
Ayu dan Amel tergelak melihat kedua gadis absurd nan bar bar ini tertahan di motornya masing masing. Berharap bisa ikut memperebutkan hadiah menggiurkan dengan keahlian sendiri, malah manyun berada dalam boncengan.
"Awas loe Ji, gue ga terima kekalahan !" Ica mewanti wanti, kan lumayan..kapan lagi ia bisa memborong satu toko branded layaknya kaum borjuis, tanpa harus memasang to*gel seperti ayahnya.
"Ga usah bawel !" Jihad mengusap wajah Ica yang manyun.
"Bau !!! tangan loe abis megang apa?!"
"Abis cebokin kucing !" jawab Jihad. Kara tergelak.
"Kaya mas gue dong, mandinya di rendeman parfum bibit !" ujar Kara memeluk Milo yang dikekehi Milo.
"Loe mah mandinya di kubangan bareng ke*bo Ji !" tawa Ica. Jihad langsung menarik tangan Ica kasar agar memeluknya, hingga membuat Ica tersentak dan menempel di punggung Jihad. Kara mengangkat kedua alisnya, Jihad sekarang berani terang terangan, Ica pun ikut merasakannya, tapi ia mencoba menutupinya dengan banyolannya.
"Ga usah narik narik juga, bilang aja pengen dipeluk !" ujar Ica. Kara tergelak membantu mencairkan kembali suasana yang canggung.
"Hahaha ! loe nemplok persis anak koala !" ucap Kara.
"Njir !!!! wah pengen di empanin guguk !" jawab Ica, mereka sudah bersiap dengan ATV nya masing masing, berjejer di garis start.
"Siap !!! go !!"
Mereka tancap gas, melewati jalanan terjal berlumpur, medan yang dilalui memang di rancang melewati perlebunan dan jalanan kebun rumput gajah.
"Ayo yank, menangin !!" ucap Kara memeluk pinggang Milo. Sedangkan si pengemudi fokus melewati jalanan dengan trik dan kemampuan mereka.
"Pengen banget ya? ya udah sepulang dari sini, kita belanja !" jawab Milo. Tapi Kara menggeleng.
"Engga, aku ngga mau gratisan ! simpen uang kamu yang cuma cuma itu, aku ga mau ! kecuali kalo memang sudah menjadi tanggung jawabmu menafkahiku, dan hak ku menerima nafkah dari kamu, " jawab Kara.
Rasanya Milo tidak mau mempercepat lajunya, justru ia ingin berlama lama berduaan bersama Kara di atas ATV, tapi sayangnya pacar cerewetnya ini menuntutnya untuk menang.
Batu batu besar, jalanan berkelok dan berlubang menjadi medan yang tak mudah dilalui.Terlihat wajah serius, dan adrenalin terpacu dari para lelaki.
"Woahhhh !!! gue duluan !!" pekik Erwan pada Arial yang membonceng Vanya.
"Dah Vanya !!" pekik Amel.
"Bye Ca !!" Kara melambaikan tangannya pada Ica dan Jihad.
"Ji buruan susul Ka Milo, Ji !!" Ica menepuk nepuk bahu Jihad seperti tukang ojek
"Ka, jangan mau kalah..tuh si Milo dah di depan !" tunjuk Juwita pada Raka.
"Gas ka gas !!!" Ayu pun menyemangati Kean.
"Ayo yank !! jangan sampe kesusul !" Kara sudah gemas dibuatnya.
"Oke, kalo kita menang kamu mau kasih apa buat aku, by?" tanya Milo.
"Kalo kamu menang??! emhhh, kasih gelas ma piring," kekeh Kara.
"Ck, ga sebanding dong sama belanja sepuasnya, " jawab Milo.
"Oke, kalo kamu bisa menang..aku mau nikah sama kamu !" ucap Kara asal asalan.
Milo menarik senyumannya, kena juga kan ia mengerjai Kara.
