Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Orang ganteng semuka bumi


__ADS_3

Melihat lapangan selalu ada penghuninya di saat jam pelajaran berlangsung, rasanya sudah menjadi pemandangan lumrah di sekolah ini. Justru jika tidak ada para pejuang hukuman pak Dahlan, rasanya bagai sayur tanpa garam dan bagai ambulan tanpa uwiw uwiw.


Apalagi, kalau para pengisi podium terhormat ini, gantengnya ngalahin artis drakor, so pasti para siswi sibuk bergantian ijin ke toilet pada guru yang mengajar. Jika siswi lain begitu, lain halnya dengan Kara, seumur umur buku pelajaran lebih tampan dari makhluk yang berjuluk laki laki, baru kali ini saja ada seseorang yang mampu membuat perhatiannya teralihkan, hari ini ia bagian piket kelas jadi mau tak mau ia harus mengisi spidol saat alat tulis itu kehabisan daya hidupnya, bisa bisa ilmu yang di ajarkan guru tidak sampai ke otak cemerlang para siswa, yang cerdiknya bukan main.


"Spidol habis, siswa piket minta tolong diisi !" pinta bu Rida.


Kara sontak berdiri bersama Ica, "Siap bu. Yu Ca !"


2 buah spidol berada di tangan Kara, keduanya berjalan beriringan menuju ruang Tata Usaha, karena disanalah ada meja pengisian tinta spidol.


"Hahhh !!" ******* lelah Ica, "lama lamain jalannya Ra, mumet gue pelajaran bu Rida, bikin ngantuk !" curhat colongan dari salah satu murid di kelasnya menjadi topik pembicaraan kali ini, selalu dengan alasan yang sama, jika tidak bosan, ngantuk, atau otak mereka sudah menemukan jalan buntu, terlebih lagi ada sesuatu yang indah di lapang sana, melebihi indahnya pelangi senja.


"Bilang aja mau liat cowok cowok yang kena hukuman !" Kara mengomel sambil bergumam, namun terdengar oleh Ica yang kemudian terkikik.


"Ga usah terlalu serius, ini masa muda Ra, nikmatin aja. Masa putih abu abu ga datang dua kali ! ini dia cerita manis yang bakal kita rindukan nantinya !" ujar Ica, menabung setiap moment untuk dikenangnya kelak setelah keluar dari sini.


"Serah loe Ca, " jawab Kara tak mau ambil pusing.


Ica menyenggol Kara, "Ra, itu bukannya ka Milo and the genk ya ?" tunjuk Ica pada sekumpulan murid yang tengah duduk di pinggiran lapang berpangku buku catatan, sungguh rejeki anak sholeh kalo kata Ica. Liat pemandangan di depan mata bikin seger dan semangat, apalagi yang dilakukan si titisan setengah penghuni neraka dan surga ini. Hukuman dan dirinya seperti satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Setelah mengisi spidol Kara menyempatkan menghampiri lelaki ajaib ini, ia tertawa tawa seperti orang dengan tanpa beban. Padahal jelas jelas, tinta merah siap siap mengisi buku raportnya.


"Beg*o," gumam Kara.


Ica sibuk merapikan penampilannya, satu anak rambut yang mencuat saja bisa bikin dia malu di depan para the most sekolah ini, kali aja kan, mereka kelilipan terus liat Ica kaya bidadari yang jatuh dari hulu sungai.


"Lagi ngapain disini? dihukum lagi?" tanya Kara.


"Hay baby, darimana?" tanya nya. Sedangkan yang lain masih berkutat dengan pulpen dan buku di tangannya menyelesaikan soal soal tugas yang diberikan. Menyadari kedatangan Kara ketiga teman Milo langsung mengalihkan pandangan dan fokusnya, pemandangan di depannya lebih asyik dibandingkan pr pr yang belum dikerjakan sama sekali.


"Ditanya malah balik nanya," jawab Kara.


"Biasa by, pak Musa kan sayang sama muridnya. Jadi dia ngasih kebebasan buat aku sama yang lain buat kerjain tugas sambil menghirup udara segar pagi hari, biar tambah sehat !" jawabnya.


"Hay Ra,"


"Hay ka Kean, ka Er, ka Arial. Sama juga?" mereka mengangguk.


"Cihh soulmate !" gumam Kara mendumel. Kara sedikit melirik apa yang sedang dikerjakan oleh Milo.


"Astaga sayang, itu isinya ngasal?" tanya Kara, Milo ikut melirik hasil kerja keras otaknya, saking kerasnya kini otaknya sedang rebahan dan minum jus jeruk.

__ADS_1


" Engga juga," jawab Milo, "cuman sedikit lupa aja caranya !" kilah Milo nyengir kuda.


