
"Sayang, jalan yu ! dari kemarin ga di rumah ! ga di pabrik, bikin aku stress !" seorang wanita bergelayut manja di dada seorang laki laki.
Ia menyesap rokoknya, "stress kenapa sayang, apa suami mu bikin kamu kerepotan? atau anaknya yang kurang aj*ar?" tanya nya membuat bulatan huruf o di udara dari asap rokok.
"Mas Braja bawa anaknya ke pabrik, dan si*alnya anak kurang aj*ar itu menginvasi jabatan pabrik. Sekarang akses kartu kredit dan keuangan pabrik diawasi !" ucapnya mengecup rahang tegas milik si lelaki. Wanita yang haus akan kasih sayang, dan uang itu, mengadu pada lelakinya. Bukan lelakinya, lelaki yang sama liciknya mendapatkan perempuan bod*oh nan licik ini. Bodoh karena memanfaatkan kemurahan dan ketulusan pria lain, licik karena ia berkhianat dan memanfaatkannya.
"Sabar sayang, aku yakin kamu akan bisa mengambil hati suami mu seperti dulu, saat ia berhasil kamu ambil sampai berkhianat pada istrinya sendiri ! aku yakin, dia akan lebih memihakmu !" jawab santai lelaki ini menyeruput minuman berlebel alkohol di gelas sloki di depannya. Wanita ular yang tak pantas di bandingkan dengan wanita sebaik ibu Milo,
Tak tau saja mereka, bahwa satu langkah kaki mereka saja, seseorang di sebrang sana pasti tau.
******************
Bocah kurang aj*@r yang dimaksud, kini tengah menginvasi seluruh kantin, mengusir semua siswa yang akan makan disini demi seseorang di sampingnya.
Kara mengedarkan pandangannya, bukan ini yang ia maksud dengan ingin belajar dengan tenang.
"Sayang, maksud aku tuh...." Milo menyuruh gadis di sampingnya ini diam.
"Suutt !! ga usah bilang makasih, udah kewajibanku, buat bikin kamu nyaman !" ucapnya dengan pede, Kara mengulum bibirnya. Justru ia berniat memaketkan lelaki ini ke kutub utara.
"Kamu bisa belajar dengan tenang, by. Untuk persiapan olimpiade matematika yang akan kamu ikuti !" ia menaik turunkan alisnya. Apakah jika ia membawa pemuda ini berjemur sampai ta*i hidung kering, akan membuat otaknya encer sedikit saja?? atau perlukah ia meminjam palu milik tukang bangunan di samping sekolah untuk mengetuk kepala Milo.
Yang dimaksud Kara dengan tenang adalah tenang tanpa gangguan darinya, yang kini malah sedang bermanja manja ria dengan Kara. Kara menarik nafas dan membuangnya. Setidaknya itu yang ia pelajari untuk membuang amarah dan keruwetan di otaknya.
Ia mengambil kotak bekal, yang dari tadi ia bawa dari rumah, lalu membukanya.
" Wanginya, " seru Milo.
Kara mengambil nugeet sayur, belum ia melahapnya, Milo mangarahkan tangan Kara ke dalam mulutnya.
"Amm ! enak !!" ucapnya.
"Tumben kantin sepi !" Arial datang bersama ketiga lainnya.
"Ini kerjaan loe kan Mil ?" tanya Raka.
"Ka Raka, suruh aja yang lain masuk dan makan disini kaya biasanya, ga usah dengerin cowok absurd ini !" Kara mendengus.
"Ko absurd? kan demi ketenangan pacarku ini !" senyumnya tanpa rasa bersalah.
"Engga gini juga yank, kasian mereka kalo harus nahan laper karena kamu larang masuk kantin, kamu mau nanggung biaya makan mereka di luar? terus bu kantin bisa rugi, kamu mau nanggung kerugian bu kantin?" tanya Kara mendebat, sepertinya Kara lupa siapa laki laki di sampingnya.
"Bisa !"
"Ga usah bawa bawa uang papah kamu, aku ga suka ! toh kamu cuma diri kamu yang kere !" jawab Kara, membuat Milo berdecih. Dan mengundang tawa keempat pemuda di depan mereka.
Keempat makhluk ini hanya menonton debat paslon ratu dan raja sejagad di depannya, sambil minum softdrink dan cemilan.
