Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Jalanan Milik Berdua


__ADS_3

"Masih mau?" tanya Kara.


Milo meringis sambil menggeleng, perutnya sedikit ngilu, Kara cocok juga jika ikut ekskul taekwondo, pukulannya bisa membuat telak lawan lawannya. Gadis ini memang tidak memiliki urat kawat tulang besi layaknya gatot kaca, tapi tangan kecilnya berbekal sarapan ceplok telur setengah matang memberikan energi yang cukup untuk meninju perut dengan otot liat itu.


"Maaf lama ya? abisnya pak Dahlan ngajak kencan dulu, tapi ku bilang aku udah ada yang punya !!" kekehnya. Kara memutar bola matanya jengah, sikutan tadi rupanya kurang, buktinya pemuda yang menggenggam tangannya ini masih saja belum waras.


" Uhhh merana hati dedek, liat mas Milo ditemenin mulu, jiwa jomblo gue meronta ronta !!" seru Arial membuat simpul di sepatunya. Bulu bulu halus kakinya dibiarkan memanjang, abg yang sudah melewati mimpi b@$@h ini bilang ga berbulu ga macho.


Milo melemparnya dengan handuk kecil, mengajak Kara untuk duduk di kursi pinggiran lapang.


"Kalo gitu ga usah idup !!!" jawab Erwan.


Kean dan Raka yang melompat lompat dan berlari kecil hanya menyimak para kontestan stand up comedy ini saling berbalas celotehan.


"Mil, gue mau ngomong sebentar !!" ajak Raka menjauh dari keramaian. Sepertinya keduanya berbicara serius, mataku menyipit melihat keduanya di kejauhan. Terlihat raut wajah Milo pun menajam, apapun itu Kara berharap Milo baik baik saja.


Milo kembali, betapa cepatnya ia merubah air mukanya, "by, tunggu disini dan nikmati permainan si tampan dan sexy ini ya !" ucap Milo.


"Uhhhh mas sexy katanya !!" seru Kean meledek sedangkan gadis ini berdecih ria,


Hari ini ekskul basket hanya 2 jam, Milo menghentikan kegiatannya, ia tak mau terlalu memforsir tenaga. Karena sebentar lagi akan diadakan turnamen antar sekolah seperti biasanya. Sekolah ini selalu mengikuti turnamen ajang gengsi itu setiap tahunnya. Milo dan keempat temannya sedang selonjoran di tengah lapang, melakukan pendinginan. Dirasa sudah cukup sepi Kara mendekati mereka membawa minum.


"Nih !!"


"Thanks by, "Milo membuka dan meminumnya.


"By, kamu bisa main basket ?" tanya Milo, Kara menggeleng.


"Ga bisa dan ga suka !!" ucap Kara, Kara tak terlalu suka dengan aktivitas fisik, ia lebih cenderung memilih kegiatan yang menguras otak saja.


Milo berdiri dari duduknya meraih tangan Kara, yang baginya sudah sangat nyaman untuk ia genggam, sepertinya memang tangan Kara diciptakan untuk Milo.


Lalu Milo mengambil bola basket.


"Eh..mau ngapain?" tanya Kara.


"Pegang !"


"Coba ikutin aku, ini namanya tekhnik dribbling !!" dengan mahirnya Milo mendribble bola, di depan Kara. Dalam urusan pelajaran Kara boleh saja cepat tanggap, namun beda urusannya dengan olahraga, ia akan lebih memilih rebahan dan menyelam ke dalam alam mimpi, bertemu dengan arjuna impiannya.


"Aku ga mau ahh, ga bisa lah !!" jawab Kara membuang bola ke sembarang arah. Beberapa kali ia memantulkan bola basket tapi ujung ujungnya malah menjadi bahan tertawaan keempat makhluk yang tak ada akhlak di depannya, keempat cowok tampan yang sedang selonjoran ini hanya menjadi penonton yang bersorak saat ada moment menarik.


"Ayo coba dulu ! jadi pacar Milo harus bisa basket, by!" jawab Milo.


"Kalo gitu aku pensiun, ka Arial gantiin aku !!" jawab Kara asal, di kekehi yang lain.


"Coba dulu Ra, " lirih Raka.


"Coba deh, Ra ! pasti bisa !" pinta Kean dan Erwan. Keempat cowok ini malah menjadi pemandu sorak pribadi Kara.


Milo mengambil posisi di belakang Kara, seperti sedang memeluk. Kara merasakan detakan jantungnya seperti sedang berada di acara hajatan, dag dig dug tak jelas.

__ADS_1


Aroma parfum maskulin Milo menguar di indera penciuman Kara, meskipun ia berkeringat tetap saja, parfum mahal tidak akan seperti pewangi sachet di warung warung, yang jika dijemur di bawah terik matahari maka wanginya akan menguap ke langit dan hilang.


Tangannya menuntun tangan Kara untuk mendribble bola, detakan bola di lantai lapang seirama dengan degupan jantung Kara, jika tadi pagi Milo yang tak fokus, kali ini Kara lah yang tak fokus dengan ajaran Milo. Bukan karena ia yang tak suka basket, tapi cara Milo mengajarkannya, dirasa cukup ekstrem dan membuat kulitnya meremang.


"Aku ga bisa !" manyun Kara.


"Coba dulu, gini !! terus lempar coba !!" pinta Milo.


"Ekhemmm !!! ko gue yang gerah ya !!" ucap Erwan malu sendiri.


"Mas Milo yang sweet sweet moment gue yang pilu. Mupeng gue !!!" komentar Arial meratapi nasib kejombloannya. Hari gini cowok ganteng harusnya udah sold out.


