
Ini dia si miss gengsi, rasa penasarannya membawa Kara mendatangi gedung dimana para sekolah bergengsi bertanding mempertaruhkan namanya.
Kara mendongak melihat betapa megah dan gagahnya gedung ini, di luar saja sudah ramai apalagi di dalam. Dari pintu masuk saja sudah terdengar suara sorak sorai menyemangati tim masing masing,
"Yuu buruan masuk, ko gue ga sabar sih !!" Jihad gemas sendiri. Para siswa dari sekolah Kara masuk, terlihat seragam dan bet lambang sekolah yang sama di tribun penonton sebelah kanan atas, lalu mereka bergabung.
Euforia yang membuat kuping Kara berdengung. Kara sampai celingukan mencari sesuatu untuk disumpalkan di kupingnya. Mulai dari anak anak yang biasa saja sampai yang tampil modis bercampur disini, dari sudut kanan, mata Kara melihat bangku dari tim sekolahnya yang sudah disediakan pihak panitia, itu terbukti dari terlihatnya beberapa tim cheers sekolah Kara yang ada disana. Tapi dimana tim basket dan sebagian tim hore lainnya? mereka sedang berisitirahat di ruang ganti.
"Ra, loe ga pengen apa kaya di film film romansa ?" tanya Ica yang dari tadi mulutnya tak pernah diam mengunyah ciki, sumber dari micin dan pengawet. Tak lama ia mel*umat jarinya sendiri, saking pelitnya tak ingin tertinggal bumbunya satu butir pun, justru ini lah gong nya saat memakan makanan gurih.
"Ca, loe jorok banget sih !" jawab Ayu, memberikan tissue basah.
"Jihad mana?" tanya Kara.
"Lagi beli minum !" jawab Ica.
"Maksudnya adegan film kaya apa?" tanya Kara, Ica menggelengkan kepalanya, takluk dengan kepolosan Kara, polos dan naif beda tipis Kara..sepertinya besok besok Ica akan membawakan setumpuk kaset film drakor, biar Kara ga terlalu polos kaya Hvs.
"Allahu, Ra...kaya misalkan loe dateng ke kamar gantinya gitu, terus kasih surprise gitu. Pelukan di tengah lorong, duduk di bawah bawain minum buat ka Milo ??" jelas Ica mendikte satu satu adegan romantis.
"Engga ahh, ruang ganti kan isinya cowok semua, tim basket ! kalo mereka lagi tel*@nj@ng dada gimana??" gidik Kara.
"Beuhhh itu yang gue harapkan Ra..liat tim basket kaya gitu !!" jawab Ica, sontak di toyor Ayu.
"Tobat weh, dunia bentar lagi udahan !!" omelnya. Mereka bahkan harus saling berteriak karena riuhnya suasana,
"Tenggorokan gue serak, ngomong sama kalian udah kaya ketutup gunung tau ngga mesti teriak !" ucap Kara.
Jihad datang membawa beberapa botol air mineral,
"Ra, nih !!" ia menyodorkan botol minum itu pada Kara. Kara mengernyitkan dahi.
"Gue ga aus ," tolak Kara.
"Buat ka Milo !" jawab Jihad.
"Hah?! engga ahh, dia juga pasti bawa kok !" tolak Kara kembali.
"Dih nih anak kayanya mesti di treatment biar bisa sweet, loe mau apa keduluan sama ka Nina sama ka Juwita. Di bawah sana banyak cewek tanpa status nungguin kesempatan ini. Nah loe yang notabenenya cewek ka Milo malah diem diem ae kaya ayam sakit ! malu tuh sama ring basket, dia aja diliatin terus sama ka Milo," cerocos Jihad.
"Peak !! ya iya lah diliatin trus kalo ga diliatin gimana bisa tau kemana harus masukin bolanya !!" sarkas Ica mendengus. Ayu tertawa dengan kelakuan teman temannya, lebih mirip kaya grup lawak.
"Malu gue, apa kata orang dikiranya gue ngaku ngaku..!" jawab Kara.
