Dia pasti tau gue kemana!" Milo memasang helm fullfacenya.


"Siap den, " jawabnya.


"Berapa kali sih gue bilang ga usah ada embel embel aden, atau tuan muda ! gue bukan raja !" jawab Milo tak suka.


"Oh ya jangan lupa, awasi terus tante Marsya !" jawab Milo. Kemudian ia menstaterkan motor dan melajukan motornya dengan cepat, hingga terdengar suara deru mesin yang berat.


"Saya mau tanya, Milo kenapa?" tanya om Adi.


"Ada hubungannya dengan tante Marsya om, oh iya om..apa tante Marsya masih aktif di bagian keuangan dan HRD pabrik ?" tanya Raka.


"Masih den Raka." jawab om Adi.


"Oke, kapan Milo ikut andil dalam mengurus bisnis om Braja ?" tanya Raka.


"Kurang tau den, setau saya pak Braja menunggu kepastian den Milo !" jawab om Adi.


"Kalau begitu saya duluan, den. Masih ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan !" jawab om Adi, ia sudah memesan taksi online.


"Apa rencana loe, Ka?" tanya Kean.


"Gue akan minta papa buat ikut turun membantu pekerjaan Milo," jawab Raka. Kebetulan ayah Raka adalah partner bisnis perusahaan milik ayah Milo.


"Ikut mengawasi jalannya pabrik, karena yang gue dan Milo selidiki tante Marsya beberapa kali mentransfer uang pabrik pada rekening yang di duga milik selingkuhannya."


.


.


.


Milo menambah kecepatan motornya menembus jalanan puncak yang sedikit lengang, seharusnya kawasan ini terasa begitu menyejukkan dan romantis. Tapi sepertinya suasana tempat sama sekali tidak menyentuh hati Milo yang sedang kacau. Baginya tak ada tempat seindah dimana Kara berada. Ia menuju salah satu pasar tradisional dimana Ramadhan Restu Al Kahfi pasti akan muncul. (Jika ingin tau siapa Rama silahkan baca ceritaku yang berjudul Cintaku Dipalak Preman Pasar Soleh).


Sudah lama ia tak bersua, mencari gara gara disana sepertinya asik. Milo menyunggingkan senyumnya.


"Enak aja loe dah married A, gue loe tinggalin sendiri jomblo !" gumamnya.


.

__ADS_1


.


.


2 hari berlalu semenjak kejadian itu, semua sudah kembali bersekolah dengan normal, Kara berangkat seperti biasanya, ia menjejakkan kakinya di depan gerbang, flashback ketika pertama ia bertemu Milo terputar di kepalanya. Bahkan mendengar suara deru mesin motor saja, jantungnya berdegup kencang, ia masih berharap itu Milo. Egoiskah Kara?


Raut wajahnya menekuk, yang datang hanya ada keempat temannya. Kara menatap nyalang, ia melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya. Bukankah ini yang ia inginkan sejak awal, hidup secara normal, sampai lulus. Tapi sekarang hatinya terasa berkhianat. Setiap sudut sekolah mengingatkannya pada Milo, bahkan ocehan Jihad dan Ica pun tak membuatnya berpaling dari lamunannya. Semuanya terasa sepi, tak ada lagi orang yang mengganggunya, tak ada lagi orang yang akan membuatnya kesal sampai ubun ubun.


Bughh !!


"Upsss sorry !! gue sengaja !" tawanya meledek bersama Moni dan yang lain. Moni bahkan sudsh menarik rambut Ayu.


Kara mengangkat alisnya sebelah, dan membenarkan letak kacamatanya. Memang kawanan betina ini minta dinikahin sama kuda sumbawa, liar banget !


"Loe, ihh rese banget !!" Ica mencoba menghakimi, tapi Kara menahannya. Ia sudah tak ingin berurusan dengan Nina, karena urusannya dengan Milo sudah selesai.


"Kenapa ? sekali loser ya loser aja. Kan gue bilang juga apa, Milo tuh kalo dah bosen main main ya ditinggal kaya buang sampah !" serunya meledek.


Ingin rasanya tangan Ica dan Jihad mencakar dan mencabik cabik mulut Nina yang lemesnya melebihi emak emak kampung kalo lagi ngomongin tetangga yang hamil duluan sebelum nikah.


"Eh, bisa kan tuh mulut di saring dulu !" Jihad menggertakan giginya. Harusnya ia pulang, membawa saringan teh milik ibunya di rumah dan memasangkannya di mulut Nina dan Moni.


"Apa ! ini lagi satu cowok rasa cewek !" tawa mereka semakin meledek.


"Kenapa ga main barbie aja sekalian !!" ledek Moni.


"Gue rasa main barbie lebih terhormat dibanding mainin om om ! gue rasa Kara lebih baik dari loe, setidaknya pernah menyandang status pacar, dibanding loe yang mengharapkan dari jaman Fir'aun masih ngedot, tapi ga dilirik lirik !" jawab Jihad. Ica, Kara dan Ayu melirik Jihad, pake segala Fir'aun ngedot aja dibawa bawa.


