
Setelah perdebatan alot, Kara akhirnya menurut untuk ijin sekolah.
"Besok ga usah datang ke sekolah dulu ! istirahat dulu by, " titah Milo.
"Tapi beneran udah ga apa apa !" gadis ini ngotot.
"Engga ! no debat lagi !" jawab Milo, mata Kara kalah tajam menatap alis tebal menukik Milo. Dadanya pun memang memaksa Kara untuk beristirahat.
"Biar besok yang lain kesini bawain pelajaran, biar ga ketinggalan !"
Gadis ini menghempaskan punggungnya dengan tangan melipat sepaket dengan bibir cemberutnya.
"Ibu belum pulang ngajar?" tanya Milo.
"Belum !" jawab singkat Kara. Milo terkekeh, gadisnya ini jika sedang marah menggemaskan.
"Tapi di sekolah ga usah macem macem, ga usah memperpanjang masalah !" pinta Kara. Milo mengangkat alisnya sebelah, dan hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Aku pulang dulu by, " pamitnya.
"Jangan lupa bilang sama ibu, atau aku yang bilang !" ucapnya dengan nada mengancam memasang helm fullfacenya. Kara mengangguk.
"Obatnya dimakan !" lelaki pemaksa ini, pergi menjauh.
************
Kara hanya bolak balik kamar dan ruang tengah, tak ada lagi yang bisa ia lakukan, kedua orangtuanya pun sama protektifnya seperti Milo,
"Ra, masih sakit dadanya ? masih sesek nafas?" tanya ibu, saat Kara tiba tiba memeluk ibunya dari belakang.
"Dikit bu, " jawabnya.
"Coba nafas panjang, " pinta ibunya. Kara mengambil nafas panjang, namun di tengah tengah ia tersendat karena tak sampai.
"Sudah jangan terlalu dipaksakan, " ucapnya.
"Besok Kara mau sekolah bu, " Kara mengambil duduk di meja makan, sedangkan ibunya tengah menata piring di meja.
"Kalau memang sudah baik baik saja, boleh !"
"Kara emang udah ga apa apa ko, Milo sama ibu aja yang lebay !" jawab gadis manis ini.
"Sampaikan terimakasih ibu untuknya !"
"Entar juga orangnya nongol kesini, dia kan kaya jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar !" jawab Kara.
"Hus !! " sarkas Ibu.
"Ra, kata ayah, nak Milo anak pemilik pabrik tempat ayah bekerja, apa betul?" tanya ibu. Gadis itu mengangguk seperti boneka dashboard.
"Hm, " ibu hanya berdehem menanggapinya.
"Kara minder bu, " jawabnya jujur.
"Minder?"
"Milo anak orang kaya, udah kaya pangeran, nah Kara ?? jatohnya kaya upik abu !" jawab Kara. Ibu tertawa renyah.
"Upik abu, bar bar pula, jutek iya !" tambah ibu, Kara semakin manyun.
"Rasa minder pasti ada, selama Kara ga pernah berniat untuk memanfaatkan dan tulus sayang kenapa harus malu, bukan harta yang menjadi tolak ukur berteman atau berdekatan, tapi ketulusan, itu yang membuat seseorang mahal dan berharga. Apa selama ini kamu pernah ada niatan licik atau jahat sama Milo?" tanya ibu, Kara menganga.
"Ya engga lah bu, ya kali !! kalo dulu iya, dulu pernah sampe Kara pengen santet aja tuh orang !" dumelnya, ibu menggelengkan kepalanya.
"Abisnya tuh orang nyebelin bu !" jawab Kara melahap perkedel jagung buatan ibu.
"Begitu kalo kelewat benci, ujungnya sayang..karena ga sedetik pun terlewat buat ga mikirin meskipun mikirin kebencian, jadinya inget terus !" jawab ibu.
Tok..tok..tok....
"Siapa??" tanya ibu.
__ADS_1
Kara menggidikan bahunya, "ga tau bu !"
"Biar Kara aja bu," jawab Kara. Melihat jam dinding masih pukul 09.30 wib, tidak mungkin jika Milo atau teman temannya.
"Kara !!" suara perempuan.
Kara membuka pintu, "ka Juwi !" gumam Kara.
"Ra, " Juwita terlihat serba salah, ia memainkan jemarinya panik.
"Ada apa ka?" tanya Kara. Juwita melihat, Kara memang tampak beda dengan stelan rumahannya.
Juwita menceritakan kejadian di sekolah saat ini.
"Ya Allah ka, ya udah kita ke sekolah sekarang. Bentar Kara ijin dulu sama ibu !" Kara segera berjalan cepat menuju dapur, setelah mendapatkan ijin dari ibu, Kara bersama Juwita bergegas menuju mobil Juwita.
Kara berdecak kesal, lelaki itu mengingkari ucapannya. Ia ingat betul kata kata Jihad.
