Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Minta maaf ?


__ADS_3

"Om Mukti, apa ada waktu? nanti Milo ke kantor om," sambungan telfon Milo pada pengacara keluarganya.


"Loe yakin, Mil?" tanya Kean, dari arah belakang hingga Milo menoleh.


"Sangat yakin, " Milo belum selesai melakukan sambungan telfon, kini ia menelfon om Adi.


"Kalau om Ridwan bertindak dan tak terima?" tanya Kean.


"Kita bongkar sekalian bo*rok perusahaan om Ridwan !" jawab Milo.


"Mil, jangan bertindak gegabah dulu, harus penuh perhitungan. Jika ingin langsung membongkar kecurangan perusahaan om Ridwan, ayahnya Vio !" tambah Raka.


"Udah kelamaan Ka, mereka nikmati uang korup, dan menipu banyak partner bisnis perusahaan papah, bukan hanya karena Kara saja." jawab Milo.


"By the way, Kara udah kelar diobatin tuh. Samperin sana, baby butuh mas sayang !" jawab Raka genit.


"Cih, geli gue bang..." jawab Milo memasukkan ponselnya ke dalam saku tasnya, lalu memberikan tas itu pada Kean.


"Om Kean, titip tas gue !" Milo melemparkannya.


"Ada duitnya ga? " tanya Kean.


"Ada dompet gue !" pekik Milo.


Kara sudah diobati, untunglah punggungnya tidak apa apa. Hanya saja, sekarang kedua tangannya di perban, berikut kakinya. Teman temannya yang sejak tadi cemas, langsung berlari menuju barak kesehatan.


"Berasa kaya mumi gue !" jawabnya.


"Ra, ckckck...masih untung loe idup Ra !" jawab Ica.


"Asem nih anak, loe nyumpahin Kara masuk RS gitu?" tanya Ayu.


"Engga gitu juga Ay...abisnya nih anak satu, ngeluhnya kaya mumi, " timpal Ica.


"Sakit, Ra?" tanya Ica.


"Banget Ca, kaya gue lagi sekarat gitu !" kikik Kara.


"Njirrr ! lebay !!! ga mungkin !" kesal Ica, temannya ini, jika ditanya serius malah bercanda.


"Ya sakit lah konah ! ga perlu ditanya, pertanyaan loe tuh kaya pertanyaan anak bayi, Ca !" jawab Jihad.


"Herman deh gue !"


"Heran !!!" seru ketiganya meralat.


"Udah ganti? sejak kapan, ko gue ga terima bubur merah putihnya?!" kekeh Ica.


"Sejak nene gue bisa salto !" jawab Jihad. Mereka tergelak.


"Gue ga aneh Ca, kalo loe heran. Udah biasa, apa sih yang ga loe heranin. Semut kawin aja loe heranin !" jawab Kara.


"Sat !!! ga ada kerjaan banget gue nontonin semut kawin ! loe kali, Ra. Suka nontonin Mi*y@bi ! " seru Ica, keempatnya mengedarkan pandangan, di ruangan ini banyak sekali kacang hijau, mereka harus segera mengakhiri gurauan bar bar dan mulut sambal mereka, sebelum seisi ruangan menodongkan senjata, atau mengirim mereka ke pelatihan kemiliteran.


"Dih, hafal aja engga, kenal aja engga !" jawab Kara.


"Loe berdua bisa diem ga? atau mau gue suntik mati, ngomongin topik random disini. Kayanya otak polos dan otak mesum loe berdua mesti di lelepin ke kolam lumpur tadi," ujar Jihad, bak ayah yang sedang melerai kedua anak gadisnya.


"Loe ga tau doi siapa Ra?" tanya Ica, baru saja Jihad berkata, belum kering air ludahnya.


"Siapa?" tanya Kara yang memang tak pernah tau siapa miya, mie ayam, apa mie baso, apalah namanya.


"Artis Ra, " jawab Ayu


"Artis mana? ko gue ga tau?? Indo?" Jihad sudah menekukkan wajahnya, rupanya ketiga gadis ini senang menantang maut. Muka Jihad dingin tak berekspresi, udah kaya sosok pattimura di uang seribuan.


"Sini Ra, gue bisikkin !" pinta Ica yang tertawa jahil. Kara mendekatkan telinganya.


"Artis bok...."


"Njirrrr !!!" pekik Kara, terdengar oleh bapak dan ibu tentara.

__ADS_1


"Eh, maaf pak... maaf bu ! khilaf, keceplosan, " ijin Kara, malu. Sedangkan Ica sudah tergelak.


