Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Pencerahan Al Kahfi


__ADS_3

Kata kata Raka berhasil membuat Kara galau, bukankah bagus kalau Milo pergi, dengan otomatis ia tak usah repot repot menghindar. Lebih cepat dan mudah, kaya slogan salah satu rumah pegadaian. Secepat itukah Milo melupakannya?? Kara mendengus, matanya memanas. Sejak kemarin ia begitu cengeng. Ia memilih masuk saja ke perpustakaan, siapa tau dengan membuat otaknya menerima asupan pelajaran sampai luber, dan mengasahnya sampai ngebul kaya nasi panas, akan membuatnya lupa dengan hubungannya yang rumit, serumit kalo naik motor pake rok span terus kondean ala putri kerajaan.


Di tempat lain, Milo sudah sampai di pasar, ia juga sudah memulai aksinya dan berhasil membuat si empunya tempat muncul.


"Ada masalah apa?? sampai lari dan menyalahkan Bandung?" tanya Rama.


"Ga usah jadi turis yang nyebelin, datang ke kota orang terus bikin onar, apa Jakarta ga cukup gede buat loe rusuhin?" tanya Rama.


"Ga !" jawab Milo singkat sambil meneguk air mineral dingin, ia mengguyur kepalanya, untuk mendinginkan otaknya yang sudah panas bak kawah gunung, tinggal di taruh telur di atas kepalanya, pasti matang.


"Ayo ke rumah !" ajak Rama.


.


.


Milo menyipitkan matanya melihat seorang perempuan.


"A, itu !!" tunjuk Milo.


"Kenalin itu Narasheila Caramelia Al Kahfi !" jawab Rama, seorang perempuan cantik, yang menatap Milo asing.


"Ga usah ngada ngada nambahin nama orang sama nama loe !" dengus Milo, ia mengusap wajahnya, apakah kini wajahnya berubah, 2 kali ia berkelahi dua kali juga wajahnya kena bogeman mentah.


"Gue ga ngada ngada, ck !" Rama menoyor kepala Milo.


"Ga usah lama lama mandangnya, cowoknya marah !" ucap Rama.


"Siapa, boleh juga a..cantik ??" tanya Milo sambil terkekeh, tiba tiba Rama menarik tangan Milo dan menjabatnya.


" Kenalin, Ramadhan Restu Al Kahfi, calon ayah dari anak anaknya dia !" ucap Rama.


"Si@*lan loe !! bilang aja bini loe ! loe ga undang gue a !"


"Udah gue undang tapi bi Asih bilang loe lagi nyusulin Juwita ke luar kota, ketemu om loe yang lagi sakit. Oh ya apa kabar om Braja ?" tanya Milo, keduanya tengah mengobrol di taman depan, dengan Rama yang sedang mengelapi si jagur, mobil kinclong pun masih tetap di lap, cicak saja minder buat ngeden disitu.


"Baik, " jawabnya singkat. "Oh, sorry ya gue ga datang a!" jawabnya.


"Ga apa apa, lagian anak kecil dilarang datang !" jawab Rama santai.


"Ngejek !" sarkas Milo.

__ADS_1


"Takut kebelet kawin !" Rama tertawa.


"Kamvreett gue dah dewasa dah 18 taun ! udah masuk dewasa !" sewot Milo.


"Abah mana a?" tanya Milo.


"Abah ga ada !"


"Ke masjid ?" tanya Milo.


"Engga, " jawab Rama menggelengkan kepalanya.


Memang Milo dekat dengan abah haji, ayah dari Rama, juragan daging ini sudah seperti ayahnya sendiri.


"Itu abah, tadi loe bilang ga ada ! tunjuk Milo, melihat abah melintas di dapur menggoda ambu yang sedang membuat camilan.


"Kalo lagi sama ambu dia bukan abah," jawab Milo menggosok gosok polet yang sedikit terkelupas. Milo mengernyitkan dahinya.


"Kalo lagi sama ambu dia Shahrukh khan !" jawab Rama.


"Saravvv loe !"


"Iya lah dia itu kekasih dunia akhirat nya ambu, ambu kan selalu bilang kalo lagi nonton film bollywood, kalo pas si shahrukh khan adegan, itu kabogoh ambu !!" seru Rama menirukan ambu yang selalu heboh jika melihat idolanya itu, (kabogoh \= pacar). Milo selalu bisa tertawa jika sedang bersama Rama ataupun keluarganya, mereka layaknya keluarga kedua baginya, hangat.


"Kenapa?? mau bilang kenal?? pernah liat di iklan??" tanya Rama menyeruput jus jeruknya.