"Gue ga pake seragam ka, apa ga apa apa ?" tanya Kara, surai hitamnya berkilau terkena bias mentari.
"Ga apa apa, asal jangan ketauan guru aja !" Mobil Juwi masuk ke sekolah dan parkir. Ia membawa Kara menuju kelas dimana Nina dan Moni belajar. Kara tampak terkejut, kelas itu ramai, siswa memenuhi pintu masuk. Kara hanya heran kemana semua guru, apakah tak ada guru yang melarang mereka atau memang guru terlalu sibuk.
"Ini guru guru kemana sih ka?" tanya Kara.
"Milo sama yang lain pintar memilih waktu istirahat guru, dia juga ga akan melakukannya secara mencolok. Kalo ketauan juga paling cuma BK atau SP !" jawab Juwita, Kara tidak bisa berlari cepat.
"Woyyy !! awas !!!" Juwita mengindahkan siswa yang menghalangi jalan masuk ke kelas.
Kara menutup mulutnya terkejut, melihat Moni tengah duduk dengan name tag yang mengalung di dadanya dengan bacaan "Jablay Bar bar " di depan Moni sepiring cabai rawit merah yang siap di lahap orang di depannya.
"Gue ga mungkin main tangan sama cewek, Mon. Tapi loe harus rasain rasa sesek dada kaya yang Caramel rasain karena loe tendang !" Milo duduk di atas meja dengan Arial, Kean dan Erwan di belakang Moni. Moni sudah memohon mohon pada Milo.
Raka tak pernah tau setiap rencana Milo, jika sadisnya tengah kumat, karena ide ini mengalir selalu mendadak kaya tahu bulat. Raka sedang berada di ruang OSIS membicarakan kegiatan yang dalam waktu dekat akan diadakan bersama wakilnya dan pak Dahlan.
"Milo stop !" ucap Kara, semua menoleh ke arah gadis cantik di ambang pintu yang datang bersama Juwita, kenapa selalu mendadak dan dalam keadaan darurat begini Kara datang, ia selalu dijemput paksa tanpa diberi waktu untuk merapikan diri. Sudah ke 2 kalinya ia begini.
"Baby, " Milo berdiri. Hampir semuanya tak percaya kalau gadis ini adalah gadis yang mereka sebut cupu itu.
"Kamu ngapain ke sekolah ?!" Milo menarik Kara keluar ruangan.
"Ya kamu ngapain kaya gini !!" tanya Kara balik. Kara juga melihat foto foto yang terpajang di mading dan ruangan kelas ini, foto Moni sedang berada di club malam sambil merokok dengan pakaian tak senonoh.
Kara mencopot semua foto Moni di mading dan beralih di kelas Moni, tempat eksekusi Moni. Ini dia yang dikatakan Jihad tentang Milo yang memang senior menakutkan.
"Baby !!!" pekik Milo, namun gadis ini tak mendengar dan lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya melepaskan foto foto Moni.
Kara juga melepaskan name tag yang terbuat dari kardus yang dipasang oleh Arial di leher Moni. Kara menatap Moni yang melihat ke arahnya juga, penuh kebencian. Kara memberikan foto foto itu tepat di depan Moni.
"Bawa semua aib ka Moni pulang, gue juga udah maafin ka Moni. Anggap aja gue lagi waras ka !" ucap Kara.
"Gue tau apa yang loe pikirin ka, tapi maaf, gue bukan mau so jadi pahlawan kesiangan karena pengen pujian ! gue cuma ga mau ka Milo jadi orang kejam dan sadis, gue juga ga mau dia kena hukuman gara gara bela gue ! terserah kaka, setelah ini ka Moni mau benci gue ataupun mau bales, yang jelas ga ada niatan gue buat bermasalah sama loe !"
Jihad, Ayu dan Ica ketinggalan drama heroik Kara. Mereka terlambat mengetahui. Hangus sudah julukan paparazzi sekolah untuk Jihad, mana ada paparazzi telat.
"Kara !" pekik mereka.
"Hay guys ! "Kara menarik tangan Milo yang mati kutu dengan ucapan Kara, selama ini baru Kara yang berhasil menghentikan aksi sadis seorang Armillo selain Raka.
"Ra, ngapain loe ke sekolah?? bukannya loe ijin sakit?" tanya Ica.
"Iya gue sakit, tapi radar wonderwomen gue bunyi !" jawab Kara dikekehi Ayu dan yang lain.
"Sue ! wonder women, " decih Ica.
"Ra, loe ngapain juga bawa bawa tuh rawit?!" tanya Jihad, tak sadar sedari tadi piring cabai rawit ditenteng Kara.
"Mayan buat bikin sambel di rumah ! rawit lagi mahal ! tau gini aku minta kamu beliin yank !" jawab Kara menoleh pada Milo.
