Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Aku ikut...


__ADS_3

Kara masih syok, ia menggigil kedinginan. Tangan Milo menggenggam kedua tangan yang beku ini.


Tak peduli dengan keadaannya, yang sudah basah kuyup juga. Bahkan rambutnya saja masih meneteskan air. Kara memang tak bisa berenang, ia pun trauma atas kejadian yang dulu pernah menimpanya, bermain di sungai dekat rumah dan ikut hanyut. Untung saja, ayahnya segera menolong. Tergulung arus sungai masih selalu menjadi memori yang menakutkan.


"Baby, Juwi sedang ambil baju mu yang tadi !" ucap Milo, untung saja bajunya sebelum ganti masih ada di mobil Juwita.


"Ca, Yu...bantu Kara..gue mau ganti baju juga !" Milo beranjak.


"Baby, aku tinggal sebentar ya !" Kara mengangguk.


"Ra, loe ga apa apa kan ?!" tanya Ayu dan Ica khawatir.


"Gue ga apa apa guys, gue cuma syok aja..inget kejadian waktu gue masih SD, hanyut di sungai !" jawabnya. Jihad membawakan pakaian yang Juwita berikan ke kamar berkelas Suite di lantai paling atas hotel.


"Ra, loe ga apa apa kan? " Jihad berjongkok di depan Kara, melihat keadaan alah satu temannya ini.


"Ga apa apa gimana??! ga liat Kara udah pucet gitu !" sarkas Ica menepuk bahu Jihad.


"Gue tau Ca, maksud gue.. ga kerasa pusing atau mual gitu !" jawab Jihad.


"Mual ? difikir hamil !"


"Heuu...ngomong sama dia tuh musti pake kesabaran level dewa ! itu kolam kan ada kaporitnya Ca, bikin pengen muntah !" jelas Jihad.


"Loe berdua malah pada ribut, balik sana ! ribut nya di ring tinju aja !" usir Ayu.


"Thanks Ji, " ucap Kara.


"Ya udah, nanti ada pelayan nganterin coklat panas. Gue tinggal dulu !"


.


.


Ica tak bisa diam, kelakuan orang kelas menengah ke bawah ya begini,


"Ca, loe bisa diem ga sih?" tanya Ayu. Tubuh Ayu ikut memantul di ranjang empuk hotel.


"Kapan lagi coba Yu, " kekeh Ica.


"Ga usah malu maluin deh Ca, " tambah Kara keluar dari toilet berganti pakaian.


"Pake ginian juga loe tetep cantik Ra, " ujar Ica. Simple cukup dress selutut dan jaket levisnya.


"Gue ga ngerti deh, maksudnya tuh cewek uget uget apa coba?!" heran Ica.


"Ya pengen jahatin Kara lah Ca ! apa lagi ?!" jawab Ayu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, heran saja, apa orang orang itu tidak pegal? berdiri beberapa jam sambil mengobrol tak jelas, duduk pun dengan posisi tegap. Jika ia, mungkin lama lama tulangnya menjadi seperti robot, kaku.


"Guys..pernah mikir ga sih, kita tuh kaya 3 kampret yang nyangkut di hotel mewah?" tanya Kara pada kedua temannya. Ketiganya tertawa, mendengar pertanyaan Kara, dan memang dipikir pikir benar juga.


"Loe yang kampret Ra, gue mah engga !!" kilah Ica.


Tok..tok..tok...


"Itu mungkin coklat panasnya Ra !!" seru Ica.


"Dih, yang terjun ke kolam siapa, yang semangat minum siapa !" decak Ayu.


"Makasih !" jawab Ica, pada karyawan hotel.


.


.


"Ra, udah jam sembilan ini !" ucap Ayu. Kara melihat jam di ponselnya.


"Iya Yu, balik yu Ca !" ajak Kara.


"Lah, ga pamit dulu ?!" tanya Ica.


"Kayanya mereka belum selesai deh, balik aja sendiri yu, gue dah ngantuk !!" jawab Kara.Tak lama pintu terbuka, Milo yang sudah berganti pakaian masuk ke dalam.


"By, mau pulang sekarang?" tanya nya.


"Iya, udah malem juga..pamit dulu sama papahmu?!" jawab Kara.


"Ga usah, papah lagi sama tamu tamu nya !" jawab Milo.


"Lagian, udah pada pulang juga ko, sebagian..aku juga udah pamitin kamu sama papah !"