"Narasheila Caramelia Al Kahfi !" jawab Rama. Tak sedetik pun Milo tak mengingat Kara, seperti Tuhan sengaja membuat Milo tak bisa melupakan gadis cantik berpenampilan cupu itu, namanya saja selalu ada dimana ia berada. Milo mendengus, menertawakan otaknya yang sableng.


"Ga usah disebutin belakangnya, gue bosen ! tuh nama udah kaya tabu a, diucapin !" kekeh Milo.


"Itu nama hoki ! hokinya bawaan haji Nawir !" jawab Rama sama gilanya.


"Tuh cewek di pelet apa a, sampe mau sama loe, yang otaknya geser gini !" kelakar Milo.


"PELET IKAN ! rumus pelet gue nih, jangan kasih kendor !!! gas terus !! kalau memang loe yakin dia memang yang terbaik, kenapa harus dilepas, " jawab Rama.


"Kalo dianya ga mau ?" tanya Milo.


"Come on men, semua cowok tuh basic modalnya sama, punya 2 mata, satu hidung, 2 telinga, kaki sama tangan, yang membedakan itu niat dan akal dan kegagahan pedang arthurnya !" jawab Rama.


"Niat, kalo loe memang cinta buktikan sama tuh cewek loe mampu buat jadi pelindungnya, loe mampu buat jadi alasannya hidup. Akal, putar otak loe gimana caranya supaya tuh cewek mau sama loe ! kalo bisa loe culik, loe bawa ke rumah hantu !!" Milo yang tengah serius tiba tiba tersentak dan menautkan alis tebalnya.

__ADS_1


"Saravvv, mau diapain ?" tanya nya.


"Loe ancam,mau ditinggal disitu atau jadi pacar loe, cewek lama kelamaan luluh ko kalo cowoknya gigih ! basic loe cukup mumpuni ko, mata loe 2 idung loe satu, telinga loe 2, kaki tangan oke ! dan pedang arthur loe..." Rama terkekeh usil melihat ke arah celana Milo.


"Gue ga yakin gagah !!" angguk Rama memerhatikan Milo.


"Njirr, si@*lan loe a, gede punya gue daripada punya loe !" jawab Milo sewot.


"Tinggal niat dan akal loe, ada nilai plusnya loe cukup ganteng meskipun masih dibawah gue ! loe juga tajir, kecuali kalo loe makhluk Cyclope. Udah pasti dia bakal takut !" jawab Rama.


Rama memang benar, meskipun dikemas dengan kata kata yang kamvreet,


"Justru dia ga nerima gue karena gue tajir a, dia minder dan menarik diri. Karena tante Marsya juga !" Milo mengeratkan kepalannya.


"Cuma gara gara begitu doang kalian sampe nyerah?? kalo cuma gara gara hal sepele kaya gitu kalian udah nyerah, mendingan kalian pake popok lagi deh sembunyi di ketiak abah haji tuh !" tunjuk Rama dengan dagunya sambil beranjak karena Nara memanggilnya untuk makan.


"Tuh si cantik bidadari langit gue dah manggil buat makan ! yu ikut makan, siapin tenaga dan pikiran. Jadi pejuang cinta yang tangguh dan pewaris tahta itu butuh tenaga ! " ucap Rama. Suasana hati Milo membaik, bertemu Rama dan keluarganya memang pelarian yang tepat.Tadi siang abah yang menemaninya berbicara dari hati ke hati, masalah hubungannya yang ruwet bagai benang kusut dengan keluarganya.


"Loe pake apaan sih a buat gaet bini loe ?" tanya Milo penasaran, siapa tau dia bisa berguru.


"Batagor ! sama gandeng Allah, buat minta salah satu hambanya yang cantiknya, masyaallah!" jawab Rama.


"Serius??" tanya Milo.


"Mau loe berapa rius, tanya aja orangnya ! emang tuh batagor mujarab kalo di barengin sama do'a ibu !"


"Sayang, suapin ya !!! i'm coming !! daddy datang !!" pekik Rama membuat Milo menggelengkan kepalanya, apakah menikah membuat panglima perang jalanan mendadak gila. Jika iya kenapa mengerikan ??


Saat hendak masuk ke dalam, ponsel Milo berdering. Panggilan masuk dari Raka.


"Iya ka, "


Ada senyuman tersungging di bibir Milo, ia akan kembali memperjuangkan si cupu menggemaskan kesayangannya.


" Besok gue balik Ka, " Milo mematikan panggilannya, dan membatalkan pesanan hotelnya saat itu juga.


Melihat Rama bak bayi besar yang manja pada istrinya membuat Milo semakin merindukan Kara, ia ingat..bila bersama Kara pun begitu, sifat Nara sama seperti Kara, jutek, tapi manja dan polos.


"Ra, gue ga bisa buat ninggalin loe ! maafin gue yang ga bisa lepasin loe, Ra !


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2