"Oke, deal ya ! kalo aku bisa menang, kamu mau aku kalo aku lamar !" jawab Milo.
"Eh, tapi ga jadi deh ! ganti aja !" jawab Kara, memikirkan ulang, bukan tidak mungkin si mr. serba bisa ini menang.
"Perkataan yang sudah keluar tak bisa ditarik lagi, aku ga bilang kita nikah hari itu juga kan?!" ucap Milo. Oke ketuk saja otak Caramel yang mendadak oon dan blank jika pasal begini. Salahkan Milo, yang terlalu ngegas, sejak mendengar cerita Rama, ia jadi kepikiran untuk menikah muda seperti temannya itu, ia tak mau melepas Caramel, entah itu sehari, satu jam, bahkan satu menit.
"Kalo sebelum itu kita ternyata putus di tengah jalan?" tanya Kara.
"Aku akan kejar kamu kembali, "
"Kalau ternyata kamu yang udah ga mau sama aku ?" tanya Kara lagi.
"Ingatkan aku sama janji kita, "
"Kalo aku yang punya salah tak termaafkan? misalnya selingkuh?" tanya Kara lagi.
"Kalau gitu ingatkan aku buat tembak kepala laki laki selingkuhan kamu !" jawabnya. Kara menegakkan duduknya, yang tadinya menaruh dagunya di pundak Milo. Jangan sampai Kara macam macam dengan lelaki satu ini.
"Bosen dong, seumur umur pacarannya sama kamu !" ucap gadis ini santai, tak tau jika lelaki di depannya sudah berwajah masam.
"Jadi muka ku ngebosenin? katanya badanku aja wangi !" jawab Milo.
"Kalo aku bosen sama kamu gimana? masa iya ga ada yang lain, makan aja kalo sama daging terus kan bosen !" jawabnya mengibaratkan Milo adalah daging.
"Aku bakal bikin kamu buat ga bosen sama aku, " jawab Milo lagi.
"Udah ah, mikirnya kejauhan ! otakku ga sampe kesitu !" ujar Kara.
"Deal dulu ! baru aku sampe finish, " jawab Milo. Kara diam masih berfikir, tapi garis finish sudah di depan mata. Sayang sekali jika harus disalip yang lain.
__ADS_1
"Buruan yank !" ucap Kara.
"Say deal !" pinta Milo. Melihat Raka sudah semakin mendekat membuat Kara panik.
"Oke deal deal !!" urusan iya atau engga bagaimana nanti saja.
Garis finish sudah terlihat di depan sana, Milo semakin menggeber ATV nya. Tanah merah yang gembur, terangkat dan menghambur karena ban ATV yang dilaju kencang.
"Ayo yank ! bentar lagi sampe !!" Kara berbinar, Jihad ingin menyalip, tapi kalah cepat oleh Raka.
Milo melewati garis start pertama, disusul Raka dan Jihad.
"Yeeee !!!!" Kara melompat kegirangan refleks memeluk Milo senang, Belanja I'm coming.
"Lah, itu mah ceweknya sendiri !"
"Dih, sirik..yang penting kan usaha !" jawab Kara membela diri.
"Usaha apa?" tanya Ayu.
"Usaha nyemangatin, " jawab Kara.
"Cih ! ulang ulang !" ujar Erwan.
"Ga bisa !" jawab Kara.
"Inget ya by, aku menang loh !" ucap Milo menagih janji, Kara memejamkan menarik nafas berat, bibirnya manyun.
"Ck, serah !" jawab Kara.
"Apa sih? taruhan pribadi nih?" tanya Arial.
"Yoi !" angguk Milo, Kara memelotot. Jangan sampai Milo membongkar perja jian konyol itu dsn membuatnya jadi bulan bulanan yang lain.
"Taruhan apa?" tanya Ica. Kara sudah mewanti wanti, memelototkan matanya selebar dunia pada Milo.
"Bocor, perjanjian batal !" jawab Kara, membuat semuanya makin penasaran.