"Biar Ayu gue anter !" ujar Kean dari luar kamar,

__ADS_1


"Lah ! gue siapa yang anter ??!" Ica menunjuk dirinya sendiri.


"Loe naik becak aja Ca !" Kara merapikan penampilannya.


"Biar baju basahnya diurus sama pegawai, nanti !" lirih Milo.


"Gue anter Ca, " Jihad sudah memakai jaket ingin mengantarkan Ica.


"Loe pake jaket mau anter gue naik apa ?!" tanya Ica.


"Motor lah !" jawab Jihad.


"Hah??! masa iya ka Milo anter Kara pake mobil, Ka Kean anter Ayu pake mobil juga, lah gue pake motor !! "


"Terus loe mau dianter pake apa Ca, manja banget nih cabe cabean satu !" decak Jihad.


"Katanya horang kaya !! tapi ga modal !" tak tanggung tanggung, Ica menghardik lelaki satu ini yang malah tertawa.


"Udah udah ga usah ribut, udah malem juga !" lerai Kara.


"Ca, kalo loe ga mau dibawa Jihad pake motor, loe jalan kaki sampe rumah !" tambahnya.


"Yang bener aja Ra, ga liat nih rok gue ntar terbang terbang !! gue bukan cewek cepe pegang paha ya ! yang pa*ha nya kemana mana, dan mau an cuma diiming imingi naek motor balap doang, " omel Ica.


"Iya bawel, nemu dimana gue temen modelan loe?? temen loe nih Ra !!" kesal Jihad.


"Temen loe juga !" jawab Kara.


.


.


Mobil Milo berhenti di lampu merah, di samping mobilnya, berjejer motor balap, yang sama sama menunggu lampu kembali hijau.


By, makasih untuk hari ini... " ucap Milo, ia menyentuh rambut Kara, dan mebawanya ke belakang telinga Kara. Sedang asyik memandangi wajah Kara, di belakang kaca jendela mobil sana... ia menyipitkan matanya, kemudian matanya membola saat para pemotor itu mengenali mobilnya.


"Kenapa sayang?!" tanya Kara, ingin menoleh kebelakang. Namun, Milo menahan kepala Kara.


"By, telinga kamu berdengung ga, tadi kemasukan air kolam? " tanya nya mengalihkan perhatian Kara, menunggu sampai lampu kembali hijau.


"Shitttt !!" batinnya.


"Engga ko, ga apa apa," jawab Kara.


"Aku ga apa apain Vio, dia diurus Raka sama Juwita, jadi kalo mereka macam macamin Vio,, aku ga tau apa apa. Ga usah terlalu baik sama orang macam Vio !" jawab Milo dingin, Kara tau tak ada yang bisa menghalangi, jika Milo sudah berkehendak. Dan ia tau setidaknya apa yang akan Milo lakukan.


"Sayang, "


"Kamu tenang aja kenapa sih by, percaya aku ga lakuin apa apa ! " Milo mengusap pipi Kara. Di belakang Raka dan Juwi, ada titah sepaket titah Milo yang berkuasa. Tak menggunakan tangannya, namun tangan Raka dan Juwita.


"Ini perasaanku aja atau emang iya, itu pengendara motor..dari tadi liatin mobil kita !" Kara mulai curiga, Untung saja lampu hijau menyala.


"Milo !!" pekik mereka membuka kaca helmnya.


"Mereka manggil nama kamu yank !" ucap Kara menoleh ke belakang.


"Kamu kenal ?!" tanya Kara.


"Mungkin, mereka kenal aku tapi aku ga inget !" jawab Milo mencari aman.


"Oh, " Kara berohria saja.


Cepat atau lambat Kara pasti akan tau, dan Milo harus sudah siap untuk itu. Milo tancap gas di jalanan lengang malam ini. Untung saja semesta berpihak padanya malam ini. Setidaknya, ia belum siap untuk malam ini.


.


.


Kara dan yang lainnya sedang belajar seperti biasanya, tiba tiba Kara mendengar desas desus teman temannya. Mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Mereka ngomongin apa sih Yu, ko heboh banget ! lebih penting daripada pelajaran ya?" tanya Kara.


"Ga tau Ra, "


Lantas Kara menyender di bangkunya, "Ca, mereka lagi ngomongin apa sih ?! heboh banget ?!" tanya Kara pada Ica.