Para peserta tim basket yang sedang memperebutkan juara satu akhirnya keluar, semakin riuh saja suasana. Panas akan persaingan, tim cherrs dari sekolah masing masing juga sudah keluar. Milo and the genk memang terkenal dan famoust sampai ke luar sekolah, siapa yang tak kenal Armilo Dana Aditama beserta teman temannya, maka tak aneh lagi jika dari sekolah tim lawan pun tidak sedikit yang mengagumi Milo.
Milo tampak keren disana, wajah Kara menghangat manakala melihat kalung berliontinkan huruf C menggantung indah menemani Milo bertanding.
Mata Milo mengedar ke seluruh penjuru tribun penonton, matanya terhenti saat ia menemukan sosok Kara yang sontak memalingkan wajahnya. Senyum Milo tersungging.
"Mil, si Kara nonton ya ?" bisik Arial, Milo mengangguk dan menunjukkan posisi Kara.
"Tuh !" jawabnya.
__ADS_1
"Makin semangat nih, cewek bar bar malu malu meongnya mas sayang ada disini !!" kekeh Arial.
"Loe tau darimana?"
"Iwan yang ngomong, barusan Iwan ikutin Kara sampai sini," jawab Milo.
"Hemm, lelaki mpo' cecif..." ledek Erwan.
Raka menggelengkan kepalanya dengan obrolan mereka.
Saat pandangan mereka beradu Milo mengatakan
"I love you, " matanya mengedip pada Kara, meskipun tak terdengar tapi Kara tau itu, bukan Kara yang heboh tapi Jihad dan Ica yang berada disebelahnya. Tubuh Kara diguncang guncang mereka gemas.
"Awww...gemes gue sama ka Milo, buruan Ra, yang pake baju item jangan sampe lolos !!!" heboh Ica.
"Woyyy, sakit tau !!" keluh Kara.
"Auu nih berdua, sengklek pada... Kara yang dikedipin loe berdua yang heboh..lagian tuh yang pake baju item ga cuma ka Milo !!" ucap Ayu.
Pertandingan dimulai, belum apa apa tim hore sudah membentuk formasi begitu apik dan menampilkan gerakan gerakan luwesnya sebagai tanda penyemangat.
"Loe masuk tim hore sana, Ra !biar bisa deket deket sama ka Milo !" ujar Jihad memberi usul.
"Gue ga seneng sama yang begituan, mendingan gue kencan sama bantal !" jawab Kara.
"Dihh kaum rebahan, kalo gue jadi loe ga akan gue kasih kendor buat nempelin ka Milo !" jawab Jihad.
"Nempel bukan harus daki juga sayangku, ahhh susah emang kalo ngomong sama turunan Albert einstein, romantis aja musti di rumusin ! perjuangan aja dianggap pemborosan waktu !" kritik Jihad.
"Kara bukan keturunan Albert einstein Ji, buktinya palanya aja ga botak !" jawab Ica dengan polosnya.
"Uhukk !!!" ketiganya terbatuk, kebanyakan makanin micin sama pengawet otak jadi beku.
"Bukan temen gue !" kekeh Ayu.
"Loe berdua datang kesini mau nonton apa mau ngelawak?? biar gue sewain panggung sekalian?" tanya Kara.
"Boleh deh, gue mau dangdutan disana !!" tunjuk Ica ke tengah lapang.
Mereka serius melihat pertandingan yang berjalan seru, sesekali suara sorakan mengiringi pertandingan.
Milo tampil epic, ia merebut bola dari tangan lawan dengan mudahnya, melakukan beberapa dribbling dan shotting, tak lupa triple shot dan slam dunk nya membuat kaum perempuan berteriak histeris.
"Yeee Milo semangat !!" teriak Nina, Juwita tampak anteng saja hanya mendelik sesekali. Sampai sekarang Kara tak tau ada hubungan apa antara Milo dan Juwita.
Tak lama Juwita juga ikut menyemangati panasnya pertandingan, kapten lawan membisiki para pemainnya, dibaca dari gelagatnya ia menyuruh mereka mengawasi Milo.
