Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Bintang dadakan


__ADS_3

Penutupan MOS, ditutup dengan penampilan setiap ekskul yang ada di sekolah ini. Milo beberapa kali unjuk gigi di hadapan adik adik kelas barunya. Apalagi saat Basket dan Taekwondo.


Sorakan kagum dan memuja menggema di sekolah. Bintangnya sekolah keluar seperti seorang hero, lihatlah dada bidang dan otot remaja yang menggiurkan, membuat siapa saja gadis ingin mendaratkan kepalanya disitu.


"Pamer !" dengus Kara.


"Ra, loe ga pengen kaya gitu ?" tunjuk Vanya.


"Maksudnya ?"


"Tampil di depan adek adek kelas pamer bakat gitu ?!" Vanya dan siswi kelasnya sedang duduk menyaksikan unjuk bakat ekskul di pinggiran lapang.


"Loe kaya ga tau temen loe aja Va, dia mah merendah !" jawab Ica disetujui Ayu.


"Merendah buat melejit, " tambah Ayu.


"Nah iya bener," tunjuk Amel. Suara gaduh dari siswi siswi kaka kelas maupun adik adik kelas histeris memekakkan telinga.


"Buseettt ! berisik banget, pada ga sakit apa tenggorokan cuma nyorakin cowok orang !" omel Amel.


Tap...tap..tap...


"Ra, " panggil Tasya si wakil ketos berlari menghampiri Kara dan teman temannya.


Kara dan Ica berlari membelah lautan siswa yang menutupi jalanannya mengikuti Tasya.


"Untuk sekali ini aja Ra, Ca... Damar ga bisa ikut tampil, Damar sakit jadi Wulan ga bisa nyanyi sendiri."


Wajah memohon bu Wilam membuat Kara dan Ica merasa tak enak hati untuk menolak.


Ica dan Kara saling pandang,


"Ya udah deh bu, " Kara dan ica setuju. Keduanya kini masuk ruang musik untuk cek sound bersama Wulan. Kara merapikan gayanya.


"Ra, gue rasa mesti touch up dikit deh biar ga kaya orang abis sakit tifus, " jawab Wulan, Ica tertawa, "asem si Wulan !!! bilang aja gue sama Kara dekil !" Wulan terkikik.


"Ya Ra, jangan mau kalah sama eksistensi ka Milo dong !" ujar yang lain.


Kara dan Ica sedikit memoleskan bedak dan liptin, touch up sana sini. Wulan memberikan sebuah choker pada Kara.


"Biar kaya anak band yang sweet sweet gitu kesannya, " Wulan menaik turunkan alisnya.


"Wuihhh, kita udah kaya artis Ra ! udah cocok jadi guest star ! sdlfie dong selfie, mau gue post di Ig, pake hashtag, bintang baru ! " seru Ica.


Milo yang baru saja selesai dengan aksinya, mencari cari Kara di tempat teman temannya.


"Kara mana?" tanya nya, kharismanya membuat Milo selalu diikuti oleh mata mata memuja adik kelas, tak jarang pula yang memanggil dan mencari perhatiannya.


"Tadi sih bareng Ica dipanggil sama Tasya," ujar Amel.


"Oh, cabut guys !" ajak Milo pada yang lain.


"Ngapain dipanggil Tasya?" tanya Raka.


"Mana gue tau, " jawab Milo.


"Yuu turun ! tunjukan eksistensi ekskul musik !" ucap bu Wilam.


Setelah bu Wilam memperkenalkan diri, dan sebuah orchestra sekolah tampil, kini bagian band akustik sekolah yang tampil.


"Siang, kita dari ekskul musik. Kebetulan band akustik sekolah mau mempersembahkan satu buah lagu, " ucap Wulan dari microphone.


"Aku Wulan kelas XI IPA 4, ini ada Caramel XI IPA 2, dan Ica XI IPA 2 juga, "


"Caramel ??!!" bukan hanya para adik kelas yang sejak awal penasaran dengan sosok Caramel saja yang terkejut melihat sosok yang dicari mereka, tapi pun Milo, pacarnya sendiri.


"Owhh, jadi itu yang namanya Caramel, " ujar mereka termasuk beberapa genk siswi adik kelas yang sudah membentuk dirinya sebagai klub fans Milo.


