
Tim Kara masuk sampai babak final, Keringat mengucur dari ujung dagu Kara. Menandakan perjuangannya yang tidak mudah. Besok babak Final menunggunya.
"Olahraga Ra, biar sehat ! biar lemak jahat ga nemplokin loe terus ! " gumam Kara pada dirinya sendiri, sebagai penyemangat.
"Ra, loe udah kaya mandi keringet tau ngga ?!" ucap Ica.
"Capek gue, abis ini gue mau mandi mau rebahan ! tenaga gue udah ke kuras tau ngga ! demi loe yang pengen liburan di hotell !!!" seru Kara, meraih tasnya di kelas.
"Baby, tunggu di parkiran. Raka manggil sebentar !" pekik Milo.
"Ra, gue duluan. Nih nganterin anak curut balik !" ucap Jihad memapah Ica.
"Puk !!!" Kepala Jihad ditimpuk memakai sebelah sepatu Ica.
"Curut??! mulut loe ! seenak udel aja !" sarkas Ica membuat Jihad terkekeh.
"Ikhlas ngga? tanya Ica.
"Iya, ikhlas ! kalo ga ikhlas udah gue jorokin ke got depan nih !" jawab Jihad, siap siap melepaskan Ica.
"Eh..eh..eh...!" Ica berpegangan pada seragam Jihad.
"Kirain ceburin ke hati loe, Ji ?!" tawa Kara. Jihad malah memutar bola matanya.
"Hati..hati..emang dia punya hati Ra? ga inget dia siapa?" tanya Ica. Jihad mengangkat alisnya sebelah.
"Siapa?" tanya Kara menantang Ica.
"Neneknya tapasha !" Kara tergelak puas. Tak tinggal diam, Jihad menggendong Ica dan membawanya ke arah got depan sekolah.
"Eh..eh..Ji !!!! canda gue..canda !! elah !" seru Ica.
"Korban modelan loe mah enaknya di ceburin Ca, dah ditolongin masih aja ngehina,"
"Ceburin aja daddy, ceburin !!" Kara mengompori.
"Cih, kalian nih ! jadian tau rasa loe Ji, Ca ! berantem mulu ! giliran ga ada aja pada nyariin satu sama lain," ujar Ayu.
"Ogah !!" jawab keduanya.
"Dih kompakkan !!!" tunjuk Kara dan Ayu.
"Setelah ini loe kerja, Yu?" tanya Kara, Ayu mengangguk.
"Gue duluan ya, takut telat !" jawab Ayu, diokei yang lainnya.
Hanya tinggal Kara sendiri di parkiran, ia memilih duduk dan mendengarkan musik dari ponselnya memakai headset. Tiba tiba Kara ditarik paksa oleh 2 orang.
"Eh, eh...ini apa apaan ??!!!" Kara melawan tapi tenaganya tak cukup kuat. Ia berontak sampai sampai ponselnya terjatuh.
***************
Milo baru saja selesai dengan rapatnya bersama yang lain.
"Kara mana Mil? apa dia duluan?" tanya Raka.
"Tadi gue udah nyuruh dia nunggu disini, ga mungkin dia duluan tanpa ngabarin gue," Milo mengerutkan dahinya. Milo merogoh ponselnya. Milo dan yang lain mendengar suara getaran ponsel di sekitarnya.
"Denger ga?!" tanya Erwan.
"Itu bukannya??!" tunjuk Arial.
Milo mendekat dan mengambil ponsel Kara, yang tergeletak di parkiran bersama headset yang masih terpasang, menunjukkan seseorang memanggilnya.
My Lovely Mas
"Ini ada yang ga beres Mil, " ujar Kean.
Milo menelfon Ayu tapi tak ada jawaban, ia lantas menelfon Ica dan Jihad yang baru saja sampai di rumah Ica.
"Hah??! oke Ji, gue tunggu !" ucap Milo semakin khawatir.
Jihad segera melajukan kembali sepeda motornya ke sekolah.
"Tadi Kara masih disini, barengan gue sama Ica sama Ayu !" ucap Jihad, salahnya yang meninggalkan Kara sendiri.
"Coba loe telfon karyawan cafe yang lain Kean, apa Ayu udah nyampe?" tanya Raka. Kean menelfon cafenya, dan jawabnya cukup membuat mereka semua kebingungan.
"Ayu juga ga ada di cafe, harusnya Ayu udah sampe dari tadi ! ini aja udah lewat dari waktu masuk kerja !" jawab Kean.
"Ko, dari tadi gue ga liat Vio?" tanya Arial. Milo dan yang lain baru menyadari.
"Bukannya, dia ada masuk list anggota team XI IPS 2?" tanya Arial lagi.
Milo langsung menelfon Vio, dengan amarah yang sudah ia tahan. Vio mengangkatnya,
"Hay Mil, gue seneng banget loe nelfon !! ada apa nih? mau ngajak jalan apa gimana?" tanya Vio.
__ADS_1
"Dimana Kara?!!" tanya Milo tegas.
