Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Kecewa


__ADS_3

Milo mati kutu di buatnya, pilihan berat. Hobby yang sudah ia lakoni semenjak di bangku smp dan sulit untuk ditinggalkan, setidaknya ia bisa menghilangkan penat dan stress.


"Besok berangkat dari sekolah kan?" tanya Milo, Kara mengangguk.


"Aku bakal paling depan, buat semangatin sama lepas kamu ikut olimpiade !" seru Milo, menautkan jarinya berjanji.


"Janji??!" tanya Kara,


"Janji !" Milo sudah berjanji.


Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, jika sampai Kara tau. Ia hanya berharap jika Tuhan akan mengasihaninya agar Kara tidak tau kebiasaannya ini, sampai Milo benar benar bisa keluar dari dunia malamnya, entah itu balapan liar, ataupun club malam.


Milo memasang taruhan 1 juta, ia ada di posisi nomer 3, sepulang dari rumah Kara, ia langsung tancap gas menuju arena balapan liar. 4 lainnya sudah disana, tapi untuk kali ini mereka tak ikut.


"Mil, loe yakin??" tanya Kean.


"Apa muka gue keliatan ga serius?" ia menutup kaca helmnya, dan menggas gas motornya.


"Sutt, rival loe Mil ! kayanya Allah sengaja ketemuin kalian disini, buat bikin mereka mengakui lagi ketangguhan loe !" tunjuk Arial, pada Reyhan dan Ivan.


Milo memang tak terkalahkan, tapi yang namanya nasib manusia, who knows? Disana pula ada Reyhan mantan Juwita, juga Ivan. Mereka memang berada di dunia yang sama.


Milo menyeringai, suatu tantangan untuknya. Dimana rivalnya, berada disini semua.


"Well, ini bakalan jadi lebih menarik lagi !" ucap Milo.


Gadis gadis berpenampilan minim memadati tempat ini, bergelayut manja pada suasana malam. Seakan malam jadi siang.


Ivan juga Reyhan memang pemuda se brengsek itu, keduanya di gelayuti manja oleh cabe cabean level dewa, dan dengan senang hati menerimanya.


"Hay Mil, !" seorang gadis ingin menyentuhnya.


"Singkirin tangan loe, jangan pernah sentuh gue !" ucap dingin Milo, membuat gadis itu mencebik kesal dan manyun.


"Astaga Mil, cuma mau kasih semangat doang ga boleh !!" ucapnya manja memuakkan. Seribu orang sepertinya tak akan bisa menyamai Kara nya.


" Tapi gue ga butuh, mendingan loe pergi !" jawab Milo. Ia lantas menghentakkan kakinya. Milo memang sulit tersentuh. Tak semudah pemuda lainnya yang dengan senang hati digelayuti manja bak dahan pohon yang landai.


Balapan dimulai, Milo bersiap memacu adrenalinnya, melepaskan semua kekesalan dan kejenuhannya. Saat kain jatuh ke jalanan, ia melesat tak terkalahkan, melewati semua lawan lawannya, termasuk Ivan dan Reyhan. Armilo, hampir dalam segala hal tak terkalahkan, wajar banyak yang iri padanya. Malam ini seperti sengaja disetting untuk mempertemukan ketiganya,


Bukan Armillo namanya jika tak bisa menghadapi cecunguk macam mereka, sudah beberapa trik balapan yang mereka lakukan, tapi memang Milo yang sulit untuk dikalahkan. Reyhan sempat mepet mepet ingin berbuat curang terhadap Milo.


"Sial !!!" Reyhan tertinggal lagi di belokan, ia melajukan motornya ingin menyusul, namun naas ia malah slip dan bannya tergelincir hingga motornya tak stabil dan jatuh. Milo menyunggingkan senyumnya, satu lawan jatuh.


Ivan berada di sisi kanannya, pemuda satu ini tak ingin kalah..bahkan Kara saja ingin ia rebut.


Milo menoleh ke samping kanan, Ivan mencoba menempel dan menendang motor Milo, beberapa kali ia melirik dan menendang nendang tapi tak berhasil.

__ADS_1


"Loe mau bikin gue celaka?" Milo tersenyum kecut.


"Orang licik, apapun cara bakal dilakuin !" lanjutnya. Ivan tersulut emosi, ia menarik gas padahal jalanan aga sedikit licin, alhasil motornya tak terkendali, motornya oleng, ia menabrak sekumpulan warga yang tengah berada di pos ronda.


"Brakkk !!!" Sontak warga langsung menangkapnya yang terjatuh, Milo berhenti sejenak, antara menolong dan tidak. Tapi rasa kemanusiaannya lebih besar dibandingkan rasa kesalnya.


Milo menghentikkan laju motornya, membuka helmnya dan menghampiri kerumunan warga yang hampir saja menghakimi Ivan, salah seorang warga juga menelfon polisi, melaporkan balapan liar yang sering diadakan di daerah sini, membuat masyarakat resah dan terganggu.


"Bapak bapak, maaf. Kita bisa bicara baik baik, disini ada unsur kecelakaan, ini teman saya !" ucap Milo.


"Atau kamu juga salah satu pembalap liar juga yang sering ikutan balap liar di jalan simpang sana ?" tanya salah satu bapak pada Milo sudah berapi api.


