Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Mengulangi kisah tragis


__ADS_3

Kara meminta berhenti dari kejauhan sebelum sampai di rumahnya.


"Stop, yank !" menepuk punggung Milo.


"Kenapa by ?" tanya Milo membuka helm fullfacenya.


"Sampai sini aja, aku tau dia pasti bakalan ngira kamu juga ikut ! aku pulang sendiri dulu, kamu jagain aku dari jauh aja dulu, bukan apa apa..aku takut ibu diapa apain," ucap Kara frustasi. Gadis itu turun dari motor. Milo ikut turun,


"Oke, aku jaga jaga dari sini, tapi handphone mu jangan dimatiin, biar aku bisa denger kalian ngomongin apa !" Milo menelfon nomer Kara, jadi mereka saling berhubungan, Kara mengangguk.


Milo menarik Kara, "kamu tenang ya, jangan takut ! aku disini, ikuti saja maunya dia..kita ada, buat jagain kamu !" ucap Milo mengecup pucuk kepala Kara.


"Hati hati, " Kara mengangguk, gadis itu berjalan menuju ke arah gang rumahnya. Milo memundurkan motornya dan bersembunyi.


Kara beberapa kali meloloskan nafas berat.


"Baby, it's okey aku disini !" dari ujung telfon.


"Iya, aku udah mau sampe rumah !" Kara menyimpan ponselnya di kantung samping tas ranselnya. Di luar rumahnya ada seorang lelaki, sepertinya ia bersama Gladys, dari hal itu saja Kara bisa melihat ada niatan buruk dari Gladys.


"Assalamualaikum !" Kara masuk, karena rupanya pintu rumah terbuka,


"Waalaikumsalam, " Kara bernafas lega melihat ibunya baik baik saja.


"Nak, ko ijin ? kan masih sekolah ?!" tanya ibu.


"Iya bu, ga enak ada tamunya Kara, " jawab gadis itu. Melihat senyum menyeringai dari Gladys membuat Kara merotasi bola matanya.


"Ibu loe baik Ra, sayang ibu gue udah ga ada. Senengnya punya ibu kaya ibunya Kara !" Gladys dengan tak tau malunya ingin memeluk bu Hani.


"Itu yang diluar sama loe? kenapa ga disuruh masuk?" tanya Kara, seakan ingin memberitahu Milo jika Gladys tak sendiri.


"Iya, itu bodyguard gue, kiriman papahnya Milo. Ga nyangka ya beliau sesayang itu sama gue !" serunya, membuat Kara jengah. Sayang ??! Kara mengangguk angguk kepalanya.


"Bu, jadi tadi gitu bu...masa Milo nuduh aku..fitnah aku di sekolah, Milo masih ngejar ngejar terus Kara bu, kalo kesini bilangin dong bu, suruh tanggung jawab dulu sama aku !" rengek Gladys pada ibu Kara. Apa maksud gadis ini, datang kesini hanya untuk merengek pada ibu Kara.


"Dys, bisa kita bicara sebentar ?!" Kara menarik tangan Gladys ke luar rumah.


"Maksud loe apa sih?? loe sakit, apa gimana? loe punya kepribadian ganda atau apa sih?!" geram Kara. Gadis itu tertawa menakutkan, tapi sedetik kemudian ia menyendu dan sedih.


"Loe tuh beruntung Ra, punya ibu yang baik, temen temen yang siap bela loe kapan aja, ayah yang mengayomi dan yang jelas loe berhasil membuat Armillo jatuh cinta sama loe, sedangkan gue?! " Air mukanya bisa berubah drastis secepat itu menjadi menajam dan penuh kebencian.


"Gue harus terhin4 ! semua orang ga ada yang sayang sama gue ! gue sendiri ! gue direndahkan ! gue harus mati matian buat hidup kaya orang orang famous lainnya. Kaya loe, kaya Juwita..." Ia tertawa lagi.


"Gue kini udah berhasil, gue kaya ! gue bisa jadi eksis, dan selangkah lagi gue dapetin Milo, dapetin kasih sayang ibu loe ! kemaren gue dah berhasil ngancurin Juwita lewat Rayhan ! dan sekarang gue ingin loe merasakan apa yang gue alami dulu Ra, " ucapnya.