"Ji, sejak kapan Fir'aun ngedot?? di buku sejarah ga ada keterangan kalo Fir'aun ngedot ! ko loe bisa tau??" bisik Ica, masih sempat sempatnya bertanya.


"Tau lah gue dukun beranak emaknya !" jawab Jihad.


"Loe berempat tinggal pilih aja, mau gue maenan barbie apa gue maenin boneka santet buat nyantet loe pada, biar sama sama masuk neraka dan jambak jambakan disana !" jawab Ica dan Jihad.


"Kurang aj*ar !!!! loe berani sama gue !!" Nina maju mengangkat tangannya ingin menampar Ica.


"Cukup !!" Kara maju menahan tangan Nina, dan memelintirnya. Nina meringis kesakitan.


"Si@*lan !! lepasin tangan gue !!" ucap Nina.


"Heh cupu !! lepasin tangan Nina !!" Moni dan yang lain hendak maju, namun ditahan Ica, Jihad dan Ayu.


"Asal loe tau aja cupu, gue sudah mengukir sejarah, loe ga tau aja sepulang loe dari camp gue sama Milo ciu*man !! harusnya loe jangan dulu balik, biar bisa nyaksiin !" ucap Nina. Kara memang marah, ia juga terkejut, tapi ia tau Nina bermulut besar. Walaupun sebagian hati kecilnya mempertanyakan apa benar yang dikatakan Nina.


"Terus loe pikir gue peduli ?! gue tau ko, loe cuma mau menghibur diri ! sebaiknya jangan pernah mengganggu gue dan temen temen gue lagi !! kalau itu terjadi. Siap siap aja tangan loe bukan cuma gue pelintir, tapi gue patahin !" jawab Kara mendorong Nina.


Nina melawan ia berbalik dan menjambak rambut Kara, hingga Kara tertarik. Lalu Kara balik menjambaknya lagi, sudah lama ia memendam dendam pada Nina dan Moni. Sudah cukup tak ada junior baik baik lagi saat ini. Raka dan kawan kawan melihat pertengkaran ini.


"Ya Allah !! Kara !!" pekik Kean.

__ADS_1


"Astaga !! ni cewek cewek, cowoknya kagak ada masih aja berantem !!" pekik Arial.


Bukannya melerai Jihad malah ikut terlibat.


"Ji, loe bukannya misahin nih betina betina malah ikutan !!" ucap Erwan.


"Abisnya kalo gue yang pisahin, mereka ga adil masa 4 lawan 3 !" jawab Jihad.


"Ra, Nina !!! cukup !!" Raka melerai. Kara merapikan rambut dan pakaiannya, ia pun tak sadar bisa segila ini. Ia menghembuskan nafas kasar.


Tanpa mendengarkan Raka bicara, Kara meninggalkan tkp.


"Ra !!" pekik Raka.


"Loe bertiga urus nih warga !!" titah Raka pada Kean dan yang lain. Ia berlari mengejar Kara.


"Ra, "Raka menahan tangan Kara yang menepisnya.


"Apa !!!" Kara sudah berlinang.


"Gue tau semuanya !" ucap Raka.


"Terus loe mau lepas Milo gitu aja ?" tanya Raka.


"Terus gue harus ngapain, ka?? bagi gue yang cuma kecoak, hanya perlu dinjek atau dibasmi orang kaya tante Marsya aja mati ! apa yang bisa gue lakuin sekarang? bagi gue yang hanya orang ga punya salah melawan seorang penguasa !" jawab Kara.


"Apa loe ga menganggap Milo? apa menurut loe Milo bakal diem aja ?" tanya Raka.


"Gue ga mau menambah nambah lagi masalah, hanya karena membela gue, ga menutup kemungkinan keluarga Milo akan pecah !! sudah pasti tante Marsya akan meminta pembelaan dari om Braja, belum lagi nasib ayah gue?? ditendang aja beres kan, pasti kelimpungan buat cari nafkah !"jelas Kara.


"Salah kalo loe berfikir Milo ga memikirkan itu semua, Ra !" jawab Raka.


"Bahkan kalo gue maju pun toh bukankah Nina sudah menggantikan posisi gue ?? apa ka Raka ga denger yang barusan Nina katakan ? mereka bahkan ciu*man !!" ucap Kara sesenggukan.


"Rupanya loe belum mengenal Milo, Ra ! dan gue jamin loe bakal nyesel Ra. Kalo beranggapan Milo serendah itu !" jawab Raka, pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana, lalu berbalik hendak meninggalkan Kara.


"Milo apa kabar? apa dia sakit sampe ga sekolah?" tanya Kara. Di balik badannya Raka tersenyum, masih ada cinta yang sangat besar untuk Milo.


"Milo mungkin tak akan kembali, sebaiknya loe ucapkan salam perpisahan !" jawab Raka hampir saja tawanya pecah.


"Milo kemana?" tanya nya.


"Mungkin sebentar lagi Milo akan meminta surat kepindahannya !" tanpa memberikan jawaban pasti yang membuat Kara khawatir dan panik Raka meninggalkan Kara.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2