
Kara baru saja sampai di sekolahnya. tangannya bertumpu di pundak Iwan, lalu turun dari atas motornya.
"Makasih ka, "
Penampilan Kara saat cheers kemarin menjadi tranding topik hari ini. Seakan tak membiarkan Kara untuk menjadi bintang di sekolahnya, kabar itu dibarengi dengan kabar kurang mengenakkan.
Teman temannya membicarakan keluguan dan kepolosan Kara cuma sebagai kedoknya yang ternyata seorang yang suka gonta ganti pacar, tapi ingin di cap dengan image malaikat surga.
Gladys tersenyum senang, ia tak akan membiarkan Caramel selangkah di depannya.
"Well, ini dia cewek so lugu ! tuh kan kemaren loe rebut Milo, terus Arial, sekarang sama Iwan ! murahan banget sih loe ! " ucapnya lantang. Lama lama Kara muak dengan gadis di depannya ini.
"Jaga b4cot loe Dys, " jawab Iwan.
"Dah lah ga usah di dengerin ka Iwan, males gue ! hari ini gue ada ulangan !" jawab Caramel melenggang pergi.
"Udah ketauan kan so polos so lugu ! jangan jangan maenannya di club malam lagi ! jangan sampe sekolah kasih beasiswa sama orang yang salah !" pekiknya.
Pagi pagi sudah bikin orang darting, untung saja pagi ini Kara sudah sarapan, kalau tidak sekarang ia sudah mengaum dan menggigiti gadis ini walaupun rasanya sudah pasti sepet.
"Loe ga ada kerjaan lain ya, selain gangguin hidup orang? tuh kasian pak Endang sapuin sampah sendiri, daripada gangguin ketenangan hidup orang mendingan loe bantuin pel lin lantai sekolah ! itung itung bantu bantu, biar hidup loe berkah dikit !" jawab Kara.
"Kalo loe merasa orang yang tepat, ya udah ajuin aja sendiri sana sama pihak sekolah ! repot amat urusin hidup gue ! apa saking loe ngefansnya sama gue ?" tanya Kara.
"Apa?!!" Gladys tertawa.
"Apa sih ini pagi pagi dah ribut ?!" tanya Raka, akhir akhir ini sekolah selalu heboh dengan kabar berita yang dibawa Gladys.
Mereka baru saja datang ke sekolah. Tapi sudah disuguhi dengan pertengkaran kedua gadis ini.
"Woyy minggir !!! " pekik Ica yang baru menginjakkan kakinya di sekolah. Jihad juga baru datang.
"Sugar baby gue ngapain pagi pagi udah disini ?!" Jihad mengalungkan tangannya di pundak Kara, Milo yang baru datang sontak langsung ngebul. Jihad tertawa melihat wajah Milo, Milo tak akan bisa melawan sekarang jika di depan banyak orang begini.
"Berarti dia rebut Milo dari loe, cuman mau dimaenin doang dong ?!" ucap seorang teman Gladys.
"Alah palingan dia juga udah dicicip sama ka Milo, bedanya kalo gue sama ka Milo suka sama suka !" jawab Gladys.
Ica dan Jihad tertawa, "Baby, loe udah dicicip sana sini ?" tanya Jihad.
"Temen gue udah kaya kopi kopi taster yang ada di supermarket, yang di cup kecil Ra !"
Melihat Milo mendekat, Gladys langsung merubah raut wajahnya tak tau malu.
"Liat kan Mil, tuh cewek itu di peluk peluk Jihad ! cuma aku yang setia sama kamu !"
"Huweekk !" trio ubur ubur di depan ini malah meledek. Ayu yang baru turun dari angkot ikut bergabung.
"Ada apa sih rame rame ?!" tanya Ayu.
"Lagi obral lont3 !" jawab Ica.
"Lont3 ko teriak lont3 !" decak Gladys.
"Apa loe bilang ?!" Ica ingin maju hanya saja ditahan Arial dan Kean.
"Ji, turunin tangan loe !" pinta Milo. Kara mengulum bibirnya.