"Maksud loe ?!" Kara sudah mencium bau bau kecurigaan. Gladys memegang selembar kertas dan melemparnya pada Kara.


Gadis itu membacanya, alisnya menukik dan bertaut. Ternyata nama ayah Vio tergantikan nama Gladys di daftar donatur sekolah dimana tempat ibu Kara mengajar.


"Gue tinggal minta kepala sekolah buat pecat ibu loe dari sekolah !" sekolah sd tempat ibu Kara mengajar memanglah sekolah swasta.


"Apa ?!"


"Ayah Vio adalah salah satu sugar daddy gue, sayangnya dia di bui Milo.." jawab Gladys.

__ADS_1


"Gampang aja, loe ga pengen gue ngelakuin itu, ikut gue sekarang. Gue ga akan macem macem ko. Cuma mau nunjukkin loe sesuatu !"


Kara berfikir yang penting ia bisa menjauhkan segera gadis gilak ini dari rumahnya, ingin sekali saat ini ia mengumpati Gladys dengan penghuni kebun binatang. Ia hanya berharap Milo mendengar dan mengikutinya nanti.


"Loe pengen tau kan? dari mana gue dapetin semua uang yang kini gue punya ?!" tanya Gladys.


"Oke gue ikut ! tapi jangan lakuin apa apa sama ibu sama yang lain !" jawab Kara.


"Tas loe ! simpen tas loe ! kita bukan mau sekolah !" dengan berat hati Kara menyimpan tasnya, sebelum benar benar menyimpannya ia mendekatkan ke arah ponselnya.


"Kali ini aku takut !" ucap Kara ke arah ponsel.


"Bu, Kara keluar bentar ya !" ijinnya.


"Mau kemana? ganti dulu seragamnya !" pinta ibu.


Kara sudah mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan t shirt.


Kara berjalan menuju mobil Gladys, ibu Hani sebenarnya merasa ada yang aneh dengan Gladys dan Kara. Ia segera menelfon Milo, tapi Milo masih tersambung dengan Kara. Lalu ia menelfon Jihad, mengatakan kalau Kara pergi dengan Gladys.


"Shittt !!! Gladys bawa Kara !" ucap Jihad, mereka tengah berada di dalam kelas, menunggu kabar dari Milo ataupun Kara, tapi mereka malah dikejutkan dengan telfon dari bu Hani.


Saat melihat Gladys membawa Kara, Milo melihatnya, ia langsung menelfon teman temannya.


Kara diam hanya melihat jalanan, "tumben mulut loe diem?!" kekeh Gladys.


"Terus mau loe, gue ngomong apa?" jawab Kara sinis.


"Dys, ada motor yang ngikutin kita !" ucap teman laki lakinya.


"Yo, loe turun disini..nih ongkos buat loe naik taksi ! beresin dia ! calon suami gue ga boleh liat gue bawa nih cewek kemana !" lanjut Gladys.


Gladys menurunkan temannya Aryo. Kara menoleh ke belakang, terlihat Milo yang ditahan dan berkelahi dengan Aryo, warga sekitar yang melihat memisahkan, tapi mobil Gladys semakin menjauh.


Pemuda yang memakai pakaian preman ini tiba tiba menghadang Milo, dan menendang motor Milo, Milo turun.


"B4ngks4t !!!! mau main main sama gue !" Milo menghantamnya dengan pukulan pukulan telak. Jika hanya seorang preman begini saja, enteng untuk Milo. Aryo melawan tapi pukulannya tak pernah mengenai wajah ataupun bagian tubuh Milo lainnya, malah ia yang kembali tersungkur. Warga sekitar yang melihat memisahkan keduanya.


"Dia pak, dia nendang motor saya !" tunjuk Milo pada Aryo.


"Gladys bawa Caramel kemana?" tanya Milo hendak kembali menonjok Aryo, ia sudah meraih kerah baju Aryo, tapi di tengahi warga. Aryo hanya tersenyum, ia berhasil mengalihkan perhatian Milo, saat warga lengah Aryo lari dari sana dan naik ke angkutan umum.


"Br3ngks3k !!" Milo lalu menelfon lainnya.


