
Kara terpundur hingga mentok tembok.
"Bapak maju lagi, saya lempar pake sepatu !" ancam Kara yang sudah memegang sepatunya dari tadi.
"Lempar saja, saya suka gadis yang garang garang seperti ini !" jawabnya layaknya b4jing4n.
Kara harus segera berfikir mencari jalan keluar. Drama sinetron ikan asin yang sering ibu tonton sedang ia alami kebul*shitan yang meracuni otak emak emak, selalu si pemeran utama yang lemah dan tak bisa melawan. Kara bukan gadis seperti itu, yang nantinya akan terpuruk karena usahanya tak maksimal menjaga diri. Harus ia sebut apa laki laki di depannya ini? bapak, om, kakek. Usianya diatas usia ayahnya yang baru 40 tahunan. Seharusnya ia di rumah saja berkumpul dengan anak, cucu sambil pijitan pake parem kocok dengan suguhan susu jahe. Bukannya disini menerima belaian dari anak gadis dan minum minuman yang membuat lambungnya rusak nantinya. Kara tak harus salim kan pada orangtua satu ini?
Kara benar benar melemparkan sepatu yang beratnya lumayan bisa bikin jidat benjol.
"Plukkk !!!" sepatu itu mendarat mulus di kening si bapak.
"Beraninya kamu !!" pak Wendi sudah melempar jasnya ke sembarang arah, menyisakkan kemeja berwarna dongker. Kara berlari mengulur waktu sambil berfikir. Andai saja ia memiliki kekuatan hulk saat ini, mungkin pintu itu akan berhasil ia hancurkan.
Untuk sesaat ia memohon pada Tuhan, untuk melindunginya dari segala macam marabahaya. Tak selamanya wanita tangguh bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia akan tetap butuh orang lain.
"Ayah, ibu tolongin Kara !" gumamnya dalam hati.
"Milo tolongin aku, " pikirannya mulai goyah, mulai diracuni bagaimana masa depannya jika harus berakhir di sini.
Tangannya teraih pak Wendi, demi apapun setelah ini ia akan bersih bersih. Kara dilempar menuju ranjang. Tapi Kara segera bangkit. Kaki gadis ini kembali diraih pak Wendi.
"Sekuat apapun kamu melawan, kekuatan laki laki tak akan mampu kamu lawan !" ucap lelaki ini.
Saking gemas dan emosinya pak Wendi akan sikap Kara yang terus melawan ia mendorong Kara ke arah tembok. Kepala Kara mulai pusing, pandangannya kabur. Bersamaan dengan itu pintu terbuka.
"Brakkkkk !!!!"
"L4kn4t !!!!"
Kara tergeletak di bawah, dari pandangannya yang kabur dan mulai menggelap terlihat beberapa orang masuk dan mendaratkan pukukan serta tendangannya pada pak Wendi , senyumnya terbit tipis. Allah masih menyayanginya. Kara terpejam tak sadarkan diri.
Milo menghantam pengusaha batu bara itu berkali kali. Hanya dengan sekali tendangan saja pintu yang terkunci pun rusak bagian engselnya. Club malam itu diobrak abrik oleh Milo cs, seketika club malam itu bak kapal pecah, orang orang berhamburan, suasana jadi chaos, para bodyguard dan satpam dikerahkan, tapi seakan memb4bi but4..Milo cs menyerang tak ada ampun, mungkin selama ini Milo belum menunjukkan taringnya. Tapi malam ini, semuanya akan melihat remaja 18 tahun yang sudah melewati asam, manis dan pahit kehidupan. Sudah di tempa melewati berbagai kepedihan dan kerasnya hidup.
"Mil, oyy stop ! tuh orang bisa mod4r, loe injek dan loe pukul terus ! inget jangan sampai menimbulkan masalah baru !" Raka dan Ayu menahannya. Sedangkan si daddy bersama yang lain masih berada di ruangan tadi mengobrak abrik club malam dan menyerang si g3rm0 dan para bodyguardnya, tak lupa bantuan dari anak buah om Adi yang sudah datang bersama polisi, atas tuduhan kegiatan pr0stitu*si.