"Hah??! loe nelfon gue cuma mau nanyain tuh cewek cupu ??!" sewot Vio dari sebrang telfon.
"Gue tanya sekali lagi, dimana Kara??!!"
"What ??!! loe nanyain Kara sama gue?? ga salah??!!" jawab Vio.
"Vio, DIMANA LOE SEKARANG?!" tanya Milo menekankan setiap kata katanya.
"Gue lagi di salon lah, ngapain juga ikutan acara ga penting kaya gitu ! bikin capek capek badan. Vio memang memiliki sifat dengki, tapi Milo tau Vio terlalu naif untuk melakukan hal senekat ini.
"Loe tunggu situ, Arial kesana sekarang !" ucap Milo.
"Ri, loe jemput Vio..gue tau dia pasti tau sesuatu !"
Vio dijemput paksa oleh Arial, bahkan handuk panas saja masih menempel di kepalanya.
"Loe bisa santai ga sih ??!! yang bener aja ! ini bahkan rambut gue belum bener !!" omelnya.
"Dah ga usah bawel !! gue tanya untuk yang terakhir kali, dimana Caramel sama Ayu?!" tanya Milo. Kini mereka berada di cafe Keanu.
" Tunggu cewek cupu itu ilang?" tanya Vio menyunggingkan senyumnya.
"Bagus dong, berarti gue ga usah cape cape nyingkirin dia lagi !" tawanya.
"Brakkk !!!" Milo menggebrak meja membuat Vio terjengkat kaget. Mata tajamnya menatap Vio.
"Oke sorry, " cicitnya.
"Kenapa juga loe harus nuduh gue, coba??! gue emang benci sama Caramel tapi gue ga se psycopath itu kali ! kenapa ga loe tuduh tuh si Nina !" jawab Vio, melipat kedua tangannya. Milo dan yang lainnya menatap tajam seraya mengerutkan dahinya.
"Apa yang loe tau?" tanya Jihad.
"Waktu kemaren pas kejadian gue nyebar foto si cupu, dia ngajakin gue kerja sama buat celakain si cupu !" jawabnya angkuh.
"Namanya Caramel !!! kalau sampe loe panggil cewek gue dengan nama lain, gue pastikan besok mulut loe yang gue gantung di tiang bendera !" jawab Milo.
"Udah gue duga Mil, pasti ada hubungannya dengan Nina !" Raka mengusap wajahnya kasar.
"Apa rencananya?!" tanya Raka pada Vio.
"Ya mana gue tau ! toh dia kan sodaraan sama Ivan, pasti barengan Ivan lah !!" jawab Vio. Segampang itu memang mengorek informasi dari Vio.
"Ivan?!" tanya Milo terkejut, ia tak tau jika selama ini Ivan dan Nina bersaudara.
"Gue udah lacak ponsel Ayu, Mil !" ucap Kean.
Mereka segera pergi kesana, tanpa menunggu lama lagi.
"Terus gue gimana ini?? oyyy, gue ikut !!" pekik Vio, ia langsung nemplok di motor Milo.
"Turun !!!" bentak Milo.
"Loe harus tanggung jawab dan bawa gue pulang!" jawabnya tak mau kalah.
Milo mengeluarkan sejumlah uang, "buat naik taksi !" lalu mereka pergi menuju dimana Ayu berada.
****************
Ayu sudah berada di ujung tepian gedung, hanya selangkah lagi gadis itu akan jatuh dari ketinggian 14 lantai.
Tangannya terikat, juga mulutnya yang tertutup lakban.
"Gimana Ra??! loe masih bisa lawan kalo udah kaya gini?" tanya Nina yang berjalan. Mata Kara nyalang menatap Ayu.
Nina mendekati Kara yang tangannya sama sama terikat tali, begitupun lakban di mulutnya, membuatnya tak bisa berkata.
"Dukkhh !!" kaki Nina menendang bagian belakang lutut Kara, hingga Kara bertekuk lutut. Lutut gadis itu jatuh ke lantai atap gedung dan lecet. Tapi Kara tak mengindahkannya, ia hanya mencemaskan keselamatan Ayu.
"Cewek kaya loe tuh harus merendah ! loe terlalu angkuh Caramel !!"
Beberapa tetes air mata lolos dari pelupuk mata Kara.
"Bilang kalo loe mau putus sama Milo??!!!!" pekik Ivan, membuka lakban di mulut Kara.
"Loe semua Bo*doh !!" jawab Kara tanpa membentak pada Ivan, yang malah tertawa.
"Mon, " panggil Nina.
"Ayu !!! stop, Ayu !!!" Kara ingin berlari menuju Ayu yang sedang di pegang Moni. Tapi tertahan oleh Ivan yang memegangnya.
"Loe ga liat ???! disini tuh cuma ucapan Nina atau gue yang bakal di denger semuanya !" ucap Ivan di dekat telinga Kara.
" Ga usah deket deket, jijik gue !" Kara menggidikan bahunya.