"Dan loe ! loe pikir gue ga liat dari tadi ?! denger ya ! kita ga pernah ada hubungan apa apa, dan tarik semua ucapan loe sama orang, kalo loe pernah gue tidurin ! ga pernah sekalipun gue sentuh loe !" Milo benar benar sudah geram dengan gadis ini.
"Ga tau malu, dinikmatin orang nuduh orang !" gumam Juwita saat melewati mereka, dan ikut bergabung.
"Disini ga ada yang bela gue, kenapa sih gue selalu ditindas, " wajahnya memelas seperti orang terdzolimi.
"Mil, apa kamu ga inget ?! apa dia udah suruh kamu buat bohong?" tanya Gladys berdrama di depan siswa sekolah.
"Apa perlu aku bawa bukti, kalau kita pernah bareng bareng? kamu suka anter ataupun suruh orang buat anterin aku? saking kamu pedulinya sama aku? papah kamu juga kirim uang buat sekolahku, karena aku memang calon menantunya, karena memang itu bentuk tanggung jawab keluarga kamu sama aku !"
"Jijik gue lama lama sama nih cewek !" ucap Juwita.
"Ga tau malu, ga tau terimakasih !" gumam Kean. Milo memang sudah sangat geram.
Entah bagaimana ceritanya, di mading kini banyak tertempel wajah Gladys yang sedang clubing. Milo meraih satu fotonya.
"Sebelum bicara, sebaiknya loe liat sekitar ! jangankan buat tidurin loe, sentuh loe aja gue geli ! " Milo menyerahkan satu foto itu.
"Aku janji by, bakalan beresin semua ini. Maaf ya, kamu jadi ikut terseret.." ucap Milo menghadap ke arah Kara.
"Asal loe tau ! dan loe juga !" tunjuk Milo pada teman Gladys.
"Bukan Kara yang ngejar ngejar gue, bahkan Kara nolak nolak gue ! tapi gue yang kejar Kara !" akunya di depan banyak orang.
"Mil, udah lah ! ngapain juga harus kaya gitu ! " Kara meraih lengan Milo.
"Mereka udah kemakan omongan cewek sint*ing ini," jawab Milo.
"Kamu gadis baik baik, by !"
"Ji !" Jihad mengangguk.
Sebuah video ditunjukkan di depan semua siswa yang sedang berkumpul. Video yang memutar Gladys tengah berada di sebuah club malam. Jangan heran sedari tadi keempat teman lainnya lah yang mengeluarkan peralatan hingga sekarang terputar rekaman Gladys tengah berjoget bersama seseorang pria paruh baya.
Gadis itu bukan lagi terkejut. Ia syok, bagaimana bisa ada video semalam.
__ADS_1
"Gue udah muak sama semua ocehan loe nuduh Kara, jangan lupakan kalo gue seorang Armillo !" ucap Milo menarik tangan Kara menjauh dari keramaian.
"Milo !!!!!" pekik Gladys.
"Matiin Ji !!! Raka !!!" pinta Gladys sudah menangis, disana juga ada beberapa guru yang melihat.
"Gue difitnah !!!" teriaknya.
Kara berjalan semakin menjauh bersama Milo,
"Yank, " lirih Kara.
"By, aku udah ga mau jauh lagi by, sehari aja aku disuruh jauh..apalagi liat kamu sama orang bikin aku panas ! aku cemburu !" ucap Milo.
"Toh aku jauhin kamu juga kan tetep aja Gladys fitnah kamu yang engga engga ! aku fikir jika Gladys tau kita jauh, dia akan berenti ganggu kamu !" jawab Milo.
"Kalo dia lebih nekat gimana ?" tanya Kara.
"Aku sudah siap, beberapa hari ke belakang aku sudah memantaunya, dan mendapatkan bukti buktinya, itu salah satunya !" tunjuk Milo ke arah lapangan dimana tadi ditunjukkan rekaman itu.