"Saya bisa jelaskan, dan saya akan mengganti rugi semua kerusakan ! tapi bisakah emosinya diredam terlebih dahulu ?!" tanya Milo mengambil jalan tengah dengan menenangkan warga, tapi terlambat untuknya, mobil patroli polisi yang ada di sekitar sini terlanjur datang.


Milo menelfon keempat temannya, semua yang berada di garia finish menunggu para pembalap.


"Milo telfon !" baru saja keempat pemuda ini akan bergegas menuju tempat Milo berada, polisi sudah mendatangi tempat ini, seketika suasana menjadi rusuh dan chaos, para pemuda tanggung ini berlarian, dan tancap gas, untung saja keempatnya sudah bersiap siap pergi.


.


.


Akhirnya malam ini Milo harus bermalam di kantor polisi, papahnya datang ke kantor polisi hampir tengah malam.


"Mil, apa lagi yang kamu lakukan ?!" tanya om Braja.


"Sudah larut, Raka, Kean, Rial dan Erwan. Kalian pulang saja !" pinta papah Milo.


"Eh, iya om..tapi Milo bagaimana?" tanya Raka dan Kean. Om Braja yang memakai swetter rajutnya melirik anak tunggalnya itu.


"Biarkan saja Milo disini dahulu, biar dia jera !" jawab om Braja.


"Pah, ga bisa gitu pah ! besok Kara bakal pergi ke Bogor buat ikut olimpiade ! dan Milo udah janji mau anter dia sampe gerbang sekolah !" jawab Milo tak terima.


"Itu resiko kamu ! papah tidak akan menolong kamu kali ini ! " jawabnya.


Milo mendengus kesal, disaat seperti ini papahnya malah menyuruhnya belajar. Belajar untuk bertanggung jawab dan berfikir lebih bijak lagi kedepannya.


"By, maafin aku !" gumamnya.


.


.


Gadis ini sudah siap dengan tas sedangnya. Ibu dan ayah sudah memberikan sedikit nasihat kecil, yang kalau diitung itung jika nasihat itu di tulis maka kertasnya sampai ke depan pintu istana merdeka.


"Semangat anak ayah !!" peluk ayahnya.

__ADS_1


"Pasti yah !" Kara celingukan, pagi ini bukan Milo yang menjemputnya, tapi Raka.


"Milo nyuruh gue buat jemput loe ke sekolah !" ucap Raka. Ada raut kecewa, apa mungkin Milo ingin memberikan kejutan lagi untuk Kara.


"Oh, emang ka Milo kemana ya ka?" tanya gadis ini.


"Milo, aga terlambat !" jawab Raka. Untungnya gadis ini percaya saja.


Sampai di sekolah pun, batang hidung Milo tak terlihat, Kara sudah berdecak kesal. Apa Milo malah tak bersekolah.


"Loh, ka Milo kemana?" tanya Ica diangguki Ayu. Jangankan Milo, Kean dan Arial pun tak ada, hanya ada Raka dan Erwan.


"Ka Kean sama ka Rial juga ga ada !" ujar Ica.


Kara sudah sangat kesal dan cemberut, ia benar benar dibuat badmood,


"Ra, ka Milo tau kan? hari ini loe berangkat?" tanya Ayu.


"Tau," jawab Kara.


"Milo kayanya ijin ! " jawab Raka.


"Kenapa ka? apa ka Milo sakit?" tanya Kara. Raka menggeleng, "ada sesuatu yang darurat, yang harus dia urus !" tambahnya.


"Tapi kan Kara ceweknya, masa ga ada sedikit pun waktu buat sekedar pamit doang?!" Ica ternyata selain bermulut nyablak, kompor juga.


"Ca, mulut loe disiram minyak tanah atau solar sih? kompor mleduk banget !" sarkas Jihad.


"Bisa diem ga??!" decaknya kesal menbawa Ica menjauh. Sedikitnya Kara mengiyakan perkataan Ica.


"Sudah pukul 8, sebaiknya kita berangkat sekarang !" pinta bu Mira. Titis dan Firman sudah masuk ke dalam mobil.


"Bu, bisa tunggu sebentar lagi ngga?" tanya Raka.


"Udah lah ka, udah telat !!! dia juga ga akan dateng !" jawab Kara menghentakkan kasar tas nya dan masuk ke dalam mobil, ia benar benar kecewa..hampir saja matanya berembun.


"Ra, ati ati ya !!" pekik Ayu, Kara kembali memeluk Ayu, "do'ain gue ya Yu, "


"Pasti Ra, loe yakin ga mau nunggu ? ntar kalo ka Milo beneran dateng gimana?" tanya Ayu.


"Bo*do amat ! ga peduli ! ga ngurus !!" jawab Kara moodnya hancur tak tertolong lagi.


"Come on Ra, jangan cengeng ! masa iya cuma gara gara gitu doang mewek !!!" batinnya, ia masuk dan duduk di dekat kaca mobil, matanya menatap nanar kaca jendela mobil.


"Tapi gue kecewa !!!" rengek hatinya menangis.


Raka dan Erwan saling berpandangan, "Wan, gue berangkat dulu, suruh tuh bocah kamvreett telfon Kara nanti, setelah balik dari kantor polisi ! biar gue coba bujuk Kara !" ucap Raka, diangguki Erwan.

__ADS_1


"Hati hati Ka, " jawab Erwan.


__ADS_2