"Loe tinggal bilang, loe mau putus dari Milo dan jadi gadis manisnya gue ! done ! itu doang, ga susah ! temen loe selamet !" ucap Ivan.
__ADS_1
"Owhh come on Ra, you can do it ! ini juga buat keselamatan loe sama keluarga loe ko, " seru Nina.
Ayu menggeleng.
"Jadi semua ini pasal Milo?!" tanya Kara.
"Loe kira setelah gue bilang minta putus, Milo bakalan terima gitu aja? " tanya Kara.
"Ahhh, iya dan satu lagi ! apa loe tau ? siapa yang ada di belakang kita berdua??" tanya Nina.
Kara hanya menatap tajam pada keduanya, tanpa mau bertanya. Membiarkan keduanya mengungkapkan semuanya.
"Nyokap tiri Milo sendiri, " bisik Nina.
"Tante Marsya," gumam Kara.
"Yupp !!! loe bener tante Marsya !!" Nina bertepuk tangan.
"Gue bakalan lindungin loe dari dia sweety, kalo loe sama gue..dia ga akan berani macam macam sama loe !" ucap Ivan.
"Kenapa loe harus bawa bawa Ayu yang ga ada sangkut pautnya sama masalah ini?!" tanya Kara.
"Berhubung si cewek rombeng itu dikawal terus Jihad, dan lagipun loe tuh lemah, kalo dah urusan sama persahabatan bagai kepompong loe itu !!"
"Buruan !!! elah !!! timbang ngucapin gitu aja susah banget !!" bentak Nina.
"Mmmphhh !!!" gumam Ayu, meminta protes pada Kara agar tak mengucapkannya.
"Engga Ra ! hidup loe bakalan susah !!" benak Ayu menggelengkan kepala saat Kara menatapnya nanar.
"Lepasin Ayu ! kalo kalian mau singkirin gue, sesuai keinginan tante Marsya, singkirin aja gue ! jangan Ayu," pinta Kara memohon.
"Wawww !!! baru kali ini gue melihat seorang Caramel memohon, bahkan pada seorang Armillo saja, loe ga pernah sampe mohon mohon !" jawab Nina jumawa.
Ivan mengusap pipi lembut Kara, membuat Kara memalingkan wajahnya menghindar.
"Buruan Ra, apa loe mau nungguin Moni dorong Ayu dulu??!" tanya Nina.
" Moni !!!" Moni menggeser posisi Ayu yang hampir saja terjatuh, Ayu sudah terisak.
"Jangan !!! jangan Ayu, gue aja gue !!" pinta Kara, berontak ingin berlari.
"Gue benci kalian semua, kalian pecundang ! kalian sampah !" jawab Kara mengumpati mereka.
"Plak !!!" tangan Nina mendarat mulus di pipi Kara. Pipi putih nan chubby itu memerah.
"Sini loe !!!" Nina merebut Kara dari tangan Ivan dan menyuruhnya bangun, membawa Kara mendekati posisi Ayu.
"Nin !!! loe mau ngapain Caramel ??!" Ivan tak terima.
"Gue ga ngerti aja, kalian pada suka sama cewek mulut kebon binatang gini, banyak cewek di luar sana Van, yang lebih dari dia !!!" ucap Nina geram.
"Perjanjiannya ga gitu Nin, gue dapetin apa yang gue mau, dan yang gue mau, Caramel !!" ujar Ivan, kini malah jadi keduanya yang berdebat. Kara ditarik kesan kemari. matanya nyalang menatap Ayu, yang sudah menangis ketakutan.
"Jangan nangis Yu, gue ga akan biarin kita sia siain nyawa kita buat hal ga mutu kaya gini !" batinnya.
"Loe cuma cewek dengan banyak kekurangan dan ga pede, dibanding gue..gue jauh lebih sempurna daripada loe !" ucap Kara memancing amarah Nina.
"Ra, stop !!! loe bakalan terus macing amarah Nina," pinta Ivan.
Nina kembali menampar Kara.
"Loe ibarat pungguk yang merindukan bulan !!" kembali Kara berucap, Nina sudah diambang batas sabarnya. Ia menggusur Kara tepat ke tepian gedung.
Ia sudah hampir melepaskan Kara,
"Tarik semua ucapan loe !! atau gue dorong loe ke bawah ??!" suruh Nina memperlihatkan pemandangan bawah gedung, hampir saja lutut Kara copot dibuatnya. Ia pun takut jika harus mati disini saat ini juga.
"Nin !!! loe udah gila ??! loe mau masuk penjara apa ?!" tanya Ivan.
"Apa loe takut?? dengan kaya gini aja kalo kita sampai ketauan, tetep aja masuk bui !" jawab Nina.
Tap tap tap.....
Milo dan yang lain sampai di atas gedung, betapa murkanya ia, melihat jika Ayu dan Kara tengah berada di ujung dengan tangan yang diikat, bersama Ivan, Nina dan Moni.
"Hmmmpphhh !!!" Ayu berseru. Semua mata menoleh ke arah pintu gedung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.