"Woahhhh, daebaek !! gue kira dia polos...tapi ternyata malah polosan gitu !" ucap Ica menganga melihat pakaian minim Gladys. Gadis itu mengejar alat projector yang di pegang Arial dan Kean, lalu pergi ke kamar mandi sambil menangis.
"Kenapa loe mau ngikutin? sebelum loe ngikutin udah gue bungkus badan loe pake selotip kaya mumi !" jawab Jihad, Ayu terkikik.
"Butuh berapa gulung Ji, buat selotipin Ica ?!" tanya Ayu.
"Ck, dikira gue barang paket !" decak Ica memukul bahu Jihad.
"Masuk ke kelas wey, ulangan bu Wati sekarang !" ucap Ayu.
"Astoge !! gue lupa kalo sekarang ulangan !" ucap Ica panik.
"Plak ! Jihad menepuk jidat Ica yang tertutup rambut depannya.
"Awwww !!! sakit be*go !" aduh Ica.
"Biar otak loe encer, ga beku kaya es !" jawabnya enteng.
Ica menyipitkan matanya,
" Plukkkk !!!" sebuah botol minum bekas yang fresh dari tong sampah mendarat mulus di punggung Jihad.
"Ca, elah bar bar banget nih cewek ! minta di masukkin tong sampah !" Jihad mengejar Ica, larinya lebih cepat dari Ica, menangkap tubuh Ica dan menggendongnya, Jihad memasukkan Ica ke dalam tong sampah yang hanya setinggi lutut Ica.
"Nyi Blorong !!!! bau peakkk !!" pekik Ica. Sedangkan Jihad langsung berlari menuju kelas meninggalkan gadis itu yang masih di dalam tong sampah.
******************
"Ya udah aku masuk dulu ke dalem ! " ijin Kara, Milo mengangguk menyerahkan tangannya.
"Salim dulu ! biar nilai kamu bagus ! ridho Allah ada di ridho suami, " titahnya.
"Suami dari mana??! ijab aja belum ?!" sewotnya. Kara menurut walaupun ia manyun.
"Tanpa harus salim pun nilai aku biasanya bagus ! justru kalo salim sama kamu, takutnya nilaiku malah turun !" kekeh Kara. Milo menjiwir hidung Kara
"Enak aja, sebo*doh itu aku?" tanya Milo.
"Inget by, ini calon CEO loh !!" jumawanya.
"Iya calon CEO....mana ada calon CEO kerjaannya nyontek terus !"
"Harusnya aku salimnya sama papah kamu !" lanjut Kara.
"Kenapa? sebelum sama camer, sama calon suami dulu ! biar lebih afdol !" jawab Milo.
"Biar suksesnya nular !" jawab Kara.
"Siang ini Jihad ku suruh ke rumahmu, bawa Ica juga deh !" ucap Milo.
"Mau ngapain? kamu mau kemana?"
"Mau ke rumah ayahnya Gladys, " jawab Milo.
"Mau ngapain ?!"
"Ada urusan, sama papah juga !" jawab Milo.
Kara berohria, ia sebenarnya tak tau masalah mereka apa, yang jelas pasti ada hubungannya dengan Gladys.
"Dan mungkin untuk beberapa hari ke depan, aku bakalan minta Jihad buat jagain kamu !"
"Kenapa?!"
"Nanti juga kamu tau, Jihad bakalan jelasin !" jawab Milo.
"Ya udah aku pamit ke kelas !" tangan Milo terulur mengusap rambut Kara lembut. Gadis itu mengangguk.
***********
Ica mendadak jadi transalator bahasa isyarat, ada gunanya juga ia belajar bajasa isyarat, bisa digunakan disaat genting begini.
"Ra, nomer 3 apa ?!" gerakan bibir dan tangannya.
__ADS_1
"B," jawab Kara. Ia menulisnya, tak cukup sampai disitu, Ica juga membuka buku pelajaran di bawah bangkunya.
"Ga tanggung tanggung nih bocah nyonteknya !" gumam Jihad.