"Ini nih, murid didikan Ica, gadis sebaik Kara, jadi bermulut bar bar !" ucap Jihad.


"Murid loe Ji, " jawab Ica.


Milo masuk, masih dengan pakaian kotornya.


"Baby, udah selesai?" tanya nya.


"Ekhemm, nepi deh gue..lakinya dah dateng ! laki gue mana ya?" ucap Ica. Jihad mendengus, "laki mana?"


"Om om tentara tadi, si manis berlesung pipi.." kikik Ica.


"Ngimpi !!!" sarkas Ayu dan Jihad di telinga Ica.


"Kamvreeett loe pada ! kalo gue budeg, loe berdua tanggung jawab !" omel Ica.


"Iya, ntar gue ganti pake kuping wajan !" jawab Jihad.


"By, acara dah selesai. Sekolah kita juara 2. "


"Hah??! juara 2 ka Milo??" seru Ica senang. Ia lalu berdiri dan berjoget ria.


"Dih, katro..ini nih calon biduan pantura !" seru Kara.


"Apaan Ra, ini mah kaya bebek lagi joget poco poco !" timpal Jihad.


"Loe bisa diem ga Ca ! malu peakk !" Ayu menarik Ica untuk keluar dari barak. Diekori Jihad.


"Ra, kita tunggu di luar. Sambil ganti baju dulu deh, Ra !" pamit Jihad, mengangguk juga pada Milo.


"Thanks Ji, " jawab keduanya.


"Iya Ra, gue pamit bawa nih pasien RSJ kabur kesini satu !" seru Ayu dari luar.


"Naudzubillah Ayu...ngatain gue gilaak !" omel Ica sayup sayup, karena mereka sudah di luar.


"Iya, " jawabnya. Kara berusaha berdiri, tapi Milo melarangnya, ia langsung menggendong Kara ala bridal/pengantin baru.


"Sayang, jangan gini..malu !" jawab Kara mencicit seperti tikus.


"Emangnya kenapa? kenapa harus malu ?" Milo ini, memang sudah tidak memiliki urat malu, sama halnya dengan Ica.


"Sayang, bisa turunin ga? malu sama guru !" pinta Kara memohon. Tapi memang Milo ini bersifat pemaksa. Ia tidak menggubris.


"Cieeee !!! ekhemmm !!! gue jadi tenyom aja lah !" goda Arial.


"Cocok !" jawab Erwan.


"Gue juga mau digituin !!!" rengek Ica.


"Ga ada yang mau Ca, " jawab Ayu.


"Dih, ga apa apa kalo ka Raka atau ka Rial ga mau, gue mau cari om om tentara yang tadi !" jawabnya celingukan.


Raka dan Arial hanya tertawa, Ica memang mengagumi sosok keduanya. Menurut Ica Raka dan Arial punya kadar dan modelan kegantengan yang berbeda, Raka ganteng ganteng kalem dan berkharisma, kalo Arial ganteng ganteng humoris dan ramah.


"Iya, paling paling loe di tembak !" ucap Jihad membentuk senjata di pelipis Ica dan mendorongnya pelan.


"Dorr !"


"Cihh, " tepis Ica.


"Biarin, om om tadi ganteng ganteng ngangenin ! Kara aja suka, ya kan Ra ?!" tanya Ica. Otomatis Kara melotot lalu mendongak, melihat Milo sudah mengangkat alisnya sebelah.


"Apa sih Ca, bawa bawa gue terus !" Mata Kara membola, hampir ingin keluar dari tempatnya.


"Kalo gue Ca, ganteng apa?" tanya Rial.


"Ganteng, humoris ! kalo ka Raka, ganteng, kalem !" jawab Ica polos.

__ADS_1


"Kalo gue?" tanya Milo, membuat Kara mengerutkan alisnya.


"Kalo loe, tanya aja Kara, ka ! gue ga berani !" jawab Ica. Sontak pandangan Milo berpindah pada Kara.


"Apa?" beo Kara.


"Kalau aku, ganteng apa?"


"Ganteng ganteng serigala !" jawab Kara, sontak yang lain tertawa.


"Tuk !" Milo menjitak kepala Kara.


"Kalo Jihad?" tanya Ayu,


"Apaan lagi, gue dibawa bawa !" ucap Jihad yang sedang minum.


"Ganteng ganteng lambe !" jawab Kara terkekeh.


"Ganteng ganteng....ck, ga ganteng !" jawab Ica lebih parah.


"Kamvreeett !! gue tabok cantik loe !" Jihad mengambil bawah kaos olahraganya lalu memasukkan kepala Ica di kaos bagian perutnya.


