
Perbedaan bahasa dan budaya sedikit banyaknya mempengaruhi kelancaran Kara berkuliah.
"Sini aku bantu, " tawar Kenzo.
"Eh, thanks..." jawab Kara.
Senyum gadis ini memang memabukkan, membuat hati adem. Jangankan seorang Kenzo yang baik dan ramah, seorang Armillo saja bisa bertekuk lutut pada Kara.
"Aku traktir kopi di cafe depan kampus ! tapi jangan yang mahal mahal, " kekeh Kara.
"Setuju !!" jawab Kenzo.
"Jangan kopi, lambungku nanti kumat, aku coklat panas aja !" jawab Kenzo. Di tengah cuaca dingin seperti ini, sesuatu yang hangat memang dibutuhkan.
"Woahhh ! samaan kita !" jawab Kara setuju, karena ia pun memfavoritkan coklat panas, apalagi buatan Milo.
"Ra, mau nanya ?" ujar Kenzo, keduanya berjalan bersama menuju ke luar gerbang kampus dengan saling menguarkan hawa nafasnya, asap dari dalam mulut menandakan bahwa suhu udara disini memang dingin.
"Nanya aja, gratis !" jawab Kara.
"Itu yang sering bareng loe cewek siapa?" tanya Kenzo.
"Ka Tara ? dia orang yang nemenin aku selama disini," jawab Kara, Kenzo berohria.
Kenzo dan Kara berdiri di depan meja kasir untuk memilih menu dan memesan, Kara terkadang berjinjit untuk menunjuk jenis menu yang akan dipesan, membuat Kenzo gemas dan tertawa.
Tangannya terulur ingin mengusili Kara. Entah kenapa semakin kesini Kenzo semakin penasaran dan tertarik pada Kara.
Keduanya sudah duduk di salah satu meja yang menghadap ke arah jendela, Kara masih fokus dengan bukunya dan sesekali melirik Kenzo agar tak dikira mengabaikan teman.
"Ra, ga pengen jalan jalan keliling London ?" tanya Kenzo, sebenarnya iru hanyalah basa basi untuk mengajak Kara jalan keluar bersama.
"Ada sih, tapi entar aja bareng yang lain...sekarang sekarang masih sibuk, " jawab Kara. Kenzo memberengut, rupanya susah mengajak gadis ini jalan. Kara memang gadis yang sulit untuk ditaklukan.
"Wah ini coklat enak banget, apalagi di tengah cuaca dingin gini !" gumam Kara mencecap rasa coklat panas yang diminumnya.
"Iya, apalagi kalo diminum sama orang yang disayang, makin anget," kekeh Kenzo, Kara tertawa ia mengingat jika ia bersama Milo memang hangat tapi lelaki itu usil dan mesum. Sedangkan Kenzo memang sengaja berucap agar Kara peka.
Kenzo tertawa melihat kumis yang diciptakan oleh sisa coklat yang menempel di atas bibir Kara.
"Cewek cewek berkumis, " ucap Kenzo.
"Hah ?! mana ?!" Kara segera meraih tissuenya, ingin ia membantu Kara, tapi gadis itu menolak. Kenzo semakin dibuat penasaran, perempuan jaman sekarang langka yang enggan disentuh lelaki. Budaya barat disini apalagi, teman dengan teman saja tidur bersama. Kenzo mengakui dirinya tampan, dan mudah untuk mendekati perempuan, bule saja bisa ia gaet apalagi gadis lokal pikirnya.
"Ra, loe udah punya seseorang ?" tanya Kenzo.
Kara mengangkat alisnya sebelah, " di hidup gue banyak orang !" jawab Kara.
"Maksud gue..."
Drrtt....drrtt....
"Assalamualaikum ka Tara ?" jawab Kara. Bahkan suara sapaan itu saja mengalun lembut dan merdu di telinga Kenzo.
"Ken, aku duluan ya. Ka Tara udah jemput, " ucap Kara seraya beranjak.
__ADS_1
"Oke Ra, see you !" jawab Kenzo.
Senyum Kara mengembang, ternyata bukan Tara yang menjemput, tapi Milo.
"Katanya ka Tara yang jemput, "
"Kejutan, maaf ya akhir akhir ini aku jarang antar jemput. Di kampus tugas numpuk !" jawab Milo mengecup kening Kara. Gadis itu mengangguk, karena ia pun sama.
"Aku mau ajak kamu ke satu tempat !" ajak Milo.
"Kemana ?!" tanya Kara excited.
Kara berseru seperti anak kecil, dan melompat lompat kegirangan. Jembatan yang menjadi Landmark di kota London, Inggris.
"Tower Bridge !!!" seru Kara.