"Ra..Kara !!" Ica mencoba menyadarkan sahabatnya ini dengan derai air mata. Milo menyugar rambutnya.
"Mamposss loe !!" Milo menendang kaki laki laki yang sudah terkapar itu lalu menghampiri gadisnya yang sudah tak sadarkan diri.
"Kara berd4r4h ka !" ucap Ica histeris. Milo segera menggendong Kara, syukurlah ia tepat waktu, jika sampai telat sedetik saja, mungkin ia akan menyesal.
Polisi menggeledah semuanya termasuk Gladys. Milo menggendong Kara keluar.
"Kara !!" Juwita melihat Kara dibawa oleh Milo.
"Ini kunci mobil gue Mil, pake aja biar gue bareng yang lain !" tatapan Milo tajam pada Gladys.
"Loe camkan ini baik baik, sampai manapun bakalan gue kejar loe, ga akan gue biarin loe hidup tenang !" ucap Milo.
Milo memasukkan Kara di kursi belakang bersama Ica, Jihad ada menemani mereka.
"RS NIRWANA, Ji !" ucap Milo.
__ADS_1
"Ra, " Ica mencoba menggoyang goyangkan tubuh Kara.
"Baby, hey...sadar !" ucap Milo menepuk nepuk pipi Kara.
"Dia belum diapa apain kan ka Milo?" tanya Ica khawatir, Ica sudah sembab.
"Semoga belum, " jawab Milo. Tak sampai 15 menit mereka sampai di RS.
Kara masuk ruang UGD, ia diberikan oksigen agar sirkulasi pernafasannya lancar. Perawat membersihkan luka lukanya.
Untung saja luka di kepalanya adalah luka kecil. Hanya sekedar dibalut kassa saja dan plester.
"Maaf by, semua dosa ku kamu yang tanggung !" Milo memegang tangan pucat Kara dan mengecupinya berulang kali, pergelangan tangan yang tersemat gelang darinya.
"Dokter, apa ini perlu dirawat inap?" tanya Milo.
"Mungkin kami akan melakukan beberapa tes, takutnya ada luka dalam yang dialami, untuk malam ini pasien masuk ke ruang rawat," jawab dokter.
"Celaka gue, harus bilang apa gue sama ayah ibunya Kara !" ucap Milo.
"Bilang aja yang sebenarnya, insyaallah ayah ibunya Kara akan paham, " Jihad menepuk pundak Milo.
"Iya ka, Jihad bener !" timpal Ica.
"Apapun nanti konsekuensinya, bisa dipikirkan nanti. Yang jelas awali semua dengan kejujuran, mereka akan lebih menghargainya."
"Loe panggil Milo kaka, lah giliran gue Jihad ! gue justru lebih tua dari Milo. Gue cuma masuk kelas 1 lagi. Umur gue setaun lebih tua dari Milo !" kritiknya pada Ica.
"Ogah ! gue bukan abang baso !" jawab Jihad.
"Terus mau gue panggil apa? mas, kakang, mendingan nama aja kita kan sekelas !" jawab Ica.
"Serah loe deh Ca ! modelan loe mah kalo dikasih tau suka gagal paham !" omel Jihad.
"Kalian berdua bisa ga sih sehari aja ga berisik, gue capek lah pengen tidur !" jawab Kara pelan.
"By !!"
"Ra !!"
Ketiganya berseru senang,
"Minggir ka Milo !!" Ica refleks mendorong Milo hungga Milo menyingkir dan antusias memeluk Kara.
"Ra, gue pikir loe kenapa napa, gue udah nangis kejer tau ngga ! loe ga tau kan kalo gue nangis kejer kaya apa !!" Ica malah kembali menangis.
"Ca, badan gue sakit sakit semua, bisa ga pelanan dikit meluknya ! lagian ga pantes loe mewek, nangis kejer loe pasti ngacak ngacak sampah ya?" kekeh Kara lemas.
