Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Hubungan antimainstream


__ADS_3

Kara mengerutkan keningnya beberapa lipatan macam roti croisant yang berlapis, ia sudah tak asing dengan suasana seperti ini, beri penghargaan untuk Milo karena untuk pertama kalinya, seorang pemuda mengajak kencan seorang gadis ke sebuah taman pemakaman umum. Ditambah, langit sudah menampakkan sinar kejinggaannya, menandakan jika matahari sudah mulai lelah, dan akan masuk ke peraduannya.


Jelas jelas matanya memakai kacamata, dan sangat terlihat tulisan gerbang di depannya itu TPU tempat pemakaman umum, bukan TPA, tempat pembuangan akhir. Walaupun sama sama akhir dari sebuah perjalanan. Apa harus ia mulai mengeluarkan kertas dan pulpen, lalu menyiapkan sesaji, kemudian bertapa di salah satu kuburan keramat yang ada disini.


"Ga usah ngada ngada deh, kamu ngajak aku kesini mau ngajak uji nyali atau cari nomer to*gel?!" seru Kara turun dari motor. Milo terkekeh, sesekali gadis dengan julukan gadis tangguh ini dikerjai tak apa kan?? tak akan membuatnya jadi banteng grand prix yang siap menyeruduk Milo kan?


"Kenapa, takut?" tanya Milo turun lalu membuka helm full facenya. Kara menggeleng, tapi wajahnya berkata lain.


"Yuu, ikut ! mau kuajak pesen kavling !" kelakar Milo tertawa melihat wajah pucat Kara. Tidak lucu, jika tiba tiba ada sosok putih dengan rambut panjang atau si kuncir mendekat, mengajaknya berkenalan. Mungkin Kara akan mendorong Milo untuk menjadi umpan, agar ada waktu untuknya lari, iya betul !! gadis ini mengangguk angguk.


Milo menarik tangan Kara, untuk masuk lebih dalam, "enak aja, aku belum siap mati !" tolak gadis itu.


"Emangnya pesen kavling mesti mau meninggoy? ini tuh investasi !!" jawab Milo memberi sentilan lembut di kening Kara, gadis ini manyun.


Sumpah demi apa !!! Milo sungguh tidak romantis, biasanya orang kencan di kasih bucket bunga dan coklat, tapi pemuda satu ini ngasihnya sertifikat kavling 2×1 meter sepaket dengan kembang kamboja.


"Ga romantis !!!" rajuk Kara menghentak hentakkan kakinya, membuat Milo tertawa geli. Namun, tak urung mengajak Kara masuk.


Kara merinding melihat gundukan tanah yang beberapanya masih ada sisa sisa bunga segar, pertanda makam ini masih baru atau baru dikunjungi.


Mereka berjalan terus melewati beberapa blok, berharap adegan romantis yang di dapat malah jadi adegan horor begini. Semerbak wangi bunga kamboja dan sedap malam mengusik penciuman terbawa angin. Kara mengeratkan pegangannya di lengan Milo, membuat Milo semakin tergelak.


"Kalo takut ga usah gengsi, bilang aja sama mas sayang mu ini ! sini berlindung di ketekku yang wangi " ucap Milo tertawa, Kara menepuk bahu cowok tampan tapi absurd ini, seumur umur ia tak akan melupakan kejadian bersejarah ini, bahwa kencan dengan pacar pertamanya ini di kuburan. Emejing, kalo kata anak anak generasi micin bilang. Minta di timpuk sendal se rt nih cowok...pikir Kara.


Mereka berhenti di salah satu blok dengan gerbang tersendiri, tampak lebih VIP dari kuburan lainnya, di sebelahnya ada rumah penjaga TPU.


"Pak Diman??" sapa Milo pada seorang lelaki yang ubannya hampir menutupi warna hitam rambutnya, di depan sebuah rumah.


"Den Milo, " lelaki itu mendekat dan Milo salim.


"Sehat pak?" tanya Milo.


"Alhamdulillah !" jawabnya.


Kara menarik narik jaket Milo, "Sayang, dia siapa?? apakah pegawai administrasi pemakaman?" tanya Kara.

__ADS_1


Milo mengulum bibirnya, "pak, mau tengok mamah !"


"Oh mau ziarah?? monggo atuh den, " jawab pak Diman, membungkuk mempersilahkan.


Kara bengong, mamah? ziarah?? beonya.


Langkah Kara dan Milo masuk ke salah satu kompleks pemakaman yang hanya ada beberapa makam yang sudah di pasangi keramik saja bagian padung namanya.


"Miranti Sanjaya" nama yang tertera cantik diatas batu marmer hitam. Dengan taburan bunga yang tampak segar, sekuntum bunga mawar merah berada tepat di tengah tengah pusaranya.


