Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Satu kesatuan


__ADS_3

Suara sirine polisi terdengar, seketika membuat panik semuanya. Sudah seperti debu yang ditiup dan berterbangan, begitulah mereka semua.


"Cabut !!" Milo menarik tangan Kara, agar naik ke motornya, begitupun yang lain.


"Ini gue sama siapa ??!" pekik Ica kebingungan, seperti sedang terjadi letusan gunung berapi dan mereka harus segera menyelamatkan diri. Ayu yang ikut bersama Jihad, berlari menuju mobil menoleh, rasanya manusia absurd yang bersamanya kurang satu.


"Ca !! loe mau ikut balik, apa mau nginep di kantor polisi kaya P*SK ketauan lagi tawar menawar harga ?!" pekik Jihad.


Malam itu menjadi malam yang bersejarah untuk Ica dan Kara, melihat balapan liar untuk pertama kalinya, dan dikejar kejar polisi, juga untuk pertama kalinya.


Jihad segera menunjukkan kemahirannya melajukan mobil, dengan tekhnik drift.


"Gilaaa !! seru !! gue udah mirip aktris film film balapan !! tapi berasa kaya waria yang gebukin pelanggannya, dikejar polisi kaya abis maling tabung gas melon !" cerocos Ica berseru semangat. Sedangkan Jihad hanya fokus menyetir.


"Wahahahaha bunda gue keren !" pekik Ayu.


"Loe berdua berisik tau ngga, heboh banget, makanya maen tuh ke luar, jangan mainin bola bekel mulu !!" jawab Jihad.


Datang dalam sebuah kesatuan, sedangkan saat genting mereka memecah diri, memang hubungan persahabatan bagai kamvreett yang tak bisa dipisahkan.


Kara yang memeluk perut Milo posesif, masih menenggelamkan wajahnya di punggung Milo. jantungnya serasa diajak naik roller coster. Padahal motor sudah berhenti.


Milo tertawa, membiarkan gadis ini lebih lama memeluknya.


"Saking nyamannya aku, ya by ?" tanya Milo membuka helmnya. Kara membuka sebelah matanya, setelah tau motor sudah berhenti, ia kemudian melepaskan tautan tangannya. Milo menahan tangan Kara yang masih melingkar di perut sixpacknya.


"Biarkan kaya gini dulu by, " ucap Milo.


"Bukan muhrim, nanti kalo di gerebek warga gimana?" tanya Kara.


"Grebek aja, aku siap !" jawab Milo, tanpa melihat wajah gadis ini yang melongo dibuatnya. Sepertinya posisi calon CEO tak cocok untuknya, yang berotak cetek dan lebih mirip bapak bapak hidung belang kalo lagi kepergok mesum.


"Dih, pasrah !" jawab Kara. Milo mengajak Kara duduk di sebuah warung pinggir jalan.


"Bu, susu coklat satu sama kopi susu !" ucapnya, Kara nya perlu diberi minuman manis nan hangat, melihat wajah Kara masih terlihat pucat berkat aksinya barusan, sepertinya kadar gula dalam da*rah Kara menyusut drastis, si ibu mengangguk. Pacaran ala rakyat di waktu darurat begini, lumayan asik juga. Milo menepuk dan membersihkan bangku sebelahnya, meminta Kara duduk di sampingnya.


"Sini duduk !" pintanya. Tak ada cafe mewah ataupun makanan mahal. Hanya sebuah warung pinggir jalan dengan minuman sachet an. Apa tuan muda ini yakin? jika Kara tak usah ditanya, minuman sachet an warung begini, sudah menjadi konsumsinya sehari hari. Jangan sampai nanti pulang dari sini, mereka malah berakhir di wc umum karena Milo yang mengalami men*cr3t tak biasa dengan minuman rakyat jelata macam dirinya.


"Kenapa?" tanya Milo, melihat Kara yang menatapnya heran.


"Engga, yakin..minum disini?" tanya Kara.


"Yakin ! dipikir hidupku seperti tuan muda di istana megah? kalo gitu kamu salah besar !" jawab Milo.


"Gladys adalah gadis lugu dan cupu kaya kamu !" celetuknya meraih setiap gelas belimbing berisi pesanan keduanya. Kara menaikkan alisnya tinggi, rupanya anak buah roy kimochie ini, tau apa yang menjadi kegundahan hatinya. Bagus lah ! besok besok jika Kara menginginkan sesuatu ia tak usah repot repot memberitahukannya, cukup berfikir dan menatap mata Milo, maka pemuda ini akan tau isi pikirannya.


"Apa yang kamu simpulkan setelah melihatku tadi?" tanya Milo harap harap cemas, menunggu jawaban Kara kaya nunggu hasil ujian.


"Aku takut sama kamu !" kata kata itu lolos dari mulut Kara.


"Aku takut, jika sewaktu waktu aku melakukan kesalahan, maka kamu pun akan begitu sama aku !" jawabnya lagi. Milo menunduk, memegang tangan Kara dan menatap mata yang tak ada kebohongan di dalamnya.