Tangan lembut Kara yang terpasang gelang dari Milo, menangkup pipi kanan Milo " tidak semua bisa kamu beli dengan uang, coba deh, kalo sama aku jangan bawa bawa harta papahmu. Bagiku kamu cuma Armillo yang ga berduit, songong dan nyebelin !" Kata kata dan sikap Kara membuat Milo luluh lantah tak dapat berkata kata. Ternyata gadis jutek dan bar bar seperti Kara, mampu bersikap lembut juga jika sedang memberikan pendapatnya.
Kara berdiri, "abisin makanannya, aku mau ke perpus dulu. Dan jangan ngikutin dulu, kalo ada kamu aku susah konsentrasi !" ucap Kara, gadis itu lalu beranjak.
"By, aku anterin !!" pekiknya langsung ikut berlari. Bagi Milo, Kara nya harus selalu ia kawal kemana pun ia pergi.
"Baru digituin aja dah mati kutu ! gimana kalo Kara ci*pok !" ledek Erwan tertawa.
"Gileee, bisa kaya gitu ya !!" jawab Arial.
"Emang Kara ikutan olimpiade, Ka?" tanya Kean.
Raka mengangguk seraya tangannya mengaduk aduk mie goreng pesanannya. "Iya, dia perwakilan dari sekolah untuk mengikuti olimpiade di Bogor !" jawab Raka.
"Lah gue baru tau, Ka. Kapan?" tanya Erwan.
"Minggu depan, gue sama Firman yang ikut anter bareng bu Mira !" jawab Raka.
"Wah, gawat Ka !" jawab Arial.
"Gawat kenapa?" tanya Kean.
"Loe yakin dia bakal diem aja?" kekeh Arial. Ketiganya mengernyit, "kalo gue sih ga yakin, pasti ntar ada yang nyusul !" tambahnya. Keempatnya tertawa mengingat sifat nekat Milo.
*********
"By, yakin ga mau ditemenin cowok ganteng?" tanya nya. Kara menggeleng, "sangat yakin !"
"Aku kan bisa ngingetin by, kalo kamu salah. Atau kalo ada yang ga ngerti, aku bisa kasih tau !" jawab Milo lagi, so pintar. Mungkin jika Albert Einstein masih ada, Milo akan membayarnya untuk jadi guru privat Kara.
"Ga yakin juga kamu bakal ngerti, udah sana !" Kara mendorong dorong lelaki yang dari tadi tak mau meninggalkannya.
__ADS_1
"Ya udah, jangan kangen ya !" ucapnya.
"Ya bawel !" jawab Kara, terkekeh melihat Milo yang begitu posesif.
Kara berbalik dan masuk ke dalam perpustakaan, setelah Milo pergi. Tapi belum juga melangkah masuk dan memilih tempat duduk, suara sumbang mengganggunya.
"Ga tau malu, udah ditinggalin, malah mohon mohon minta balikan !!" ucapnya melintas bersama teman temannya. Kara memejamkan matanya, menghadapi perempuan gilaak macam ini, memang diperlukan kesabaran tingkat dewa.
"Gue udah bilang kan Mon, kejadian waktu di camp kemaren, Milo tuh suka sama gue, dia buktiin itu dengan cara cium bibir gue, " ucapnya lagi, tangan Kara mengerat memegang buku buku yang dipegangnya, bahkan hingga buku buku kukunya memutih.
"Enaknya diapain nih Nin, " tanya Moni, seharusnya mereka bersyukur, Kara masih berbaik hati meminta Milo untuk tidak mengeluarkan mereka dari sekolah.
"Enaknya sih dimasukkin ke kandang buaya !!" ucapnya lantang. Kara tak mengindahkannya, ia masuk ke dalam perpustakaan, tapi kali ini Nina benar benar keterlaluan.
"Heh ! cewek ga tau malu, kuping loe terbuat dari apa sih ? di sindir tapi ga denger?!"
Ini dia pengecut versi perempuannya. Bisanya sindir sindi ala netizen di sosmed, dan main keroyokan kaya hujan.
"Loe ngomong sama gue?!" tanya Kara karena tidak ada siapapun disitu.
"Cih, pake nanya !! iyalah !!" sarkas Nina. 3 lawan 1 boleh juga, pikir Kara.
"Alhamdulillah kuping gue masih normal, sama seperti kuping loe. Gue kira loe ngomong itu buat nyindir diri loe sendiri, soalnya setau gue yang ga tau malu ngejar laki laki itu loe kan, ups !" Kara menutup mulutnya sambil terkekeh.
Nina menggertak kesal, "loe berani sama gue ?!!"