Jihad dan yang lain berhasil ijin dari sekolah berkat Raka. Mereka pergi ke tempat Milo.


"Mil, mana Kara?!" tanya Ica sudah panik. Wajah yang biasanya ceria berubah pias dan panik.


"Argghhhh !!!" Milo mengacak rambutnya sendiri.


"Cewek itu yang nyuruh Rayhan buat ngancurin loe, Ta !" pekik Milo,


Tiba tiba saja Gladys melakukan video call pada Milo,


"Gladys !" gumam Raka melihat ponsel Milo. Terlihat di sana, Kara yang ia paksa untuk melakukan apa yang ia mau.

__ADS_1


"Hay sayang ! hay guys...ternyata lagi kumpul !!" seru Gladys terlihat senang dan puas.


"B4ngks4t !!! balikkin Caramel !!" seru Ica.


"Utu..tutu...si kaleng rombeng marah marah ! gue cuma mau kalian liat thriller film biografi gue aja ko ! biar kalian tau kisah hidup gue, dan pemeran utama disini Caramel ! yeyyyy!!" serunya.


"Dys !!! gue minta loe lepasin Caramel ! dia ga tau apa apa !!" ucap Milo.


"Uhh sayang, udah kubilang aku bakalan bikin kamu mohon mohon kan ?!" jawabnya.


"Hey guys siapkan pop corn and watch it !" Gladys mengarahkan kamera ponselnya ke arah Kara.


Ayu dan Ica menutup mulutnya saat Gladys menyiramkan air ke tubuh Kara, lalu melemparkan tomat ke arah badan Kara.


"Ini yang dulu gue dapetin Ra, di bully dan diketawain !" Kara hanya bisa menghela nafasnya.


"Kara !!" Ica sudah hampir menangis.


"Gladys ! loe cari mamposss !!" pekik Jihad.


"Itu di jalan mana Ri ?" tanya Milo.


"Itu kayanya jalan melati, tkp Mil !" jawab Rial.


Mereka langsung menyusul dimana Kara berada. Ponsel Milo yang masih berlangsung video call dipegang oleh Ica yang ikut di mobil Juwita.


"Kalo emang ini yang dulu Milo lakuin sama loe, dan loe ingin balas..gue terima dys, asal loe puas !" jawab Kara memegang tubuhnya yang basah.


"Oke lanjut !! disini awal kehancuran hidup gue, Ra !" jawab Gladys.


Beberapa preman menghadang Kara di sebuah gang yang sepi. Kara mengerjap, ia berfikir apa yang harus ia lakukan untuk bisa keluar.


"Kara !!!" Ica sudah berteriak histeris.


"Kira kira apa ya? yang bakal loe lakuin, kalo ada di posisi gue waktu itu ?!"


Kara tak gentar, ia mencari cari balok kayu atau senjata apapun, setidaknya walaupun ia tak mahir bela diri, tapi ia akan berjuang mempertahankan kesucian dan kehormatannya. Kara menemukan balok kayu. Gadis yang basah kuyup ini langsung berlari meraihnya. Hanya ada 3 preman disana.


"Bertahan baby !" gumam Milo.


Tak ada gentar di wajah Kara, ia berlari menerjang para preman dengan tekadnya. Ia melayangkan balok itu secara memb4bi but4, seraya berlari dan mencari celah untuk kabur, Kara sudah dipegang seorang preman lalu dilemparkan hingga Kara terjatuh, tapi tak kehilangan akal, Kara yang sudah terlempar dan dijatuhkan menendang kepemilikan' si preman itu hingga ia merintih. Kara bangkit ia ingin berlari.


"Kara !!! awas !!" ucap Ayu.


"Bukkk !!" Kara tersungkur, kaki gadis itu di seret.


"Aaaaa !!" pekik Kara, tapi tak menyerah kakinya terus saja melawan, tak semudah itu Kara menyerahkan harga dirinya sebagai wanita. Hingga tangan Kara meraup tanah dan melemparnya tepat di mata si preman, Kara bangun dan berlari. Akhirnya Kara berhasil keluar dari gang itu, Gladys terlihat geram, karena Kara tak naas seperti dirinya.


"Ya Allah, untung temen gue bar bar !" ucap Ica lega.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2