"Maaf, kalau kamu harus melihat semua itu, bantu aku..untuk tak menjadi seperti itu lagi !" jawab Milo.


"Caranya?"


"Cintai aku, tetap di sampingku by, " jawabnya. Obrolan berat, seberat beban hidup masyarakat yang tak punya bpjs.


"Obrolan kamu berat sayang !" jawab Kara menyeruput minumnya.


"Seberat kata i love you !!" jawab Milo,

__ADS_1


"Uhuukk ! Kara tertawa.


"Ko berat? emang kata i love you nya berapa banyak ?" tanya Kara.


"Menuhin pasokan udara di bumi !" jawab Milo.


"Lapar ga?" tanya Milo. Kara baru ingat jika tadi ia hanya makan sedikit.


"Lapar !!" seru Kara.


"Aku juga lapar, saking laparnya sampe bisa makan kamu !" ucap Milo. Kebetulan sekali gerobak sate lewat di depan mereka.


"Sateee !!"


"Mas, sate nya bikin 2 porsi, tapi dibikin jadi satu piring aja !" pinta Milo. Tukang sate ini mengangguk heran, dasar anak muda pikirnya. Do so an romantis, padahal pipis saja belum lempeng.


"Ko ?!" bingung Kara.


"Biar 2 jadi 1 by, kaya kita.." jawab pemuda ini menaik turunkan alisnya.


"Kepenuhan nanti dipiringnya, nanti tumpah tumpah !" omel Kara.


"Ko tau !!" tunjuk Milo mencolek hidung Kara. Sontak saja gadis ini mengernyitkan dahi, apa harus ia meminjam obeng, dan menyetel ulang otak pemuda di sampingnya ini.


"Apanya yang tau sih !"


"Ko tau, kalo sayang aku sama kamu sampe tumpah tumpah," jawabnya lagi. Masih waraskah otak pemuda ini. Ataukah Kara harus mengguyur kepalanya, memakai saus kacang milik pedagang sate di depannya. Jangankan Kara, mas mas pedagang sate saja rasanya ingin muntah dar*ah mendengar gombalan uang kembalian sayur ini alias receh. Setelah ini mas mas pedagang sate ini, akan berguru pada Milo untuk menggombali istrinya di rumah, agar jika saat ia pulang dengan membawa uang yang sedikit, ia tak harus tidur di luar.


"Kepala kamu tadi ga kebentur kan sayang?" tanya Kara meneliti kepala Milo, pasalnya Milo yang bersamanya ini berbeda jauh dengan Milo yang tadi memukul Ivan dan Rayhan.


Milo memicingkan matanya, "bersyukurlah kamu wahai pacarku yang polos, karena aku pandai merayu dan menggombal, jadinya hari hari kamu lebih berwarna !" Milo menangkup wajah Kara hingga pipinya terjepit seperti bakpau, membuat Kara mendorong jidat Milo dengan kedua jarinya.


"Misi mas, mbak..satenya sudah jadi. Mau pake sambal?" tanya tukang sate yang memiliki kumis melintang bak gantungan baju bi Asih.


"Ga usah pedes pedes mas, mulut cewek saya lebih pedes timbang sambel sate !" jawab Milo, Kara menepuk pa*ha Milo keras.


"Awww !!" aduhnya.


"Tuh kan mas, " seru Milo mengusap pa*hanya yang nyut nyutan.


"Mas..mas.. saya mau kasih info, cewek saya cantik, tapi galak ! " bisik Milo pada kang sate. Bisa di dengar Kara maupun kang sate.


"Kalo malem jum'at..suka nya makan orang ! ati ati aja !" tambah Milo sudah ingin tergelak dari tadi. Menggoda Kara adalah suatu kewajiban untuknya dan hak Kara adalah menerimanya.


"Mas, mas..tau ga ! kalo cowok buaya begini, biasanya ga berumur panjang ! " jawab Kara. Si mas kang sate hanya kebingungan berada diantara sepasang kekasih yang absurdnya tak tertolong lagi. Jika ada kamera cctv, maka ia akan melambaikan tangannya ke kamera.


"Ndak mbak !"


"Astaga by, do'anya !!" Milo berdecak.


"Tau kenapa??" tanya Kara lagi, kang sate itu menggeleng.


"Soalnya mulut buaya dia, enak dijadiin gantungan kunci ! berisik mulu, kapan makannya ??!" sarkas Kara. Gadis ini sudah berbinar melihat lelehan saus kacang diatas lontong dan daging bakar ini. Baru akan meraih sendok, Milo memgambil sendoknya satu, lalu memberikannya pada kang sate.


"Mas, ini ambil aja satu..lumayan, itung utung penghematan air sama sabun !" ucap Milo, Astaga ! seberapa mahalnya harga sabun pencuci piring satu tetesnya?? pikir Kara.


"Lah !! ko dikasiin, terus aku mau makan pake apa??" tanya Kara.


