Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Kenakalan remaja


__ADS_3

"BUBARRRRR !!!!" pekik pak Dahlan.


"NGAPAIN RAME RAME DISINI !!!"


Begitu suara itu menggema turun dari singgasana ruang gurunya, seketika sekumpulan penonton membubarkan diri bak semut yang disiram air.


Mereka berlarian menyelamatkan diri sendiri, begitupun Milo yang langsung melompat turun dan menarik Kara dari lapang menuju taman belakang sekolah.


Sambil tertawa lepas, Milo berlari menarik Kara yang malah terlihat kesal.


"Enak kan by, ngerasain jadi anak nakal...dikejar kejar sama guru !" ucap Milo. Kara meminta berhenti karena capek.


"Stop...stop...capek !" Kara berhenti, tapi bukannya setuju Milo malah menggendong Kara.


"Pak Dahlan masih di belakang, " dengan sekali hentakan Kara sudah berada dalam gendongan Milo.


"Modussssss !!!!" pekik Kara menggoyang goyangkan kedua kakinya meminta turun, dan Milo terkikik.


"Hoffff ! lumayan juga lari sambil gendong kamu, bikin keringetan !" tawa Milo. Kara memukul Milo sekerasnya.


"Modus !! buaya ! bilang aja mau gendong gendong !" sarkas Kara yang sudah duduk di bangku taman, Kara menyingkirkan dedaunan kering diatasnya.


"Untung aja ga salah gendong bu Mira !" jawab Milo duduk di bangku taman dan menyenderkan punggungnya, menengadahkan kepalanya ke langit yang masih berwarna biru bercampur putihnya awan.


Milo membuka matanya menoleh ke arah gadis yang sedang manyun.


"Ga usah cemberut, aku minta maaf by, " ucapnya mencubit pipi gembung Kara.


"Udah kumaafin ko, aku udah tau dari ka Raka waktu hari itu juga ! aku cuma mau isengin kamu aja !" jawab Kara terkekeh.


Milo langsung menegakkan posisi duduknya.


"Apa??!!! hm, nakal !!" Milo menggelitikki Kara, tentunya gadis itu berontak melawan kegelian.


Tangan Milo masih memeluk Kara, mencium aroma Kara begitu memabukkan. Aroma strawberry dari rambutnya menyumbat penciuman Milo, membawa pemuda itu melintasi langit ke tujuh, aroma kayu putih dan bedak bayi membuat Milo kecanduan akan wangi ketenangan.


"By, " Kara yang tak berjarak mendongak perlahan.


"Sebentar lagi aku lulus, aku ga akan ada di sekolah ini, jangan nakal, jangan coba lirik lirik cowok lain," ucapnya kali ini serius. Kara baru menyadari kalau sebentar lagi, cowok oon nan kamvreet ini sebentar lagi akan lulus dan meninggalkan sekolah ini, tempat dimana mereka dipertemukan dan menikmati masa putih abu abu bersama.


Kesedihan menyeruak di rongga dada, ternyata tingkah absurd Milo akan menjadi satu kerinduan yang membuat hati berlubang. Ia akan rindu laki laki yang selalu berbuat onar, rindu mengusilinya, rindu saat ia bertingkah menyebalkan, ataupun sekedar menjadi perhatian seluruh penghuni sekolah. Tidak dipungkiri, Milo cs lah yang memberi warna di sekolah ini...


"Semua sudah kulewati, balapan liar di masa masa SMA, main ke night club, bully orang, berantem, sampai bersaing...dan yang terakhir aku sudah menemukan sesuatu yang hilang..." ucap Milo.


"Apa itu ?" tanya Kara.


"Tulang rusukku, " jawab Milo pelan.

__ADS_1


"Hubungan kita ga sweet by, diawali dari kebencian, diawali dari tersakiti, saling membalas, saling mengutuk. Ijinkan aku minta maaf atas itu semua sama kamu," Kara sudah menumpukan dagunya di pundak Milo, rasanya terharu saja. Jika ditanya saat ini Kara menangis, iya..gadis itu menangis..kenapa? jawabannya pengen aja !


"Aku sayang kamu by, "


"Tau, " cicit Kara, Milo tertawa kecil.


"Aku sayang bangetttttt, "


"Tau, " jawabnya lagi, membuat pemuda ini semakin gemas dibuatnya.


Milo menegakkan wajah Kara yang sudah menjejakkan sisa sisa air mata.


"Nangis?"


"Ko tiba tiba aku jadi kangen sama kamu, padahal orangnya ada disini," jawab Kara, tangan Milo terulur menghapus pipi lembut Kara dari sisa air matanya.


