Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Pesta perpisahan sekolah


__ADS_3

Kebaya berwarna biru dongker dipilih Ica sebagai pakaiannya untuk menghadiri acara perpisahan. Dengan memakai heels milik ibunya, ia diantar bang Riski ke sekolah.


"Gue bilang juga apa, ribet banget ! loe kesiangan, pake mewek lagi semaleman ! kenapa, diputusin cowok loe ?!" omel kakanya saat mengantar Ica ke depan pintu gerbang sekolah. Sanggulan yang terkesan modern sudah disematkan di kepalanya, ibu Ica memang bisa merias, karena dulu pernah mengikuti kursus salon.


"Ya udah ga usah ngomel ngomel kaya emak emak, berisik ! ntar jemput gue lagi, " bibir yang di olesi lipstick itu mengerucut, untung saja acaranya belum dimulai.


"Telfon aja ! huhhhh punya adek cewek satu malesnya naudzubillah !" omelnya dan berlalu setelah punggung tangannya di kecup Ica.


Ica bergabung ke dalam bersama teman teman yang lain.


"Kara mana? " tanya Ica.


"Icaaa !!! loe cantik banget !" seru Vanya, Amel dan Ayu berpelukan.


Sekolah sudah dibuat layaknya tempat hajatan.


"Kara di dalem, buat jadi perwakilan siswa yang akan lulus, gue denger tamu undangan juga dikasih buat alumni alumni ya ?" tanya Amel.


"Iya, berarti ada ka Milo cs kan ?" tanya Vanya.


"Ada, angkatan sebelumnya juga ada !" jawab Ayu. Suasana ramai, tapi Ica merasa sepi, Jihad tak ada disini, jujur saja setengah hatinya ikut pergi, hambar !!


Acara sudah dimulai, para siswa, pengisi acara, dan tamu undangan beserta para komite dan donatur sudah menempati tempat duduk masing masing.


"Kara pasti di dalem ya Mil ?" tanya Raka.


"Iya, "


Kepala Sekolah memberikan sepatah dua patah kata sambutannya dan juga pesan pesannya untuk para siswa yang sudah lulus. Jamuan pertunjukkan dari ekskul kesenian sangat kental dengan adat Indonesia.


"Sebagai simbolis, pelepasan kelas XII tahun ini kita panggil siswa dan siswi berprestasi sebagai perwakilan penyerahan sertifikat dan ijazah kelulusan, " ucap pembawa acara.


"Dimohon pada komite, bapak Braja Dana Aditama S.E untuk naik ke panggung sebagai perwakilan dari pihak komite, dan bapak kepala sekolah !" ucap dari pembawa acara. Ayah Milo tampak gagah maju ke depan.


"Inilah lulusan terbaik tahun ini Caramel Violin Paramitha dari kelas XII IPA dan Restu Narendra dari XII IPS !!!" tepukan tangan mengiringi kedua lulusan terbaik sekolah ini.


Tap..tap..tap...

__ADS_1


Langkah wedges datang dari arah belakang, sanggulan indah nan cantik bertahtakan hiasan kupu kupu di belakang sanggulan elsanya. Kebaya modern berwarna peach membuat Kara tampak memukau, di temani Restu sebagai pendampingnya. Riasan tipis bak gadis gadis desa yang baru mekar di kuncupnya tersenyum merona pada setiap pasang mata yang melihat.


Ibu dan ayah Kara hampir tak bisa membendung haru melihat anak kesayangan membuat keduanya bangga. Milo tersenyum lebar, melihat pujaan hati maju, hanya saja gandengan tangannya di lengan Restu membuat Milo ingin mengarahkan ujung senjata pada Restu.


Arial tertawa terkikik bersama Erwan melihat Milo yang dilanda cemburu.


"Kara cantik banget !!" bisik teman temannya.


Kara naik ke atas panggung dan tersenyum menerima ijazah kelulusan dan sertifikat, om Braja mengalungkannya medali.


"Calon mantu cantik, papah bangga sama Caramel, " bisik om Braja saat Kara membungkuk di hadapannya.


"My pleasure, " jawab Kara tertawa bersama om Braja di panggung, terlihat jelas kedekatan mereka.


Om Braja memberikan sepatah dua patah katanya untuk para lulusan dan sekolah yang sudah ia naungi. Tapi se serius seriusnya pria ini selalu saja ada kejadian tak terduga.