"Gue cabut lah, gue ga mau jadi love disini !!" Kean berdiri, sedangkan Kara jadi salting di depan mereka.


"Loe bertiga salah, yang kaya begini tuh bahaya buat ditinggalin kalo cuma berdua, takut se*tan lewat !!" jawab Raka.


"Ya berarti loe lah Ka, mereka berdua, lah orang ketiganya loe !!" ucap Arial.


"Saravvvv !!" Raka melempar botol air mineral kosong. Memutuskan ikut bangkit, ia tak mau menjadi orang ketiga sendirian.


"Ehhh mau pada kemana?" tanya Kara.


"Biarin aja mereka pulang by, berarti tinggal kita berdua !" seru Milo melesatkan bola basket masuk ke ring.


"Iya loe berdua, tau tau di gerebek pak Rt !" jaaab Arial.


"Gampang, tinggal kawinin aja !!" jawab Milo dengan santainya. Gadis ini manyun kesal, mulut Milo memang tak ada saringannya, semua kata lolos begitu saja.


Milo menyambar jaketnya, dan menarik resletingnya. Ia akan mengantarkan princessnya ini pulang terlebih dahulu, "mau pulang sekarang?" tanya Milo, melihat jam tangannya masih pukul 4 sore.


.


.


"Kapan kalian mulai masuk seleksi dan lomba antar sekolah?" tanya Kara, suaranya berpacu dengan angin jalanan. Gadis ini sudah tak canggung lagi memeluk perut Milo, tentu saja lelaki ini tersenyum senang. Entah kenapa punggung ini sandarable untuknya, dan perut ini begitu pas dipeluknya.


"Lusa, mau nonton?" tanya nya.


"Jam berapa emangnya? kalo jam sekolah ga bisa kayanya !"


"Iya sih, lusa aku dispensasi. Gini aja nanti kalo tim sekolah masuk final kamu datang buat nonton !" pinta Milo. Gadis ini mengangguk, "oke, aku bakal datang !"


"Janji??" Milo melepas tangannya di stang motor mengacungkan kelingkingnya, dan Kara menyambutnya. Bagaimanapun sekarang, ia sudah berjanji untuk datang. Tapi sesaat kemudian Kara cemberut, mengingat Nina adalah tim cheers sekolahnya. Pasti gadis cabe cabean itu akan ada disana juga.


"Ada ka Nina ya?" tanya Kara, Milo mengangguk.


"Ada, kenapa?" tanya nya balik, Kara menggeleng. Gadis ini tak mau Milo merasa diatas angin jika tau ia tidak menyukai kalau Nina berada dekat Milo, apalagi Kara tidak berada di samping Milo.


"Cemburu?"


Kara langsung melotot, bukan karena kesal tapi karena tebakan Milo tidak salah.

__ADS_1


"Ngaco !!" kilah Kara, sampai kapan Kara menghindari dan menyangkal perasaannya hanya ia sendiri dan Tuhan yang tau.


"Terus kenapa tanya Nina?"


"Engga apa apa, cuma nanya aja !" jawab Kara diplomatis, lagu lama kalau orang cemburu tapi gengsi. Tandanya sudah kehabisan kata kata untuk menjawab.


"Kenapa??? mau titip pesan??" tanya Milo.


Kara mengerutkan dahinya jadi beberapa lipatan, "pesan?? buat siapa?? buat ka Nina??" tanya Kara berdecih, malas saja.


" Kali aja mau disuruh sampein pesan buat Nina,"


"Pesan apa? aku ga sedekat itu sama ka Nina!"


"Pesan, jangan deketin Milo dalam jarak 5 meter !!" jawab Milo terkekeh, Kara mencebik.


"KEPEDEAN !!!" sarkas Kara, Milo terkikik.


"Pede itu penting by, tau buat apa?"


"Engga,"


"Buat dapetin kamu !!!" Kara berdecih.


"Ga percaya??" tanya Milo.


"Engga !!"


"Gue sayang sama loe Kara !!!" pekik Milo di tengah jalan yang banyak pengendara lainnya, bukan Kara saja yang tercengang melihat kegilaan Milo.


"Pletakk!!" Kara mengetuk helm lelaki tampan ini.


"Berisik, malu maluin tau ga!!" Wajah gadis ini sudah semerah tomat.


"Aku ga akan berenti sebelum kamu bilang sayang juga sama aku !!" Milo kembali berteriak begitu, sampai sampai orang orang melihatnya, kasihan sekali usia masih muda, tapi sudah tidak waras.


"Gue sayang sama loe Caramel !!!" pekiknya lagi, Kara sudah tak bisa menahan malu, jika ada kresek hitam atau tong, mungkin Kara sudah menutupi mukanya. Ini bukan pede, tapi malu maluin.


"Gue sayang ...!!!" belum Milo mengatakannya lagi, Kara menepuk pundaknya, "cukup, cukup !!"


"Say it baby !!"


Kara menarik nafas panjang, "Gue juga sayang loe Armilo !" bisik Kara. Milo tersenyum, "apa ???!!! ga kedengeran !!"


Kara sudah sangat kesal dibuatnya, "gue juga sayang loe Armilo !!! puas !!" Kara berucap lantang.


"Hahahaha puas," jawab Milo. Serasa jalanan kota Bandung hanya milik berdua.


.


.

__ADS_1


.


hay hay gengs, maaf baru update..kebetulan mimin sudah beberapa hari sedang mendapat berkah sakit, semoga bisa menjadi penggugur dosa mimin ya guys... jadi maaf baru update ya 😊😊.


__ADS_2