"Adakah alasan untuk takut ?" tanya Kara.
"Hofff, berkat loe waktu gue kebuang sia sia, untuk layanin obrolan ga penting kaya gini, obrolan yang selalu muter muter kaya komedi puter, ga cape apa ?! gue aja males ladeninnya," jawab Kara.
"Si*@lan !!" Nina melayangkan tangannya, tapi belum menyentuh pipi Kara Ayu menangkapnya.
"Sebaiknya gunain tangan loe buat hal yang lebih bermanfaat !" Ayu menepis tangan Nina.
"Ini lagi, satu lagi...kalem kalem tapi liar !!" ucap Nina.
"Jaga mulut loe !! " ucap Kara, yang sudah terpancing amarah, ia bisa sabar jika dirinya yang diserang, tapi jika orang orang sekitarnya ikut terseret hanya gara gara Nina memiliki masalah dengannya, maka jangan harap Kara bisa diam saja.
"Oo...sepertinya temannya sendiri ga tau, nih cewek satu diam diam menghanyutkan !" ucap Moni. Ayu diam tak bergeming.
"Sebaiknya loe diem, atau tangan gue yang udah gatel ini ngacak ngacak mulut loe !!", baru saja Kara selesai mengucapkan itu Ayu sudah menampar pipi Moni.
"Gue ga serendah itu !!" ucap Ayu, Moni membalas, dan ujung ujungnya keduanya malah terlibat pertengkaran.
"Mon, abisin aja Mon," Nina tidak berniat melerai keduanya, ia hanya tertawa melihat temannya dan Ayu berkelahi.
Kara yang mencoba melerai, malah ikut tercakar. Moni yang berniat menendang Ayu, terhalangi Kara, akhirnya Kara lah yang tertendang di bagian dadanya.
"Brakkk !!!" Kara terpundur dan menabrak dinding sekaligus tempat sampah.
"Kara !!" pekik Ayu.
"Bang$@t !!! Kara !!" pekik Milo yang baru saja kembali dari kantin bersama yang lain berlari. Jihad dan Ica yang baru keluar dari ruang BP, karena menaruh permen karet sembarangan di kursi guru juga ikut berlari.
Milo membantu Kara bangun, sedangkan Kean dan Raka melerai Ayu dan Moni.
"By, kamu ga apa apa??!" tanya Milo.
"Aku ga apa apa !" jawab Kara, meskipun dadanya sakit dan sesak saat ini.
"Ra, mana yang sakit?" tanya Ica, Kara diambil alih Ica. Sedangkan Jihad meraih Ayu.
"Loe berdua apa apaan?!!! Stop !! " bentak Milo murka.
"Dan loe Moni, loe tendang Kara, urusan loe sama gue !" ucap Milo membuat Moni panik.
"Bukan gitu Mil, gue ga sengaja !!" jawabnya.
"Nin !!" Moni meminta pertolongan Nina.
"Mil, ini bukan salah Moni..tapi ini salah mereka berdua !! " ucap Nina merangkul Moni.
"Loe berdua ikut gue ke ruang BK !" ucap Raka. Jihad dan Nina hendak ikut, namun Raka melarang.
"Tanpa loe berdua !" ucap Raka tajam.
"Ck ck ck...Ayu bisa sadis juga !" decak Jihad, melihat rontokan rambut yang tercecer di lantai dan seragam Moni yang sampai sobek.
"Yang kalem yang sadis Ji, " jawab Ica.
__ADS_1
"Awsshh, pelan pelan yank, " Kara meringis. Saat kapas bercampur obat merah menyentuh pipi Kara yang terdapat luka cakaran. Kara masih mengatur nafasnya yang masih terasa sesak dan sakit, tendangan Moni sangat keras, ditambah sepatunya yang bersol tebal.
"Gimana ceritanya, loe bisa nyangkut di tengah tengah mereka, Ra ?!" tanya Jihad dan Ica.
"Awalnya sih ka Nina yang gangguin gue, katanya gue cewek ga tau malu masih ngejar ngejar pangerannya, yang katanya sih cinta sama dia !" kekeh Kara. Milo tampak menautkan kedua alisnya. Kara tiba tiba kepikiran dengan ucapan Nina yang mengganggu pikirannya.
"Ahh iya, dia juga bilang katanya dia sama Armillo Dana Aditama sampe ciuman di ruang kesehatan !" tambah Kara, Milo tampak terkejut, ternyata tindakannya sewaktu itu malah dimanfaatkan oleh Nina untuk membuat skandal bohongnya.
