
Milo menghampiri Tara yang sedang berada di ambang pintu menyambut si tamu tak diundang.
"Cari siapa ?" tanya Milo memasukkan tangannya ke dalam saku celana selututnya.
"Caramel, " jawab Kenzo ramah sebucket bunga dibawanya membuat Milo mendengus, baru beberapa minggu saja sudah ada satu laki laki yang nyangkut membawa sebucket bunga, jika 4 tahun apa jadinya.
"Siapa Caramel?" tanya Milo mempersilahkan Kenzo masuk ke dalam apartment untuk duduk.
"Saya teman Caramel, " jawabnya.
"Caramel tidak suka bunga, ia alergi apalagi yang ngasihnya cowok kaya loe," jawab Milo. Jihad sudah terkikik geli, lihatlah si kodok beraksi.
"Aduh Ji, gue bukan mau belain Kenzo, tapi lumayan kalo ada dia, ada yang bantuin gue di kampus !" ucap Kara.
"Kalo Milo sudah beraksi, ga akan ada yang bisa larang Ra, ntar gue kena juga !" jawab Jihad menyendok kembali makanannya dengan tenang, sedangkan Kara..gadis ini sudah tak enak duduk.
"Loe sendiri siapanya Caramel ?" tanya Kenzo. Milo menyunggingkan senyumnya.
"Bagus loe nanya, gue calon suaminya cewek yang mau loe ajak jalan !" Kenzo terkejut, ia langsung gelagapan, Milo sudah bangkit ia mendekat dan meraih syal yang dipakai Kenzo menariknya membuat Kenzo ketakutan, Kara langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sayang, cukup ! kasih tau doang kan cukup, ga perlu pake kekerasan !" ucap Kara mencoba melepaskan cengkraman tangan Milo di syal Kenzo, yang membuat Kenzo sulit untuk bernafas.
"By, kamu bela dia ?" tanya Milo tajam, ini yang Kara tak suka dari Milo.
"Bukan gitu sayang, tapi kan dia ga tau..kalo dia tau juga Kenzo pasti jaga jarak, iya kan Ken ?" tanya Kara agar mengangguk.
"Kenzo cuman temenku sayang, dia yang sering bantu aku di kampus, aku harap kamu hargai dia. Please ?!" pinta Kara.
Milo melepaskan cengkramannya dan menepuk nepuk syal dan bahunya, merapikan Kenzo.
"Oke, awas kalo sampe loe berani berani lagi dekati Kara !" tatapan tajam Milo sampai ke dalam retina mata Kenzo.
"Udah, tuh makanan udah keburu dingin, dimakan dulu !" jawab Kara.
"Terus kamu mau dua duaan sama dia ? jangan mimpi," tanya Milo.
Kara memejamkan matanya gemas dengan pacarnya ini,
"Ya udah kamu ikut disini ngobrol, " ajak Kara. Kenzo yang dari tadi diam akhirnya buka suara.
"Sorry gue ga tau kalo loe udah punya calon, Ra ! maaf kalo gue udah lancang suka sama loe, " aku Kenzo, Milo langsung menatap tajam tapi Kara memegangnya, memang diperlukan air zam zam untuk meruqyah Milo rupanya.
"Iya Ken, gue hargain kejujuran loe, tapi memang gue sudah punya pasangan, sorry.. " jawab Kara.
__ADS_1
"Ga apa apa Ra, sorry juga gue sampe cari tau alamat loe !" jawab kembali Kenzo.
"Emhhh, cari mati tuh anak ! bener bener cari mati, jujur aja semuanya ! balik balik loe tinggal nama !" ledek Jihad dari balik dinding meja makan.
"Dia oon apa memang pencinta olahraga ekstrem sih ?!" gumam Jihad, Tara mengulum bibirnya.
"Loe keluar dari sini sekarang, " jawab Milo sudah geram, bisa bisanya lelaki itu mencari alamat Kara tanpa ijin.
Kenzo yang melihat aura kemarahan kembali menyelimuti Milo, tak mau menunggu sampai sang singa ini kembali mengamuk dan meraih kerah bajunya, ia lebih memilih pergi saja dari sini.
Kara hanya mendengus kesal dengan sikap berlebihan Milo, setelah sarapan berakhir, Kara lebih memilih meraih syal dan jaketnya, juga beberapa lembar uang receh dan tasnya.
"Mau kemana ?" tanya Milo menatap tajam, melihat penampilan Kara, sepertinya gadis itu akan pergi, tanpa pamit dan ijin, mencurigakan.
"Terserah aku ! mau cari angin, disini sesek ga bisa nafas !!" jawab Kara mendengus sebal.