Kara memang gadis cerdas, mungkin jika orangtuanya memiliki cukup uang maka mereka tak akan menyia nyiakan otak cemerlang Kara dan menyekolahkannya di sekolah akselerasi. Tapi apa daya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, jika otak mumpuni maka materilah yang berada di bawah tangga.


"Apa sih yang kamu tau !!" sinis Kara mengambil buku catatan Milo.


"Caranya mencintaimu !!" kekeh Milo disoraki yang lain. Mata Kara mendelik sinis, pagi pagi sudah menggombal, tadi sebelum berangkat sepertinya sarapan tumis buaya.


"Setauku ini tuh caranya gini," Kara mencoba mengerjakan tugas Milo. Bukannya buku yang diperhatikan tapi Milo malah memperhatikan pipi chubby itu yang sedang menerangkan cara mengerjakan soal soal di atas kertas.


"Wah, Ra mening kamu loncat kelas aja !!" seru Kean.


"Jangan ! cape kalo lompat lompat !" jawab Arial, sukses mendapatkan toyoran dari Erwan. Memang diantara mereka hanya Kean dan Raka yang sedikit waras.


"Paket komplit !" gumam Milo.


Kara menoleh, "tuk !!" pulpen melayang di jidat Milo.


"Perhatiin !!"


"Ini juga lagi diperhatiin !!" untung saja anak anak yang diajari Kara tak ada yang modelan Milo, bisa bisa Kara mati berdiri jika anak didiknya macam Milo.


"Kamu !"


Gigi Kara menggertak, kesal. Kesabaran Kara sedang diuji. Jika saja Milo adalah makanan, mungkin sudah habis dilahap dan di kunyah Kara. Cape cape menerangkan hingga mulutnya kering, ternyata laki laki ini malah asyik memandangi wajahnya.


"Dah lah, aku mau balik ke kelas dulu, ditungguin bu Rida !" Kara berdiri.


"Bu Rida mau ngapain?" tanya Milo.


"Spidol !!" jawab Kara menunjukkan spidol di tangannya.


"Aku juga nungguin kamu by,"


"Mau ngapain?"


"Ngajak ke KUA !!" serunya.


"Cie...!!"

__ADS_1


Kara langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kelas meninggalkan Ica di belakangnya, Percayalah urat malunya sudah digunting Milo sejak mengenal lelaki satu ini.


"Ra, ko lama?" tanya Ayu, melihat bu Rida yang raut wajahnya menatap curiga pada Kara dan Ica.


"Maaf bu, tadi saya kebelet abis makan pedes !" seru Ica, antara setia kawan atau memang ia senang melakukan itu, pokonya hari ini ia diselamatkan alasan Ica.


"Ka Milo sweet banget sih, Ra !!" bisik Ica condong ke depan diantara Ayu dan Kara. Sontak Ayu menoleh.


"Pantesan ketemu bojo," Ayu terkikik. Kara cemberut, mukanya sudah memerah menahan malu sekaligus merona.


.


.


Kara sudah beberapa kali mengelap keringatnya karena cuaca terik, Milo yang tadi menelfonnya meminta Kara untuk menemaninya ekskul basket, seperti biasa. Tapi yang ditunggu tunggu ternyata belum keluar dari kelas, rupanya Milo dan kawan kawan masih menerima kultum dari pak Dahlan. Jangan salahkan Milo yang selalu bermasalah, tapi memang guru gurunya saja yang terlampau senang menguji ketahanan mental Milo.


Wajahnya masam, padahal buah mangga tengah manis manisnya. Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan, catat !!


Kalau sepuluh menit lagi Milo tidak keluar, Kara memilih untuk menyetop angkutan umum saja dan pulang.


Sepasang tangan menutupi mata Kara dari belakang, sontak Kara terkejut dan ingin berontak, "Siapa sih? ga usah becanda !"


"Gue penculik !" jawab Milo dengan memberatkan suaranya.


"Ga usah ngada ngada, mana ada penculik ngaku ! yang ada penjara penuh !!" Kara berusaha melepaskan tangan itu.


"Gue orang ganteng semuka bumi !" jawabnya lagi. Kara sudah kesal, ia pun tau lelaki ini siapa, tidak ada makhluk di bumi ini yang paling narsis, dan paling absurd selain Armilo Dana Aditama. Bahkan semesta pun tau jika lelaki yang ngakunya penculik dan orang ganteng semuka bumi ini adalah Milo, Kara hafal betul parfum yang dipakai Milo.


Kara mengambil ancang ancang, menyikut perut Milo.


"Bughhh !!"


"Awwww !! baby, tenaga mu kaya tenaga tukang becak !!" Milo sedikit meringis kemudian tertawa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2