Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Tak bisa tanpamu


__ADS_3

Bibirnya hampir saja menyentuh bibir Nina, bahkan Nina sudah memejamkan matanya. Ia akan sangat menikmati moment di sentuh Milo.


Tapi tunggu !! Nina mengernyit, ia membuka matanya, melihat Milo tersenyum merendahkannya.


"Sayangnya gue alergi dengan cewek yang merendahkan dirinya sendiri ! loe ga lebih dari gadis gadis yang menjual tubuhnya untuk om om tua ! bahkan tanpa dibayar !" Milo menjauhkan wajahnya dari hadapan Nina. Ia ingat betul dengan ayah dan ibu tirinya.


Begitu malu dan marahnya Nina, ia menangis.


"Apa sih yang loe liat dari cewek cupu itu Mil !!" teriak histeris Nina.


"Kurang apa gue sama loe !! gue bahkan rela loe jamah !!" dengan tanpa malunya Nina berteriak merendahkan dirinya.


"Apa loe ga sadar dengan sikap loe saat ini, itu saja sudah menunjukkan Caramel jauh lebih terhormat daripada loe !"


"Pergi dari sini, dan jangan tunjukkan lagi batang hidung loe di depan gue !" usir Milo.


Nina menangis lalu berlari keluar ruangan. Kean dan Arial masuk.


"Loe apain lagi tuh anak ?" tanya Kean.


"Heh !!" Milo hanya mendengus.


"Bukan gue yang apain dia, dia sendirilah yang membuat dirinya sendiri memalukan !" jawab Milo.


"Hallo om, gue minta besok bawain motor gue ke jl. XXXXX !" Milo kembali menelfon asisten pribadinya .


"Loe yakin mau ke Bandung naik motor?" tanya Kean. Milo mengangguk.


Ia menumpukkan kedua tangannya sebagai bantal diatas bantal, menatap langit ruangan ini yang seluruhnya berwarna putih, semakin ia ingin melupakan Kara semakin ingatan itu memukul hatinya. Bukan tidak mungkin nene lampir itu akan mempengaruhi papahnya untuk membenci Kara.


Acara esok hari, adalah penutupan.


"Milo, Raka, muka kalian kenapa babak belur gitu?" tanya pak Dahlan.


"Ahh,semalam kita jatoh guling guling di tambah kemarin kan Milo terjatuh sewaktu di tebing sana !" jawab Raka.


"Bukankah yang terjatuh hanya bagian tangan dan kaki?" tanya pak Dahlan


"Engga pak, muka saya juga kena, tapi mungkin kemaren belum kelihatan lebamnya !" alasan Milo. Pak Dahlan mengernyit, meskipun terasa janggal tapi ia tidak mau memperpanjangnya lagi, acara sudah harus dimulai.


Nina memilih tetap berada di barisan paling depan, meskipun wajah Milo terdapat beberapa luka lebam akibat perkelahiannya dengan Raka semalam, tapi Milo tetap terlihat tampan.


Acara ditutup dengan panggung pentas kecil kecilan, bahkan Jihad sudah sibuk menyiapkan handycam nya, belum lagi telfonnya berdering dari ujung sana, panggilan dari Ica yang berada di sekolah saat jam istirahat.


"Buruan peakkk, loe lama amat sihh, coba arahin kamera loe ke arah panggung !" teriak Ica,memang suara Ica tak bisa pelan bila berbicara.


"Ngapain kameranya loe arahin ke lubang idung loe yang kaya liang belut, Ji !!" pekik Ica lagi, Ayu dan Kara mengernyit sambil menutup telinganya.


"Ca, bisa pelan dikit ga sih suara loe, pengang kuping gue !!" toyor Ayu. Ica terkekeh, mereka seperti sedang melihat live streaming acara pentas anggota OSIS. Teman teman sekelasnya pun ikut berkumpul untuk menonton.

__ADS_1


Memang kompak sekali kelas ini.


"Bentaran,, loe semua mundur dikit kek, sesek nih gue !! loe pada ga mandi ya !! bau tau gak !!" sarkas Ica.


Kara dan Ayu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ica, ini dia perusuh kelas X 4, jika hanya ada Ica dan Jihad saja kelas sudah seperti pasar senen kalo lagi weekend. Berasa kaya lagi ikutan demo mahasiswa pas lagi chaos chaosnya.


"Oke penampilan selanjutnya dari ka Milo, yang katanya mau nyumbangin sebuah lagu !!"


Belum apa apa sorak sorai menyambut Milo sudah paling heboh saja tidak disana tidak disini. Rupanya hampir semua siswa sekolah ini fans garis keras Armillo Dana Aditama. Mendengar nama Milo disebut mata Kara mulai berkaca kaca. Melupakan memang tidak semudah yang ia bayangkan, butuh pengorbanan yang tidak sebentar. Kara berdiri dari bangku, meminta jalan pada yang lain.


"Awas gue mau lewat !" Ayu yang melihat itu, ikut menemani Kara.


Semua terdiam saat Milo mulai memetik senar gitarnya.


" Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu


Memaksamu mencintaiku sepenuh hati


Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu


Tapi terimalah permintaan terakhirku


Genggam tanganku, sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak, di depan aku


Ku kan menghilang jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi dimana nanti kau terluka


Cari aku, ku ada untukmu"


Lyodra - pesan terakhir


Semua yang mendengar bisa merasakan apa yang dirasakan Milo, meskipun sedang berada di luar kelas Kara masih bisa jelas mendengar suara Milo,


"Ra, " Ayu meraih dan memeluk Kara, memberikan pelukan kekuatan untuk sahabatnya ini.


"Gue kira gue bakal kuat dan mampu Yu, gue kira gue cukup membenci Milo, gue kira gue ga sayang sama Milo, tapi ternyata susah !!" Kara menangis sesenggukan seperti sedang mengadu, ia rapuh.


"Saran gue Ra, loe jalani semuanya bagai air mengalir, biar tangan Tuhan yang bekerja atas takdir kalian berdua !" jawab Ayu yang ikut menangis.


"Gue takut, hanya kedua orangtua gue lah yang gue punya ! gue ga mau ambil resiko nyakitin mereka !" jawab Kara.


Tadi pagi saat Kara membantu membuang sampah, ia melihat struk dan faktur gaji ayahnya, Kara tersenyum melihat gaji ayahnya bulan ini ada penambahan karena lembur ayahnya yang sudah beberapa hari kerja lembur. Tapi matanya memicing, ia melihat nama Aditama tersemat di belakang nama perusahaan pabrik ayahnya. Kenapa ia baru sadar sekarang, jika ayahnya bekerja di pabrik milik ayah Milo, dimana tante Marsya sebagai HRd sekaligus yang mengendalikan keuangannya. Kara belum berani bilang jika Milo adalah anak pemilik pabrik, tempat ayahnya bekerja, pada ayah dan ibunya.

__ADS_1


Bukan tidak mungkin nantinya ayahnya akan menjadi sasaran amukan tante Marsya.


"Gue dan keluarga gue hanya kecoak Yu, yang tinggal diinjek aja mati !" jawab Kara.


Kara menenggelamkan kepalanya kembali di bangku kelas. Otak pintarnya mendadak bodoh, ia belum siap untuk belajar.


"Loe sakit Ra??" tanya Ayu. Badan Kara memang lemas dan sedikit hangat, mungkin karena dari semalam ia belum makan. Tadi pagi ia terburu buru, patah hati adalah penyakit yang merembet pada segala macam penyakit, jangankan makan, melihat nasi goreng ibunya saja tidak membuat seleranya tergugah.


"Gue ga apa apa !" jawab Kara, " gue titip teh manis anget aja dari kantin ya !" ucapnya pada Ayu.


Ica masih belum selesai telfonan dengan Jihad di sebrang sana. Jika kupingnya belum sebesar kuping gajah mereka tak akan berhenti.


"Ji, buruan mana Rio kesayangan gue !! salamin kek dari gue !!" ucap Ica.


"Salam salam, sereh, laos !!" jawab Jihad.


"Si@*lan loe kamvreeet !!" jawab Ica mendengus.


"Mana tuh anak daddy yang dua !!" tanya Jihad.


"Daddy, daddy..mana ada daddy ngondek !!" jawab Ica.


"Sat !! gue jantan !!" jawab Jihad sewot membuat Ica tertawa. Ica lalu terdiam, melihat Kara yang masih termenung dengan teh manis hangat di depannya, ia mengarahkan kamera ke arah Kara yang maaih sesenggukan berusaha mengatur nafasnya. Jihad paham betul masalahnya.


Tak sengaja saat Jihad sedang menghibur Kara, Milo dan kawan kawan melintas tepat di belakang Jihad.


"Udah kali, Ra..ga usah mewek liat muka loe udah kaya disedot vampir, pucet banget !" ucap Jihad. Milo terhenti, rasanya ia ingin memeluk gadis yang ada di layar ponsel Jihad.


"Bawel, loe vampir nya peak !!" sarkas Ayu.


"Kara sakit lah bunda !!!" rajuk Ica.


"Sat, ga liat gue berotot gini dibilang bunda !!" Ica tergelak.


"Loe sakit, Ra !! peluk onlen deh Ra !!" jawab Jihad.


"Suttt !" senggol Arial pada Raka menunjukkan Milo yang terlihat sangat merindukan Kara.


"Kara sakit," gumam Milo. Hampir saja ia ingin merogoh ponselnya untuk menelfon Iwan dan Juwita, tapi ia urungkan. Milo hanya ingin memberikan waktu untuk keduanya. Terdengar suara sesenggukan Kara dari sana, semakin kencang. Apalagi mendengar suara Jihad. Milo langsung pergi dari sana. Tapi Raka masih berada disana.


"Gue ga bisa !!" ucap Kara bergetar.


"Lo pasti bisa, Ra. Bukannya loe sendiri kan yang ambil keputusan ini !!" jawab Jihad.


"Ji," Ayu mengambil alih ponsel dari Ica meninggalakn Ica yang sedang menenangkan Kara.


"Ya, ay.."


"Ayah Kara kerja di pabrik milik keluarga Milo, dan jika loe pinter loe pasti tau bagian keuangan sekaligus pimpinan HRD siapa ?!" ucap Ayu.

__ADS_1


"Tante Marsya !" tebakan Jihad tepat.


Raka mulai mengerti sekarang, ia tersenyum. Ia tau harus berbuat apa sekarang.


__ADS_2