"Dih, mau maen rahasia rahasiaan, " ujarnya penuh selidik.
"Anak kecil ga usah kepo ! tau ngga, kalo kepo sama urusan orang, matinya sambil melotot!" jawab Kara.
"Dih, naudzubillah ! ga mungkin !" ucap Ica.
"Ah elah gagal borong satu mall !" ujar Ica lagi.
"Belanja Ji?" tanya Ica berbinar.
"Engga, liatin aja dari parkirannya, takutnya loe ngiler kalo ga nginjek mall !" jawab jihad lagi, sontak dihadiahi pukulan bertubi tubi dari Ica.
"Hahaha php !" seru Erwan.
***************
Pakaian mereka sudah kotor, tenaga mereka sudah terkuras, otak mereka pun sudah fresh, dan siap untuk kembali memikirkan urusan pelajaran.
Mereka kembali ke hotel.
"Siap siap makan malam plus hiburan dari Caramel sama Ica !" ucap Arial.
Ini adalah hari terakhir mereka disini, mereka mengadakan makan malam di private pool,
"Mereka yang mau tampil ko gue yang deg degan, " ucap Erwan.
"Deg degan kenapa? takut muncrat tuh makanan pas loe lagi makan?" tanya Arial.
"Lagian bisa apa coba, kalo bukan ngelawak?!" tanya Erwan.
"Sirkus !" tebak Vanya berkelakar.
"Mereka ga tau aja Ji, " gumam Ayu.
"Tau apa?" tanya Jihad, ada lagikah yang ia tak tau tentang Kara dan Ica.
"Loe semua bakal nganga deh, caya sama gue !" jawab Ayu.
"Kara sama Ica mau ngapain, Mil? nyanyi?" tanya Raka.
"Ga tau gue, tadi sih minta gitar ! " jawab Milo. Jangankan Raka, Milo saja penasaran.
"Ca, kaya dulu aja ! semoga gue masih inget deh, waktu pelajaran kesenian ! tapi loe jangan mewek kaya dulu !" ucap Kara. Gadis gadis ini bertransformasi jadi gadis gadis cantik nan anggun.
"Bismillah deh, suara gue takut goyang Ra !" jawab Ica.
Bukan tuxedo atau gaun pesta yang mrlengkapi makan malam mereka, hanya sebuah sofa dengan meja panjang dan pemuda dengan pakaian santai. Makan malam ala anak muda.
Kara dan Ica masuk, hanya memakai dress rumahan dan sendal hotel.
__ADS_1
"Elah udah gumush gini disponsorinya sendal hotel !" keluh Ica, rasanya mereka belum apa apa sudah gagal keren.
Kara duduk di sebuah kursi dengan memegang gitar akustik, tanpa panggung atau podium.
Kara malu, ia hanya melihat ke arah Ica agar tidak tertawa, mengingat pertemuannya dengan Ica dulu saat Ica sedang menangis. Dan tangisannya mengganggu Kara yang sedang belajar.
"Oke, mungkin ga banyak yang tau ya, gue aga aga lupa sih sebenernya, jangan diketawain kalo salah ! Ca inget kan ini pertama kita ketemu, di belakang kelas, waktu itu loe mewek gara gara diselingkuhin kaka kelas, dan kamvreet nya nih cowok temen loe sendiri. " ucap Kara membuka memory pertemuan mereka.
"Iya Ra, dan lebih kamvreett nya si cowok sukanya sama loe !" jawab Ica. Milo dan Jihad berohria.
Mereka sempat ragu, tapi saat Kara memetik sinar gitar tanpa ragu, mereka tercengang.
Kara mengambil nafas, "Engkau yang sedang patah hati, menangislah dan jangan ragu ungkapkan, betapa pedih hati yg tersakiti, racun yang membunuhmu secara perlahan," Kara memulai, lalu diteruskan Ica. Mereka semakin tercengang saat mendengar suara Ica, biasanya mulut ini cempreng dan cerewet, lebih mirip toa tahu bulat ini, ternyata bersuara merdu.