"Ca, pelan pelan Ca," ujar Milo masam, harus mengalah.
"Bukan, nyemilin tiang listrik !!" jawab Ica.
"Gue ga bisa bayangin kalo loe sampe kenapa napa Ra !" ucap Ica memeluk Kara erat.
__ADS_1
"Gue mah cewek kuat Ca, daripada harus diapa apain sama tuh om om mendingan gue obrak abrik dia duluan ! gue juga kuat Ca, loe liat kan gue lawan 3 preman sekaligus ?! kasih gue penghargaan Ca !" ujar Kara.
"Iya loe cewek paling kuat yang gue kenal Ra ! loe beneran ga diapa apain ?" jawab Ica.
"Uhukkk uhukkk, engap Ca..loe meluk kekencengan ! kaya lagi melukin teddy bear !" jawab Kara. Milo menjauhkan Ica dari Kara.
"Gue ga diapa apain, cuma di dorong ke tembok doang ! abis ini gue mesti minta dipijet Ca, badan gue berasa remuk !" jawab Kara lagi.
"Mana lagi yang sakit ?? loe masih virgin kan Ra ?!" tanya Ica membuat Kara malu di depan kedua pemuda ini.
"Satt !! loe pikir gue sampe kaya gini bela belain apaan ?! masih lah ! enak aja !" Milo dan Jihad mengulum bibirnya.
"Kali aja pas loe ga sadar atau gimana ?!" jawab Ica.
"Maafin aku by, gara gara aku, kamu yang harus..."
"Sutttt !!!! yang udah ya udah..ga usah diungkit lagi. Yang penting sekarang kamu udah sadar, apa akibat perlakuan kamu..gimana dampaknya sama orang !" senyum Kara kaku. Milo mengangguk, bergantian sekarang Milo yang memeluk Kara.
"Ya elah ! tadi si Ica sekarang loe lagi Mil, kesian nih sugar baby gue !" Jihad mengacak rambut Kara.
"Ibu sama ayah jangan sampe tau ya," ucap Kara. Milo memandang Kara getir.
"Ayah sama ibu udah tau by, mereka lagi dijemput Erwan."
"Mereka pasti khawatir, " jawab Kara.
"Ga apa apa, biar aku yang bilang," jawab Milo.
"Kita jelasin bareng bareng, " lanjutnya memegang tangan Kara memberinya kekuatan.
Kara dipindahkan ke ruang rawat inap ruangan VVIP.
Ayah dan ibunya datang langsung memeluk Kara. Milo terlihat menunduk, yang ia takutkan bukan dimarahi oleh ayah atau ibu Kara, tapi ia takut jika keduanya akan melarang anak gadisnya berhubungan lagi dengannya.
"Ya Allah Caramel, " ibu dan ayah meneliti setiap inci tubuh putrinya tanpa terkecuali.
" Kara ga apa apa bu, ayah.." jawab Kara.
"Ayah, ibu maafin Milo..." ucap Milo. Ayah menghela nafasnya, sebagai seorang ayah ia kesal, ia marah. Tapi ia tak bisa menyalahkan sepenuhnya pada Milo.
"Ayah, " Kara memegang tangan ayahnya itu, seakan memberikan isyarat untuk tidak menyalahkan Milo. Pak Darmawan melihat istrinya bu Hani yang kemudian mengangguk.
"Bisa kita bicara di luar sebentar nak Milo," ucap ayah.
.
.
.
.
Kisah ini terinspirasi dari beberapa teman SMA mimin, meskipun beberapanya sudah mimin rubah ya ! ada yang ditambahi dan ada yang dikurangkan. Untuk para readers remaja disana adik adik mimin, anak anak mimin satu pesanku, jangan pernah jadi korban zaman, tetap istiqomah. Harga diri dan berharga nya seorang perempuan bisa dinilai dari seberapa kerasnya ia menjaga kehormatan seorang perempuan, jangan mencari jati diri di salah tempat dan salah lingkungan guys, mimin yakin kalian sudah bijak dalam memilih pergaulan 😉😉
__ADS_1