"Assalamualaikum mah, Milo bawa calon mantu mamah nih !" Milo berjongkok di samping makam ibunya. Seketika Kara melongo, mulutnya bergumam mamah. Rupanya inilah janji Milo membawanya bertemu dengan ibunya.


"Menurut mamah, dia gimana?? cantik??" Milo bermonolog sendiri, ada embun di mata Kara, tapi bukan embun pagi hari. Ia mengusapnya dengan gerakan cepat.


"By, sini kenalan dulu sama mamah !" pinta Milo mengulurkan tangannya. Kara menyambutnya.


"Assalamualaikum tante, namaku Kara.." ucap Kara. Sedikit demi sedikit Kara mulai mengerti apa yang terjadi sekarang.


"Sorry, " cicit Kara.


"Bukan maksud buat ungkit, aku ga tau kalo..."


"Mamah ku dah ga ada? mamah masih ada by, disini dan disini !" tunjuk Milo di dada dan kepalanya.


Kara terharu, pemuda se badboy Milo secinta itu pada ibunya.


"Mamah cinta pertamaku, dan orang bilang cinta pertama itu susah move on."


"Mah, Milo baik baik aja, walaupun papah selalu nuntut Milo untuk jadi penerusnya. Do'akan Milo semoga Milo mampu !!" ucapnya, seperti seorang anak yang sedang berkeluh kesah pada ibunya yang masih hidup.


Kini Kara tau bagaimana rasanya jadi Milo, bagaimana jika ia di posisi Milo, Kara ikut berjongkok di samping Milo.


"Mah, Milo sengaja bawa Kara, katanya dia kepengen ketemu sama mamah mertua !!" ucap Milo lagi. Kara menoleh dan menoyor kepala Milo yang teraduh.


"Tapi dia galak mah, galak galak ngangenin rawrrrh !!" kekeh Milo, kembali Kara mencubit pinggang Milo.

__ADS_1


"Tuh kan mah, dia aja berani cubit Milo di depan mamah !!" kekeh Milo.


"Den, ini air dan buku yasinnya !" ucap seseorang dari arah belakang, dia pak Diman.


"Ah, iya pak. Terimakasih !" Milo meraihnya.


Tangannya terulur menyiramkan air di tanah yang menimbun jasad ibunya, lalu membuka buku yasin, suaranya lantang nan merdu.


Tak sangka, pemuda jaman kini, masih bisa mengaji. 1 banding 10, Kara meresapi lantunan ayat, kado untuk ibu dari anak sholehnya.


.


.


Kara diam tak berkutik sepanjang jalanan tanah merah menuju parkiran, ia benar benar dibuat mati kutu oleh pemuda yang sedang menggenggam tangannya. Jika sebelumnya ia tak pernah mengagumi Milo, kini ia mencabut kembali kata katanya, Milo bukanlah anak tak tau diri yang bisanya membuat kesal saja, Milo bukanlah cowok kebanyakan.


"Ko jadi diem, ga mau ngomel ngomel lagi?" tanya Milo, sadar jika gadis di sampingnya bersikap manis seperti kena ajian semar mesem.


"Aku ga nyangka kamu se sweet ini buat mamah mu !" kata kata ini meluncur bak air yang mengalir dari hulu ke hilir ddngan mudahnya.


" Maksudnya??" tanya Milo meyakinkan dirinya sendiri, jika ia tak salah dengar kalau Kara memujinya dan menyebutnya sweet.


"Hari gini udah jarang loh, anak muda kaya kamu !" sepertinya Kara memang kerasukan jin penunggu pemakaman sini. Tapi bukan Milo namanya jika hanya mesem mesem sendiri dan berterimakasih sewajarnya.


" Aku memang sweet baby, makanya kamu ga salah pacaran sama aku." Baru juga di puji, sudah bikin kesal lagi.


"Aku memang langka by, "


"Apa harus aku bikinin suaka marga satwa terus isinya kamu biar ga punah??" jawab Kara berdecih, wajar saja sih, Milo narsis toh orang ganteng mah bebas.. tapi bagi Kara, Milo adalah laki laki ter pede yang pernah dia kenal, memang sepasang kekasih ini tak akan bisa seakur dan se mesra pasangan lainnya.


"Boleh, tapi calon indukannya kamu ya. Kita bikin keturunan yang mewarisi gen ku dan gen kamu !!" Milo menaik turunkan alisnya.


Kara mencubit perut Milo, "calon indukan, cari sana di empang !!" lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Milo yang tergelak di belakang.


"By, tunggu !!!" pekik Milo. Bahkan kuburan yang berjejer saja ngiler liat keduanya melakukan adegan india, saling berkejaran. Seperti tak ada tempat yang lebih normal dan wajar lagi di muka bumi ini.

__ADS_1


__ADS_2