"Ngomongin tawuran antar sekolah Ra, " jawab Ica.


"Hah?! tawuran?? siapa Ca?" tanya Kara mengernyitakn dahinya.


"Anak anak dari sekolah kita lah ! siapa lagi ?!" jawab Ica.

__ADS_1


"Masa sih?? siapa aja Ca ?!" tanya Kara kembali.


Ica sedikit bingung, takut Kara marah dan terkejut.


"Tapi loe tenang dulu ya, ini baru katanya loh !" jawab Ica memajukan kepalanya. Ia berbisik di telinga Kara. Mata Kara membola, "seriusan ??!" Ica mengangguk.


Kaki Kara menggeretak tak mau diam, waktu istirahat kali ini benar benar ia nantikan setiap detiknya. Saat terdengar bell istirahat berbunyi, ia segera berlari keluar kelas.


"Ra !!!" pekik Ica,


"Kara kenapa?" tanya Jihad dan Ayu.


"Tadi Kara nanya, anak anak lagi pada ngomongin apa? gue jawab aja tawuran siswa, Kara nanya lagi siapa? gue jawab sekolah lain sama beberapa anak anak sekolah kita. Kara nanya lagi siapa? gue jawab...diantaranya ka Milo.." Ica memainkan kedua telunjuknya.


"Shittt !!!" Jihad dan Ayu ikut berlari mengejar Kara.


Kara mencari keberadaan Milo dan yang lain, mereka sudah tak berada di kelasnya. Ia mencari ke ruangan BK, tak ada siapapun, lalu ke ruang OSIS tapi ruang itu terkunci. Kara kembali berlari menuju ruang ekskul basket.


Kara berjongkok mengatur nafasnya,


"By, kamu ngapain?! kamu lari lari ?!" tanya Milo.


"Kamu abis ngapain? ada yang luka?" tanya Kara melihat Milo khawatir.


"Aku ga apa apa by, emangnya kenapa?"


"Plakkk !!!"


"Ga usah pura pura bo*doh ! aku tau kamu abis tawuran !" Kara menampar pipi Milo, yang masih bertanya dan berpura pura seakan akan tidak ada masalah.


"Siapa?! sekolah mana? ada masalah apa?" tanya Kara.


"Bukan apa apa by, cuma masalah.." Milo menggantung jawabannya.


"Balapan liar?" celetuk Kara, menatap getir pada Milo.


"Aku bisa jelasin by, " Milo meraih tangan Kara.


"Apa yang semalam itu, mereka coba ganggu kita?"


"Apa pertanyaanmu dulu sebelum aku ke Bogor, bukan hanya seandainya?" tanya Kara lagi, Milo tampak menunduk, karena semua itu benar adanya.


"Apa lagi? club malam?" tanya Kara. Ia bukan gadis bod*oh, tak mungkin hanya dengan uang bisa semudah itu mereka menyelamatkan Kara dan Ayu dari sana, jika tidak mengenal orang dalam.


"Apa lagi yang aku ga tau? apa orang kaya hobbynya memang begitu?" tanya Kara.


"Engga gitu by, " Milo meraih kedua tangan Kara.


"Aku bisa menyelesaikan semuanya, kamu tenang aja ya !"


"Bukan masalah selesai atau engga, tapi kamu... !!" tunjuknya di dada Milo.


"Apa yang kamu cari dan sampai kapan kamu begitu !"


"Hentikan semua sekarang juga ! ga ada manfaatnya melakukan itu semua !" jawab Kara.


"Apa tanggung jawab menjadi penerus Aditama, tak menghentikan kebiasaan burukmu ?!" tanya Kara lagi.


"Kapan kamu tawuran?" tanya Kara.


"Beberapa hari yang lalu, " cicit Milo.


"Gara gara apa?" tanya gadis itu menginterogasi.


"Uang taruhan,"


"Taruhan apa?" tanya Kara.


"Bapalan liar by, " cicit Milo.


"Apa??!" tanya Kara terkejut. Kara melihat raut penyesalan dari Milo, tapi sesuai cerita Jihad, kebiasaan Milo ini sudah mendarah daging dari smp. Jika hanya melarangnya, maka jelas jelas tak ada gunanya.


"Aku tau ini sudah menjadi kebiasaanmu, kalo gitu aku mau ikut setiap kamu balapan liar !" jawab Kara membuat Milo tercekat.


"Apa?? engga !" jawab Milo.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2