"Untuk nak Caramel, terimakasih banyak. Di 3 tahun belakangan ini sekolah begitu banyak mendapatkan penghargaan dan piagam dari berbagai pihak karena partisipasinya dalam bidang pendidikan, dengan itu akreditasi dan kredibilitas sekolah semakin baik, dimata semua pihak. Maka penghargaan berupa beasiswa luar negri pantas untuk ananda dapatkan," Kara hanya mengangguk seraya melempar senyuman anggun.


"Kalau om masih muda, om sudah pasti mengejar Kara, akan om singkirkan pemuda pemuda di luar sana, kalo bisa om ajak Kara nikah muda !" kelakarnya membuat para tamu undangan tertawa, tak menyangka pengusaha ini pandai berkelakar padahal tampangnya dingin seperti anaknya.


"Terimakasih untuk pak Braja, calon saya yang tidak jadi.." jawab kelakar Kara, kembali para tamu tertawa. Kara memberikan pidato singkatnya di atas panggung dan ucapan perpisahan untuk teman temannya, seketika suasana jadi haru. Setelah selesai Kara turun dari panggung, tak peduli dengan suasana formal, teman teman kelasnya menyambut bintang kelas ini dengan tangisan, mengetahui jika gadis bersahaja dan somplak ini akan pergi jauh, mereka memeluk dengan sesenggukan, Kara tak pernah pelit pasal ilmu, mungkin tanpa Kara mereka selalu kebingungan jika mengerjakan pr, ingat saja mereka jika tiap pagi, buku Kara lah yang akan diburu, lalu mereka berjejer menyalin tugasnya di dalam kelas sampai luar kelas. Jika ujian maka ponsel Kara akan tiap detik bergetar. Saat mereka suntuk Kara dan Ica selalu hadir dengan candaan mereka. Jika kekurangan maka mereka akan saling berbagi entah itu makanan, uang jajan ataupun tugas.


"Jangan pada mewek kenapa sih, "


"Ra, kapan loe berangkat ?" tanya mereka.


"Lusa, " jawab gadis ini ikut menangis.


Seorang siswa sekelasnya membawa party popper, dan menembakannya di atas mereka semua.


" Duarrrr !!!"


"Duarrr !!!" hamburan kertas blink blink menghujani mereka.


"Sirammm...Sirammm !!!"


"Eeehhh...tunggu tungguu !!! loe semua tega, gue udah dandan dari subuh ini !" sewot Kara saat teman temannya hendak menyiramnya dengan air dan tepung seperti orang yang berulang tahun.

__ADS_1


Acara formal berakhir, kini hanya tinggal sajian hiburan.


Seperti tak ingin berpisah mereka terus saja bersama di dalam kelas tercinta.


"Ekhemmm !" deheman Milo mengejutkan mereka yang tengah mengenang masa masa sekolah, seakan baru saja kemarin mereka masuk menjadi junior di sekolah ini, dan hari ini mereka resmi menjadi alumnus.


"Boleh minjem Kara bentar ?!" tanya Milo.


"Boleh ka, ambil aja !" ucap yang lain, sedangkan Ica..ia tidak mengijinkan Kara dibawa Milo.


Ica menghentak hentakkan heelsnya ke lantai,


"Bagian gue dong ka Mil, besok besok kan Kara bakalan sama loe terus, biarin sekarang sampe besok Kara sama gue ! loe tega, Jihad tega sama gue, ga pengen ngejar gitu, yakinin gue kek !" mewek Ica.


"Loe nya aja so jual mahal, nyesel kan loe sekarang !"


"Udah ga usah mewek, loe berdua deketan, kasih senyum yang cantik !" pinta Milo.


Milo merogoh ponselnya dan mengabadikan foto keduanya, lalu ditambah Ayu. Milo mengirimkannya pada Jihad yang sudah ada di London sana. Atas permintaan Jihad.


Ada segaris senyuman di wajah lelaki itu, kini ia sudah bersiap beristirahat, karena disana sudah malam.


"Loe cantik Ca, " gumannya.


"Sugar baby nya gue kaya mau pada kawinan aja, " saat Jihad menscroll foto foto yang dikirimkan Milo padanya, mulai dari Ayu yang cemberut, dan Kara yang tengah berdebat dengan Ica.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2