
Jihad menarik Kara dan Ica menuju balkon hotel.
"Ga usah tarik tarik be*go, ini perut gue ngilu ! makanan belum juga nyampe perut !" omel Ica.
"Langkah kaki loe gede gede Ji, kaki gue pegel..dah tau pake ulekan sambel gini ! susah jalan gue !" omel Kara bergantian. Sedangkan Ayu hanya tertawa mendengar omelan Ica dan Kara.
"Gue bohong sama kalian, " lirih Jihad menghembuskan nafas kasar. Mendengar kata bohong terasa pedih di hati Ica dan Kara. Tapi apa boleh buat, jika ada yang bilang nasi jadi bubur salah ! yang jadi bubur tuh beras, beras sudah menjadi bubur, tinggal dipakein kecap dan suwiran ayam maka beras yang hancur pun akan terasa enak. Begitupun suatu kejadian, semua sudah terjadi, hanya butuh bumbu kejujuran dan hati lapang dari sebuah tali persahabatan, maka semua akan terasa mudah dan indah.
"Gue salah, dan tiap hari gue selalu ngerasa bersalah sama kalian."
Ica menyenderkan badannya di pinggiran balkon. Sementara Kara sudah melepaskan terlebih dahulu wedgesnya, jempol dan kelingkingnya sakit memakai ini, sepertinya ia tidak berbakat jadi orang kaya, atau wanita anggun dan glamour.
"Sakit kaki gue ! loe bawa sendal jepit ga Ca?" tanya Kara. Ica menggeleng.
"Ga nyangka gue ! ngerasa dipermainin tau ga ! loe boong Ji, selama ini ? " ucap Ica membuat Jihad terkejut, semarah itu Ica padanya, pemuda itu menunduk. Mereka memang bar bar, apapun dianggap candaan, candaan yang terbilang kasar seperti tembok yang belum di aci pun, tak membuat mereka lantas sakit hati, alias baper. Tapi come on ! selama ini Jihad menyembunyikan identitasnya.
"Gue masuk ke SMA ini, memang sudah jadi kewajiban gue, papah gue adalah tangan kanan om Braja ! awalnya om Braja minta gue buat merhatiin sikap Milo di sekolah, om Braja khawatir Milo selalu bikin ulah ! ia tau jika Raka tak terlalu bisa diandalkan. Karena Raka, Arial, Kean dan Erwan memang satu paket !" jelasnya.
"Papah yang selama ini membantu om Braja mengembangkan usahanya, saat om Braja keluar kota ataupun meeting dengan klien, maka papah lah yang menjadi asisten kepercayaan om Braja !"
"Gleukk !" Ica menelan salivanya berat, otak gado gado Ica terlalu berat mencerna omongan Jihad, .
Dapat Kara simpulkan Jihad adalah pengawal sang pangeran.
"Dan saat ini, gue bantu papah urus hotel om Braja, yang sekarang lagi kalian injak ini !" Ica dan Kara langsung menegakkan posisinya.
Ayu tertawa, "loe berdua kenapa?"
"Engga ! takut suruh bayar gue !" jawab Ica.
"Jadi selama ini loe..." jawab Kara.
"Yup ! Ra, gue bukan anak tukang kain seperti yang gue akui sama kalian, ortu gue bukan pemilik toko di mall !" jawab Jihad. Saat semua sedang serius, Ica malah memekik.
"Aaa... !!! gue ga ngerti lah sama penjelasan panjang kali lebar kali tinggi loe Ji ! singkat aja deh kalo ngomong sama gue !" pekik Ica, membuat jihad akhirnya menyunggingkan senyumnya. Gadis gadis ini memang setulus dan sebaik ini.
"Gue horang kaya Ca ! bukan tukang kaen !" jawab Jihad.
"Gue nutupin identitas serapi mungkin, bahkan jadi cowok rasa cewek pun gue lakuin, selanjutnya gue kenal kalian, cewek cewek bar bar yang tulus dan menyenangkan !" jawab Jihad.
"Kenapa loe harus bohong Ji?" tanya Kara.
"Lagian kalo loe jujur, gue ga akan sampe hati porotin loe, Ji !" decih Ica.
"Gue hanya ga mau orang mandang gue karena status sosial gue ! " jawabnya. Ica, Kara dan Ayu merasa tersentuh ssbenarnya.
"Loe tau ga Ji, saat ini yang pengen gue lakuin adalah dorong loe dari sini !" ucap Kara.
"Gue tau Ra, sorry !" ucapnya. Sebenarnya masih ada satu titah om Braja, ia minta gue ngawasin siapa saja yang dekat dengan putranya, termasuk loe, Ra !" batin Jihad. Tapi rasanya Jihad tak perlu bilang ini, toh memang Caramel adalah gadis baik baik, bahkan terbaik untuk Milo, jangankan Milo, Jihad pun sempat menyukai gadis pintar dengan segala kelebihan dan kekurangannya ini...sampai seorang gadis lainnya membuatnya berpaling.
"Baby !!" Belum ada setengah jam, sepertinya laki laki ini memang tak akan membiarkan Kara pergi dari sisinya.
"Kalian lagi pada ngapain disini?" tanya Milo, ia merengkuh pinggang Kara dari samping.
"Kenapa sampe kamu copot sepatu kamu?" tanya Milo.
__ADS_1
"Hah??! engga apa apa sayang, nanti ku pake lagi !" Caramel nyengir.
"Sayang, bisa tunggu sebentar... nanti aku nyusul ke dalem," pinta Kara.
"Ya udah mungkin kalian lagi ngobrol serius, aku tinggal dulu !" pamit Milo.
"Gue ga tau apa lagi yang masih loe sembunyikan di belakang gue sama Ica dan Ayu, Ji...tapi gue cuma berharap kejujuran dari loe !" ucap Kara. Jihad mengangguk.
