Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Perkenalan Braja junior


__ADS_3

Ica dan Ayu sedang rebahan di ruang tengah rumah Kara, judulnya sih kerkom alias kerja kelompok. Tapi lihatlah yang mereka lakukan, rebahan tak jelas sambil berbicara ngaler ngidul, ngulon wetan.


"Makan mie enak nih kayanya !" ujar Ica, beginilah perut anak singkong, dikit dikit mie instan, dikit dikit laper. Pantas saja jarak otaknya dekat dengan perut.


"Di otak loe makanan mulu, Ca ! kapan sih loe mikirin yang lain ?" jawab Ayu.


"Ada yu, kalo ga makanan ya cowok ! ngaca dulu Ca, kira kira tuh cowok sanggup ga buat nampung anak panti kaya loe !" jawab Jihad sibuk mengisi jawaban bersama Kara.


"Kamvreett !! amit amit Ji, loe kalo ngomong ihhh !! ucapan adalah do'a Ji !!" gidik Ica yang langsung bangun.


"Makanya jangan durhaka loe jadi temen !" seru Jihad, "buruan kerjain bagian loe, gue kasih buat beli mie instan !" Ica langsung semangat untuk bangun dan mengambil pulpen.


"Gini nih bibit bibit pengangguran, mau ngerjain kalo ada upahnya doang, kaya pak ogah !" ledek Jihad, kuping Ica sudah tebal mendengar omelan bunda tiri satu ini, bak kulit badak.


.


.


"Done !! ahhh capek juga !!" Ica merenggangkan otot ototnya.


"Lebay banget sih, kaya abis kuli panggul, timbang nyalin jawaban gue sama Kara aja capeknya kaya abis gotong semen 5 sak !" bukan Ica dan Jihad namanya jika tidak berdebat.


"Ga usah bawel, mana duitnya !!" Ica menyodorkan tangannya pada Jihad.


"Duit aja ijo loe !" Jihad mengeluarkan uang 5 ribu rupiah. Membuat Ica melotot.


"Loe yang bener aja Ji, ini mah mie instan 2 juga kurang cebu !" sewotnya.


"Ga usah bawel, nih gue tambahin !!" Kara mengeluarkan uangnya dari saku, tapi ditahan Jihad.


"Ga usah Ra, biarin aja kira kira dia bisa ga 5 ribu bikin kita semua bisa makan !!" tantang Jihad.


"Oke !! loe semua ga usah sewot dan terima apa yang gue bawa !!" ucap Ica, Kara dan Ayu mengernyit.


Tak lama Ica kembali membawa bungkusan hitam.


"Ra,gue ikut masak mie ya !!" ijin Ica, diangguki Kara.


"Kalo mau pake nasi ada ko Ca, ambil aja di meja makan !" pekik Kara.


Hanya butuh 5 menit Ica kembali dari dapur dengan senyum lebarnya,


"Ga usah senyum senyum Ca, ga terpesona gue !" sarkas Jihad.


"Ko gue curiga ya, loe mau ngapain Ca ? gue ga mau makan ahh !" jawab Ayu.


Ica menaruh semangkuk mie yang aromanya menguar membuat perut siapa saja disitu meraung raung bak serigala di bulan purnama.


Ica juga membawa 3 mangkuk lainnya. Kara, Jihad dan Ayu hanya mengernyitkan dan menyimak apa yang akan dilakukan Ica. Ica membuka kresek hitam lalu mengeluarkan kerupuk berjumlah 4 bungkus.


"Nih ! gini nih, caranya kalo laki ngasih duit belanja tipis setipis kulit bawang, terus anaknya banyak minta makan !!" Ica mulai membuka bungkusan plastik kerupuk satu persatu di setiap mangkuk.


Kara mulai menarik garis alisnya sebelah,


"Loe ngapain Ca?" tanya Ayu.


"Ga usah banyak tanya, liat aja !" jawab Ica.

__ADS_1


Ica mulai menyiram kerupuk itu dengan kuah mie instan, sampai si kerupuk mengembang dan tergenang, begitupun mangkuk lainnya. Dan Ica menyodorkan setiap mangkuk ini pada Kara, Jihad dan Ayu, yang tersisa di mangkuk awal mienya yang masih utuh, dengan sedikit kuah, ia bubuhi rawit dan satu bungkus kerupuk yang lain.


"Nah loe pada makan deh tuh, ini punya gue !!" Ica mengambil mangkuk yang full of mie.


"Sableng !!" ucap Jihad. Kara dan Ayu sudah tergelak sejak tadi.


"Lidah gue mati rasa Ca, cuma dikasih kerupuk !!" jawab Kara.


"Engga Ra, tenang aja tuh kerupuk udah gue siram pake kuah mie, jadi lidah loe ga akan mati rasa !" kekeh Ica.


"Astaga !! gue kira ni anak mau ngapain !!" Ayu tertawa puas.


"Ca, Ca itu ayah Kara balik !!" tunjuk Jihad, Ica sontak berbalik, Jihad mengambil kesempatan itu untuk menyendok mie di mangkuk Ica, begitupun yang lain. Dentingan sendok mereka terdengar Ica.


"Njirrr !!! abis dong mie gue !!" omel Ica.