"Hah??!!! serius Mil??" tanya Arial.
"Si@*lan tuh cewek ! ya engga lah !" ucap Milo.
"Oh ya?" tanya Kara.
"Mau coba? buat mastiin bibir aku masih perawan apa engga?" tanya Milo, Kara mencebik dan menggidikan bahunya.
"Saravvv ! loe nawarin ga disini juga Mil !" sarkas Erwan.
"Terus Ra?!" tanya Ica.
"Terus terus...dipikir tukang parkir !" timpal Jihad.
"Diem loe ! orang lagi serius juga !" decak Ica.
" Nina mau nampar gue, tapi ditahan Ayu...eh malah Ayu yang berantem sama ka Moni !" Kara memandanga nanar ke depan, ia menskip ucapan Moni dan Nina tentang Ayu, sepertinya ada yang ia dan kedua temannya yang tidak tau tentang Ayu.
"Nina mau tampar kamu by?" alis Milo sudah sangat menukik dan mengeraskan rahangnya.
"Ga usah pake urat juga, kan ga jadi !" tahan Kara memegang tangan Milo.
"Tapi ujungnya kamu juga yang ditendang kan ?" tanya Milo kesal. Terbuat dari apa hati gadisnya ini, bisa semudah itu memaafkan.
" Ga usah pake kata kak ! cewek cewek macam gitu mah ga pantes loe hormatin Ra ! kalo loe mau hormat, hormatin tuh bendera merah putih !" cibir Jihad.
Kara melirik seragamnya kotor, bekas jejak sepatu Moni, ia meringis mengambil nafas. Milo dan yang lain melihat itu.
"By, kita ke dokter ya !" ucap Milo.
"Ga usah lebay, mungkin cuma efek ketendang aja !" jawab Kara.
"Tapi ini bahaya by, ini bisa ku tuntut loh by !" jawab Milo, Kara mengangkat alisnya sebelah, betapa berlebihannya pemuda di depannya ini.
"Ca, bisa tolong bantu periksain ga di toilet, kalo gue takutnya ga mau berenti, takut kebablasan!" kekeh Milo, Kara mencubit pinggang Milo keras.
"Sini coba gue liat Ra, loe sesek ga?" tanya Ica, mereka melihat Kara semakin meringis.
"Dada gue sesek Ca, " cicit Kara, Ica membawanya ke dalam toilet untuk mengecek keadaan Kara, atas pinta Milo. Satu persatu kancing seragam di buka, mata Ica membola
"Astaga Ra, ini dada loe sampe lebam gini !" seru Ica.
"Please Ca, jangan bilang sama ka Milo !" ucap Kara.
"Ga bisa Ra, ini tuh mesti ke dokter !" jawab Ica.
"Please Ca, loe tau kan, kalo loe bilang ka Milo bakal ngapain !!" jawab Kara, Kara hanya tidak mau memperpanjang masalah dan sudah dipastikan Ayu akan ikut terseret.
Ica bimbang, ia hanya mengangguk ragu. Mereka keluar.
"Gimana by, ga apa apa kan ?!" tanya Milo khawatir.
"Ga apa apa sayang, " Kara berjalan, tapi Milo tidak percaya semudah itu. Milo berbalik ke arah Ica, dengan tatapan tajam melucuti.
"Jujur Ca," ucap Milo, Ica melirik Kara yang menggeleng dan beralih pada Milo yang menatapnya tajam.
Ica tak mau ambil resiko, kalau nanti ada apa apa ia yang akan disalahkan.
"Sorry Ra, " cicit Ica menunduk, dan Kara hanya bisa memelas duduk di bangku depan toilet bersama Jihad.
"Kara kayanya harus ke dokter deh ka, gue takut dia kenapa napa, soalnya...." Ica bimbang.
"Kenapa?" tanya Milo tak sabar.
"Dadanya sampai lebam ka, nafasnya sesek katanya !"
"Astaga by, kamu tunggu sini. Aku ambil jaket sama kunci motor ! Ca ambil tas dan jaket Kara !" titah Milo.
"Ji, Milo ga akan sampe lapor kan? atau Moni ga akan di apa apain kan?" tanya Kara pada Jihad.
" Loe duduk dan tonton aja Ra, apa yang bakal penerus Aditama Company bakal lakuin, loe bakal tau kenapa Milo bisa dapet julukan senior nyeremin disini !" jawab Jihad membuat Kara semakin khawatir.
__ADS_1
.
.