Milo tertawa mengacak rambut Kara dan mencubit pipinya gemas.
"Sejak datang kesini, kita belum sempet jalan jalan, makanya di sela sela kesibukan kuliah aku ajak kamu kesini," jawab Milo.
"Makasih, makasih, makasih !!!" Kara memeluk Milo senang, sontak saja Milo bahagia, jika hanya hal sederhana begini saja bisa membuat Kara nya senang, maka ia akan melakukannya setiap hari.
"Kiss nya mana ?" tanya Milo.
"Mesum, " cebik Kara, Kara hanya mengecup pipi Milo sekilas.
"Ga usah ngarep lebih, ini di luar !" jawab Kara sudah berlari ke depan, agar dapat melihat pemandangan yang membuat takjub.
"Masyaallah ! ibu, ayah...cita cita Kara terwujud !" gumamnya.
"Apanya ?!" tanya Kara membalikkan badannya dengan tatapan penuh interogasi.
"Kiss, " jawab Milo.
"Kamu dikasih jantung minta ginjal !" jawab Kara dan Milo tertawa renyah, sejak kejadian first kiss itu, Milo kecanduan, ia tak bisa melupakan moment itu, meskipun mencuri first kiss Kara di saat saat jam pelajaran, rasanya tetap emejing.
"Bibir kamu bikin candu, " jawab Milo, Kara sudah menghadap kembali ke depan sungai.
"Apalagi barusan abis minum coklat panas, " jawab Kara.
"Hah ?! kalo gitu sekarang kita pulang !" ajak Milo menarik tangan bermantel tebal itu.
"Ihhh, apaan ?! ga mau !" gelengan kepala Kara cepat.
"Harus mau, "
"Engga, sana sama Jihad aja !" jawab Kara asal.
Milo tertawa lepas, sudah tak waraskah gadisnya ini, menyuruh kekasihnya sendiri melakukan soul kissing dengan Jihad yang merupakan laki laki.
"Tuh...tuh by, otak kamu udah beku karena dingin, yu pulang kita angetin pake coklat panas, " tawar Milo.
"Ga apa apa, aku mau disini sampe badan aku jadi es !" jawab Kara.
"Gemes banget, pengen nyulik..." jawab Milo.
__ADS_1
"Sayang, "
"Hemm?"
"Udah jam makan siang, aku lapar !" rengek gadis ini.
"Ya udah ayook pulang, ka Tara masak masakan Indonesia, " getol Milo mengajak Kara.
"Kamu mau ngapain sih ngajak ngajak pulang terus !" kesal Kara.
"Suka pura pura dalam perahu !" Milo memeluk dan mengangkat tubuh Kara lalu memutarnya hingga gadis ini cekikikan minta berhenti.
"Udah !! malu maluin ih, katrok !!" tawa Kara.
"Sayang, habis ini kita mau kemana?" tanya Kara.
"Pulang, tadinya aku mau ajak kamu ke satu tempat lagi, tapi berhubung kamu ngomongin coklat panas, jadinya aku mau pulang !" jawab Milo.
"Aaaahhhh, kenapa ga jadiiii ?" rengek Kara.
"Aku udah ga mood !" tolak Milo jumawa menggoda Kara, agar Kara masuk dalam perangkapnya.
"Ayoo ihhh ayooo..." Kara menggoyang goyangkan lengan Milo.
"Coba bujuk, rayu aku dulu !" pinta Milo.
"Emh, gimana ya rayunya..aku ga bisa !" rengek Kara.
"Terserah, sampai aku luluh !" jawab Milo.
"Aku kirimin makan malam ke apartment mu?!" Milo menggeleng dengan mulut yang melengkung plus tangan yang dilipat di dada.
"Aku kerjain tugasnya ?" tawar Kara lagi, Milo kembali menggeleng.
"Aku traktir lunch, besok ?!" tanya Kara, lagi lagi Milo menggeleng.
"Emhhh, apa ya !" Kara mengetuk ngetuk keningnya dan menggigit bibir bawahnya yang mungil membuat Milo semakin kepayahan menahan sesuatu yang meletup letup ingin ia lakukan sedari tadi.
"Kiss...aku mau soul kissing lagi !" jawab Milo.
Kara langsung menutup mulutnya, dan bergegas kabur.
"Babyyyy !!!" pekik Milo tersenyum, pemuda itu mengejar gadisnya di jembatan iconic kota London.
.
.
.
.
.
Maaf ya guys tiap hari aku update ko, cuma dari kemaren ko proses review nya susah banget, padahal ceritaku yang lain gampang buat lolos review...dimohon bersabar dan memaklumi sistem ya guys 🙏🙏
__ADS_1