Milo menyeringai menatap kapten basket dari SMA lawan, sepertinya mereka sudah saling mengenal.
"Ga usah coba buat bermain curang seperti kebiasaan loe !" ucap Milo pada Ray.
"Ga usah so suci, Mil..kenapa? apa loe masih marah karena sepupu loe udah gue cicipi?" Milo mengeratkan kepalannya, Raka datang menahan Milo.
__ADS_1
"Sabar Mil, ada saatnya kita untuk balas dia. Ingat Caramel ada disini !" ucap Raka. Milo menahan amarahnya. Sedangkan Ray sudah tertawa sudah berhasil memancing emosi Milo.
Tim lawan beberapa kali bermain kasar, bahkan Erwan sempat di dorong dan disikut, beberapa kali juga mereka di tegur wasit,
"Idih ko gitu sih mainnya kasar !!" ujar Jihad.
Kara sedikit meringis melihat permainan yang begitu menegangkan, ia hanya berdo'a semoga semuanya baik baik saja.
"Ini pertandingan basket apa tanding gulat sih !" tambah Ica.
Milo berlari sambil mendribbling, ia hendak menshoot namun ia di dorong Ray, hingga ia tersungkur.
Pritttt !!
Hampir semua anggota tim disana saling beradu argumen dan menyatakan keberatannya, saling membela kapten masing masing.
Wasit memberikan waktu beberapa detik untuk menemui pelatih masing masing. Milo bangkit dibantu teman temannya.
"Mil, loe ga apa apa?" tanya Kean. Milo menggeleng. Matanya menajam melihat Ray.
"Mil, loe ga apa apa kan?? ada yang luka?" Juwita menghampiri memegang tangan Milo, melihat lutut dan tangan Milo. Tak ketinggalan menyodorkan minum pada Milo. Begitupun Nina, mereka berlomba lomba mengkhawatirkan Milo.
Hati Kara seketika memanas, melihat Milo yang di dekati kedua perempuan, bahkan Jihad saja sudah gemas.
"Ra sono buruan kasih minumnya buat ka Milo, tanyain keadaannya !! gue gemes sama loe, lama lama gue jorokin juga nih dari atas "
"Gue malu harus turun ke bawah, disana cuma ada official aja, apa kata mereka pas liat penonton tiba tiba turun !!" jawab Kara.
"Elahhhh, si Kara..disini kalem, malu. Di belakang loe nyemilin kursi saking panasnya !" omel Jihad. Kara lebih memilih diam dan melihat Milo dari atas.
"Ga usah pegang pegang Milo, loe bukan muhrim !" cerca Juwita menepis tangan Nina yang hendak meraih Milo.
"Apa??! terus loe apa kabar megang megang Milo seenak udel loe. Loe pikir Milo cowok loe apa??" sewot Nina, pertikaian antara Juwita dan Nina mulai memantik seperti korek yang baru dinyalakan.
"Kalo iya loe mau apa ??!" Juwita berkacak pinggang di depan Nina, ia tau jika Nina memang selalu cari cari perhatian pada Milo,
" Jangan ngaku ngaku !!" jawab Nina. Milo yang melihat, menahan Juwita dan Raka menahan Nina.
"Oyy oyyy, ini apaan lagi !!" ujar Kean.
"Ulet keket macem gini mesti dihempas, Kean !!" jawab Juwita.
"Ta, udah lah ga usah loe ladenin Nina," Milo membawa Juwita duduk di bangku pemain.
"Loe sih ga ada tegas tegasnya Mil, jadinya tuh ulet keket nempelin terus !!" kesal Juwita.
Kara memalingkan wajahnya, ia lebih memilih melihat ponselnya. Sepertinya memang kedatangannya kesana adalah hal yang salah.
"Ko dada gue sesek ya !!" ucap Kara bergumam sendiri dalam hati, melihat kedekatan Milo dan Juwita rasanya bo*doh jika ia menganggapnya mereka hanya teman biasa.
.
.
__ADS_1