"Hahahaha saravvvv ! ni anak abis ketendang otaknya geser !" jawab Jihad.
"Sorry wan kawan, gue mau minta privasi bentar !" ijin Kara.
__ADS_1
"Loe selamat Mon, Kara datang tepat waktu !" ucap Juwita. Moni masih menunduk tak ingin berterimakasih, ia malah membentak semua yang melihat untuk bubar.
"Kara ga kalah sadis, men !! gue mau ngomong aja takut gue !" ucap Arial. Kean menggelengkan kepalanya. Ketiganya sudah kembali ke kelasnya. Sedangkan Milo masih berada bersama Kara di halaman belakang.
"Lain kali jangan kaya gini lagi ! rubah lah sikapmu, runtuhkanlah egois dan amarahmu, demi aku !" Kara meminta, Kara tidak akan marah..ia hanya akan membantu Milo menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Jadilah Armillo yang pemaaf, setidaknya jika bukan demi aku demi dirimu sendiri !" Tangan Milo masih menggenggam tangan Kara. Bukannya mengiyakan atau menanggapi, Milo malah terlihat asyik memandangi wajah Kara. Membuat Kara kesal. Kara mendorong jidat Milo pelan.
"Matanya mesti dicolok nih ! atau otaknya mesti di bawa ke laundry !!" ucap Kara Milo terkekeh.
"Iya by, kamu sama siapa kesini?" tanya nya.
" Ka Juwita !"
"Asem, si Juwi. Pake ngadu !" gumamnya bermonolog.
"Sayang," Kara meminta Milo berjanji.
Milo menghela nafasnya, meskipun mungkin akan sulit untuknya, "oke aku janji, selama kamu mengingatkan !" jawabnya, mengacak rambut Kara. Nina yang sengaja mencari Milo melihat ini tak suka.
"Kuantar kamu pulang ya !" ucapnya. Kara mengangguk.
"Iya kalo kelamaan takut ketauan guru !"
Kara menggandeng tangan Kara untuk pulang.
"Tunggu bentar, aku pamit sama yang lain !" ucap Kara mendekati ketiga temannya. Sementara Milo menyiapkan motornya.
"Guys gue pamit ya !"
"Loe mau balik sekarang Ra?" tanya Jihad, teman teman Kara baru saja keluar dari kantin.
"Iyalah, gue ga pake seragam, masa iya kaya gini !" jawab Kara.
"Loe sekali kali kerenan dikit kek Ra, kemaren loe ga pake sendal, sekarang sekalinya pake sendal, loe pake sendal jepit rumahan !" omel Jihad. Lihatlah gadis ini yang memakai swetter rajut dan celana levis selututnya.
" Kenapa?? ga suka?? supermen aja kalo nyelamatin orang pake daleman ko !!" jawab Kara.
"Caramel sayang, itu bukan daleman, cuma fashion tambahan biar keliatan keren ! " jawab Ica.
"Tetep aja Ca, orang orang nyebutnya daleman, masa iya orang nyebut itu lingerie kan ga mungkin !" seru Kara.
"Hahahaha saravvv, masa iya supermen pake lingerie, Ra kalo ngomong tuh sejeplaknya !" kawab Jihad.
"Kalian berdua kenapa jadi ngomongin daleman sih !" lerai Ayu.
"Kara duluan tuh !" tunjuk Ica.
"Ya lagian pake ngomongin gue ga keren, masa iya orang panik dandan dulu !" jawab Kara.
"Ji, gue baru liat loh ka Milo emang bener kaya omongan siswa lain ! nyeremin. Ra loe ga takut kalo bikin salah ! jangan coba coba buat selingkuh deh Ra ! bisa bisa loe di gorok, terus mayat loe di buang ke kali Angke !" gidik Ica.
"Coba aja kalo berani !" jawab Kara.
"Tuh orangnya dah nungguin di parkiran ! "tunjuk Jihad, memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Guys gue pulang duluan ya !" pamit Kara.
"Ati ati Ra, gws ya beib !" ucap ketiganya.
" Ra, " panggil Ayu lagi. Ayu mendekat dan memeluk sahabatnya ini.
"Sorry gara gara gue loe sama yang lain terlibat, loe juga jadi kaya gini !" sesal Ayu.
"Ga apa apa Yu, ga usah ga enak gitu, ini kan unsur ketidaksengajaan, lagian juga niat loe kan belain gue !" jawab Kara.
" Yu, kita berempat tuh udah kaya sodara, kalo ada masalah apa apa bilang aja, siapa tau kita bisa bantu !" ucap Kara. Ayu terlihat gelagapan.
"Iya Ra !" jawabnya merenggangkan pelukannya.
"Setidaknya kalo belum siap sama Jihad sama Ica, sama gue !" tambah Kara. Ayu mengangguk.
__ADS_1
"Hati hati !"