Jihad menggelengkan kepalanya. Ia melempar penghapus tepat di kepala Ica, sontak Ica terkejut, sedang asyik asyik nyontek ditimpuk penghapus.
"Oyyy !! siapa sih !"
"Kenapa Ica?!"
"Itu bu, ada yang lempar kepala Ica !" Jihad, Kara dan Ayu menahan tawanya.
Melihat ketiga makhluk ini tertawa, sudah dapat dipastikan pelakunya ada diantara mereka, jika Ayu tidak mungkin seusil ini, berarti kemungkinannya adalah Kara dan Jihad.
"Loe berdua !!" gerakan bibirnya lalu menunjukkan kepalan tangannya, Kara dan Jihad malah menunjukkan wajah meledek.
Ponsel Kara bergetar, ia merogohnya. Nama ibunya tertera. Aneh sekali...
"Bu, maaf..ibu saya telfon. Apa boleh ijin sebentar mengangkat telfon dari ibu saya ?" Kara menunjukkan ponselnya.
"Iya boleh, silahkan !" Jihad dan kedua temannya melihatnya.
"Hah??!!! apa bu ? mau ngapain ?!" tanya Kara.
"Engga tau sambil nangis nangis, bukannya sekarang masih jam sekolah ya ?!" tanya Ibu.
"Ya udah ibu jangan kemana mana, kalo diajakin dia jangan mau. Kara pulang sekarang !"
Kara masuk ke kelas lagi.
"Bu, saya sudah selesai mengerjakan ulangan. Saya mau ijin pulang bu, ibu saya sakit ga ada siapa siapa !" ucap Kara panik. Ia melirik Jihad dengan wajah frustasi.
Jihad menautkan alisnya heran.
"Oh iya sudah, ijin saja dulu sama guru piket !" Kara mengangguk.
"Kenapa Ra?" tanya ketiganya melihat Kara cepat cepat membereskan bukunya.
"Gladys nyamperin ibu di rumah, Ji ! gue ga nyangka dia senekat ini. Gue takut ibu gue kenapa napa !" ucap Kara seraya pamit dan berlari keluar.
"Apa??!" tanya Ica.
"Bu, ijin ke toilet !" ucap Jihad menyusul Kara.
"Saya juga bu !" Ica dan Ayu menyusul.
"Ini kenapa jadi kebelet berjamaah ?!" ucap bu Wati.
"Ra !! tunggu, loe mesti ditemenin !" Jihad berlari menyusul Kara yang akan mencapai gerbang.
"Ka Milo mesti tau, Ra !" ucap Ica.
"Kalo mereka tau, Gladys justru bakalan lebih nekat lagi !" jawab Kara.
"Tapi loe ga bisa gegabah Ra," tahan Ayu.
"Gue kasih tau Milo, bentar ! "
"Ji, " Kara tak sempat menahan Jihad. Kebetulan sekali Arial dan Erwan baru keluar dari kantin. Kebiasaan mereka bolos ke kantin di pelajaran kimia.
"Ngapain loe bertiga diluar?" tanya keduanya.
"Gue mesti pulang sekarang !" Ica menahan Kara.
"Loe pulang kita pulang, gue temenin loe Ra !"
Ayu menceritakan pada Arial dan Erwan.
"Kenapa mesti bawa bawa ibu sih, Ca !" ucap Kara hampir menangis.
Kara ijin pada satpam,
"Ra, tunggu Milo bentar !" tahan Arial.
"Baby, " Milo berlari memghampiri, ia memeluk Kara.
"Kenapa mesti bawa bawa ibu sih yank ?!" ucap Kara, menumpahkan kekesalannya.
"Kita balik sekarang !" Milo mengambil motor dari parkiran.
"Pak, buka gerbang !" titah Milo.
"Terus kita gimana?" tanya Ica.
"Kita tunggu aja kabar dari Milo !" jawab Raka ikut keluar.
"Kean, telfon orang suruhan loe suruh pantau rumah Gladys, gue telfon om Adi !"
.
.
.
__ADS_1
.