"Gue ga mau kalo persahabatan kita sampai hancur hanya gara gara masalah ini !" Ayu bersuara.
"Ca, loe kenapa diem ?!" tanya Kara.
"Sakit perut gue !" jawabnya, ternyata sedari tadi Ica menyenderkan badannya karena menahan sesuatu di perutnya. Jihad, Ayu dan Kara berdecak kesal.
"Ica !!!!"
"Apa???! gue pengen ke toilet, toilet dimana sih Ji ??!" tanya nya.
"Gue dorong juga loe Ca dari balkon, dasar anak tuyul !" omel Jihad.
" Ji, gue cuma kasih saran tuh pasta kebanyakan saus tomatnya, asem...gue sakit perut !" jawab Ica.
"Yang loe makan bukan cuma pasta, Ca ! tuh salad juga loe gares !" jawab Ayu.
"Masa timbang salad doang asem sih !" jawab Ica.
"Loe nya aja yang katrok ! itu salad pake campuran white wine vinegar ! perut kampung loe ga biasa dikasih makanan mahal, Ca.. biasanya dikasih cuka dapur buat bersiin baju !" jawab Kara.
Bukannya sakit hati Ica malah tertawa, "buruan woy, perut gue mules !"
"Kalo loe pengen maaf dari gue, anter gue ke toilet Ji !!" seru Ica.
"Gini nih, kalo bawa emak emak kumpulan arisan rt ! apa apa main giling ! kenapa ga sekalian, tuh cocktail loe minum !! biar sekalian loe mabok !" omel Jihad.
Kara mendekat pada Milo yang sedang bersama teman temannya, Acara dimulai dari sambutan dan potong kue. Dilanjutkan ucapan selamat dari Milo dan pihak pihak tertentu.
Milo tiba tiba mengulurkan tangannya pada Kara, "dance with me ?!" tanya nya. Kara menyambutnya, setidaknya pengetahuannya tentang berdansa tidak nol, meskipun harus berakhir dengan kaki Milo yang jadi korban.
Keduanya terhanyut berdansa di antar lainnya, "kamu ga akan kabur pas tepat jam 12 malam kan?" tanya Milo. Menyamakan Kara dengan sang Cinderella.
Kara menggeleng, "engga. Ica, Ayu sama ka Juwi ga akan berubah jadi tikus ko !" tawa Kara.
"Tapi aku bakal kabur jam 10 malem, soalnya ayah sama ibu pasti marah marah kalo aku telat pulang !" jawab Kara lagi.
"Wah, kalo itu mantra yang mesti ditepatin ! kalo engga, bisa bisa restu melayang !" jawab Milo.
Vio hampir menjatuhkan air matanya, sekuat apapun ia berusaha pemuda itu tak pernah meliriknya, sihir Kara begitu kuat.
Para anak muda turun ke bawah, Jihad menyiapkan satu tempat terpisah dari pesta para orangtua, mereka sekarang berada di area kolam renang hotel,
"Dari tadi kek turun kesini, kan gue bisa maenan air kolam di hotel ! mau selfie, biar orang se rt tau kalo gue maenannya ke hotel !" decak Ica.
"Ntar kalo babeh loe nanya, ngapain loe ke hotel Ca??" tanya Kara.
"Nguras kolam renang Ra, puas !!" Kara tergelak.
__ADS_1
"Cocok !! jawab Kara.
Juwita bergabung disana. Ia duduk di samping Raka.
"Loe dari tadi merhatiin tuh cewek !!" tunjuk Juwita pada Vio dan anak anak teman papah Milo yang datang.
"Kayanya dia ada niatan jahat sama Kara !" jawab Raka.
"Kita liat aja nanti !!" jawab Juwita.
"Ra, fotoin gue dong Ra !" pinta Ica.
"Dih, centil banget ! gue takut basah, Ca !"
"Loe berdua berisik amat sih !!" seru Arial.
"Tau nih !!" jawab Ayu.
"Elah Ra, timbang basah doang ga akan bikin loe berubah jadi mermaid !" jawabnya. Saat sedang bercanda dengan Ica dan Ayu, dengan sengaja Vio melewati ketiganya. Gadis ini mendorong Kara, hingga Kara terjatuh ke dalam kolam renang, si@lnya Kara tidak jago berenang, dan kolam di bagiannya terjatuh cukup dalam.
"Byurrrr !!!!"
"Uppss !!"
"Kara !!!" semua terkejut.
"Kara ga bisa renang ka Milo !" jawab Ayu.
Tanpa berpikir panjang Milo langsung melompat ke dalam air untuk meraih Kara.
Raka dan Juwita yang sudah tau dari awal, langsung mencengkram tangan Vio, saat gadis ini berusaha kabur, gadis itu meringis minta dilepaskan.
"Ikut gue !!" tarikan kasar Raka membawanya bersama Juwita dibelakangnya.
"It's okey baby, i'm here !" ucap Milo, Kara yang terbatuk batuk meraih leher Milo dan mengalungkan tangannya.
Jihad segera meminta handuk pada karyawan hotel dan menyelimuti Kara dengan handuk, juga memberikan handuk lainnya pada Milo.
"Loe ga apa apa Ra?" Kara menggeleng,
"Gue ga apa apa, hatchim !!" jawabnya bersin.
"Mil, bawa Kara ke kamar Suite ! " pinta Jihad.
Milo memang memiliki kamar hotel pribadinya disini.
"Ca, Yu..ikut gue !" pinta Milo.
"Ji, Kean..bilang papah gue ada urusan bentar !" pinta Milo.
Milo menggendong Kara menuju lift bersama Ica dan Ayu.
.
.
__ADS_1
.
,