"Aku tunggu kamu lulus, kita sama sama ke London.." jawab Milo.


Kara mengangguk.


"By, mau nambah pengalaman jadi anak nakal bareng pacar ngga?" tanya Milo.


"Apa?!" tanya Kara. Milo menelan salivanya berat melihat bibir semerah ceri milik Kara, rasanya dengan melihat bibir tipis itu Milo jadi ingin menyelaminya, menyecap rasa manisnya bibir ceri Kara. Bibirnya yang tak pernah terjamah sentuhan, bahkan sentuhan tangan lelaki sekalipun. Bibir lembab yang mampu membuat siapapun lelaki yang melihatnya akan bertekuk lutut untuk memintanya.


Sapuan lembut nafas Milo membuat kulit Kara meremang, deru nafas Kara membuat Milo seketika lupa dimana mereka berada, untung saja suasana sepi dan mendukung.


Sejurus kemudian, Milo mendaratkan kecupan di bibir ceri yang lembab itu, membuat si empunya melotot, namun terdiam membeku.


"Manis, kaya buah ceri," kekeh Milo mengusap sisa basah di tepian bibir Kara dengan ibu jarinya.


"Sadar oyyy !" Milo menepuk nepuk pipi gadis itu dan tertawa tergelak.


"Ihhhh !!!" saat kesadarannya berkumpul Kara memukul mukul pemuda yang masih tergelak itu.


"Itu tadi apaaa !!!!" pekik Kara.


"Itu namanya soul kissing !" jawab Milo. Kara menunduk berniat melepas sepatunya, Milo yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya buru buru mengambil langkah seribunya. Mencuri first kiss seseorang ternyata mirip mirip nyolong ayam tetangga. Ngeri ngeri sedep.


"Milooooo !!!!" Kara sekali lagi berlari mengejar Milo.


"Aduhhh, berasa India indiaan. Tuh pak Dahlan ngamuk !" sarkas Raka dan Jihad.


Kara memukul mukul punggung Milo, hingga Milo mengaduh namun tertawa.


"Kenapa sih ?!" tanya Ica, tak mungkin Kara bilang pada semuanya.


"Gue abis nyuri ceri orang !" jawab Milo, Kara menginjak kaki Milo dan melotot ke arah kekasihnya yang baru saja mencuri first kissnya itu.

__ADS_1


"By, katanya mau ikut nakal sama pacar sekali kali ?!" pekik Milo saat Kara beranjak menuju kelasnya.


"Ga usah ngajak ga bener," ledek Jihad.


"Bodo !!!" sarkas Kara.


"Ga pengen nyobain kabur waktu jam pelajaran ?" tanya Milo menghampiri Kara.


"Ga minat !"


"Beneran ? Raka bilang keonaran yang tadi ada sangkut pautnya sama kamu loh !" jawab Milo.


"Masa ?! ga mungkin deh kayanya, kan kamu sama yang lain yang tampil, " jawab Kara, sebenarnya Kara tak yakin tapi percaya diri saja dulu, jangan perlihatkan jika kamu sedang ragu.


"Bener kan Ka?" tanya Milo.


"Yoi, "


"Raka, Jihad ?!" Kara melotot mendengar suara pak Dahlan. Begitu mudahnya gadis ini ditipu, Kara menarik Milo dan berlari.


"Mamposss !!!" umpatnya.


"Dih, cuma digertak gitu gampang banget ditipunya," yang lain tertawa dengan kepolosan Kara.


"Aduh ga kuat lah capek ! nafas aku udah senen kemis !" ucap Kara berhenti, sedangkan senyum jahil Milo semakin mengembang, sebutlah ia iblis usil yang meracuni otak bersih Kara dengan kenakalan kenakalan remaja.


"Mau coba madol?" tanya Milo.


Kara menggigit bibir bawahnya, ragu. Tapi tak menolak saat Milo menarik tangannya dan mengajak gadis itu ke pinggir sekolah.


"Takut jatuh yank, " ragunya.


"Aku bantu kamu manjat, kamu duluan, nanti aku bantu turun juga !" ucap Milo. Awalnya Kara ragu, tapi ia mencobanya.


Ia naik ke tumpuan tangan Milo, dengan sekali sentakan Kara sudah berada di atas tembok sekolah, Milo yang ikut naik lalu turun duluan, ia dibawah siap menangkap Kara.


"Ayo by, turun !" Tangannya sudah siap.


Hap !!!!


Kara jatuh ke pelukan Milo.


Kedua remaja ini menyetop taksi entah kemana tempat tujuan madol mereka.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2