
Catatan akhir author 1
Kara sudah bersiap dengan kopernya, sebenarnya ia sudah wisuda dari 2 minggu sebelumnya, ibu dan ayahnya pun sudah pulang sejak seminggu yang lalu. Berhubung Milo yang belum menerima sertifikat kelulusannya, Kara jadi menunda kepulangannya dan memilih menemani Milo.
****************
"Sayang, mampir dulu ke kantor Jihad ya, mau ketemu Ica !" pinta Kara, matanya menatap setiap sisi kota Jakarta dan bergumam, welcome home, Kara ! (selamat datang di rumah, Kara!).
Bertemu dengan Ica tak pernah dihiasi drama drama melow sampe mewek bawang, yang ada keduanya akan berselisih paham yang ujungnya saling menertawakan, by the way...Jihad baru saja memunculkan dirinya di depan Ica, begitupun statusnya yang notabenenya adalah bos Ica, teganya ! katanya kangen, selama 7 tahun ngarepin Ica, tapi pas datang malah dikerjain, kedua sahabatnya ini memang pasangan aneh bin ajaib.
*******************
Ia menatap langit biru di balik kaca jendela hotel. Meskipun raganya ingin bergabung dengan ketiga sahabatnya di luar, yang terdengar asyik bercanda di kolam renang, tapi pelototan tukang rias mengurungkan niatan Kara untuk keluar dari kamar. Menjadi pengantin ternyata seribet ini, ck !
Kebaya mencetak leku kan badannya terasa sesak, begitupun gelungan sanggul rambutnya sendiri dengan dihiasi siger dan kembang goyang menambah kesan berat di kepalanya, auto besok ia langsung migrain. Belum cukup disitu, kain tile putih menjuntai yang dipasang berdampingan dengan untaian kembang melati menghiasi sanggulan yang full of siger, dan jangan lupakan heells yang ia pakai.
Ditemani para bridesmaid yang merupakan sahabatnya sewaktu sma, Kara berjalan menyusuri jalan beralaskan karpet merah menuju ballroom hotel megah milik papa Braja.
Ornamen khas adat betawi dan modern yang dipadukan nampak good looking (tampil bagus) dan terkesan mewah. W. O ternama di kota Jakarta disewa sebagai panitia pengurus pernikahan mereka.
Tangan yang dihiasi hena, dengan kuku berpoleskan kuteks merah apik tertutup sarung tangan tile berwarna putih sampai pergelangan tangan Kara. Tangan itu memegang sebuah bucket mawar merah yang cantik, dengan lengan yang di tuntun Ica dan Ayu.
"Ca, gue takut !" satu kalimat yang diucapkan Kara. Saking gugup dan paniknya Kara sampai ingin kembali ke kamar. Pasalnya orang orang penting ada disana, kenalan Milo dan papa Braja beserta sederet jajaran pejabat negri, termasuk jendral Wira beserta sang istri yang dulu pernah Kara temui saat acara yang diadakan pemerintah setempat, dan ia sebagai perwakilan dari sekolahnya.
Pintu ballroom terbuka sesaat setelah Milo dengan lantang mengucapkan kalimat ijabnya di hadapan penghulu, ayahnya, dan para saksi juga para tamu undangan, suara sah menggema dari dalam ballroom, mendadak pandangannya terasa silau untuknya. Semua mata tertuju padanya.
Gimana kalo jatoh ?!
Gimana kalo kebayanya nyangkut ?!
Atau gimana kalo sigernya copot ?!
"Kita disini Ra, " ucapan Ica menenangkan, Kara menghela nafasnya, membuang semua kegugupan.
"Kalo gue tiba tiba pingsan tangkep gue ya girls, jangan ditinggalin atau digelindingin !" ucap Kara, sontak membuat keempat gadis yang mengelilinginya mengulum bibirnya.
"Ga usah ngebanyol waktu krusial gini Ra, kalo mau ngelawak ntar aja sambil rujakan !" jawab Amel.
__ADS_1
Kara berjalan anggun, mengundang decak kagum seisi ballroom. Dengan iringan lagu romantis ala ala barat, Kembang goyang di kepalanya ikut bergoyang saat ia berjalan menyusuri ujung karpet merah tadi sampai di depan meja penghulu. Tangannya sampai mengerat di tangkai bucket mawar yang sedang dipegangnya saking gugupnya. Lehernya seakan mati rasa dan kaku, tak dapat menoleh ke arah Milo, padahal lelaki itu sudah melihatnya sedari tadi tanpa berkedip.