"Kamu ga boleh pergi, kemana ? mau janjian sama si Kenzo Kenzo itu ?" tanya Milo sengit memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Kara memicingkan matanya, tanpa ba bi bu, ia melangkah keluar, kesal dengan sifat posesif dan pemarah Milo, belum lagi negative thingkingnya.
"Kara !!!!"
"Caramelll !!!!"
Kara tak menggubris panggilan Milo, bahkan ia dengan sigap langsung turun ke lantai bawah.
"Dia mau keluar Ji, dia kan ga tau jalan !" sungutnya.
"Bagus kalo gitu, Kara ga mungkin pergi jauh, dia juga pasti mikir ko !"
"Arrghhhhh !!!" Milo meninju tembok beberapa kali, kesal.
Memang seperti itulah tuan muda, ada kesal dan keinginan yang tidak tercapai pelampiasannya si tembok yang kokoh menjadi korban samsaknya.
"Biar saya ikuti den, " ucap Tara.
"Iya ikutin aja ka, nanti kabarin aja !" pinta Jihad.
"Loe harus ngerti karakter Kara, Mil..dia sudah sangat menekan ego. Aslinya dia pun meledak ledak. Kara butuh ruang untuk bernafas, dia pun butuh kehidupannya sendiri tanpa loe yang selalu curigain dia, " Jihad mengajak Milo duduk.
Meraih minuman kaleng dari dalam kulkas dan memberikannya pada Milo.
"Harusnya Kara ga tahan gue tadi buat nonjok tuh anak, berani beraninya cari alamat Kara, " kesal Milo masih berapi api.
__ADS_1
"Terus kalo udah loe tonjok, bisa bikin loe puas?" tanya Jihad.
"Sedikitnya, " jawab Milo. Jihad berdecih menggelengkan kepalanya.
"Ji, gue mau keluar sebentar !" ucap Milo.
"Kemana ? ga usah nekat deketin Kara, " Jihad mewanti wanti.
"Engga, " gelengan kepala Milo.
Milo memang tidak mencari Kara, karena memang sudah dipastikan Tara sedang mengawasinya, setidaknya ia lega akan hal itu, Milo bukan tidak tau jika selama ini Kenzo selalu mencuri curi memperhatikan Kara, atau sekedar menatap Karanya lekat. Mereka juga sering ke kedai bersama untuk istirahat.
Mengingat itu kepala Milo berdenyut. Milo melirik sebuah tempat bernama Mountain bar, tanpa berpikir panjang, pemuda ini langsung masuk ke dalamnya dan memesan jenis minuman kesukaannya jika sedang ruwet macam sekarang. Sungguh keeputusan yang salah.
Kara sedang duduk saja bersama secangkir coklat panas yang ia beli dari cafe tak jauh dari apartmentnya, hanya terlewat beberapa kompleks saja.
Kara dengar disini coklat panas dan cakenya terbaik, makanan manis akan membantu moodnya kembali membaik.
Milo benar benar telah merusak mood liburannya. Matanya nyalang ke arah cup coklat panas, menerawang jauh ke Indonesia, kira kira jam segini ibu dan ayahnya sedang apa ? ahhh mungkin masih tidur, perbedaan waktu yang cukup lama membuat perbedaan gelap terangnya langit Indonesia dan London.
Tara memperhatikan Kara dari kejauhan, ia tak berani mendekat, yang dibutuhkan Kara saat ini adalah sendiri, ruang untuknya sendiri.
Sampai Tara melihat Kara yang sudah terlihat ceria kembali, ia baru berani mendekat.
"Saya boleh ikut duduk non, " Kara mendongak.
"Eh ka Tara ?! disuruh ngikutin ?" tanya Kara celingukan mencari sosok lainnya, namun tak menemukan.
"Engga non, inisiatif sendiri. Takut nanti nona lupa jalan pulang !" kekeh Tara.
Kara tertawa, "saking kesalnya sampe lupa kalo gue ga tau jalan."
Ditengah asyiknya mengobrol dan menikmati coklat panas bersama Kara, ponsel Tara bergetar nama Jihad tertera disana.
"Hallo ?!"
"Ka Tara, dimana ? tahan dulu Kara jangan sampai pulang dulu, gue lagi mau coba bawa bocah tengil ini balik dulu ! dia malah mabok lagi !" ucap Jihad, Tara melirik lirik ke arah Kara lalu mengiyakan dan menutup sambungan telfonnya.
"Kenapa kak? siapa? pasti Milo kan ? bilangin gue masih marah, ga mau ketemu dulu !" Kara mencebik dan membuang mukanya, terlihat sekali wajahnya yang masih kesal.
.
.
__ADS_1
.
.