"Disini ku temani kau dalam tangismu, bila air mata dapat cairkan hati, kan kucabut duri pedih dalam hatimu agar kuluhat senyum di tidurmu malam nanti....." Kara dan Ica saling beradu pandang, seolah saling menguatkan.
"Nganga kan loe !" tawa Ayu melihat wajah tak percaya mereka semua.
"Seriusan itu sugar babby gue?!" tanya Jihad.
"Itu Caramel kan Yu?" tanya Milo.
"Bukan ! ya iyalah ka Milo !" jawab Ayu.
"Gilaak ! ga nyangka gue !" jawab Arial.
"Kenapa? pada ga percaya ya?! mulut toa sama sikap bar bar mereka nutup inner beauty mereka?" tanya Ayu masih tertawa.
"Kenapa si Kara ma Ica nutupin bakat sih ?! padahal kalo dipoles dikit sama percaya diri, yakin gue, di sekolah bisa ngalahin pamor Juwita atau Milo !" kekeh Erwan, Juwita mendelik.
"Gue ga suka !" jawab Milo.
"Lah kenapa?!" tanya Kean.
"Bilang aja nanti banyak saingan !" kekeh Raka yang tau isi hati Milo.
Tak ada tepuk tangan ataupun suara, mereka malah diam, terkecuali Ayu yang sudah bertepuk tangan.
"Oyyy !! ga ada tepuk tangan gitu ?!" tanya Ica dikekehi Kara.
"Woahhh !! keren Ra, Ca !" ucap Amel dan Vanya bertepuk tangan, disusul lainnya.
Ica melirik Kara, "kenapa? mau mewek lagi? nyusahin !" decih Kara. Ica memeluk Kara di depan sambil berlinang lagi.
"Ck nyebelin kan ! pengen gue kasih granat tau ngga ! tuh si Revan !" jawab Kara.
"Makasih Ra !" ucap Ica. Ada segudang pertanyaan di otak Jihad dan Milo.
"Udah ahh, gue bukan mau drama disini !" jawab Kara.
"Gue laper Ra, "
"Gue juga sama !" jawab Kara.
"Hahahaha, kenapa ga ikutan band sekolah aja Ra, Ca ?!" tanya Raka.
"Engga ah nanti gue jadi artis !" jawab Ica sudah mencomot makanan.
Jihad menoyor kepala gadis ini, "sombong dipelihara ! ga usah ngarep, pede banget !"
"Sat !! ga sopan, gue tabok jadi lut*ung juga nih !" ucap Ica.
Kara berjalan melihat suasana malam yang syahdu, saat yang lain masih asik makan dan bercanda.
"By, " panggil Milo dari arah belakang, Kara berbalik.
"Sekali lagi kamu bikin aku jatuh cinta, " ucapnya.
"Sama kan. Dulu waktu liat kamu.. jangankan aku, semua cewek suka liat kamu !" jawab Kara.
"Tapi kamu ga boleh by, cukup kita aja yang tau, cukup aku aja yang suka !" jawab Milo berdiri di samping Kara memandang lurus langit.
"Egois,"
"Ga boleh?" tanya Milo.
"Emhhh, boleh !" seru Kara, membuat Milo terkekeh.
"By, janji sama aku..apapun nanti yang terjadi. Kamu akan tetap ada disampingku, dan tetap percaya aku !" pinta Milo. Kara menoleh, mengangkat sebelah alisnya, ada apa gerangan dengan Milo, sampai bertanya seperti itu, biasanya ia akan selalu percaya diri. Milo sempat khawatir, mendengar kabar dari om Adi, jika ternyata Gladys kembali bahkan mendaftar sekolah di sekolahnya.
"Janji??!" Milo mengacungkan kelingkingnya.
"Janji !" Kara menautkan kelingkingnya di kelingking Milo.
.
.
__ADS_1