"Njirrr !!! Ji...daddy durhakim loe !! badan loe bau !" seru Ica mengomel minta keluar dari dalam kaos Jihad.


"Hemm, terus Ji...kalo bisa masukin aja ke dalem perut loe !" Kara mengompori.


Kara dan yang lain bersih bersih dan berganti pakaian. Kara sedang membersihkan kacamatanya. Lalu Milo merebutnya, membantu membersihkannya.


"Nanti pulangnya biar kuantar ke rumah pake mobil !" ucap Milo, lalu tangannya terulur memasangkan kacamata bulat itu.


"Cantik," gumam Milo.


"Sayang, " Kara menyentuh tangan Milo.


"Hm,"


"Apa bener kata Jihad, kalo kamu mau nuntut Vio?" tanya Kara hati hati. Lebay saja rasanya jika hal begini, harus sampai masuk pengadilan.


"Iya, " jawab Milo.


"Apa ga akan jadi masalah? kurasa masih bisa dibicarakan secara baik baik," jawab gadis ini.


"Hm, kamu tuh terlalu baik untuk dunia yang kejam by, padahal dulu tuh, kukira kamu tuh orangnya nyebelin dan keras. Tapi ternyata itu hanya bungkusan luarnya saja, aslinya kamu begitu lembut, kaya mamah," Milo merapikan rambut Kara.


" Aku cuma ga mau memantik api yang lebih besar lagi, " maklumlah, rakyat jelata macam Kara, jika mendengar masalah hukum bawaanya ciut. Paling banteran, kalo berantem hanya sampai tingkat rt. Mana ada uang untuk menyewa seorang pengacara.


"Bukan kamu yang memantik, tapi agar dia jera, gadis manja seperti Vio tak akan jera dan sadar kalau tidak diberi pelajaran !" jawab Milo.


Memang susah mendebat seorang Milo, yang memiliki sifat keras dan juga tentunya kekuasaan. Di tengah obrolan keduanya, tak ada angin tak ada hujan, Vio tiba tiba datang untuk meminta maaf.


"Ekhem !!" dehemnya canggung, membuat Milo dan Kara menoleh.


"Gue...gue mau minta maaf !" ucapnya, menatap ke lain arah. Lalu menyodorkan tangannya canggung.


Kara ingin meraih tangan Vio, tapi di tepis Milo.


"Bukannya loe mau nuntut Kara karena dah narik tali loe sampe loe jatoh ke pengadilan ?" tanya Milo, sontak saja Kara terkejut.


"Hah??! nuntut gue??" tanya nya tak percaya, setelah ingin menolong malah ingin dituntut, rupanya ini yang membuat Milo nya marah, ia tarik ucapannya tadi. Kini Kara ikut kesal.


"Loe mau nuntut gue??? ga tau terimakasih banget loe ! kalo bukan gue, yang mau nolongin megang tali loe, loe yang jatoh, toh.. loe yang dorong gue, sampe gue kaya gini ! " sewot Kara, kini berapi api.


Milo tertawa, Kara tetaplah Kara..gadis nya yang bandel dan juga tak terima jika di injak orang. Tadi wajahnya bak like an angel, setelah mengetahui jika Vio memang menjengkelkan dan penuh drama, seketika wajahnya like an devil.


"Ya udah si ! gue juga ga sengaja dorong loe, kan gue niat minta maaf ini ! " sinisnya.


"Ini yang namanya minta maaf? loe ambil minta maaf loe, gue ga butuh !" jawab Kara.


"Jangan mentang mentang loe kaya, loe bisa seenaknya. Dan jangan harap gue bakal merendah sama loe ! cuih !!! seumur umur gue ga pernah takut sama penindasan !" jawab Kara, saking marahnya, bahkan ia hendak meninggalkan Milo sendiri dengan kepayahan. Kaki yang terpincang pincang.


"Loe liat kan, cewek gue..ga akan mudah buat loe nindas dan singkirkan dia. Dan tunggu aja surat panggilan buat loe ! karena gue masih baik, surat pertama yang datang dari sekolah, tapi kalo loe belum jera, maka surat dari pengadilan lah yang datang, " Milo menyeringai dengan Vio yang memohon mohon. Milo segera membantu Kara berjalan.

__ADS_1


"Argghhhhh !" jerit Vio. Bukannya semakin mendekatkan hubungannya dan Milo, kini malah ia tak tenang, ia tau jika Milo terkenal penindas di sekolah. Jika sudah begini maka jangan salahkan siapapun, jika nantinya di sekolah ia akan menjadi bulan bulanan Milo cs.


__ADS_2