"Ka Caramel, " gumam Astri.

__ADS_1


"Ica ?!" Jihad yang sedang meneguk air dalam kemasan, berdiri melihat ke arah panggung yang berada di tengah lapang.


Kara dan Ica juga Wulan duduk di atas kursi,


"Mamposss gue Ca, ka Milo pasti denger dan liat. " gumam Kara berbisik pada Ica.


"Bilang aja nolongin bu Wilam, " jawab Ica.


Wulan mengangguk pada Kara sebagai kode kalau ia sudah siap. Kara memetik senar gitarnya, di SMA ini ia benar benar mengulangi lagi pelajaran gitarnya dari sang ayah. Gitar akustik yang langsung tersambung pada sound sistem dan setiap speaker di sudut sekolah, seketika membuat mereka terdiam, menikmati permainan Kara. Membuat gadis ini gugup karena tak terbiasa jadi pusat perhatian. Bahkan Kara menutup sebelah telinganya dengan headset agar bisa fokus pada permainannya.


"Relax Ra, " benaknya.


"Anggap aja ga ada yang nonton, atau anggap mereka semut merah," kembali batinnya.


Suara Ica dan Wulan membuat penampilan ketiganya semakin epic.


"Huwwwwwaaaaaa !!!! Caramel !!!" pekik mereka.


"Kara !!! Ica !!!!" gaduh teman sekelas mereka. Mendadak mereka menerobos dan duduk melantai di depan panggung mendukung kedua bintang dadakan ini.


"Ko sejak awal masuk gue ga pernah liat ka Caramel sama Ka Ica itu, " bisik siswa laki laki, adik kelasnya.


"Cantik men, manis manis enak dipandang ! permainan gitarnya itu apik tenan !" bisik mereka.


Milo melintas dan mendengar hal itu langsung meradang,


"Sorry bos, loe kalo masih betah di sekolah ini ga usah banyak tingkah, loe liat cewek yang diatas panggung itu, yang lagi main gitar pake kacamata namanya Caramel, " sebelah tangan Milo merangkul bahu si adik kelas yang terlihat gemetar dan gugup, sedangkan sebelah lagi menunjuk Kara, teman temannya pun hanya bisa menunduk patuh, mereka sangat tau siapa Milo cs.


"Tau ka, "


"Gue bukan kaka loe !" ucap Milo menepuk pad topi siswa lainnya yang menjawab. Raka dan yang lain hanya tertawa melihat kepolosan adik kelasnya yang menjerumuskan diri dalam kawasan terlarang milik Milo. Dan juga sikap bucin temannya ini yang posesifnya sudah tak tertolong lagi.


"Cewek itu calon gue, tuh di jidatnya udah ada tulisan milik Armillo !" Kean tak kuat menahan tawanya.


"Somplak !" gumam Raka.


"Ngerti ga ?!" sentak Milo. Mereka semua mengangguk cepat.


"Bilangin juga temen temen se angkatan loe semua, ada yang berani deketin dia, berurusan sama gue !" ancam Milo lagi, mereka kembali mengangguk.


"Baik baik loe sampe lulus," Milo mengusap usap pundak si adik kelas dan meniupnya, lalu pergi meninggalkan mereka.


Milo menyela masuk diantara teman sekelas Kara. Sangat kontras diantara siswa yang memakai seragam sekolah Milo memakai seragam basket, bernomor punggung 17 bernamakan Milo. Kara mendongak ke arah penonton, matanya bertemu dengan tatapan tajam Milo, bibirnya menyeringai membuat Kara berdecih.


"Ga suka banget gue, kalo Milo udah kaya gitu !" benaknya. Tepuk tangan mengiringi penutupan penampilan mereka, mungkin setelah ini nama Caramel akan tersemat menjadi salah satu nama yang akan di puji, dibenci bahkan jadi standar saingan.


Kara dan Ica turun dari panggung tapi sebelum mereka benar benar turun, dari barisan penonton Milo berdiri, "Caramel i love you !!!"


"Woahhhhh !!!!" pekik mereka. Kara membelalakkan matanya, ia yang baru saja membalikkan badan seketika mematung. Milo memang senekat itu, Kara berbalik badan, tak tau semerah apa wajahnya.