"Ututututu, jangan marah marah ntar lekas tua !" Ayu dan Kara mencubiti pipi Ica, Jihad kembali mengeluarkan uangnya,


"Nih buat loe, gue ikhlas !!" selembar uang 50 ribu membuat Ica yang tadinya merengut kesal kini tersenyum cerah, secarah sinar mentari pagi.


"Gitu kek dari tadi bunda !" jawab Ica.


"Sekali lagi loe panggil bunda gue lempar sepatu loe ke atas genteng rumahnya Kara, Ca !" jawab Jihad.


"Assalamualaikum !" mereka terkejut dan menoleh ke arah pintu. Ayah Kara pulang, menggunakan motornya yang biasa biasa saja, tak ada mobil ataupun motor gede seperti Milo, hanya motor bebek keluaran abad ke 20.


"Eh, ayah udah pulang !" ucap Kara meraih punggung tangan ayahnya, begitupun yang lainnya .


"Pak, " anggukan mereka.


"Iya Ra, ini lagi kerja kelompok ya ??!" tanya pria ramah itu, senyumnya membuat sudut sudut matanya berkerut.


"Tak apa apa, boleh deh silahkan lanjutkan, " ayah Kara masuk ke dalam, tapi sebelum ia benar benar masuk ke kamar mandi, ayahnya berbalik.


"Ra, coba tebak tadi ayah ketemu siapa??" tanya ayahnya.


Kara menautkan alisnya, "siapa? menteri tenaga kerja?? atau presiden??" tebak Kara.


"Hissh ! ngaco !!" jawab ayahnya


"Ya mana Kara tau lah yah," jawab Kara, ia menyendok nyendok kerupuk dan mie yang asyik berseluncur manja di kuah nya yang hampir surut, lalu melahapnya.


"Nak Milo !!"


"Uhuuuukkk !!" Kara, Ayu dan Ica terbatuk karena terkejut.


"Ka Milo, yah??!! tanya Kara memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Ngapain ka Milo ke pabrik tempat kerja ayah??" tanya Kara, padahal Kara tau pasti apa tujuannya.


"Ayah ga sangka, ternyata nak Milo anak pemilik pabrik, Ra ! udah gitu pak Braja ngasih tau kalau nak Milo akan mulai ikut andil dalam mengurus pabrik !" jawab ayahnya santai.


"Apa ??!!!" pekik Kara.


"Ko bisa ??!" tanya Kara bergumam pada teman temannya.


"Wahhh, memang kalo pebisnis tuh begitu Ra, anak masih sekolah saja sudah main praktek lapangan, tidak seperti kita Ra, materi melulu lah prakteknya kapan ! hebat, salut buat nak Milo !" jelas ayahnya.

__ADS_1


"Apa sih yang ga bisa dia lakuin Ra, bahkan buat jungkir balikkin usaha orang aja dia mampu, bikin satu keluarga kaya miskin mendadak aja bisa ko !" jawab Jihad.


"Loe ko tau banget Ji, loe siapanya ka Milo?" tanya Kara diangguki Ayu dan Ica.


"Ibu peri !!" jawab Jihad.


"Sue !!" Kara mencebik.


"Loe lupa apa Ra, daddy kita ini kan ketua paparazzi sekolah Ra, " ucap Ayu.


"Paparazzi tuh yang kumisnya seuprit kaya Gogon bukan sih? yang siapa tuh namanya Hittler !!" jawab Ica. Kara hampir saja tersedak minum.


"Itu Nazi oneng !!!" jawab ketiganya.


"Eh, biasa aja dong ga usah ngegas, makan mie bisa orang ngegas ya !!" bibirnya mengerucut. Kara masih memikirkan, apa yang akan di lakukan oleh Milo. Ia mulai was was, nasib pekerjaan ayahnya berada di tangan tangan penguasa. Ia menghembuskan nafasnya lelah.


.


.


Kara melemparkan tubuhnya ke ranjang menatap nyalang ponselnya yang backgroundnya sudah dirubah Milo menjadi foto keduanya. Milo memperingatkan Kara untuk tak mengubah ubah lagi background ponselnya.


Ting !!!


Pesan masuk dari Mas Sayang 😘


"Malam by, jangan tidur kemaleman ya. Maaf baru sempet ngabarin, have a nice dream !"


.


.


.


.


Flashback on


Setelah mengenalkan Milo pada semua jajaran karyawan pabrik, Milo secara resmi sudah menjejakkan kakinya, masuk ke dalam bisnis ayahnya. Ada raut tidak suka dari tante Marsya.


Milo duduk di kursi kebesaran tante Marsya. Mengangkat kakinya ke atas meja, dan menselonjorkannya. Saat tante Marsya masuk, ia terkejut.


"Milo ??!!" ucapnya.


"Ngapain kamu duduk di kursi mamah??" tanya nya.


"Lumayan enak, sebaiknya jaga sikapmu disini, jika masih mau merasakan hidup enak ! sampai saatnya tiba kamu akan kembali ke tempat yang sudah seharusnya !" Milo berdiri dan keluar dari sana.


"Jangan macam macam !!" ucapnya sebelum pergi.


Tante Marsya menghentakkan high heelsnya ia marah dan kesal.


"Argghh, kenapa mas Braja membawa anak itu kesini !!" ucapnya kesal.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2