Masih sempat sempatnya Milo berbisik, rayuan mautnya disaat mereka melakukan sungkeman, membuat Kara ingin mencelupkannya di lelehan coklat panas di stand makanan sana.
"By, kamu bener bener definisi mengalihkan duniaku !" bisiknya, yang dihadiahi pelototan oleh Kara.
"Kalo bukan di depan umum, udah ku lahap kamu by, " bisiknya lagi.
"Kamu bisa diem kan ? jangan sampe ku timpuk pake sepatu !" Kara mendelik kesal.
Air mata tak henti mengalir dari mata ibu, Kara menundukkan kepala dan bersimpuh di depan kedua orangtuanya.
"Maafin Kara yah, bu ! Kara banyak nyusahin, Kara belum bisa bahagiain ibu sama ayah !" air mata lolos begitu saja membasahi samping ibunya.
Ibunya menggeleng, tanda tak setuju.
"Kara adalah anugerah terindah yang Allah kasih buat ibu dan ayah ! Kara adalah anak terbaik yang pernah ada, best ever (terbaik yang pernah ada) !" jawab ibu tercekat.
"Kara minta maaf jika selama ini Kara banyak bikin ibu sama ayah kecewa, nyusahin dan bikin kalian nangis, Kara minta do'a dan restunya, " Kara sudah tak sanggup lagi untuk berbicara sampai sampai mengucapkan kalimat pendek saja ia kesusahan karena sesenggukan.
Ibu merengkuh Kara dan memeluknya erat begitupun ayahnya yang menimpali kedua wanita tersayang dalam hidupnya dengan pelukan saling menumpahkan rasa sayang.
"Kara adalah kado terindah buat ayah dan ibu, " tambahnya lagi.
Milo menarik beberapa lembar tissue dan mengusap air mata Kara lembut sepaket dengan senyuman teduhnya.
Acara adat sudah terlewati, ini bagian yang paling berat, melihat antrian orang yang ingin mengucapkan selamat sudah mengular, membuat Kara menelan ludahnya susah.
"Sayang, ini bisa bisa aku pingsan, karena kepegelan," bisiknya di telinga Milo.
"Sabar ya by, kamu duduk aja sesekali, " jawab Milo mengusap pipi Kara lembut.
Saking pegalnya, Milo meminta salah satu W.O membawa Kara ke kamar saja untuk beristirahat sebentar dengan alasan mengganti pakaian.
Kara mengaduh dan melepas heellsnya,
"Pegel banget, kaki gue !" Kara mengaduh.
__ADS_1
******************
Kara berada di gendongan Milo, bukan digendong ala bridal style, tapi digendong bak anak lut ung, dengan menyampirkan kedua tangannya di depan Milo lengkap memegang sepasang sepatu cinderella nya.
"Masih sakit ?"
"Banget yank, betis aku rasanya mau pecah, engkel kaki kayanya copot deh !" Milo tertawa gemas.
"Ngaco ! lebay ah ! jadi ga tega mau lahapnya !" Milo merogoh kunci kamar dan membuka kamarnya.
Klik !
Kamar tertutup.
Milo menurunkan Kara di kamar, meskipun di luaran Milo mesum, tapi melihat Kara yang meringis merasakan pegal dan linu membuatnya tak tega, cinta bukan pasal se ks semata.
Milo memanaskan air di bath tube setelah cukup panas, ia kembali.
"Kamu mandi dulu deh by, setelah mandi aku pijitin sekalian kompresin betisnya." ucap Milo.
************
Keduanya sudah sama sama mandi dan bersih, Kara duduk di tepian ranjang dengan kaki yang menggantung, Milo duduk di depan Kara, malam ini mereka lewatkan bukan dengan peluh yang mengucur membuat sekujur badan lengket, ataupun gelora asmara yang membuat keduanya terbang ke awan biru.
"Makasih sayang, " ucap Kara penuh haru.
"Sama sama, aku cuma ga mau aja saat aku enak enak, kamu malah kesiksa karena kaki kamu. Kita masih bisa lakuin besok, dan saat sudah waktunya, kamu bakal kewalahan by, " ucap Milo penuh seringai.
Kara sontak menghadiahinya dengan pukulan ringan, "engga gitu juga !" sewotnya, membuat Milo tertawa.
Keduanya tertidur dengan saling memeluk, wajah lelah karena seharian sudah mengikuti rangkaian acara pernikahan.
.
.
.
__ADS_1
Masih ada satu part lagi penutup ya guys, buat bocil skip skip skip ae .....