"Ekhemm, " goda Ica dan Wulan.


"Sikat aja Ra !" jawab Ica.


Milo berdiri dengan sebuah boneka dan coklat.


"Naik...naik...naik !!!" tepukan tangan dan teriakan mereka.


Milo naik ke panggung dengan sekali lompatan. Untung saja panggungnya kuat.


"Kamu ngapain sih kaya gini, maluu !" cicit Kara, seraya menerima boneka dan coklatnya.


"Mau bikin fans kamu patah hati berjamaah, " jawabnya berbisik.


"Cieeeee !!!!"


Kara hanya memasang wajah tersenyum ramah pada semua orang lalu turun dari panggung.


*******************

__ADS_1


MOS sudah berakhir, sekolah kembali seperti biasa.


"Liat ga sih, dari tadi si Astri Astri itu ngikutin loe Ra ?!" tunjuk Ica. Bahkan sekarang gaya gadis itu menyerupai Kara, kebiasaan Kara juga diikuti.


Mata Milo mengedar pada arah dagu Ica.


"Yang pake kacamata itu ?!" tanya Milo.


"Nge fans kali, sugar baby gue punya fans, " jawab Jihad asal sambil terkekeh.


"Ngga gitu peakkk ! ngerasa aneh ga sih ?" tanya Ica menepuk perut Jihad.


"Iya deh Ra, kayanya dia ngikutin loe, apa jangan jangan kata kata loe dulu disalah artikan sama doi ?" tanya Ayu.


"Hofff, mungkin aja emang gaya asli dia kaya gitu, " jawab Kara masih berfikir positif.


"Ahh masa sih, perasaan dulu ga gitu deh, " jawab Ica


"Biarin aja lah, " jawab Kara satu sruput lagi maka jus jeruknya habis.


"Suka kali sama ka Milo, " jawab Ayu.


"Mungkin ! mau jadi duplikatnya gue, " kekeh Kara.


"Ngaco !" jawab Milo.


"Udah bel masuk tuh, masuk yu !" ajak Ayu.


"Sayang, aku ke toilet dulu, udah gitu ke kelas !" ijin Kara.


"Ya udah hati hati, perlu kuanter ?" tanya Milo.


"Maunya kamu itu mah, " sarkas Kara sambil berdiri.


"Hahahahah, udah kaya pasien RS ke toilet aja dianter Ra !" ketiga gadis ini keluar dari kantin, begitupun Jihad yang langsung masuk kelas.


"Hay ka Milo, bangku yang lain udah penuh..boleh ikut duduk disini ?"tanya nya mesem mesem bersama kedua temannya yang lain.


"Calon bini muda, " bisik Arial pada Erwan, terkekeh menggoda Milo.


"Disini juga penuh, " jawab Milo menaikkan kakinya di bangku panjang kantin, membuat kedua adik kelas ini cemberut, ternyata tak mudah mendapatkan perhatian Milo.


"Nih duduk aja disini !" Raka memberikan kursinya pada si adik kelas. Milo menautkan alisnya dan menatap tajam temannya ini, Kean dan kedua lainnya menertawakan Milo.


"Loe mau kemana bang Rak?"


"Ke kelas, udah masuk kan ?!" ujar Raka. Milo ikut angkat pan*tat dan meninggalkan adik kelasnya yang baru saja menyunggingkan senyum dan duduk, padahal untuk menghampiri Milo cs saja ia sampai mandi parfum dan bedak. Tapi Milo seakan tak tertarik walau hanya sekedar melirik.


"Eh, ka Milo !" ia cemberut.


"Sabar bebs, " tepukan di pundak oleh temannya.


"Byeee !!" Arial melambaikan tangannya pada para adik kelas itu, lalu pergi bersama yang lain.


"Uhhh, temen temennya juga ganteng ganteng banget, " ujar kedua lainnya.


******


"Ra, gue rasa tuh orang emang ngikutin Ra, wahhh kalo iya...parah parah ! " ucap Ica mencondongkan badannya ke depan, ke arah bangku Kara dan Ayu.


"Kita liat ke depannya, apa dia masih ngikutin Kara, " usul Jihad ikut mendengar dan bergabung.


"Jangan buru buru mengambil kesimpulan !" lanjutnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2