"Cukup satu sendok aja ! biasanya juga kan kalo makan bekal, sendoknya cuma satu, " secara tak langsung mereka sudah bertukar air liur.


"Sini, aku yang suapin kali ini !" Milo meraih sendok yang hanya ada satu. Kara merengut, kang sate hanya tersenyum menggelengkan kepala, salah ia lewat sini..hanya menjadi obat nyamuk muda mudi yang kehabisan obat macam keduanya.

__ADS_1


"Segini cukup ngga?" Milo menunjukkan potongan lontong yang ia sendok.


"Kenapa ga sekalian aja pake sendok tembok?" jawab Kara, lihatlah berapa potong lontong yang ia sodorkan. Bisa mati tersedak Kara jika begini, ia merebut sendok yang ada di tangan Milo.


"Sini, biar aku aja !" jawab Kara sudah mengerucutkan bibir, ujung ujungnya gadis ini juga yang menyuapi Milo. Bisa bisanya lelaki ini saja, menggodanya.


"Kamu loh yang mau suapin aku, bukan aku yang maksa kamu !" alibi Milo.


"Iya, " jawab Kara tak mau ambil pusing, demi kesejahteraan jiwanya dan kang sate. Jika bukan sedang mode angel begini mungkin semua tusuk sate ini sudah menancap di bahu kekar Milo.


"Kamu sadar ga by, kalo kita sering ciuman?" Wajah Kara memerah dengan pertanyaan random Milo, di depan orang lain pula.


"Kapan??!" seru Kara tak terima.


"Lah ini !! kalo makan, otomatis kita udah tukeran air ludah ! " jawab Milo, menunjuk sendok yang dipegang Kara.


"Masa sih ?!" tanya Kara mulai ragu dengan kepintaran otaknya.


"Tau gitu, besok besok ku kasih pelet dulu air liruku by," jawabnya terkekeh.


"Ko aku ga sadar sih, tau gitu aku makan dulu obat ! " seru Kara.


"Kenapa?"


"Takut alergi !" tawa Kara puas.


.


.


Keduanya sudah selesai makan, Milo juga sudah membayar harga sate plus ongkos dokter untuk kang sate, karena sudah mau melihat dan mendengarkan ocehannya malam ini. Untung saja kang sate ini sudah mau menjadi orang ketiga diantara mereka. Jika tidak, malam ini..keduanya harus bermalam di balai desa.


"By, apa kamu ga penasaran dengan Gladys?" tanya Milo. Kara mencoba tenang, ia memang tidak se kepo Ica ataupun Jihad. Bukan berarti ia tak peduli, tapi lebih menghormati privasi Milo.


"Kalo ga mau tau, bikin aku mati besok ga sih?" tanya Kara, Milo terkikik, hampir saja ia memuncratkan saus kacang dari mulutnya.


"Aku memang sedikit terusik dengan hal ini. Tapi aku menunggu kamu yang menjelaskannya sendiri, tanpa ada kebohongan," jawab Kara.


"Oke, aku bakal jelasin. Makasih, udah ngasih kesempatan buat jelasin," jawab Milo, tanpa harus ada drama kejar mengejar, dan tampar menampar.


"Dengarkanlah kekasih tampanmu ini by, Gladys adalah temanku sewaktu jaman smp, dia sama sepertimu korban bullyanku, hampir setiap hari aku mengusilinya, sampai satu waktu aku usilin dia sampe dia telat pulang dari sekolah." jelas Milo.


"Waktu itu kejadiannya setelah ujian smp, dia ku kerjai buat bersiin ruang kelasku, karena memang besoknya jadwalku piket. Dia pulang telat ke rumahnya, aku ga sempat anter atau awasin dia pulang, seperti biasanya. Karena memang jadwalku berlatih muay thai. Ga disangka dia memilih pulang lewat jalanan sepi, ditambah jalanan itu banyak berandal jalanan, dia...diperk*os@ by, " jawab Milo menunduk.


"Astaga !!" Kara terkejut.


"Besoknya dia ga sekolah, tapi orangtuanya yang datang ke rumah, minta pertanggung jawabanku dan papah." jawab Milo.


"Apa dia ???" Kara membentuk kedua tangannya seolah menggembung di depan perutnya. Milo menggeleng,


"Engga, engga sampe...yang kutau info dari Raka, kalau dia, diam diam suka sama pacarmu yang gantengnya kebangetan ini !" lanjut Milo.


"Terus ??" tanya Kara memutar bola matanya jengah, bukan Milo jika tidak narsis.


"Papah, menganggung biaya sekolahnya, sebagai bentuk tanggung jawab, dia juga pindah dari kota ini ! hanya saja sebelum pergi, dia bilang kalau akulah yang menodainya. Sumpah by, senakal nakalnya aku, aku masih menjaga dan tau batasannya. Tak mungkin aku melecehkan perempuan, aku masih punya ibu yang juga seorang perempuan, "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2